Yang Terakhir

Yang Terakhir
182. Hania Tahu


__ADS_3

Brak!


Ketiga pria tampan dalam ruangan Arga menoleh bersamaan ke arah pintu yang dibuka dengan kasar. Mata ketiga pria itu melotot dan merasakan otak cerdas mereka langsung kosong tak dapat memikirkan apapun saking terkejutnya dengan kehadiran Hania yang sudah berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca. Lidah mereka pun seketika kelu demi melihat tatapan mata wanita cantik itu lekat menatap mereka bergantian.


"Mas!? Kamu juga tahu!? Kenapa ngga bilang sama aku!? Apa yang ngga aku ketahui? Kenapa cuma aku yang ngga dikasih tahu!? Kalian jahat!" tekan Hania penuh emosi.


Sepeninggal Galih tadi, Hania kembali lagi ke ruang kerja Arga. Meneruskan membaca berkas yang ditinggalkan begitu saja di meja kerja suaminya tadi. Setelahnya langsung meluncur bersama Mang Diman ke perusahaan suaminya sambil membawa amplop coklat berukuran besar itu.


Sesampainya di lantai dimana ruangan Arga terdapat, Hania tidak menemukan siapapun di sana. Sekretaris suaminya tidak ada di tempat. Ruangan asistennya pun tampak tertutup rapat. Mungkin karena saat itu bertepatan dengan jam istirahat.


"Gue bingung gimana ngomongnya, Bang. Hania sedang rapuh saat ini. Gue yakin kalau dia tahu, dia pasti bingung dan mungkin juga syok atau malah berusaha menyangkal. Jadi kayak perang batin gitu." Hania baru akan mengetuk pintu ruang kerja Arga ketika lamat-lamat terdengar suara suaminya menyebutkan namanya, membuatnya terpaku di depan pintu.


"Gue kasian sama nyokap. Beberapa hari ini kesehatannya jadi terganggu. Dia lebih banyak mikirin Hania daripada kesehatannya." kali ini, suara yang berbicara tak begitu akrab di telinganya, namun Hania menduga suara itu milik Rendy karena menyebut Tante Irene dengan sebutan nyokap yang berarti ibu.


"Pastilah kepikiran, Bang. Pasti mereka ngerasa bersalah banget karna ngga bisa jagain anak-anaknya dengan baik. Ngerasa kesalahan di masa lalu seharusnya ngga terjadi. Mereka takut kalau Hania nyalahin mereka." kini suara sendu Iden terdengar mendukung Rendy.


"Gue harus mastiin kondisi Hania dulu. Gue ngga mau istri gue histeris kayak dulu lagi. Apalagi setelah kejadian malam kemarin. Tiba-tiba pingsan di rumah keluarga kalian. Sebelumnya dia baik-baik aja. Gue rasa dia udah liat foto-foto itu sesuai rencana lu, Den." terdengar ucapan Arga lagi.


"Gue ngerti, Ga. Kita juga ngga bisa maksa. Tapi kayaknya, lebih cepat dia tahu, akan lebih baik." sahut Iden mengungkapkan pendapatnya.


Suasana hening. Tak terdengar suara dari balik pintu dimana Hania berdiri menguping.


"Pelan-pelan aja. Gue juga ngga begitu yakin istri gue tahu. Karena setelah kejadian malam itu, Hania ngga ngebahas apapun. Sikapnya biasa aja kayak ngga terjadi apa-apa." suara Arga terdengar lagi, membuat Hania yang ingin masuk, mengurungkan niat.


"Jadi dia ngga tahu?" tanya Rendy tapi lebih seperti menyimpulkan.


Mata Hania masih menatap nanar ke arah ketiga pria yang sama-sama tampak terkejut yang juga menatapnya. Tidak ada yang menyambutnya. Ketiganya terpaku di tempatnya duduk masing-masing.


Hania tidak dapat berpikir dengan baik saat menguping tadi. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Namun lebih didominasi oleh ekspresi terkejut. Setiap kata yang keluar dari mulut ketiga pria di dalam ruangan itu membuatnya syok setengah mati.


Kata-kata yang didengarnya barusan terus berputar di benaknya dan membuat jantungnya berdetak kencang. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan? Apakah sama dengan perihal isi amplop coklat yang dipegangnya?


Tadinya, niatnya hanya ingin menanyakan perihal berkas dalam amplop coklat itu. Wanita cantik bermata kelinci itu ingin memastikan informasi yang juga membuatnya jatuh pingsan beberapa hari yang lalu. Dia takut salah ataupun salah paham. Meski jelas-jelas foto dalam amplop itu adalah fotonya dan nama yang tertera adalah namanya. Tapi pikirannya masih mencoba menepis. Bukankah di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang sama persis? Bisa saja 'kan juga memiliki nama yang sama persis?


Namun, informasi yang sempat disangkalnya, ternyata sebuah kebenaran. Membuat dadanya serasa sesak seperti dihimpit benda besar, hatinya berdenyut nyeri. Matanya juga mengembun. Apalagi mengetahui ternyata suaminya juga tahu dan merahasiakannya darinya.


"Jadi ini bener!?" seru Hania seraya menghempaskan amplop coklat berukuran besar yang sejak tadi dipegangnya ke lantai.


Wanita cantik itu kesal dengan diamnya ketiga pria tampan di hadapannya itu.

__ADS_1


Seketika isi amplop yang memang tidak tertutup dengan benar itu berhamburan berserakan di lantai. Ketiga pria tampan itu ikut menoleh ke arah amplop yang isinya sudah berserakan seketika menelan ludahnya. Ada foto Hania di antara lembar-lembar kertas itu.


"Honey." lirih Arga seraya mendekati istrinya yang tengah berusaha menahan tangisnya.


Pria tampan itu tak tega melihat Hania yang menangis sesenggukan. Menunduk seraya memeluk tubuhnya sendiri. Hatinya terasa perih melihat wanita yang dicintainya tampak begitu nelangsa. Arga merasa bersalah. Seharusnya dia mengatakannya pada Hania tapi keputusannya menunggu waktu yang tepat agar Hania bisa menerima kenyataan malah berbuah kesalahpahaman.


Sementara kakak beradik Rendy dan Iden masih terpaku di tempat duduknya. Lidahnya terasa kelu. Tidak tahu harus berucap apa. Keduanya mengerti posisi Hania. Wanita cantik itu pasti terkejut dan sakit hati. Benar yang dikatakan Arga. Hania pasti syok.


"Stop disitu, Mas!" seru Hania melarang Arga untuk lebih dekat dengannya.


"Honey, ini ngga seperti yang kamu pikirkan. Aku punya alasan kenapa ngga bilang sama kamu." ucap Arga mencoba menenangkan istrinya.


Suara Arga terdengar bergetar. Pria itu takut jika Hania tidak mau menerima penjelasannya dan memaafkannya.


"Hal sepenting ini, Mas ngga ngomong sama aku!? Ini menyangkut aku, Mas! Menyangkut asal-usulku yang ternyata ngga seperti yang udah terjadi!" pekik Hania penuh penekanan.


"Yang aku tahu orangtuaku udah ngga ada. Trus tiba-tiba aku punya orangtua yang lain. Aku bingung. Aku ngga tahu mau minta penjelasan ke siapa?" lanjutnya lebih tenang.


"Kenapa kalian ngga ngomong langsung ke aku? Huhu...." Hania semakin tergugu.


Tanpa disadari Hania, Arga sudah siap merengkuh tubuh ramping sang istri. Perlahan Arga menarik pinggang istrinya ke dalam pelukannya. Hania sempat melakukan penolakan. Berusaha berontak, tentu saja Arga tak membiarkan Hania terlepas dan mungkin saja akan menjauhinya. Tak apa jika Hania marah dan belum memaafkannya, asalkan raganya ada di sekitarnya hingga dia dapat mengawasinya dengan benar. Ya. Arga akan lebih tenang jika bisa tetap bersama Hania.


Dalam dekapan Arga yang tetap mengerat itu, mendadak kepala Hania merasa pusing dan pandangannya berputar. Wanita cantik itu mengerjapkan matanya beberapa kali menguasai dirinya. Namun seiring tubuhnya yang semakin lemas, pandangannya ikut menggelap.


"Honey!"


"Hania!"


Kontan saja keadaan Hania yang mendadap tak sadarkan diri lagi itu membuat ketiga pria tampan itu panik.


"Dia kenapa? Kenapa sering pingsan? Apa sering begini?" cecar Rendy yang ikut membantu Arga menopang tubuh Hania.


"Lepasin tangan lu, Bang! Ga usah modus ya, pake pegang-pegang Hania segala!" tegur Arga datar.


Dalam keadaan gawat darurat begitu pun, pria karismatik itu masih sempat-sempatnya bersikap posesif pada Hania. Padahal Rendy juga spontan melakukan gerakan memeigang Hania untuk menjaga agar tubuh ramping itu seimbang dalam gendongan Arga.


"Elah, elu. Gue juga cuma bantuin elu kali, Ga!" balas Rendy yang tak suka dituduh punya maksud tertentu.


"Maklumlah, Bang. Bucin akut dia." kekeh Iden mencibir Arga.

__ADS_1


"Baringin di sofa, Ga!" saran Rendy yang mulai tampak panik.


"Apa ngga sebaiknya dibawa ke rumah sakit aja?" Iden ikut memberi saran.


"Cuma pingsan ini. Kasih dulu pertolongan pertama. Sini!" paksa Rendy sambil menyusun bantalan sofa.


"Bang, Hania itu punya riwayat depresi! Jangan ngadi-ngadi deh! Harus sama ahlinya dia!" seru Iden tak mau kalah.


"Cukup! Gue bawa ke rumah sakit aja." akhirnya keputusan Arga lah yang mutlak dilaksanakan.


Arga yang dibuat bingung oleh perdebatan tak jelas kakak beradik itu akhirnya harus memutuskan sendiri kemana akan membawa Hania. Diantakmmau ikut-ikutan pusing. Dia yang paling berhak atas Hania, meskipun kedua pria itu secara tes dna terbukti sebagai kakak-kakak Hania.


Hah. Arga tak dapat membayangkan jika Hania sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan dan menerima takdirnya. Kedua pria itu pasti akan posesif pada istrinya. Jadi sepertinya dia harus bersikap lebih tegas sejak sekarang.


Drrrt. Drrrt. Drrrt.


Iden meraih ponsel dalam saku celananya ketika merasakan getaran benda pipih itu. Sebuah pesan dari sang papa memintanya pulang ke rumah orangtuanya.


Setelah mengantar Arga ke rumah sakit bersama Rendy, Iden pulang ke apartemennya. Itupun setelah diusir terang-terangan oleh Arga. Sedangkan Rendy sejak tadi sudah kembali ke perusahaannya setelah mengetahui Hania baik-baik saja.


Malam telah beranjak semakin larut ketika Iden memasuki halaman rumah orangtuanya. Ada perasaan kesal karena disaat waktunya bersenang-senang, harus datang memenuhi panggilan sang ayah. Iden sampai harus meninggalkan Bela di ranjang empuknya.


"Mama dimana, Bi?" tanya Iden pada asisten rumah tangga orangtuanya.


"Pada di ruang kerja bapak, Mas." sahut Bibi.


Mendengar jawaban bibi asisten, Iden sempat mengernyitkan keningnya. Pada? Emang siapa aja? Ada apa sih? Tak ditampiknya, rasa penasaran mulai muncul. Pria flamboyan itu setengah berlari menuju ruang kerja sang papa.


Klek!


Semua orang yang berada di dalam ruangan itu bersamaan menatap Iden. Namun, satu wanita yang membuat Iden tak membalas tatapan mata orang yang hadir dalam ruangan itu. Tatapannya fokus tertuju pada wanita itu. Bahkan Iden tak sampai berkedip. Matanya memindai dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu kembali lagi ke ujung kepala.


"Siapa dia? Kenapa mirip?" batin Iden.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2