Yang Terakhir

Yang Terakhir
72. Dia Milikku


__ADS_3

Arga masih pada posisi bersandar sambil memegangi perutnya. Terasa jauh lebih berkurang setelah pria tampan itu meminum jahe hangat yang dicampur madu tadi.


Hania mengurungkan niatnya meminta tolong karyawannya membelikan obat untuk Arga. Pria itu tidak minum sembarang obat. Ada obat yang sudah diresepkan dokter untuk sakit lambungnya itu.


"Kalau begitu, ayo kita ke dokter! Sekalian jemput Tiara." ajak Hania.


"Aku ngga mau ke dokter, obatku masih ada tapi tertinggal di kantor." tolak Arga.


"Tapi kalau jemput Tiara, ayo!" lanjut pria tampan itu 


"Ck! Harusnya kan dibawa kemana-mana buat jaga-jaga, Mas. Apalagi kamu ngga minum sembarang obat. Kalau kambuh dimana-mana, gimana?" omel Hania lagi.


Pria tampan itu malah tersenyum lebar sambil memperhatikan Hania mengoceh lagi. Hatinya merasa berbunga-bunga sebab wanita cantik yang berhasil menaklukkannya itu memperhatikannya.


"Untung kambuhnya di sini. Ada kamu yang ngerawat aku." sahut Arga seraya mengerlingkan matanya.


"Becanda iih... Aku kan serius!" Hania memberengut seraya mengalihkan tatapannya menutupi rasa kikuknya.


Arga tergelak melihat Hania memberengut dan salah tingkah dalam waktu yang bersamaan. Terlihat lucu.


"Iya, iya, bawel! Baru juga ketinggalan sekali ini." sahut Arga seraya mencubit pipi Hania. Pria itu sudah gemas sejak tadi melihat wanita cantik itu mengomel.


"Kita ke kantor Mas aja dulu, ambil obatnya. Aku khawatir nanti perutnya tambah sakit," saran Hania, tentu saja Arga senang wanita cantik itu mengkhawatirkannya.


"Boleh. Tapi apa ngga apa-apa kalau ke kantorku dulu? Tiara gimana? Ngga telat jemputnya nanti? Kalau kejadian kayak dulu gimana?" Arga mempertimbangkan waktu dan jarak yang akan mereka tempuh.


Hania jadi kepikiran juga setelah Arga mengingatkan kejadian tempo lalu yang akhirnya membuatnya lebih mengenal pria berkarisma itu.


"Aku telpon gurunya dulu aja kali ya? Tapi ini masih jam 3 kurang. Masih sempatlah kalau mampir." Hania ikut menimbang-nimbang keputusan.


Sedan mewah Arga mulai melaju di jalan raya dengan kecepatan sedang berbaur dengan kendaraan lainnya setelah Hania mengabari gurunya Tiara jika kemungkinan dirinya akan terlambat menjemput dan meminta tolong untuk mengawasi putrinya.


"Mas sering kambuh lambungnya?" tanya Hania seraya menatap Arga yang serius mengemudi.


"Ngga juga." sahut Arga. Pria itu menatap Hania sekilas.


"Pantes aja, terus ngeremehin. Obatnya ngga dibawa-bawa." Arga terkekeh mendengar gerutuan Hania yang masih bisa didengarnya.


Hania tidak kunjung turun dari sedan mewah Arga sesampainya di parkiran khusus pimpinan perusahaannya Arga.

__ADS_1


"Ayo!" Arga membukakan pintu untuk Hania tapi wanita cantik itu tidak keluar-keluar juga dari dalam mobilnya.


"Betah di dalam sini? Kamu boleh kok pake sesukamu." Arga menundukkan tubuhnya dengan duduknya Hania, dapat dilihatnya Hania tampak ragu hingga pria itu menggodanya kemudian mendapat lirikan tajam. Arga terkekeh.


Hania bergegas turun karena kesal diejek Arga. Wanita cantik itu berjalan di samping Arga sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dalam hati mengagumi interior perusahaan milik pria tampan di sebelahnya itu yang dominan dengan warna coklat dan putih. Menimbulkan kesan hangat. Kemunculan Arga bersama dengan Hania kontan menjadi perhatian karyawan di sana. Arga tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun kini terlihat berjalan dengan seorang wanita cantik. Diajak ke kantornya pula.


"Apa ngga apa-apa aku ikut masuk begini?" tanya Hania setengah berbisik, dia gugup karena hampir semua mata karyawan Arga menatapnya.


Wanita cantik itu berjalan sambil memperhatikan karyawan wanita diperusahaan besar itu dan membandingkan dengan penampilannya. Hah. Wanita-wanita itu modis dan berdandan maksimal sepertinya. Sebenarnya mereka ini mau kerja atau ikut kontes kecantikan sih? Hania teringat akan wanita seksi nan genit yang ditemuinya di taman beberapa haru yang lalu. Ah, iya. Wanita itu juga bekerja di sini. Hania menoleh dan menatap Arga. Dirinya berharap Arga tidak tergoda dengan satupun karyawatinya.


Merasa diperhatikan, Arga pun menoleh ke arah Hania yang berjalan di sampingnya dan menatapnya. Pria berkarisma itu tersenyum dan menggenggam tangan Hania erat. Pria tampan itu merasa Hania tidak percaya diri. Jadi dia menguatkan wanita cantik itu dengan genggamannya.


Dian segera memberi hormat dan menyapa atasannya yang baru tiba dengan senyum yang merekah semanis gula. Tatapannya beralih pada wanita yang berjalan di samping Arga dengan tangan dalam genggaman pria itu. Siapa wanita ini? Baru sekali itu atasannya menggandeng seorang wanita. Dan yang membuatnya makin tak percaya, wajah pimpinannya itu tampak sumringah. Apa dia kekasih atasannya? Cantik juga. Tapi penampilannya terlalu simpel. Ya. Penggemar riasan bold dan pakaian minimalis pasti akan menilai penampilan janda beranak 1 itu terlalu simpel.


Ketika bekerja, Hania akan memakai pakaian yang menurutnya nyaman dan tidak mengganggu geraknya yang harus gesit dan cekatan. Pilihannya akan jatuh pada kemeja simpel atau blouse berlengan tanggung atau menggulungnya jika lengannya panjang. Dipadukan celana bahan panjang atau rok A line sebatas lutut.


Hari itu, Hania memakai rok A line berwarna khaki dipadukan kemeja fit maroon berlengan pendek. Menampilkan kesan sopan dan elegan. Riasannya juga natural namun terlihat segar tapi dasarnya wajah Hania sudah cantik sejak lahir, jadi tetap saja terlihat cantik. Dan sepatu flat menjadi pilihannya. Wanita cantik itu lebih menyukai sepatu trepes atau sneaker.


Didukung tubuhnya yang ramping dan singset dengan tinggi sekitar 165 cm terbilang ideal, selalu cocok mengenakan pakaian model apapun. Sebenarnya banyak yang iri dengan tubuh ideal Hania.


Diam-diam Dian merasa insecure dengan tubuhnya. Dia memang seksi tapi melihat tubuh Hania yang ramping membuatnya merasa tubuhnya masih terlalu berisi.


"Pak? Anda kembali?" sapa Dian.


"Selamat sore Bu..." sapa Dian pada Hania seraya tersenyum.


"Sore juga." balas Hania ikut tersenyum.


Hania menatap Dian. Wanita itu pasti sekretaris Arga. Cantik dan seksi. Meski outfit yang dikenakannya terbilang sopan, tetap saja mini. Pasalnya, Dian memakai kemeja press body yang tertutup dipadu rok sepan sebatas 10 jari di atas lutut. Terlalu pendek menurut Hania. Dan jangan lupakan sepatu berhak 12 cm yang selalu melengkapi penampilannya. Dia ini sekretaris atau model sih? Benar-benar, perusahaan ini sudah seperti agensi model saja. Sejak masuk hingga di depan ruangan pimpinan bertebaran wanita-wanita cantik dan modis. Hania menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sebenernya perusahaanmu ini perusahaan furniture atau agensi model sih, Mas?" tanya Hania sudah tidak tahan untuk berkomentar. Kini, wanita itu sudah berada dalam ruangan Arga.


Mendengar pertanyaan Hania, Arga malah tergelak. Agensi model? Yang benar saja?


"Kenapa? Kamu tertarik untuk join di sini?" goda Arga.


"Ck! Aku bangga dengan kerjaanku!" sahut Hania.


"Aku tau." Arga menampilkan senyum tipis di bibirnya seraya menatap Hania.

__ADS_1


"Kenapa berpikir perusahaanku seperti agensi model, hum?" Arga jadi penasaran dengan pertanyaan Hania.


"Karyawan Mas yang perempuan tampilannya udah kayak yang mau ikutan kontes kecantikan aja. Pada cantik dan seksi." tutur Hania terdengar seperti tak suka di telinga Arga.


"Han, masalah karyawan, HRD yang memilih, kalau aku, asalkan kerjanya baik dan profesional ya ngga masalah. Yang penting attitudenya baik. Kalau yang seksi-seksi itu Iden yang milih. Yang pasti mereka juga harus kompeten di bidangnya." terang Arga panjang agar wanita cantik itu tidak berpikiran buruk tentangnya.


"Jadi mood booter banget kan, Mas? Bisa langsung semangat kerjanya kalau tiap hari liat yang bening-bening dan seksi-seksi." ucap Hania sinis membuat Arga semakin yakin jika Hania sedang mengutarakan rasa cemburunya membuat pria itu ingin menggodanya.


"Hum... Gimana ya Han, ya... mau ngga mau, memang mood booster sih." Hania membelalakkan matanya mendengar jawaban Arga. Sementara pria tampan itu tengah menikmati setiap perubahan ekspresi Hania seraya mengulum senyum.


"Mood boosterku cuma kamu, Han." gumam Arga dalam hatinya.


Ck! Sama saja. Pria dimana-mana sama. Kayak kucing. Dikasih ikan pasti takkan menolak. Hania melirik Arga sinis. Dirinya membayangkan Arga yang memandangi satu per satu karyawati cantik dan seksi setiap hari. Wanita cantik itu jadi kesal membayangkan Arga memandangi karyawatinya.


"Kamu mikir apa, hum?" tanya Arga yang sudah berada di sampingnya ikut duduk di sofa panjang.


Eh? Hania yang tengah kesal dengan pikirannya langsung menoleh karena Arga berbicara sangat dengan telinganya. Setengah berbisik. Membuatnya terkejut dan, meremang.


"Kamu pasti mikir yang ngga-ngga, kan?" goda Arga.


Hani memalingkan wajahnya karena jaraknya terlalu dekat membuat jantungnya berdebar. Dia juga jadi kesulitan bernapas.


"Udah diminum obatnya?" tanya Hania mengalihkan topik pembicaraan yang membuatnya kesal setelah menggeser tubuhnya sehingga dia bisa leluasa menoleh pada Arga. Pria tampan itu mengangguk.


"Kita jemput Tiara sekarang?" tanya Hania lagi tapi lebih seperti ajakan. Arga mengangguk lagi.


Pria itu bangkit dari duduknya kembali ke meja kerjanya. Meraih ponsel dan kontak mobilnya lalu memasukkannya ke dalam saku celana.


"Ayo!" Arga mengulurkan tangan kirinya dan disambut oleh Hania.


Hania baru bangkit dari duduknya ketika pintu ruangan Arga diketuk. Membuatnya dan Arga menoleh. Sekretaris Arga yang cantik dan seksi melangkah memasuki ruangan Arga dengan wajah cemas. Di belakangnya, sektetarisnya Iden mengekori. Reflek Arga menarik Hania lebih merapat ke tubuhnya. Hania  yang merasa tidak suka dengan kehadiran wanita genit itu malah merangkul lengan kiri Arga seraya melirik wanita genit itu. Bahasa tubuhnya seolah mengatakan, dia milikku!


"Ada apa?" suara dan wajah Arga berubah dingin, Hania  sampai menoleh.


"Maaf, Pak. Tapi Bela memaksa masuk dan ingin menyampaikan sendiri pesan yang diamanahkan padanya." sahut Dian takut-takut.


Dian tahu atasannya itu tidak menyukai Bela. Bekerja sebagai sekretaris Arga selama 5 tahun, cukup membuatnya mengerti sifat Arga yang tidak menyukai wanita genit dan menjaga jarak sangat aman dari tipe-tipe wanita seperti itu. Dirinya pun sebenarnya juga tidak terlalu menyukai Bela. Wanita itu dianggap terlalu berani menggoda Arga. Bukannya cemburu. Dia hanya tak suka dengan kegenitannya.


"Katakan! Saya buru-buru!" perintah Arga, dingin.

__ADS_1


*********


Thanks for reading!


__ADS_2