
Hania berjalan cepat menuju parkiran mobil di lantai basement sebuah mall ternama di ibukota. Dirinya baru saja selesai mengikuti acara seminar dimana dirinya lagi-lagi didapuk menjadi salah satu pengisi acaranya. Hari sudah semakin sore. Jarum jam tangannya sudah menunjukkan angka 3. Dia harus bergegas agar tidak terlambat sampai di sekolah putrinya, karena jarak yamg ditempuhnya lebih jauh.
"Hei! Kamu Hania 'kan!?" tanya seorang wanita cantik dengan ketus yang berpapasan dengannya di depan pintu lift.
"Iya, saya Hania. Apa saya mengenal anda?" tanya Hania sopan.
"Tentu aja ngga! Tapi kamu kenal suamiku!" sahut wanita itu lagi-lagi dengan ketus.
"Bagaimana mungkin saya mengenal suami anda?" Hania mengernyitkan keningnya.
"Kenapa nanya aku? Kamu yang ngerayu suamiku! Dasar pelakor!" seru wanita cantik itu.
Hania mendesah. Siapa sih wanita ini? Tiba-tiba muncul di hadapannya lalu menuduhnya merayu suami wanita itu. Menyebutnya pelakor pula. Hatinya berdenyut nyeri. Dirinya tidak pernah dekat dengan pria manapun kecuali Arga dan Galih. Diapun tidak pernah merayu kedua pria itu. Bahkan Arga yang kini sudah jadi kekasihnya saja tidak pernah dirayunya. Apalagi pria lain.
"Maaf, tapi sepertinya anda salah orang. Saya ngga kenal suami anda apalagi merayunya." sanggah Hania dengan suara yang bergetar menahan gejolak di hatinya.
"Huh! Mana ada pelakor ngaku!? Ngga bisa hidup enak kalau ngaku!" wanita cantik itu makin beringas mengatai Hania.
Mata Hania sudah berkaca-kaca. Tega sekali wanita itu meneriakinya pelakor. Hatinya seperti diremas-remas rasanya.
"Emang sih dimana-mana suami orang itu keliatan lebih menawan ya 'kan?" ucap wanita itu mencibir Hania seraya menyedekapkan tangannya.
"Dasar jablay!" caci maki terus saja dilontarkan wanita itu pada Hania yang merasa tak berdaya.
"Jaga mulutmu! Sudah kubilang aku ngga kenal suamimu! Apalagi ngerayu dia!" seru Hania dengan suara bergetar menahan kesal.
"Aduh, pelakor ini. Ngga usah ngelak lagi deh! Inget ya, jauhi suamiku!" ancam wanita itu.
"Siapa yang pelakor?" Hania dan wanita itu mengalihkan perhatian ke arah datangnya suara.
Hania baru saja akan membuka mulutnya lagi ketika terdengar suara bariton yang sangat dihafalnya. Dia menoleh ke arah suara begitu juga dengan wanita yang tadi menyebutnya pelakor.
"Dia!" sahut wanita itu sinis.
"Dia?" tanya Arga seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Iya! Anda siapa? Apakah termasuk salah satu korbannya?" telisik wanita itu.
__ADS_1
"Wah, ternyata yang diincar yang berkelas dan berduit." cibir wanita itu, matanya menatap Arga.
"Iya sih dia cantik, tapi sayang, murahan!" wanita itu menekan kata-katanya menunjukkan bahwa dirinya juga sedang merasa kecewa.
Hania sebenarnya merasa iba pada wanita itu karena sang suami bermain hati di belakangnya. Dirinya juga pernah berada di posisi wanita itu. Tapi dia tidak terima ketika dirinya malah dikatai pelakor dan merayu suaminya.
"Maaf, tapi sepertinya anda salah paham. Saya ini suaminya." ucap Arga santai.
"Apa?" wanita itu membelalakkan matanya, dia terkejut.
Hania juga terkejut. Wanita cantik itu langsung menoleh ke arah Arga dan menatapnya lekat. Hah. Dia ini. Suka seenaknya saja berbicara.
"Iya. Saya suaminya." tegas Arga seraya menatap datar wanita itu.
"Istri saya ini kemana-mana selalu sama saya. Bagaimana mungkin dia punya kesempatan menggoda suami orang? Lagipula, saya ini tampan dan mempesona, mana mungkin istri saya melirik lelaki lain." Hania memutar bola matanya, malas mendengar pria itu bersikap narsis meski kenyataannya memang begitu.
"Sepertinya saya juga harus bertemu suami anda untuk memperingatinya." wajah Arga berubah serius.
"Emm... Saya juga akan menyalahkan anda yang ngga becus ngurusin suami sampai-sampai suaminya deketin istri orang." ancam Arga masih dengan wajah yang serius.
Wanita cantik itu membelalakkan matanya. Dia tidak percaya wanita yang disebutnya pelakor itu sudah bersuami. Dan kini sedang mengancamnya. Wanita itu juga membenarkan ucapan pria itu. Jika pria itu memanglah tampan dan mempesona, tidak kalah dengan suaminya.
Sekilas, wanita itu gugup ditatap setajam itu oleh Arga.
"Ferdi Sanjaya. Kamu kenal dia 'kan?" tanya wanita itu pada Hania, matanya menatap Hania. Dia masih kesal.
Ferdi? Hania membeokan nama itu di dalam hatinya. Lalu menghela napasnya dalam-dalam. Huft! Jadi wanita ini istrinya Ferdi? Cantik. Tapi kenapa pria itu masih mengejarnya? Bukankah harusnya dia bersyukur memiliki istri cantik dan pasti mencintainya. Jika tidak, mana mungkin wanita itu melabraknya dengan semangat. Hania dapat melihat ada luka dan rasa kecewa di mata wanita itu. Bukti jika wanita itu mencintai suaminya.
Arga pun terkejut mendengar wanita itu menyebut Ferdi sebagai suaminya. Hah! Pria itu lagi. Pria karismatik itu menatap istrinya Ferdi itu dengan tatapan kesal. Jadi, dia tidak tahu jika Ferdi lah yang mengejar kekasihnya itu?
"Iya. Saya kenal dia. Tapi hubungan kami sebatas relasi kerja. Saya pernah menjadi bagian dari event yang diselenggarakan suami anda. Itu saja, tidak lebih." Hania kembali bersikap sopan, pun bahasanya kembali formal.
"Tapi, dia tergoda sama kamu!" wanita itu masih diliputi emosi.
"Saya ngga tau kalau soal itu." sahut Hania datar.
Arga semakin kesal karena wanita itu masih berusaha menyudutkan Hania dan menudingnya sebagai penggoda suaminya. Raut wajahnya berubah menjadi dingin.
__ADS_1
"Saya kenal suami anda. Kami beberapa ketemu. Dan seingat saya, dialah yang merayu dan mengejar istri saya." ucap Arga dingin.
"Sebaiknya anda perhatikan suami anda dengan baik. Jangan sibuk menyalahkan orang lain karena kesalahan yang dibuat suami anda. Saya bisa saja menuntut anda karena sudah mencemarkan nama baik istri saya." ancam Arga dengan wajah tanpa ekspresi namun terkesan dingin.
Arga melingkarkan tangannya ke pinggang Hania dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Kembali masuk ke dalam lift.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Hania.
Hania yang tadinya menurut saja kemana Arga membawanya, malah bingung. Kenapa masuk lift lagi?
"Menenangkan diri." sahut Arga enteng.
"Tapi aku mau jemput Tiara. Ini udah waktunya dia pulang." ucap Hania.
"Tuh 'kan udah hampir jam 4." rutuk Hania seraya melihat jam tangannya.
Arga hanya tersenyum melihat Hania yang begitu cepat berganti-ganti ekspresi. Cup. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Hania. Membuat wanita cantik bermata kelinci itu mendelik ke arah Arga. Pria tampan itu terkekeh. Dia merasa gemas.
"Masuk." pinta Arga seraya membukakan pintu sedan mewahnya untuk Hania.
"Mobilku gimana?" tanya Hania.
"Mana kuncinya? Nanti biar Reza yang bawa." sahut Arga.
Hah? Reza? Pria berkacamata itu bersama Arga? Mana? Kok tidak terlihat? Hania menoleh kesana kemari mencari keberadaan Reza.
"Pak." sapa Reza.
Hania langsung menoleh mendengar suara Reza yang lama-lama juga dihafalnya. Darimana datangnya pria yang perawakannya lebih pendek sekian centimeter saja dari Arga itu?
"Honey, mana kunci mobilmu?" tanya Arga tapi lebih terdengar seperti perintah untuk memberikan kuncinya.
Hania segera mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Arga. Lalu masuk dan duduk manis di kursi penumpang di samping kursi pengemudi.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya, untuk dukung karya ini. 🤗🤗🤗