Yang Terakhir

Yang Terakhir
108. Siapa Yang Menjebak?


__ADS_3

Rosa menatap Arga yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang deluxe nya dengan nanar. Wanita cantik yang sudah tampil sangat seksi dan minim bahan itu tampak bingung sekarang. Rencananya gagal. Tidak bisa membuat Arga menidurinya. Dia harus membuat rencana lainnya.


"Mikir, mikir, Sa." gumamnya sambil menepuk-nepuk keningnya pelan.


Hingga setengah jam kemudian wanita yang sudah tampil maksimal demi menaikkan gairah sang pria itu masih berpikir.


"Aaargh!" Rosa memekik frustrasi seraya menjambak rambutnya.


"Ah. Kenapa gue ga kepikiran dari tadi sih?" gerutunya lalu meraih ponselnya yang berada di meja rias.


Wanita cantik dan seksi itu menggulir layar ponselnya mencari daftar nama orang yang akan di hubunginya.


"Lu gimana sih? Kenapa dibikin pingsan lagi Arganya? 'Kan susah gue ngerjainnya?" keluh Rosa begitu pria di seberang ponselnya menyahut.


"Ayo dong, Sa. Masa' gitu doang lu ngga tau sih? Bukannya malah lebih enak lu ya? Bebas mau ngelakuin apa aja." ejek pria yang di hubungi Rosa.


"Enak apaan!? Gue ngga bisa ngejebak dia nih!" rengek wanita seksi itu.


"Emang maunya apaan? Tidur sama dia?" tanya pria itu dengan nada datarnya.


"No! Big no! Lu boleh ngejebak dia apapun itu asal jangan tidur sama dia. Lu cuma boleh disentuh gue!" batinnya seraya menyeringai.


"Lu bisa jebak dia dengan cara lain, baby. Lu foto kek, video kek. Cuma sebagai bukti doang 'kan kalau dia udah nidurin lu. Itu udah bisa jadi bukti yang kuat. Kalau pun nanti dia mengelak, lu ngga rugi apa-apa." terang pria itu.


"Iya, ya. Lu bener. Kenapa ngga kepikiran sama gue sih?" keluhnya sambil mengurut keningnya.


"Jelas dong, baby." pria itu tersenyum masam mendengar suara Rosa berubah jadi riang lagi.


"Ya iyalah ngga kepikiran. Pikiran lu cuma make love sama dia!" pria tampan itu mengeraskan rahangnya, dia tidak suka wanitanya menyukai Arga.


Keesokan harinya, Reza terbangun di sebuah kamar yang dia sendiri tidak tahu dimana tepatnya. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya berdenyut. Dengan sekuat tenaga dia bangkit dari ranjang yang sekelas hotel berbintang itu. Melihat pantulan bayangannya di cermin meja rias, dirinya hanya bisa menghela napasnya. Tampilannya sungguh kacau. Masih berbalut kemeja semalam yang sempat digantinya sebelum berangkat nenemani Arga menemui kliennya. Jam tangannya menunjukkan angka 9. Hampir siang. Dia harus bergegas.


Dengan gontai dia melangkah ke kamar mandi di sudut kamar itu dan segera membersihkan diri. Tak berselang lama, pria berwajah manis itu sudah rapi kembali meski tidak mengganti pakaiannya.


Reza segera mencari ponselnya dan menghubungi Jojo dan beberapa anak buahnya yang berada di Surabaya. Lalu melacak ponsel Arga. Untung saja, beberapa kali pun Arga mengganti ponselnya, Reza selalu memasang GPS pada ponsel atasannya itu. Dan itu selalu berguna di saat seperti sekarang ini.


Jojo menunggu Reza di depan sebuah hotel yang memang digunakan oleh pengunjung club yang ingin melanjutkan kegiatan panasnya dengan pasangan barunya. Tentu saja bersama dengan 2 anak buahnya.


"Kita ke Shing Ra Li Hotel. Bos sedang disana sekarang." perintahnya pada Jojo.


"Kenapa semalam ngga ngajak kita bos? Seengganya hal seperti ini bisa diantisipasi. Apa bos ngga curiga?" Reza juga merutuki dirinya yang kurang waspada semalam dan menyesal pun jadi percuma.


"Iya. Aku curiga tapi setelah ketemu sama orangnya. Dan itu sudah terlambat untuk manggil bantuan." sesalnya.


Sesampainya di hotel yang dimaksud, Reza dan Jojo beserta anak buahnya yang lain langsung menuju resepsionis dan menanyakan keberadaan Arga. Karena hotel bintang 5 itu terkenal dengan perlindungan ekstra terhadap privasi pelanggannya, Reza sedikit mengalami kesulitan.


"Anda mengenal Pak Arga? Arga Pramana Adiwangsa?" akhirnya Reza mengeluarkan kartu as nya.


Siapa yang tidak kenal dengan Arga. Hotel besar itu pun terlibat kerjasama dengan perusahaan furniture milik Arga.

__ADS_1


"Pak Arga? Apakah beliau pemilik hotel ini? Yang tampan itu?" sang resepsionis malah mendadak kepo.


"Iya, beliau. Beliau sekarang ada di sini. Dan saya diminta datang untuk menjemputnya. Apa Mba juga mau kena imbasnya kalau seandainya Pak Arga turun terlebih dahulu karena saya ngga muncul-muncul di hadapannya saat ini?" ancam Reza seraya membenarkan letak kaca matanya yang tidak geser kemanapun.


"Tapi tidak ada reservasi atas nama Pak Arga." sahut sang resepsionis sambil memperhatikan layar komputernya.


"Beliau ada di kamar suit no. 8011." ucap Reza tidak ingin membuang waktunya.


"Bisa saya minta kunci duplikatnya. Saya khawatir beliau masih tertidur dan sulit dibangunkan." bujuk Reza memanfaatkan kelengahan sang resepsionis.


Benar saja, resepsionis bername tag 'Sari' itu menuruti Reza.


"Terimakasih." Reza menerima kunci kamar itu seraya menyunggingkan senyum semanis gulanya, membuat sang resepsionis termangu.


"Asistene ae gantenge ngunu rek, opo maneh Pak Arga. Mbek asistene ae gelem aku. Senyume nggarai aku diabetes." Sari memuji Reza dalam hati. (Asistennya aja ganteng gitu, apalagi Pak Arga. Sama asistennya aja aku mau lah. Senyumnya bikin aku diabetes.).


Reza berlalu dari hadapan Sari bersama Jojo dengan cepat. Sepertinya sudah sangat terlambat menyelamatkan Arga dari ancaman apapun itu.


"Di sini!" seru salah seorang anak buah Reza.


Reza menempelkan digital key pada handle pintu kamar suit itu. Dan. Klek. Pintu terbuka secara automatis. Reza dan Jojo merangsek masuk meninggalkan anak buahnya di luar untuk berjaga-jaga.


Reza terbelalak melihat pemandangan yang mengundang hasrat di hadapannya. Begitu pula dengan Jojo. Susah payah dirinya menelan salivanya melihat penampakan wanita itu. Jika saja wanita seksi itu tidak ada hubungannya dengan bosnya, sudah pasti akan di sikatnya saat itu juga.


Rosa yang masih tertidur sangat terkejut begitu menyadari kamarnya sudah dimasuki anak buah Arga. Dengan segera wanita seksi itu membalut tubuhnya dengan bed cover yang tadinya menutupi tubuh setengah polosnya bersama Arga yang tanpa sehelai benang pun.


Sementara Reza hanya mengabaikannya dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh atasannya itu. Dan berusaha membangunkannya.


"Lu yang harusnya mau apa!? Dasar su*da*! Lu harusnya malu! Lu maksa bos gue dalam keadaan begini karena dalam keadaan sadar bos gue ga nafsu sama elu 'kan? Cuih!" umpat Jojo yang ikut kesal karena melihat kondisi bosnya yang tidak berdaya akibat ulah Rosa.


Rosa tersentak karena bentakan Jojo dan membuat nyalinya menciut. Wanita itu hanya diam saja di sudut kamar suit itu dengan tubuh setengah polosnya yang dibalut bed cover. Dia lebih baik begitu saja daripada pria-pria itu malah menyakitinya nanti.


"Run! Ben!" panggil Jojo pada 2 anak buahnya yang berjaga di luar.


"Kalian periksa apa bos kita udah bener-bener begituan sama su*da* itu." perintahnya pada Harun dan Ben.


2 pria kekar itu segera memeriksa ranjang, selimut, dan pakaian milik Arga. Bahkan pakaian saringan tahu milik Rosa pun diperiksa. Dan lebih ekstrimnya lagi, wanita cantik itu diminta paksa membuka cela** da***nya. Dengan berurai air mata karena ketakutan, Rosa menuruti semua permintaan anak buah Arga.


Reza masih berusaha membangunkan Arga dengan berbagai bau-bauan. Tapi pria karismatik itu masih enggan untuk membuka matanya. Pria berkacamata itu meraba denyut nadi Arga dan terasa lemah. Bibir Arga yang biasanya berwarna peach cerah, kini memucat, wajahnya pun sama pucatnya.


"Guys! Cukup dulu sama perempuan itu. Kita harus bawa bos ke RS. Gue khawatir sama keadaannya."


"Bos belum sadar?" Jojo mendekat dan ikut memeriksa Arga.


"Iya nih, tangannya dingin." ucapnya mulai panik.


"Run! Ben! Udah semua? Kita harus bawa bos pergi dari sini." lanjutnya yang diangguki Harun dan Ben.


Jojo keluar ruangan terlebih dahulu mencari jalan keluar teraman dan mengambil mobil yang terparkir di halaman depan hotel itu.

__ADS_1


"Gue akan buat perhitungan sama lu! Nanti!" ancam Reza dengan wajah mengeras.


Ingat! Pria berwajah manis itu bisa berubah kejam pada saat situasi mendukungnya untuk bertindak kejam. Apa yang dilakukannya semata-mata untuk menjauhkan atasannya dari gangguan.


Rosa memerosotkan tubuhnya dan duduk di lantai. Kakinya mendadak lemas seperti jely. Tubuhnya masih bergetar karena ketakutan. Wanita mana yang masih bernyali jika dihadapakan dengan 4 pria bertubuh tinggi besar dan kekar? Kecuali wanita itu memiliki kemampuan bela diri yang baik.


Di RS, Reza berjalan mondar-mandir menunggu Arga mendapat pertolongan. Pria itu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga atasannya sebagaimana mestinya.


"Bos, lu udah kayak setrikaan aja. Bikin kepala gue pusing. Duduk gih!" celetuk Jojo.


"Gue yang pusing kalau cuma duduk doang, usrok!" sahut Reza tak kalah sengit.


Baru Jojo akan membalas Reza, seorang dokter berwajah teduh, keluar ruangan dimana Arga mendapat pertolongan. Dokter itu mendekati Reza.


"Untung kalian cepet bawa dia ke sini." ujar dokter itu seraya menatapi wajah Reza dan Jojo bergantian.


"Ikut ke ruanganku!" pintsnya kemudian.


Dokter Rizal. Begitulah bunyi name tagnya. Pada dokter itu Reza dan Jojo akan sama hormatnya seperti mereka menghormati Arga.


"Pak Arga gimana, Dok?" tanya Reza.


"Saya sudah atur semuanya. Kamu tenang aja." sahut Rizal.


"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai begitu?" Reza dan Jojo saling menatap tspi masih terdiam.


"Masalah bisnis, Dok. seseorang berusaha menjebak kami." ungkap Reza.


Pria itu berani terbuka pada dokter karismatik itu karena dokter itulah yang selalu membantu Arga saat sedang di Surabaya.


"Menjebak? Dengan kloroform dosis tinggi? Yang benar saja? Itu ilegal. Apapun itu yang namanya obat bius ngga bisa didapat dengan bebas begitu saja." Rizal sudah mulai emosi begitu mendengar ada orang yang menyalahgunakan obat apalagi korbannya adalah sahabatnya sendiri.


"Power of cuan, Dok." seloroh Jojo memecah ketegangan.


Benar. Rizal juga tahu itu. Ketika uang sudah bicara, orang yang tak kuat mental pasti menghamba.


"Siapa yang menjebaknya?" tanya Rizal dengan nada datar.


Reza menghela napasnya lalu menggelengkan kepalanya. Pria manis itu belum tahu siapa dalang di balik drama ini. Apakah ada sangkut pautnya antara Damar dan Rosa? Ataukah Damar dan Rosa hanya bagian dari rencana irang lain yang ingin menjatuhkan Arga?


"Saya belum tahu dalangnya. Ada banyak skenario yang bisa disimpulkan. Yang jelas terlibat di sini dan anda mengenalnya adalah Ibu Rosa." terang Reza.


"Rosa? Mantan kekasih Arga? Dia di sini? Untuk apa dia menjebak Arga?" jiwa kepo Rizal muncul seketika.


*******


Thanks for reading!


Like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh untuk dukung karya author ini. 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2