Yang Terakhir

Yang Terakhir
20. Rindu Menggantung


__ADS_3

Setelah dapat menenangkan Tiara, mereka menyelesaikan sarapan dan Hania membersihkan diri. Keduanya bersiap berangkat ke kebun binatang.


Tadi Tiara cukup lama menangis, membuat Hania tidak bisa menahan kesedihannya. Dia pun ikut menangis tapi dalam diam. Hanya air matanya yang mengalir dari sudut matanya. Dia tidak ingin putrinya itu melihatnya menangis.


Diam-diam Hania jadi ikut memikirkan Bela, teman Tiara. Dirinya jadi semakin yakin untuk hidup berdua saja dengan putrinya. Dia tidak ingin kejadian yang dialami Bela juga terjadi pada Tiara. No! Big no! Hati manusia siapa yang tahu kan?


Bruk!


Hania yang sedang melamun, terkejut ditabrak oleh seorang pria. Dia membalikkan badannya menghadap pria itu. Hah. Pantas saja dirinya sampai terhuyung, pria itu ternyata berbadan tegap.


"Maaf, saya ngga sengaja." ucap seorang pria yang menabraknya.


Hania hanya meringis menanggapi permintaan maaf pria itu sambil mengelus-elus pundaknya.


"Bu Hania?" sebut pria satunya.


Mendengar namanya disebut, Hania langsung menoleh pada pria yang menyebut namanya. Pak Adi? Seketika ingatan Hania tertuju pada sosok Pak Adi yang beberapa hari yang lalu menemuinya karena perintah Arga.


Hania jadi ingat pada Arga. Dirinya jadi ingat pagi tadi belum memeriksa ponselnya. Biasanya pria seksi itu selalu mengiriminya pesan. Dirinya tidak ingin kejadian itu terulang kembali. Pasti tambah heboh seisi restoran. Dan yang pasti Ferry akan terus menggodanya. Mengingat Ferry yang menggodanya, Hania jadi kesal.


"Bu Hania, apa kabar?" tanya pria bernama Adi itu sambil menganggukkan kepalanya tanda hormat pada wanita yang disangkanya wanitanya sang atasan.


Ditanya kabarnya, Hania jadi tersadar dari pikirannya yang melayang kemana-mana lagi.


"Ah, Saya baik-baik saja", jawab Hania sedikit kelabakan.


Pria satunya hanya menatap tajam pada Hania seolah menyelidiki, dia Hania? Hania menoleh pada pria yang menatapnya itu lalu menyunggingkan seutas senyum. Pria itu mengerjapkan matanya lalu menoleh pada pria yang bernama Adi.


"Wanita ini Hania?" bisiknya pada Adi tapi masih bisa didengar Hania.


"Iya Pak." jawab Adi.


"Beliau Ibu Hania." terang Adi.


"Maaf Bu, beliau ini Pak Iden, sahabatnya Pak Arga." ucap Adi memperkenalkan keduanya.


Hania yang dikenalkan secara istimewa begitu merasa tidak nyaman. Memangnya dia ini siapanya Arga? Kenapa harus dikenalkan seperti itu? Dengan Arga saja dirinya baru kenal dan berteman beberapa hari yang lalu.


"Ah, Pak Adi ini pasti salah paham." batinnya, lalu menoleh pada Iden yang memperkenalkan dirinya.


"Iden." pria bernama Iden itu mengulurkan tangannya.


"Hania." ucap Hania menyebut namanya seraya menyambut uluran tangan Iden.


"Cantik." gumamnya.

__ADS_1


"Ya?" tanya Hania merasa seperti mendengar pria bernama Iden itu mengucapkan sesuatu.


"Ah, ngga papa." elak Iden.


Mata Iden masih menelisik Hania. Diam-diam dirinya memuji pilihan Arga. Dirinya agak terkejut karena diam-diam ternyata Arga memiliki kekasih. Kekasih? Apa betul begitu? Iden mendesah memikirkan dugaannya.


"Mama, siapa Oom-oom ini?" tanya Tiara.


Suara kekanakan Tiara seketika menyadarkan situasi para orang dewasa itu. Ketiganya langsung menoleh pada sosok gadis kecil yang berdiri di samping kiri Hania sambil memegangi sebuah boneka pinguin.


"Mama?" batin Iden.


"Dia sudah punya anak? Apa Arga sudah jadi pebinor? Sembarangan Arga, bisa bisanya dia menyukai istri orang", kepalanya dipenuhi berbagai dugaan, tatapannya terus menatap Hania yang berjongkok dan berbicara pada gadis kecil di sampingnya.


Ah sial Arga! Iden menghela napas dan membuang dengan kasar. Dirinya kesal setengah mati pada sahabatnya yang sedang berada nun jauh di sana.


Bagaimana tidak? Di pagi yang tenang di hari minggu ini, seketika berubah menjadi tidak tenang lagi, Arga sang sahabat yang sepertinya lupa dengan jam kerjanya itu, menghubunginya. Iden langsung menolak permintaan Arga.


"What!? Zoo!? What the h*** Arga!?" Dengusnya.


Permintaan yang menurutnya akan menurunkan level kemaskulinannya. Tapi sepertinya Arga berhasil membujuknya karena sejurus kemudian ekspresi pria casanova itu berubah melunak.


"Ok! Deal!" seru Iden.


Dan di sanalah dia ditemani oleh Adi sesuai perintah Arga. Kebun binatang.


Tapi kini, setelah bertemu Hania dan melihat fakta bahwa Hania sudah memiliki putri, dirinya jadi bimbang. Jika menuruti Arga itu artinya dia mendukung sahabatnya itu merebut istri orang. Meskipun dirinya seorang casanova, pantang baginya merebut wanita yang sudah punya pasangan. Dia mendesah.


Dirinya tidak menyangka, Arga yang dingin itu jatuh cinta pada istri orang. Dirinya merasa iba pada Arga. Sahabatnya itu pasti sedang tertekan dan frustrasi. Hingga salah menentukan pilihan. Hah. Arga.


"Maaf, saya permisi dulu." pamit Hania.


Selain Tiara yang terus merengek mengajaknya berkeliling lagi, dirinya juga merasa tidak nyaman ditatapi penuh selidik oleh Iden memutuskan meninggalkan kedua pria itu.


Tring.


Sebuah foto terpampang nyata di layar ponsel Arga. Seekor Harimau. Dan seruas jari yang sedang menunjuk hewan itu. Telunjuk Hania. Hah. Arga mendesah. Kebun binatang? Apa yang dilakukan wanita itu? Kenapa hanya jarinya saja? Meskipun menggerutu, seulas senyum tetap terbersit di bibir seksinya.


Arga menutup aplikasi chatnya. Lalu membuka daftar kontak pada ponselnya. Iden. Dan mendial nomor tersebut.


"Sudah ketemu?" tanya Arga to the point.


"Lo apa-apaan Ga!? Mau jadi pebinor lo!?" bukannya menjawab Arga, Iden malah mengomeli Arga.


"Wanita itu udah punya anak, anaknya cewe, cantik kayak ibunya." terang Iden yang malah memuji Hania secara tidak langsung.

__ADS_1


"Aaaargh! Pokoknya wanita itu udah merit lah!" ralat Iden yang menyadari lidahnya yang keseleo.


"Gue ogah terlibat kalo begini, berat man!" putus Iden.


Berbagai ekspresi ditampilkan Arga pada wajahnya yang tampan itu. Terkejut. Tidak percaya. Kecewa. Putus asa. Dan tentu saja sedih. Seperti layu sebelum berkembang. Perasaannya gamang. Dia gusar. Semakin ingin segera bertemu Hania. Wanita cantik bermata kelinci yang sudah mencuri hatinya. Ingin mencari kejelasan statusnya.


Arga mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa pusing. Semangatnya kembali berantakan. Salahnya juga tidak menyelidiki latar belakang dan status Hania. Tiba-tiba hatinya main tunjuk saja. Asal tertarik pada pesona wanita yang ada dalam mimpinya. Kini membuatnya kelimpungan.


Rasa rindu yang sudah ditahannya sekian hari, harus tergantung tidak ada kepastian akan dilabuhkan atau tidak. Terombang-ambing kenyataan yang didengarnya dari sahabatnya. Tidak mungkin kan sahabatnya itu berbohong? Tapi dia juga merasa harus memastikannya sendiri.


Reza yang sedari pagi tadi menemani Arga berdiskusi bersama sang pengacara langsung bisa merasakan perubahan aura atasannya itu. Dirinya hanya bisa pasrah saja jika tiba-tiba atasannya itu memerintahnya melakukan ini dan itu.


"Rez, carikan tiket, saya harus ke Jakarta sekarang!" perintah Arga penuh tekanan.


Tuh kan? Reza hanya bisa mengangguk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara sang pengacara hanya menatapnya dengan tatapan iba dan pasrah. Pastinya sang pengacara juga hafal luar kepala sifat atasaanya itu.


"Kelas ekonomi juga ngga masalah. Pokoknya saya harus berangkat sekarang." tegas Arga.


"Kenapa ngga beli jet pribadi aja sih Pak, kalau suka dadakan begini?", batin Reza.


Ya. Reza tahu tidaklah sulit bagi Arga membeli sebuah jet pribadi. Tapi, anak sultan itu berpikiran lain. Daripada membeli jet peibadi, berapa banyak anak yang bisa disekolahkannya dengan uang sebanyak itu, atau seberapa banyak orang yang bisa berobat dengan uang sebanyak itu, atau seberapa banyak keluarga miskin yang akan tetap bisa makan dengan uang sebanyak itu. Dan masih banyak lagi hal-hal baik yang dilakukan atasannya dan keluarganya. Termasuk mendirikan panti asuhan dan menjadi donatur beberapa panti asuhan lainnya.


Dengan perasaan yang entah bagaimana Arga menjabarkannya, kakinya melangkah pasti menuju pesawat yang sedang boarding. Menuju Jakarta. Dengan membawa sejuta harapan. Namun dirinya juga harus siap menerima kenyataan sepahit brotowali.


Kali ini, Arga harus rela berdesakan dengan penumpang lainnya. Duduk diapit oleh seorang pria sepuh berusia sekitar 80 tahunan di sisi kanan, dan di sisi kiri, seorang ibu membawa batita yang pasti akan langsung histeris ketika telinganya berdengung nanti.


Dengan porsi tubuh yang lebih besar dari ukuran pria asia tenggara pada umumnya, membuatnya kesulitan duduk dengan nyaman. Apalagi dia harus meringkukkan tubuhnya agar penumpang samping kanan kirinya mendapat haknya. Belum lagi kakinya yang harus ditekuk karena sudah pasti sulit meluruskannya. Duduk biasa saja lututnya sudah menyentuh kursi penumpang di depannya.


"Lihat Hania, aku sampe rela begini untuk menemuimu." batinnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya menyadari kegilaannya.


"Kamu harus ngasih aku kabar yang bagus Hania, supaya sepadan dengan perjuanganku ini." harapnya.


Arga mencoba menyandarkan tubuhnya dengan nyaman, memejamkan matanya yang tertutup kaca mata hitamnya. Bukannya sombong, dia hanya merasa cahaya dari luar sangat menusuk matanya. Penutup jendela kabin pesawat itu sengaja dibuka lebar-lebar oleh ibu-ibu berbatita itu. Bukan kebiasaan Arga saat naik pesawat.


"Sepurane yo den bagus, simbah malah keturon. Suwun disilehi pundake", ungkap pria sepuh disamping kanan Arga yang tertidur bersandar pada bahunya. (Maaf ya anak ganteng, kakek malah ketiduran. Terimaksih dipinjami bahunya).


"Nggih Mbah sami sami", Arga menjawab sebisanya seraya tersenyum. (Iya Mbah sama sama).


Perjalanan yang memakan waktu 1 jam 30 menit itu terasa sangat melelahkan bagi Arga. Dalam hati berkata tidak akan menaiki kelas ekonomi lagi. Dengan perasaan lega, dilangkahkan kakinya menuruni tangga pesawat.


"Hania, aku datang." gumamnya sambil melangkah tegap.


*******


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2