Yang Terakhir

Yang Terakhir
21. Melabuhkan Rindu


__ADS_3

Keluar dari bandara Soetta, sebuah mobil marcedes benz sudah menunggunya. Mang Diman langsung tersenyum lebar seolah menyiratkan kelegaan. Mungkin dirinya sudah menunggu sejak tadi.


"Mampir Rasa Sayang Resto ya, Mang", perintah Arga.


"Saya pengen makan disana." lanjut Arga.


Mang Diman pun mengangguk.


Rasanya lega sekali duduk di mobil mewahnya setelah berdesakan dengan penumpang lainnya. Sungguh perbedaan yang kontras sekali. Arga memejamkan matanya dan langsung tertidur. Dirinya merasa sangat mengantuk.


"Mas... Mas Arga... Mas. Kita sudah sampai." Mang Diman membangunkan Arga dengan suara lirih.


Arga terbangun. Dia menyipitkan matanya lalu menggeliatkan tubuh atletisnya. Diedarkannya pandangannya memastikan tempatnya berhenti. Rasa Sayang Resto. Dirinya terlebih dahulu merapikan kaos polo putihnya, menyisir rambutnya dengan jarinya, lalu memastikan wajahnya tetap tampan setelah bangun tidur melalui kaca visioner di mobilnya. Barulah pria yang sedang kasmaran itu turun.


Sambutan ramah diterimanya. Ah, seandainya itu Hania, yang menyambutnya di pintu rumahnya, betapa bahagianya dia. Membayangkan hal itu, senyum Arga semakin lebar. Membuat beberapa pengunjung wanita keGeEran.


"Apa saya bisa bertemu Hania?" tanyanya to the point setelah sampai di ruangan privat.


"Maaf Pak, Bu Hania sedang libur." jawab waitres itu sambil memperhatikan Arga.


"Saya ingin bertemu, bisa minta dia untuk datang kemari? Sekarang?" pinta Arga setengah memerintah, waitres tadi tampak berpikir sejenak.


"Mohon ditunggu ya, Pak. Saya tanyakan dulu." ujarnya lalu langsung menghilang di balik pintu.


Rasa lapar menyadarkan Arga, dirinya menatap meja kosong di hadapannya. Dia ingat, dia belum memesan makanan. Saking inginnya bertemu Hania, dia sampai lupa memesan makanan. Waitres tadi juga pasti lupa menyodorkan buku menu padanya karena tiba-tiba dipaksa memanggil atasannya.


Taman hijau di sisi kanannya tampak sejuk dipandang dari dalam ruangan privat tempat Arga menunggu. Dia ingat, bagaimana dirinya memaksa berkenalan dengan Hania. Mengingat kembali bagaimana mata wanita cantik itu membulat merespon keinginannya menjalin pertemanan. Wanita bermata kelinci itu pasti mengira dirinya aneh. Arga tersenyum seraya mengusap dahinya.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu menyadarkan Arga dari lamunannya. Tak lama berselang masuklah seorang waitres yang tadi melayaninya sambil membawa nampan berisi segelas air mineral.


"Maaf, Pak, tadi saya lupa. Bapak mau pesan apa?" tawar waitres tadi.


"Apa Hania sudah dihubungi? Bisa kan dia kemari?" tanya Arga sambil menatap waitres itu.

__ADS_1


Waitres itu sempat terpesona dengan wajah maskulin Arga yang tampan. Matanya melirik ke arah Arga, tidak berani terang terangan menatapnya. Pria itu masih menatapnya. Tangannya sedikit gemetar ketika meletakkan gelas tadi di hadapan Arga. Dia grogi. Hah. Kenapa pria-pria yang dekat dengan atasannya tampan-tampan sih? Bikin grogi aja! Dia menghela napasnya.


Arga menaikkan sebelah alisnya. Dia tahu, waitres yang sedang berdiri di sampingnya itu tengah terpesona padanya dan curi-curi pandang. Arga berdehem agar kesadaran waitres itu kembali. Dan sepertinya itu berhasil. Tampak waitres itu gelagapan menguasai dirinya ketika Arga melontarkan pertanyaan yang sama dua kali.


"Ehem.. Ma,, maaf, Pak. Ng... Bu Hania ya? Ah, iya, Bu Hania a,, akan kemari." jawab waitres itu terbata-bata.


"Ng,,, Bapak bi... bisa memesan makanan dahulu sambil me... menunggu Bu Hania." lanjutnya sambil menyodorkan buku menu pada Arga.


Dilihatnya waitres itu salah tingkah. Sebenarnya Arga tidak peduli dengan reaksi wanita-wanita yang bersinggungan dengannya. Dia sudah terbiasa dikagumi. Diraih dan dibukanya buku menu di hadapannya. Dan mulai memilih menu kesukaannya. Dan waitres tadi tidak berani lagi curi-curi pandang, dia fokus mencatat pesanan Arga. Setelah itu meninggalkan pria tampan itu lagi.


Lagi-lagi menunggu membuat Arga melamun. Dia teringat kata-kata Iden. Benarkah Hania sudah bersuami? Kata Iden dia sudah punya anak. Kalau benar lalu bagaimana nasibnya? Dia yang sudah terlanjur menggunakan perasaannya untuk mendekati wanita itu, apakah harus mundur teratur?


Entahlah. Dirinya juga heran. Selama ini ada banyak wanita cantik yang mendekatinya tapi hatinya bergeming. Dia tidak tertarik sama sekali . Namun Hania, wanita cantik bermata kelinci itu dengan mudahnya menarik seluruh perhatiannya. Bagai magnet. Jantungnya selalu berdetak kencang ketika tatapannya beradu dengan mata kelinci milik Hania. Ya. Salahkan saja jantungnya. Tapi darahnya juga berdesir. Dan kini hatinya ikut ikutan menghangat. Ah, Hania.


Sebuah h**da j**z abu abu metalik sudah terparkir rapi bersebelahan dengan marcedes benz hitam. Hania segera keluar dari sana. Sedikit merasa kesal karena acara istirahatnya terganggu. Tapi juga penasaran pada pria yang katanya tampan yang ingin bertemu dengannya. Dirinya bahkan meminta tetangga yang sudah akrab dengan Tiara untuk menjaganya sebab putrinya itu tengah tertidur pulas.


Tidak ada yang mengenalnya, itu berarti pria itu bukan mantan suaminya. Ya. Dirinya sudah was was saja sejak terakhir kali bertemu sebulan yang lalu. Dia khawatir mantan suaminya masih ada di kota Jakarta.


Ferry langsung tersenyum begitu melihat Hania masuk ke area dapur, dan senyum itu dianggap tengil oleh Hania. Tentu saja Hania sewot. Matanya menyalak tajam memberi peringatan, jangan coba coba meledekku!


"Dia ngga bilang apa-apa?" Hania menoleh dan bertanya pada waitres yang melayani Arga tadi.


"Kok kesannya maksa ya Bu? Siapa sih?" timpal yang lainnya, dan Hania hanya mendesah.


Hania meninggalkan dapur menuju ruangan dimana Arga menunggunya. Setibanya di depan pintu, Hania tidak segera mengetuk pintu itu. Matanya menatap pintu itu dengan pikiran yang melayang-layang penuh dugaan.


Apa dia Arga? Pria seksi itu? Aduh, Hania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kenapa dirinya jadi berharap pria yang mencarinya adalah Arga? Hania akui, beberapa hari belakangan sejak dia berteman dengan pria seksi yang karismatik itu, bayangan pria itu sering terlintas di pikirannya. Apalagi pria itu sering mengiriminya pesan. Dirinya merasa pria itu perhatian padanya.


Hania mengetuk pintu ruangan privat itu. Lalu terdengar sahutan pria di dalamnya. Ah, suara berat itu, Hania seperti mengenalnya. Meskipun beberapa kali pertemuan mereka singkat-singkat, tapi Hania mulai hafal dengan suara bariton itu. Jantungnya seketika berdetak kencang. Mendadak Hania gugup. Dia meraup oksigen sebanyak-banyaknya memenuhi rongga dadanya dan menghembuskannya dengan cepat untuk menetralisir gugupnya.


Benar saja. Pria itu adalah pria seksi itu. Arga. Hania sedikit terkejut namun segera menguasai ekspresi wajahnya. Hania melemparkan senyum semanis madunya. Dan senyum itu menular pada Arga.


"Mas disini?" tanya Hania sambil berjalan mendekat.


Arga segera bangkit dari duduknya, masih dengan senyum lebarnya. Menyambut Hania. Digenggamnya tangan mungil Hania, sedikit meremasnya tanda dia rindu, dan terus menatap lekat Hania.

__ADS_1


"Apa kabar Mas?" tanya Hania memecah keheningan.


"Saya selalu baik-baik saja" jawaban palsu, yang sebenarnya, dirinya sungguh ketakutan akan fakta tentang Hania yang sebentar lagi akan dia ketahui.


"You look great." ucap Arga sambil menatap lekat Hania, yang hanya dibalas senyuman oleh Hania.


Arga menarik kursi di depannya untuk Hania. Setelah Hania duduk, dia pun ikut duduk. Tak berselang lama dua orang waitres datang dan menghidangkan makanan pesanan Arga. Mata Hania tertuju pada jari-jari Arga yang diperban. Ingin bertanya tapi nanti disangka perhatian dan pria itu merasa mendapat angin. Jadi Hania hanya menatapnya saja.


"Temani saya makan, ya." pinta Arga setelah waitres tadi keluar ruangan.


"Tapi..." Hania jadi merasa kikuk.


"Saya tau Mba mungkin udah bosan dengan makanan-makanan ini." Arga kembali meletakkan sendoknya.


"Tapi rasa makanan ini akan berbeda tergantung dengan siapa kita menikmatinya." mode merayu Arga on, masih menatap mata kelinci itu.


"Lagipula makanan-makanan ini bukan jenis makanan yang bikin kenyang." lanjut Arga sambil menatapi Hania.


Hania mendesah tak percaya. Pria tampan di depannya itu kenapa tiba-tiba jadi cerewet? Dia ingat betul bagaimana pria itu lebih banyak tersenyum dan menatapnya daripada merayunya diawal perkenalan. Dia pikir Arga itu pendiam.


Hania mendesah. Lalu mulai memotong-motong beef steak well cook di hadapannya. Tadi Arga memang bertanya pada waitres yang melayaninya tentang makanan yang disukai Hania. Dari beberapa menu, pilihannya jatuh pada beef steak well cook itu. Menurut waitres tadi, Hania menyukai daging yang dipanggang hingga benar-benar matang. Dan steak tidak akan membuat Hania kekenyangan.


Hania memakan beef steak itu perlahan sambil mengamati Arga. Pria tampan itu makan dengan lahap. Dia itu lapar apa doyan sih?


Arga menyantap sup yang sekarang menjadi favoritnya ditemani Hania, membuat perjuangannya berdesakan dengan penumpang kelas ekonomi barusan terbayar tunai. Membuat hatinya berbunga-bunga.


Apalagi perhatian kecil yang diberikan Hania ketika dirinya tersedak. Dengan cepat Hania mengulurkan gelasnya yang masih penuh sebab gelas Arga sudah kosong. Menepuk-nepuk punggungnya dan sedikit mengelusnya ketika dirinya masih terbatuk-batuk. Lalu mengulurkan tisu.


"Mas udah baikan?" wajah Hania terlihat masih cemas sebab batuk Arga tadi tidak kunjung reda.


"Terimakasih." ucap Arga lalu meminum air mineral dari gelas Hania lagi.


Hania tersenyum tipis tanda dirinya lega. Lalu kembali duduk di seberang Arga. Setelah menyelesaikan makannya dengan canggung karena Arga selalu menatapinya, dia merapikan peralatan makan yang sudah ludes isinya. Menumpuknya jadi satu sesuai bentuknya lalu menepikannya. Memunguti sisa makanan yang sedikit tercecer dengan tisu. Kemudian mencuci tangannya di wastafel yang tersedia di ruangan itu. Semua tindakannya tak luput dari perhatian Arga.


*******

__ADS_1


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote...


😊😊😊


__ADS_2