Yang Terakhir

Yang Terakhir
59. Membujuk Hania


__ADS_3

"Percayalah padaku, Han", pinta Arga meyakinkan wanita cantik itu.


Arga merasa gelisah. Hatinya ketar-ketir. Dia takut Hania tidak mempercayainya. Hah. Kenapa sulit sekali meyakinkan wanita itu? Arga mendesah. Dia sudah pusing saja memikirkan cara untuk membujuk Hania. Dia tidak ingin masalah itu berlarut-larut. Harus selesai malam itu juga.


Hania menatap Arga tepat di mata elang pria tampan itu. Mata tajam itu menyiratkan kesedihan dan pengharapan sekaligus. Tidak pernah dirinya melihat mata itu seperti ini sebelumnya. Mata itu berbinar ketika pria tampan itu bersamanya atau Tiara. Pria itu selalu bersikap hangat padanya dan putrinya. Apakah kegelisahannya berlebihan?


"Aku percaya, Mas", kontan Arga tersenyum selebar bunga matahari demi mendengar ucapan Hania.


"Maaf, aku terlalu berlebihan tadi. Aku cuma ngga sanggup melihat Tiara yang harus kecewa nantinya karena kasih sayangmu ngga tulus", akhirnya Hania mengungkapkan kegelisahannya.


"Anakku rindu, sosok... ayah. Aku tahu dia ingin punya... ayah. Dan itu bisa dia rasakan dari... Mas", kalimat Hania terputus-putus.


Dirinya merasa tidak enak hati pada Arga. Dengan mengungkapkan yang menjadi kegelisahannya, Hania tidak bermaksud mengikat pria berkarisma itu. Hanya ingin pria yang sudah terlanjur disukainya itu tahu bagaimana anggapan putrinya pria itu. Jika perlu dirinya akan menepis segala perasaannya pada pria itu jika memang pria itu tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Hanya supaya pria itu merasa nyaman bersama Tiara. Sungguh Hania tidak ingin salah paham dengan kebaikan Arga.


"Aku menyayanginya, Han. Dia sudah seperti putriku sendiri. Aku memang merindukan putraku tapi aku ngga pernah menganggap putrimu sebagai pengganti putraku", tegas Arga.


Arga menatap Hania. Memperlihatkan ketulusannya melalui matanya. Bukankah mata adalah jendela hati? Ditatap Arga begitu lekat membuat Hania grogi, dipalingkannya wajahnya kesembarang arah.


"Aku ngga keberatan dianggap ayah. Aku malah senang", pungkas Arga, dia bisa bernapas lega sekarang.


"Ngga sekalian kamu anggap aku suami?", goda Arga, mode jahilnya on.


"Eh?", Hania langsung menoleh, menatap Arga yang masih menatapnya.


"Bercanda, Han", ucap Arga membuat Hania semakin yakin pria tampan itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.


Arga masih memperhatikan perubahan ekspresi diwajah cantik itu. Dia dapat melihat ada kekecewaan disana. Tapi dirinya tidak yakin.


"Han, aku ngga keberatan dianggap ayah oleh putrimu. Aku juga ngga keberatan, beneran jadi ayah putrimu", pancing Arga.


"Mas ini ngomong apa sih? Jadi ngelantur gini", Hania terkekeh dan menjadi salah tingkah mendengar Arga ingin menjadi ayah putrinya.


Arga tersenyum penuh arti. Wanita cantik yang sedang dikejarnya itu salah tingkah meski berusah menutupinya. Matanya terlalu jeli melihat gelagat aneh disekitarnya. Sikap Hania yang semula terlihat tenang, kini jadi sedikit gelagapan. Menyelipkan rambut di telinga, memperbaiki duduknya, lalu menyelipkan rambut lagi, dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Ah. Hania jadi tampak menggemaskan dimata Arga. 


"Kalau kamu izinin, aku bisa jadi ayahnya Tiara sekarang, besok, lusa, kapan aja. Kita bisa wujudin keinginan putrimu", pancing Arga lagi.

__ADS_1


Sungguh Arga sangat menikmati momen itu. Menikmati wajah Hania yang bersemu merah dan sikap salah tingkahnya. Benar-benar tak tersentuh. Wanita itu menjaga dirinya dengan baik membuat Arga ingin segera memilikinya. 


Arga merasa Hania memiliki perasaan yang sama dengannya. Dirinya semakin yakin dengan perasaan Hania. Wanita cantik itu mulai nyaman dan terbuka dengannya. Bahkan tidak menolak setiap sentuhannya. Arga ingat betul bagaimana wanita itu membiarkannya menyentuhnya dan menikmati sentuhannya. Wanita lembut itu bahkan tidak menolak ketika Arga menciumnya walau hanya sekilas. Andai Tiara tidak mengganggu waktu itu, pria seksi itu pasti sudah mengulum, menyesap, dan ******* bibir yang tidak tebal juga tidak tipis itu. Ah. Membayangkan bibirnya yang menyentuh bibir Hania, membuatnya ingin mengulang lagi dan meneruskan hingga tuntas. Arga tersenyum seraya memegang bibirnya.


"Mulai ngaco kan ngomongnya. Mas pulang aja deh, ntar tambah ngaco lagi", Hania semakin salah tingkah dibuat Arga.


Arga tergelak melihat tingkah Hania yang salah tingkah. Benar-benar membuatnya gemas. Wanita dewasa itu bersikap malu-malu ketika digoda olehnya. Terlihat sekali dari sikapnya yang mencuri pandang ke arahnya.


"Kamu ngusir aku?", tanya Arga lalu terkekeh lagi.


Hania menatap pria berkarisma itu. Dia lebih sering tertawa sekarang dibandingkan awal-awal mereka bertemu. Menambah kadar ketampanannya.


Arga melihat jam tangan mahalnya. Hania juga ikut melihat jam tangan Arga.


"Sudah malam banget ternyata", ucap Arga lalu mengangkat kepalanya menatap Hania yang juga menatapnya.


"Kalau gitu, aku balik dulu", Arga bangkit dari duduknya diikuti Hania.


Hania melambaikan tangannya ketika mobil Arga berlalu meninggalkan rumahnya. Senyumnya terkembang menatap mobil Arga yang melaju lalu menghilang diujung jalan kecil itu, seolah Arga masih memperhatikannya.


Getar ponsel mendengung bagai lebah memenuhi kamar Arga. Dengan mata yang masih terpejam, pria matang itu meraba-raba tempat tidurnya mencari keberadaan benda pipihnya. Tadinya ponsel itu tergeletak di atas nakas, kemudian berpindah tempat setelah pria atletis itu mengangkat panggilan dari ibunya.


Seingatnya, ponsel itu dibiarkan tergeletak begitu saja disampingnya tapi setelah sekian lama meraba-raba tempat tidur, benda penghubung sejuta umat itu belum juga ditemukan. Dengan terpaksa pria tampan itu bangun dari tidurnya. Celingukan sambil mendengarkan dengungan ponselnya. Hah, ternyata ponsel itu ada dibalik selimutnya diujung tempat tidur didekat kakinya. Arga merangkak menjangkau benda pipihnya. Reza. Bukan nama yang diharapkannya muncul di layar ponselnya pagi ini.


Arga melirik jam digital di atas nakas samping tempat tidurnya. Jam 7. Bukankah terlalu pagi mengganggu dirinya?


"Ada apa?" dengan malas Arga menjawab panggilan itu, terdengar suaranya tidak bersemangat.


"Selamat pagi Pak", sapa Reza berbasa-basi.


"Hum. To the point aja", perintah Arga.


"Begini Pak, lusa adalah sidang perdana kasus kita. Apakah anda akan hadir?", tanya Reza.


"Apa saya harus hadir?", bukannya menjawab, Arga malah balas bertanya.

__ADS_1


Eh? Reza terdiam diujung telpon. Ada apa dengan bosnya itu? Biasanya dirinya akan bersemangat mengawal setiap kasus perusahaannya.


"Umm... Ngga harus sih Pak, tapi apa bapak ngga ingin mengikuti jalannya persidangan?", Reza ingin tahu alasan bosnya tidak langsung datang, sungguh dia kepo.


"Bisa diwakilkan kan?", tanya Arga lagi.


Sungguh Arga enggan untuk bertemu dengan pamannya. Mengingat cerita pamannya yang ingin menghabisinya, dirinya selalu langsung emosi. Bagaimana jika bertemu langsung? Bisa-bisa pria paruh baya itu mati ditangannya.


Selain tidak ingin bertemu pamannya, Arga juga enggan berjauhan dengan Hania. Inginnya kemanapun dirinya bepergian, Hania juga harus ikut serta. Tapi tidak untuk saat ini. Hania masih harus diperjuangkannya.


"Bisa Pak. Apa anda ingin menitip pesan pada paman anda, Pak Aris?", pancing Reza.


"Ngga perlu. Cukup beri dia ganjaran seberat-beratnya. Saya sudah ngga peduli lagi", tuntut Arga.


"Ohya, kalau persidangan itu bisa kamu tinggal, lebih baik kamu kembali ke pusat. Saya membutuhkanmu disini. Saham perusahaan sedang bermasalah, kamu pasti tahu itu karena apa", perintah Arga.


Reza sudah kesal saja. Kemarin-kemarin dirinya ditinggalkan di kota pahlawan itu untuk mengurusi kasus perusahaan versus pamannya Arga. Dirinya sudah terlanjur fokus disana, kini diperintahkan kembali ke ibukota. 


"Baik Pak", lidahnya kembali menghianatinya.


Nasibnya menjadi karyawan multitalenta cerdas mandraguna. Ditarik kesini diulur kesana. Mengurusi ini dan itu. Tidak masalah asal masa depan terjamin hingga anak cucu. Reza hanya bisa pasrah menuruti perintah atasannya.


Arga meletakkan ponselnya asal di atas tempat tidurnya. Lalu bangkit mendekati pintu balkon. Menyibak tirainya dan membukanya. Udara pagi langsung berebut masuk memenuhi kamarnya. Sinar matahari masih lembut memyentuh kulitnya. Wajahnya yang tetap tampan meski baru bangun tidur itu dihadapkan menantang matahari. Matanya terpejam, lalu dihirupnya udara pagi dalam-dalam hingga rongga dadanya terasa penuh dan melakukan sedikit peregangan pada otot-ototnya.


Jam 8 Arga baru turun dari kamarnya, sudah rapi dengan setelan kerjanya yang simpel dan santai. Hanya kemeja berwarna hijau mint yang lengannya digulung sebatas siku, dipadukan celana bahan warna hitam dilengkapi ikat pinggang warna senada dan sepatu pantofel hitam mengkilat. Tampilannya sama seperti karyawan kantoran biasa. Tapi karisma pria tampan itu menonjol, menjelaskan identitasnya.


"Mas Arga mau sarapan pakai apa? Bibi sudah masakin nasi goreng dan ayam goreng mentega plus ca brokoli", tawar Bi Sumi seraya tersenyum lebar.


"Tolong nasi gorengnya aja Bi", sahut Arga.


Bi Sumi mendekatkan piring besar berisi nasi goreng, telur mata sapi, dan acar timun ke dekat Arga. Lalu menuangkan segelas air mineral dan meletakkannya di samping kanan pria itu. Melihat semua yang dilakukan Bi Sumi, Arga teringat pada Hania. Wanita cantik itu akan melakukan seperti yang dilakukan Bi Sumi saat ini. Meski sama-sama dilayani, rasanya berbeda jika Hania yang melakukannya. Mengingat Hania, pria berkarisma itu melengkungkan senyum tipis, nyaris tak terlihat.


*******


Thanks for reading!

__ADS_1


__ADS_2