Yang Terakhir

Yang Terakhir
80. Semakin Ingin Melindunginya


__ADS_3

Senyumnya langsung merekah begitu melihat senyumnya bersama Hania dan Tiara terpampang nyata sebagai wallpaper ponselnya, wujud betapa bahagianya mereka bertiga. Cukup lama Arga menatap foto itu. Ah. Semoga Hania secepatnya membuka hati untuknya.


Rasa marah dan muaknya pada sekretarisnya Iden menguap begitu saja. Senyum Hania begitu menenangkan meski hanya dengan melihat fotonya saja.


Tok tok tok.


Ketukan di pintu mengalihkan perhatian Arga dari layar ponselnya. Pria karismatik itu menoleh sekilas pada sosok sekretaris cantiknya yang datang membawakan kopi yang ingin disesapnya pagi ini. Tadi Arga meninggalkan kopi seduhannya sendiri yang sudah berantakan di pantry karena ulah Bela. Membawa amarahnya meninggalkan tempat itu. Jika lebih lama di sana, sudah dipastikan pria itu akan semakin murka pada sekretarisnya Iden yang tidak tahu batasan itu.


"Kopi anda, Pak." Dian meletakkan cangkir kopi di meja Arga dengan hati-hati.


"Makasih." Arga melirik cangkir kopinya sekilas lalu kembali menatap berkas yang dipegangnya.


"Masih ada yang perlu dibantu, Pak?" tanya Dian.


"Sudah cukup. Kamu bisa kembali." perintah Arga.


Dian meninggalkan ruangan atasannya. Sebenarnya dia ingin bertanya tentang kasak kusuk di pantry. Tadi sewaktu membuatkan kopi untuk Arga, wanita itu sempat mendengar dari salah seorang OG yang mengatakan atasan mereka memarahi Bela. Kedatangannya langsung membuat para OB dan OG yang sedang berkumpul menutup mulut dan mengalihkan obrolan. Mereka juga sungkan pada Dian yang dikenal selain sebagai sekretaris Arga, juga dikenal sebagai karyawan kepercayaan bos mereka.


"Bela pasti berulah lagi. Dasar ganjen!" gumam Dian.


Wanita itu juga tidak begitu menyukai Bela. Predikatnya sebagai sekretaris bisa ikut tercoreng karena ulah wanita seksi itu. Dian merasa sikap Bela terlalu mencolok dan norak. Dia tidak mengenal Bela, tapi dia tahu bagaimana pergaulan wanita itu di luar sana. Teman Dian ada yang bekerja di club malam yang sering didatangi wanita genit itu. Di kantornya saja, Bela diam-diam menjalin hubungan dengan Iden. Atasannya sendiri. Dasar penggoda!


Tok tok tok.


Dian memasuki ruangan Arga. Kedatangannya hanya dilirik sekilas oleh Arga. Dian menatap atasannya itu. Pria ini begitu dingin, tidak mungkin tergoda oleh Bela. Dia sudah melihat sendiri wanita-wanita cantik, seksi, dan berkelas yang ditolak dan diabaikan bosnya itu. Baru kemarin dia menyaksikan Arga mengajak seorang wanita cantik berpenampilan sederhana ke perusahaannya. Membuatnya terkejut. Ah. Dia akan menanyakannya pada Reza nanti.


Meskipun tidak mengenalkannya secara langsung bahwa wanita itu berharga bagi pria tampan itu tapi Dian tahu dari cara Arga memperlakukannya dengan hati-hati dan lembut. Tidak pernah Arga berlaku seperti itu pada wanita manapun selain pada ibu negara.


"Jangan ngeliatin saya kayak gitu, Yan. Kalau kamu juga suka sama saya, nanti saya yang repot karena harus nyari penggantimu." sindir Arga membuat Dian mengerjapkan matanya beberapa kali.


Eh? Dian menyadari sikapnya yang dianggap lancang oleh Arga tapi hanya ditegur ringan oleh pria itu, membuat Dian jadi tak enak hati.


"Maaf, Pak." Dian meringis seraya merapikan rambutnya yang masih rapi.


"Ada apa?" Arga menatap Dian.

__ADS_1


"Ehem! Nanti setelah makan siang ada meeting dengan Devara Hotel membahas pasokan furniture ke hotel baru mereka. Apa perlu saya atur ulang jadwalnya, Pak?" lapor Dian.


"Tidak perlu. Nanti saya minta Reza yang nemuin Dewa." putus Arga.


"Tapi Pak Dewa ingin bertemu Anda, Pak." ucap Dian, mengingat Dewa adalah teman Arga.


"Saya akan temui dia lain waktu. Untuk meeting kali ini biar Reza yang gantiin saya." Arga tetap ingin menemui Hania siang ini.


"Biar saya sendiri yang hubungi Dewa." Dian mengangguk, memahami keputusan Arga.


Meski takjub dengan sikap Arga yang belakangan sering mengabaikan pekerjaannya, tapi Dian berpikir apa yang dilakukan bosnya itu lebih penting dari pekerjaannya.


"Umm... Sebentar lagi waktunya istirahat, Pak." peringat Dian yang melihat Arga masih fokus pada pekerjaannya.


Bukan tanpa alasan Dian cerewet mengingatkan Arga pada jadwalnya. Sekretaris cantik itu tidak mau diomeli lagi oleh atasannya yang jika sedang kesal bisa berbicara panjang dan ketus. Membuatnya sesak mengingat Arga selalu bersikap baik padanya.


Arga melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Lalu membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang sedang diperiksanya. Pria itu merapikan beberapa berkas dan menyerahkannya pada Dian.


Sepeninggal Dian, Arga memanggil Reza melalui intercom yang terhubung ke ruangan asistennya itu.


Tok tok tok.


"Saya ada keperluan di luar setelah jam istirahat nanti. Kamu gantikan saya nemuin Dewa dari Devara Hotel. Minta berkasnya pada Dian. Minta Adi nemenin karena biasanya Dewa akan membawa asistennya juga."


Tuh kan? Dugaan Reza benar 100%. Atasannya itu pasti akan menambah pekerjaannya. Hah. Sudahlah. Menurut saja.


Reza keluar ruangan Arga menuju meja Dian. Mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja rekannya itu. Dian menoleh lalu tersenyum lebar.


"Mas Reza? Kebetulan." ucapnya lalu membuka laci mejanya, mengambil berkas yang dititipkan Arga.


"Nih!" Dian menyodorkan berkas itu pada Reza.


"Gantiin Pak Arga lagi?" tanya Dian yang sebenarnya sudah tahu, Reza mengangguk.


"Makasih ya. Aku ke ruanganku dulu." ujar Reza.

__ADS_1


Baru akan berbalik dan beranjak meninggalkan Dian, wanita cantik itu sudah menahannya.


"Eh, Mas. Tunggu deh." Reza memutar tubuhnya lagi menghadap Dian.


"Pak Arga belakangan sering ninggalin kliennya deh. Ada keperluan katanya. Emang sepenting itu ya, sampai ninggalin kerjaannya? Tau sendiri kan Pak Arga itu workalholic?" sungguh Dian penasaran.


"Sejak kapan kamu jadi suka ngurusin urusan orang lain?" sindir Reza.


"Ck! Aku kan penasaran, Mas. Soalnya kemarin itu ya, Pak Arga ngajak perempuan, cantik. Ya, walaupun penampilannya simpel dan riasannya B aja tapi auranya itu bikin dia kelihatan cantiiik banget. Mana body goal banget lagi. Eh. Itu kekasihnya Pak Arga bukan sih? Soalnya Pak Arga juga kelihatan hati-hati dan lembut banget sama perempuan itu. Aku sampai takjub lho Pak Arga bisa bersikap begitu sama perempuan." cerita Dian panjang lebar.


Sementara itu, Reza yang hanya mendengar tidak berkomentar apapun. Wanita cantik? Apa Hania? Pak Arga mengajaknya kemari? Wah, wah, perkembangannya cepat sekali. Sudah mau go public kah? Tadi kata Dian sikap Pak Arga hati-hati dan lembut. Bisa jadi itu Hania. Pria itu hanya seperti itu jika dengan Hania. Reza sudah melihatnya sendiri bagaimana Arga memperlakukan Hania.


"Mas? Iih. Ditanyain malah ngelamun." Dian kesal karena Reza tidak menanggapi ceritanya.


"Aku juga ngga tau. Aku kan di Surabaya, harusnya aku yang tanya sama kamu." Reza belum tahu pasti dugaannya benar atau salah jadi memilih menghindar saja. Dian langsung memberengut seraya melirik Reza dengan kesal.


Siang itu bertepatan dengan waktu istirahat para karyawan. Semua kafe dan restoran yang dekat dengan gedung perkantoran akan selalu dibanjiri para tenaga kerja. Termasuk restorannya Hania. Siang itu, Hania yang hanya bekerja setengah hari saja dibantu Ferry yang sudah datang untuk menggantikannya nanti.


Arga tiba di restoran Hania setelah berkendara selama setengah jam lebih. Perjalanannya sedikit terhambat karena macet dimana-mana. Kedatangan pria tampan bertubuh atletis itu menjadi saingan terberat Ferry, chef macho idola pelanggan wanita di restoran itu. Tatapan penuh damba dan pujian terlontar begitu saja menyertai langkah Arga yang hanya fokus mencari Hania. Pria itu tidak peduli banyaknya pasang mata yang menatapnya penuh puja.


Dengan santai pria itu menaiki tangga menuju lantai 2. Kasak kusuk pelanggan wanita terdengar di telinganya.


"Apa dia pemilik restoran ini? Kan restoran ini milik chef yang bernama Hania? Bukannya Hania itu janda? Apa pria itu kekasih Hania? Wah, beruntung Hania mendapat pasangan tampan sepertinya. Hah. Kenapa sih yang tampan-tampan selalunya sudah ada yang punya." komentar positif yang didengar Arga membuat pria itu tersenyum tipis.


"Apa dia kekasih pemilik restoran ini? Wah, si janda beraksi nih. Sekali dapet, ngga kaleng-kaleng. Dasar penggoda! Perempuan itu kan suka merayu. Paling juga pria itu hasil rayuannya. Wah, wah. Dapat tangkapan besar deh tuh janda."


Arga merasa hatinya berdenyut nyeri mendengar ujaran kebencian untuk Hania. Telinganya terasa panas. Bagaimana jika Hania yang mendengarnya? Dirinya saja merasa sakit, apalagi wanita cantik itu. 


Ingin rasanya membungkam kasak kusuk yang menjelek-jelekkan Hania tapi pria itu juga tidak ingin memancing keributan dan menarik perhatian. Memilih meninggalkan tempat itu secepatnya. Dengan begitu mungkin Hania tidak akan ikut mendengar. Membayangkan wajah murung wanita cantik itu membuat Arga semakin ingin melindunginya. Memberinya status yang membuat Hania aman dari komentar miring dan pedas dari orang-orang yang iri dengan kesempurnaannya.


Arga langsung naik ke lantai 2 bukan karena lancang tapi Hania yang memintanya. Wanita itu sudah menganggap Arga sebagai temannya bukan pelanggan restorannya. Jadi merasa lebih nyaman berbincang dan menjamu pria tampan itu di ruangannya di lantai 2. Tapi tanpa sepengetahuannya malah mengundang komentar buruk tentangnya.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


__ADS_2