
Raka terpaku di tempatnya berdiri. Saat ini dirinya sedang berada di sebuah mall. Matanya lekat menatap seorang wanita cantik yang sedang memilih produk susu untuk ibu hamil, tak jauh darinya. Seketika jantungnya berdetak kencang dan darahnya berdesir. Wanita yang tengah fokus pada kotak yang dipegangnya itu tengah mengandung anaknya. Ada rasa bangga yang dia rasakan.
Mengetahui dirinya akan menjadi seorang papa, membuatnya perlahan berubah menjadi lebih menyayangi kesehatannya. Dirinya tak pernah lagi menyentuh sembarang wanita sejak menyentuh Hania. Bahkan pria tampan itu menghindari Rosa, wanita yang disayanginya dan menjadi penghangat ranjangnya. Tapi sepertinya rasa sayang itu beralih pada Hania dan janin dalam kandungannya. Raka juga mengurangi minuman beralkohol. Dia ingin tetap sehat agar bisa merebut Hania dan anaknya dari Arga.
Ingin rasanya mendekati ibu dari calon anaknya itu tapi mengingat laporan anak buahnya tentang Hania yang sempat depresi karena ulahnya dulu, membuatnya mengurungkan niat. Mengingat ulahnya itu, Raka berkali-kali merasakan penyesalan yang teramat dalam dan terus-terusan menyalahkan dirinya.
"Kamu liat apa, sayang?" tanya Ibu Anna yang sudah muncul di samping Hania yang celingukan ke arah yang berbeda.
Hania yang merasa diperhatikan seseorang, langsung menoleh ke arah dimana Raka berdiri, membuat pria tampan itu segera bersembunyi di samping rak besar berisi susunan tisu. Jaraknya yang berselang 1 rak besar dengan Hania, membuat tubuhnya dapat terhalang dengan sempurna tapi masih dapat mendengar percakapan Hania dengan ibunya Arga meski lamat-lamat.
"Itu, tadi kayak ada yang merhatiin aku, Bu." sahut Hania seraya menoleh ke arah ibu mertuanya sekilas lalu menoleh lagi ke arah tadi.
Sang Ibu ikut melihat ke arah tatapan Hania. Memang tidak ada orang di sana. Swalayan dalam mall itu cenderung sepi saat siang hari. Selain masih jam kerja, siang hari itu memang agak terik, dan pengunjung lebih suka datang saat sore menjelang malam. Sekali dayung 2 3 pulau terlampaui. Sekalain belanja sekaligus jalan-jalan dan makan malam di mall itu.
"Ngga ada orang. Mungkin cuma perasaan kamu aja, sayang." tukas sang Ibu.
"Iya juga. Mungkin cuma perasaanku aja." lirih Hania membenarkan perkataan sang Ibu.
Hania dituntun sang Ibu mertua meninggalkan rak berisi susunan susu untuk ibu hamil setelah Hania mengambil beberapa kotak dengan beberapa varian rasa.
"Ibu masih ada yang mau di beli?" tanya Hania setelah merasa semua yang dibutuhkannya sudah lengkap.
"Kamu udah capek? Ya udah kita pulang sekarang. Mang Diman!" seru ibu Anna.
Mang Diman yang merasa namanya dipanggil segera menampakkan dirinya. Sedari tadi pria paruh baya itu terus mengikuti kedua majikannya sambil membawakan kursi rodanya Hania. Hania sudah diperbolehkan melakukan aktifitas ringan hanya saja harus menggunakan kursi roda untuk mengurangi goncangan diperutnya.
"Iya, Bu! Saya!" sahut Mang Diman yang muncul dari lorong sebelah seraya menampakkan senyumnya.
"Kita pulang sekarang, Mang! Saya ngga mau Hania kecapekan." ujarnya pada Mang Diman.
"Siap, Bu! Silakan Mba Hania." sahut Mang Diman lagi seraya mempersilakan Hania duduk di kursi rodanya.
"Makasih ya Mang. Maaf saya jadi ngerepotin." ucap Hania merasa tak enak hati.
Meski statusnya adalah majikan yang harus dilayani, tapi Hania tetap menaruh hormat pada Mang Diman yang berusia jauh lebih tua darinya.
"Ah, Mba Hania ini kayak sama siapa saja. Ini saya Mba, Mamang." ucap Mang Diman seraya menepuk pelan dadanya yang artinya Mamang siap mengantar dan menjaga majikannya itu tanpa perlu sungkan.
Mang Diman langsung menyukai istri baru majikannya itu sejak pertama kali bertemu. Hania yang bersikap hormat dan tidak bersikap berkuasa padanya membuatnya selalu tulus dan menganggap wanita cantik yang usianya tidak lebih tua dari anak perempuannya di kampung itu seperti putrinya sendiri.
"Honey!" sebuah suara bariton yang sangat dihapalnya membuat Hania menoleh, bukan hanya Hania, Ibu Anna dan Mang Diman pun ikut menoleh.
"Mas Arga? Mas di sini?" Hania sedikit terkejut akan kedatangan Arga sekaligus senang.
"Iya. Aku mau jemput kamu." sahut Arga.
Namun, bukan itu tujuan Arga datang ke mall dimana Hania dan sang Ibu berada saat ini, melainkan Raka. Mantan sahabatnya itu berada di mall yang sama dengan istrinya.
Drrrt drrrt drrrt!
Arga yang fokusnya memeriksa berkas di ruangannya terganggu oleh suara getaran ponselnya yang mendengung bagai lebah, segera menyambar dan melihat ke arah layar benda pipih itu. Pria karismatik itu memgernyitkan keningnya. Iden? Biasanya pria flamboyan itu langsung mendatanginya jika ada perlu dengannya.
__ADS_1
"Tumben lu?" sapa Arga setelah ponselnya terhubung.
"Gue di mall xx, buruan ke sini lu! Barusan gue liat Raka di sini! Istri lu juga di sini." terang Iden membuat Arga menegang seketika.
"Lu awasi dia dulu!" perintah Arga seraya berjalan keluar ruangannya.
"Ngga bisa gue. Ada meeting penting. Lu deh buruan! Gue udah suruh Ben ke sini." tolak Iden.
Dian yang melihat Arga keluar ruangan langsung berdiri. Apalagi langkah atasannya itu tampak tergesa.
"Tolong kamu tunda semua janji dengan saya hari ini. Saya harus mengurus sesuatu. Atau kalau bisa diwakilkan pada Reza, wakilkan saja!" perintah Arga seraya mencoba menghubungi ponsel Hania.
Arga berjalan ke arah lift dengan perasaan gusar karena istrinya tidak mengangkat panggilannya. Pria karismatik itu khawatir Hania akan bertemu Raka. Dia tidak ingin istrinya itu syok lagi dan mempengaruhi kesehatannya dan kandungannya.
Sementara Dian, sang sekretaris yang selalu menjadi tamengnya Arga dari ungkapan kecewa para klien yang pertemuannya dengan atasannya itu harus tertunda, hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Inhale exhale!
"Mengurus sesuatu? Apa itu? Kenapa kesannya lebih penting dari meeting dengan para investor?" Dian menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, memikirkan beberapa pertemuan yang harus di atur ulang jadwalnya dan sudah pasti harus mendengar keluhan dari beberapa petinggi perusahaan rekanan Arga.
Arga celingukan di hall mall dimana Hania dan sang Ibu berada hingga seorang pria menyapanya dengan suara berat.
"Ben?" Arga segera mengenali pria itu.
"Ibu Hania di sebelah sini, Bos." Arga mengekori Ben yang berjalan terlebih dahulu.
"Kenapa lu ninggalin istri gue? Kalau dia kenapa-kenapa gimana!?" protes Arga tak suka.
"Sori Bos, tapi ada Toto yang ngawasin Bu Hania. Dan Pak Raka kayaknya ngga akan mendekat. Dia cuma ngeliat Bu Hania dari jauh." sahut Ben seraya menundukkan wajahnya.
"Tangkap dia! Gue ngga mau dia keliaran di sekitar Hania!" perintah Arga, dingin, dengan langkah tergesa.
Ben menganggukkan kepalanya lalu meninggalkan Arga yang sudah menemukan keberadaan istrinya. Pria kekar itu juga merasa bertanggung jawab atas kejadian beberapa bulan yang lalu. Karena keteledorannya pulalah Hania diculik.
"Kenapa ngga duduk aja di kursi roda, honey?" protes Arga.
"Itu, baru mau duduk." sahut Hania seraya menunjuk kursi rodanya yang didorong Mang Diman.
"Sekali-sekali 'kan ngga apa-apa Mas. Kakiku bisa mati rasa kalau ngga dipake gerak." protes Hania.
"Tapi aku ngga mau kamu dan calon bayi ini kenapa-kenapa, honey." ucap Arga seraya mengusap lembut perut Hania.
Raka mengepalkan tangannya. Melihat Arga mengusap perut Hania dan perhatian pada calon anaknya membuatnya kesal. Harusnya dirinya yang mengusap perut yang masih ramping itu. Menyalurkan rasa sayangnya pada calon anaknya dalam perut Hania.
"Kalian udah makan?" tanya Arga pada Hania lalu menoleh pada sang Ibu.
"Udah. Ini mau pulang. Mas udah makan? " Arga menganggukkan kepalanya.
"Ayo, aku antar pulang." ajak Arga seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Hania yang masih ramping.
"Kalau gitu, Ibu sama Mang Diman aja, Ibu masih mampir lagi ke butik langganan Ibu dulu." ucap sang Ibu, lalu berjalan mendahului Arga dan Hania.
Arga mengambil alih kursi roda yang sedari tadi didorong kesana kemari oleh Mang Diman, dan meminta Hania duduk manis di atasnya lalu mendorongnya perlahan mengikuti sang Ibu.
__ADS_1
Raka masih memperhatikan Hania dari kejauhan. Rasanya tak rela melihat wanita cantik itu meninggalkan mall dan akan pulang ke rumah Arga bersama anaknya. Apakah dirinya cemburu?
Raka menghembuskan napas berat. Pria tampan itu tidak suka melihat kemesraan Arga dan Hania. Hal yang lumrah dilakukan pasangan suami istri. Namun, perhatiannya pada Hania harus terhenti saat ekor matanya menangkap bayangan seorang pria yang berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah cepat. Mantan sahabat Arga itu langsung beringsut pergi dari tempatnya mengawasi Hania.
"Aku 'kan bisa pulang bareng ibu, Mas. Emang Mas ngga sibuk ya, sempat banget jemput aku segala?" tanya Hania saat sedan mewah itu sudah berbelok ke jalan yang sedikit padat.
"Aku kangen sama kamu dan kerjaanku udah beres. Tunggu apalagi?" dusta Arga, tapi perkara rindu, pria tampan itu tidak berbohong.
"Mas ngga balik lagi ke kantor, nih?" Arga hanya menggelengkan kepalanya, matanya tetap fokus menatap jalanan macet di depannya.
"Ish! Dasar bos ngga ada akhlak. Ngga ngasih contoh yang baik untuk karyawannya." cibir Hania.
Arga terkekeh mendengar istrinya menggerutu tapi gerutuan istrinya itu malah membuatnya merasa diperhatikan, dan dia suka itu.
Drrrt drrrt drrrt!
Kening Arga mengernyit setelah melihat deretan nomor yang sangat dikenalnya meski tak bernama di layar ponselnya. Kontak Raka. Arga memang sudah menghapus kontak mantan sahabatnya itu tapi dia lupa memblokirnya. Dan sekarang Raka menghubunginya. Mau apa dia?
Arga melirik Hania yang ternyata sedang menatapnya heran karena tidak segera menjawab panggilan di ponselnya. Wanita cantik di sebelahnya itu pasti terganggu dengan getaran ponselnya yang mendengung bagai lebah di dalam mobil mewahnya. Pria tampan itu menghela napasnya dalam lalu celingukan mencari tempat lengang untuk menepikan mobilnya.
"Mau apa lu!?" tanya Arga dengan ekspresi wajah dinginnya.
"Ternyata lu masih simpen kontak gue." kekeh Raak di seberang ponselnya.
"Ngga ada alasan buat lupa sama orang brengsek kayak lu!" Arga menekan setiap kata-katanya.
Hania yang sedari tadi duduk tenang mendengarkan Arga langsung menoleh lagi. Perubahan intonasi suara suaminya itu membuatnya langsung menduga jika suaminya itu sedang berbicara pada orang yang sangat dibencinya. Tubuhnya seketika menegang, jantungnya berdegub kencang, dan matanya berkaca-kaca.
"Masih berani lu hubungi gue!? Saat ini lu masih bisa keliaran bebas tapi gue pasti nemuin lu. Saat itu tiba, gue ngga bakal biarin lu lolos lagi, b*ngs*t!" ancam Arga dengan suara berat yang ditekan tanda dirinya sangat marah.
Hening. Raka tidak menyahuti ancaman Arga. Pun Arga, pria karismatik itu masih diam menatap tajam lurus ke depan, satu tangannya mencengkram setir mobilnya dengan erat.
"Gue tau, istri lu hamil anak gue. Anak itu milik gue! Apa yang harusnya jadi milik gue akan jadi milik gue!" ucap Raka datar namun bergetar.
Deg!
Dada Arga seketika bergemuruh. Jantungnya berdetak kencang. Bibirnya mengatup dan cengkraman tangannya semakin mengerat. Mendengar ucapan mantan sahabatnya itu Arga tidak terima dan sakit hati. Miliknya? Dasar serakah!
"Jangan mimpi! Seujung rambutnya pun, elu ngga bakal bisa sentuh mereka! Gue jamin itu!" sergah Arga, lagi-lagi menekan setiap katanya agar tidak meledak-ledak.
*******
Thanks for reading!
Maafkeun ya readers... Lambat sangat up nya, baru bisa up sekarang. Beberapa hari kemarin sempat tumbang 😷🤧🤒
Tapi sekarang udah sehat lagi kok, udah siap buat nyambung tulisan 💪🏻
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1