Yang Terakhir

Yang Terakhir
86. Bukan Cinta Pertama


__ADS_3

Arga berdiri dengan wajah tak bersahabat menatap Ferdi di samping meja yang ditempati Hania dan Ferdi. Terlihat sekali jika pria karismatik itu cemburu.


Melihat wajah Arga yang begitu hangat dan sumringah ketika menatapnya berubah menjadi dingin ketika melihat Ferdi, Hania malah jadi cemas. Dia takut Arga berulah. Memukuli Ferdi. Dia masih ingat bagaimana pria tampan itu memukuli mantan suaminya dulu. Hania melingkarkan tangannya dan mengelus lembut lengan kanan Arga yang menegang menampakkan urat-uratnya. Berusaha menenangkan pria itu. Hania bernapas lega ketika merasakan lengan Arga mengendur.


"Sepertinya anda ngga suka saya ada disini, Pak Arga?" sapa Ferdi. Pria yang juga tampan itu masih duduk, malah menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menatap remeh pada Arga.


"Menurut anda?" Arga menaikkan sebelah alisnya.


"Saya hanya mencoba memperbaiki hubungan yang sempat terputus, Pak Arga." Ferdi terkekeh.


"Saya terkejut karena ada orang yang ngga paham dengan arti dari, milik orang lain." ucap Arga, dia menekan kalimat terakhirnya. Tangannya sudah melingkar manis di pinggang Hania. Memeluk posesif di sana. Tatapannya tajam penuh peringatan.


Ferdi tersenyum masam. Dia merasa tersindir. Tangan Arga yang melingkar di pinggang wanita yang disukainya sudah mewakili maksud Arga bahwa Hania adalah milik pria yang dianggapnya arogan itu.


"Apa anda yakin?" tanya Ferdi tapi lebih terdengar seperti mengejek Arga.


Tangan Arga kembali menegang sementara jari Hania setia mengelus-elus di sana memberi ketenangan. Dan benar saja, usapan lembut jari wanita cantik itu bisa menenangkannya. Hah pria ini, benar-benar mempermainkan emosinya.


"Apa harus saya buktikan? Di sini? Heh! Saya rasa anda tidak akan baik-baik saja setelahnya." Cibir Arga.


Lagi-lagi Ferdi mendesah. Dia tidak percaya Arga menantangnya begitu. Tapi pria yang diaggapnya arogan itu benar juga. Jika Arga memperlihatkan keseriusan hubungannya dengan Hania, dirinya tidak akan baik-baik saja. Bisa jadi untuk membuktikannya Arga akan menc**m, bahkan mel***t bibir merah jambunya Hania. Bibir yang juga ingin disentuhnya.


"Baiklah. Saya ngga membutuhkan bukti apapun. Saya hanya ingin berteman kembali dengan Hania." Ferdi merasa tidak akan menang berdebat melawan Arga. Pria itu dinilainya cerdik.


Hania hanya terdiam di samping Arga. Tangannya melingkar di perut pria tampan itu. Wanita itu mengeratkan rengkuhannya dan merapatkan tubuhnya pada Arga. Mencari  perlindungan. Dia sungguh tidak ingin memiliki hubungan apapun namanya dengan Ferdi yang diketahuinya masih menyukainya. Dia tidak ingin menyakiti hati istrinya Ferdi dan tidak ingin istrinya Ferdi terluka karena suaminya menyukainya.


"Sepertinya Hania tidak ingin dekat-dekat dengan Anda. Dan lagipula, saya ngga ngizinin dia berteman dengan Anda." tegas Arga.


Arga merasa pelukan di perutnya yang semakin mengerat adalah isyarat dari Hania bahwa wanita cantik itu menolak pernyataan Ferdi.


"Sayang sekali." Ferdi terkekeh tapi hatinya terasa nyeri mendapat penolakan Hania.


"Tapi... Saya akan terus berusaha memperbaiki hubungan kita yang sedang ngga baik-baik saja ini, Hania." pungkas Ferdi seraya menyunggingkan senyumnya yang mempesona.


Ferdi langsung bangkit dari duduknya yang sebenarnya sudah tidak nyaman lagi sejak melihat Arga memeluk pinggang Hania dengan posesif.


"Sampai jumpa lagi, Hania." pamitnya, lalu beralih dari hadapan Arga dan Hania.


Arga dan Hania tanpa sadar menghela napas bersamaan. Keduanya masih saling memeluk seraya menatap kepergian Ferdi. Hania tahu pria itu tulus menyukainya, tapi pria itu sudah beristri. Membuat Hania langsung menjauh.


Ferdi perlahan mengusap air matanya sesaat setelah memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk restoran Hania. Pria yang juga tampan itu menangis merasakan hatinya yang berdenyut sangat nyeri. Dia sangat mencintai Hania tapi wanita itu menolaknya. Sedari dulu terus menolaknya. Dirinya tidak menyangka akan mencintai Hania sedalam itu.

__ADS_1


Awalnya, dia tertarik pada Hania karena perangainya yang baik. Pria itu mendesah berat. Menghela napas perlahan dan membuangnya dengan perlahan untuk menenangkan perasaannya yang bergejolak, lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya keluar dari area restorannya Hania.


"Siapa dia, Han?" tanya Arga seraya lekat menatap Hania, sementara tangannya masih melingkar posesif di pinggang Hania.


"Dia bukan siapa-siapa, Mas." sahut Hania lembut, dia tahu Arga sedang mencemburuinya.


"Benarkah? Tapi kayaknya dia kenal banget sama kamu." Arga mulai curiga.


Hania mendesah. Wanita itu merasakan aura dingin Arga yang menguar. Dia kesal pria itu seperti tidak mempercayainya.


"Mas ngga percaya sama aku?" tanya Hania seraya menatap mata Arga.


"Kamu yang ngga percaya sama aku, Han. Harusnya kamu cerita soal dia waktu aku nanya kemarin." sergah Arga dengan wajah datar, menunjukkan ketidaksukaannya pada Ferdi.


Hania mendesah. Mengalihkan tatapannya bermaksud menghindari tatapan Arga yang mengintimidasi. Tapi justru dirinya mendapati para karyawan dan beberapa pengunjung restoran menatap ke arahnya dan Arga yang sedang ribut kecil itu. Hania mengedarkan pandangannya, membuat para penonton dadakan itu langsung membubarkan diri. Hah. Sejak kapan mereka berdiri di sana dan melihat perselisihan itu? 


Arga yang melihat Hania mengedarkan pandangannya ikut mengedarkan pandangannya juga. Pria itu mendesah melihat orang-orang yang sudah membubarkan diri. Dasar kepo! Suka sekali menjadikan orang lain sebagai tontonan.


"Jelaskan padaku sekarang, Han. Aku ngga akan tenang dan baik-baik saja kalau aku belum tahu siapa dia yang jelas-jelas menantangku." ucap Arga pelan tapi tegas.


"Kita bicara di atas." ajak Hania.


Sedan mewah Arga memasuki pelataran apartemen mewah di kawasan elit ibukota, baru berhenti di parkiran basement yang disediakan khusus untuk  penghuni di sana.


"Kita dimana, Mas?" tanya Hania sambil celingukan, dia belum pernah kesana.


"Apartemenku." sahut Arga singkat sambil sibuk memutar kemudi memarkirkan mobilnya.


"Mas tinggal di sini?" Hania tidak tahu dimana tempat tinggal Arga.


Seketika Arga tersadar. Dia belum memberitahu dimana dia tinggal. Dan baru berpikir akan mengajak Hania ke rumahnya, nanti.


"Bukan. Apartemen ini hanya tempat aku menyendiri kalau lagi pingin sendiri." jawabnya tanpa menatap Hania.


"Kenapa ke sini?" tanya Hania lagi.


"Kita lebih nyaman ngobrol di sini. Ngga ada yang nontonin, nguping, atau mengganggu." sahut Arga seraya membuka pintu mobilnya.


"Waktu kita ngga banyak, Han. Kamu ngga mau 'kan Tiara kelamaan nungguin kita?" peringat Arga yang melihat Hania enggan keluar dari mobilnya, tapi lebih terdengar seperti ancaman bagi Hania, membuatnya akhirnya menurut.


Hania berjalan bersisian dengan Arga yang posesif menggenggam tangannya. Hanya ada mereka berdua di sepanjang koridor yang mereka lalui. Jelas saja, itu apartemen mewah yang penghuninya orang-orang sibuk. Atau bisa jadi penghuninya tinggal di kediamannya yang lain. Seperti Arga. Menjadikan apartemennya sebagai semacam investasi.

__ADS_1


Arga dan Hania tiba di lantai 7. Berjalan lagi melewati unit-unit yang entah ada penghuninya atau tidak. Terasa sunyi. Cocok dijadikan tempat menyendiri. Arga membuka pintu unit apartemennya dengan menekan kode pintu itu. Begitu terbuka, sebuah ruangan luas bergaya skcandinavian terpampang di depan mata. Terasa berkelas.


"Mau minum apa, Han?" tanya Arga.


"Apa aja." sahut Hania


Arga menyodorkan sekotak jus buah dan sebuah gelas pada Hania. Sedangkan dia sendiri membuka sekaleng minuman bersoda lalu meneguknya langsung.


"Jadi, siapa laki-laki tadi?" Arga sudah tidak sabar untuk menanyakan perihal Ferdi. Dia sudah menahannya sepanjang perjalanan.


"Udah kubilang, Mas, dia bukan siapa-siapa." sahut Hania setelah meneguk jus buahnya.


"Ohya? Tapi dia bilang mau memperbaiki hubungan yang terputus. Hubungan macam apa itu, Han?" cecar Arga.


"Mas kok ngomongnya gitu? Kayak ngga percaya sama aku aja." Hania kesal Arga seperti menyudutkannya.


"Kamu bahkan belum jawab pertanyaanku, Han. Apa susahnya? Tinggal jawab 'kan?" Arga semakin menyudutkan Hania.


Pria itu kesal karena Hania tidak langsung menjawab pertanyaannya.


"Apa yang harus aku jelasin, Mas? Kalau nyatanya dia bukan siapa-siapa bagiku." sahut Hania.


"Menurutmu? Bukankah kamu seperti menyembunyikan sesuatu? Atau enggan bercerita karena ngga ingin mengingat-ingat lagi?" Arga tetap menekan intonasi bicaranya meskipun dia sudah merasakan emosinya mulai naik. Dia tidak ingin melukai Hania.


Hania merasa tersudut tapi wanita cantik itu bingung. Apa yang harus diceritakannya pada pria itu. Tidak pernah ada kisah tentangnya dan Ferdi. Hanya perhatian-perhatian yang kerap diberikan Ferdi padanya, juga ungkapan sukanya. Tapi pria itu sudah beristri. Apa itu yang harus dikatakannya pada Arga? Hania bahkan malu karena dirinya sampai menarik perhatian pria beristri dan merasa kasihan pada istrinya Ferdi karena dihianati. Hania mendesah.


"Dulu dia ngejar-ngejar aku kayak Mas. Ngasih aku perhatian, ngambil hatinya Tiara, meluangkan waktu untukku dan Tiara. Persis seperti yang Mas lakukan ke aku dan Tiara." ungkap Hania.


"Dia juga bilang kalau dia cinta aku. Baru aku yang bikin dia merasakan jatuh cinta." lanjut Hania.


Deg.


Jantung Arga berdetak kencang. Hania cinta pertama pria itu? Arga pernah jatuh cinta yaitu pada mantan istrinya. Dirinya begitu mencintainya hingga tidak menyadari cinta sang mantan tak sebesar dirinya. Dia dihianati. Arga tersenyum getir mengingat Hania adalah orang kedua yang menggetarkan hatinya. Tapi dirinya tidak memungkiri, dirinya tidak pernah merasakan mencintai seorang wanita sebesar dia mencintai Hania. Bahwa apa yang dirasakannya pada Hania melebihi perasaannya pada sang mantan. Apa bisa perasaan seperti itu disebut sebagai cinta pertama?


"Apa kamu menyukainya? Dulu? Dan setelah dia datang kembali apa perasaan itu masih ada?" tanya Arga lirih. Dia tidak dapat membayangkan perasaannya saat ini.


Wanita mana yang tidak bahagia menjadi orang pertama yang dicintai seorang pria. Bisa jadi prianya memiliki banyak mantan tapi tidak semuanya membuatnya jatuh cinta 'kan? Arga seorang pria jadi dia tahu bagaimana pria memandang suatu hubungan. Tidak semua wanita yang dijadikan kekasih adalah wanita yang dicintainya. Bukankah wanita juga begitu?


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


__ADS_2