
Arga menghela napas berat mendapati Galih berada di depan ruang rawat Hania. Matanya menatap tubuh tinggi itu dengan tajam. Ada rasa tidak suka dengan kehadiran pria berwajah manis itu di sana. Dia cemburu.
"Ngapain lu di sini?" tanya Arga begitu sudah berdiri di sebelah pria itu.
Galih langsung menoleh ke arah suara yang bertanya padanya. Pria tegap itu berdecih setelah tahu bahwa Arga lah pemilik suara datar dan dingin itu.
"Gue mau apa? Jelas ketemu sama sahabat gue lah. Masa' gue nyariin lu!" Galih terkekeh mengejek Arga.
"Tapi gue kecewa. Hania ngga mau ketemu gue. Itu semua gara-gara lu! Lu ngapain aja, hah!? Sampai Hania jadi kayak gitu!?" pekik Galih tertahan dengan emosi yang sudah meluap-luap.
Kini kedua pria gagah itu berdiri saling berhadapan. Saling menatap dengan tajam. Arga dapat melihat emosi yang terpancar dari mata teduh milik Galih. Arga mendadak kehilangan kata-kata. Benar. Apa saja yang dikerjakannya? Menjaga Hania saja tidak becus. Hingga Hania harus mengalami kejadian traumatik itu? Padahal dirinya yang meminta Hania untuk percaya padanya. Dan wanita cantik itu sudah mempercayainya.
"Memangnya kalau Hania bersamamu, dia akan baik-baik saja?" bukannya membela dirinya, Arga malah bertanya.
"Selama ini, dia baik-baik aja. Justru laki-laki yang dipilihnya yang bikin dia terluka. Dulu mantan suaminya! Dan sekarang elu!" ucap Galih penuh penekanan.
Arga mengeraskan rahangnya. Pria tampan itu tidak suka disama-samakan dengan pria di masa lalu kekasihnya. Dia berbeda. Sangat berbeda. Dirinya sangat mencintai wanitanya.
"Lepasin dia! Sama lu, Hania cuma akan merasa sakit. Gue bisa jagain dia lebih baik dari lu!" tuntut Galih membuat Arga membelalakan matanya.
Arga kemudian terkekeh. Pria tampan itu jelas tidak akan melepaskan Hania. Susah payah menaklukkan hatinya dan menjadikannya kekasihnya, masa' iya akan dilepaskan. Tidak mungkin! Apalagi, wanita cantik itu bertubi-tubi tertimpa kemalangan karena ulah orang-orang yang berhubungan dengannya. Sudah barang tentu Arga akan semakin menggenggam erat wanita berhati lembut itu dan memberinya perlindungan. Galih belum tahu saja bagaimana posesifnya Arga jika sudah merasa terancam.
"Jangan mimpi!" cibir Arga.
"Gue ngga akan ngelepas Hania sampai kapanpun!" tegas Arga.
"Mungkin cinta lu untuk kekasih gue itu cukup besar. Tapi Hania cuma butuh cinta dari gue." ucap Arga sambil menekan kalimat terakhirnya.
Arga tahu Galih mencintai Hania. Hanya dengan melihatnya saja, Arga bisa menebak dengan benar jika sahabatnya Hania itu mencintai Hania. Dirinya seperti berkaca pada Galih. Pria karismatik itu melihat tatapan penuh cinta dari mata Galih, sama sepertinya ketika menatap Hania. Dia juga bisa merasakan pria bermata coklat tua itu sangat ingin memberi perlindungan pada wanita cantiknya, sama sepertinya.
Arga tidak bisa menyalahkan Galih yang memintanya melepaskan Hania. Karena pastinya pria bertubuh sama atletisnya dengannya itu menginginkan kebaikan untuk Hania. Pria itu jelas-jelas menyalahkannya. Dan. Arga memang sedang dilingkupi rasa bersalah.
Reza yang sedari tadi melihat perseteruan mereka, hanya bisa memperhatikan dalam diam. Pria berwajah manis itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan kedua pria yang sama-sama mencintai Hania itu. Ternyata orang yang sedang kasmaran itu suka sekali merepotkan diri sendiri.
"Sebenarnya mereka itu ngapain, sih? Ingin membuat Hania aman dan tenang 'kan? Kenapa ngga sama-sama jagain Hania aja, sih?" batin Reza.
Tanpa mereka sadari, Sang Ibu sudah berdiri di belakang Arga. Menjelang sore, ibunya Arga akan selalu datang untuk bergantian menjaga Hania dengan Arga, untuk memberi waktu pada putranya itu beristirahat. Sebenarnya, wanita paruh baya itu ingin sekali menginap di ruang rawat itu untuk menunggui Hania tapi Arga melarangnya. Putranya itu tidak ingin ibunya juga kelelahan dan jatuh sakit. Hania pun ikut melarang. Wanita cantik itu setuju dengan Arga. Selain itu, Hania merasa sungkan jika terus-terusan merepotkan ibunya Arga.
"Kok pada berdiri di sini, sih? Ribut lagi." tegur sang Ibu lalu meninggalkan keduanya yang tengah bersitegang.
__ADS_1
Teguran ibunya Arga kontan membuat kedua pria gagah itu menoleh lalu meringis bersamaan dan melakukan gerakan impulsif yang sama; mengusap tengkuknya.
Pintu ruang rawat Hania terbuka. Arga memiringkan kepalanya agar dapat melihat ke dalam. Galih pun ikut melongokkan kepalanya dari celah pintu ruangan itu. Tanpa disadari tubuhnya berdekatan dengan Arga, nyaris menempel. Hingga ketika Arga menoleh ke arahnya, hampir saja kepala pria karismatik itu terbentur kepala Galih.
"Apaan sih lu, mepet-mepet?" tegur Arga ketus.
"Apaan sih!?" balas Galih tak kalah ketus.
Tiba-tiba ibunya Arga keluar lagi. Matanya menelisik Galih.
"Kamu, siapanya Arga? Kok saya ngga pernah liat?" tanya sang Ibu yang mungkin baru menyadari kehadiran orang yang belum dikenalnya.
Galih yang tadinya menatap ibunya Arga, kini meliriknya sekilas.
"Saya...." ucapan Galih terpotong.
"Dia sahabat Hania, Bu." sambar Arga yang tak menginginkan pria itu bicara macam-macam.
"Sahabat?" sang Ibu mengerutkan keningnya seraya menatap Galih dari ujung rambut ke ujung kaki, lalu kembali lagi ke ujung rambut.
"Bener, Bu. Saya Galih. Sahabatnya Hania. Kami berteman sejak duduk di bangku SMA." Galih memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Kalau gitu, ayo masuk. Hania pasti seneng nih dibesuk sahabat lamanya. Ayo!" ajak wanita paruh baya itu.
"Bu?" tegur Arga.
"Kenapa?" tanya sang Ibu.
Arga bingung harus menjelaskan bagaimana tentang kondisi Hania. Pria karismatik itu tidak ingin ibunya syok mendengar kenyataan yang menimpa Hania. Terlebih lagi, pria itu menjaga harga diri dan perasaan Hania. Dia ingin menutupi kenyataan yang membuat kekasihnya itu terpuruk. Semakin sedikit yang tahu akan semakin baik untuk kesehatan mental wanita cantik itu.
"Maaf, Bu. Tadi saya..." Galih mendesah ketika lagi-lagi perkataannya terpotong.
"Tadi Galih udah dari dalam dan ketemu Hania. Sekarang dia mau pulang. Ya 'kan lu mau balik?" sambar Arga seraya berusaha membalikkan tubuh Galih dan mendorong-dorong tubuh Galih ke arah pintu keluar.
"Apaan sih lu!?" bisik Galih seraya menampik tangan Arga yang mendorong-dorong bahunya.
"Ayo! Gue anter sampe depan." Arga tak menggubris penolakan Galih.
"Saya permisi, Bu. Besok saya kesini lagi. Assalamu'alaikum." pamit Galih dengan senyum yang dibuat semanis gula padahal hatinya sedang kesal pada Arga.
__ADS_1
Galih yang kebingungan dan protes dengan sikap Arga, akhirnya mau tak mau mengikuti perkataan pria yang memiliki postur tubuh sepertinya. Meski berat meninggalkan ruang rawat itu, Galih akhirnya melangkah juga diikuti Arga.
"Kenapa sih lu!? SKSD banget! Aneh!" sentak Galih sesampainya di lobi rumah sakit itu.
"Sorry. Tapi tadi lu udah ketemu Hania 'kan?" tanya Arga dengan nada datar.
"Iya, udah. Tapi dia histeris liat gue. Gue malah diusir keluar." ucapnya dengan wajah yang sendu.
Kedua pria itu kini duduk di kursi panjang di taman samping lobi rumah sakit itu.
"Dia trauma. Orang yang nyulik dia itu, dulunya sahabat gue. Dia punya postur tubuh kayak gue. Jadi, setiap Hania liat laki-laki yang memiliki postur tubuh seperti gue, Hania kayak keinget lagi sama orang itu." terang Arga dan yang pasti menutupi kejadian yang sebenarnya.
Mendengar keterangan Arga, Galih spontan melihat ke arah tubuhnya sendiri lalu melirik Arga, memperhatikan tubuh pria itu sepintas. Dia menghela napas berat. Dalam keadaan seperti ini, Galih mendadak menginginkan bentuk tubuh seperti kebayakan pria pribumi pada umumnya. Baru kali ini dia tidak mensyukuri bentuk tubuh yang selalu dibanggakannya itu demi bisa mendekap Hania dan memberinya dukungan.
"Sama lu kenapa dia ngga takut?" tanya Galih, ada rasa tak suka ketika Arga dengan mudahnya mendekati Hania.
Galih ingat tadi Lisa mengatakan jika Arga menunggui Hania setiap saat dan tak pernah meninggalkannya. Itu berarti Hania tidak bermasalah dengan keberadaan Arga di dekatnya.
"Awalnya dia takut. Gue juga diusir. Tapi waktu itu kondisinya berbeda. Dia ketakutan. Dan hanya gue yang dia kenal. Gue juga maksa dia untuk ngenalin gue." suara Arga terdengar sendu, membuat Galih tanpa sadar menepuk bahu Arga seolah memberi dukungan.
Arga yang merasa bahunya ditepuk menoleh dan menatap tangan Galih yang masih bertengger di sana. Galih yang ikut menatap arah tatapan Arga seketika menyadari keberadaan tangannya di bahu Arga dan dengan segera menarik tangannya dari bahu kokohnya Arga.
Galih menghela napas dalam-dalam kemudian mendongakkan kepalanya. Langit cerah malam itu. Tapi sayang tidak dengan hatinya.
"Gue pernah liat Hania hancur dan terpuruk kayak gini. Dan dengan susah payah dia bangkit dan menjalani hidupnya dengan tenang." ucap Galih, membuat Arga menoleh padanya.
"Dulu, gue yang nemenin." imbuhnya.
"Lu tenang aja. Sekarang gue yang nemenin sampe dia pulih. Dan setelah itu gue yang akan buat dia bahagia sampe dia lupa rasanya terluka." tegas Arga.
"Buktiin! Atau gue rebut dia!" sinis Galih.
"Kalau lu bisa!" cibir Arga.
********
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh dong. Untuk dukung terus karya ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘