Yang Terakhir

Yang Terakhir
179. Dia Ancaman


__ADS_3

"Galih."


"Elu!"


Sapa pasangan suami istri itu bersamaan dengan intonasi yang berbeda.


"Ck!" Galih berdecak dan memandang sinis pada Arga, namun langsung menyunggingkan senyumnya ketika menatap Hania.


"Hai, gimana? Udah baikan?" tanyanya lembut seraya menggenggam tangan Hania.


Jauh dalam lubuk hatinya, pria berwajah manis itu ingin sekali mendekap tubuh ramping sahabat tercintanya. Namun tatapan tajam Arga membuatnya menahan diri. Iya. Dia cukup tau diri.


Hania hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang sempurna menyambut kedatangan Galih. Sungguh Hania merindukan pria itu. Pria yang sudah dianggapnya sebagai keluarganya. Namun dia bisa apa. Suaminya dirasanya begitu posesif ketika berhubungan dengan Galih.


Sementara itu, Iden yang mengajak sang kakak menuju kantin rumah sakit yang lebih mirip dengan kafe itu, tengah menceritakan kebenaran yang ditemukannya terkait keluarga mereka.


"Lu yakin?" tanya Rendy dengan raut wajah serius.


Kelik yang muncul belakangan setelah Iden memangilnya melalui ponselnya, langsung menyerahkan sebuah amplop coklat berukuran besar pada Iden.


"Semua ada di sini, Bang." ucap Iden seraya meletakkan amplop itu di hadapan Rendy.


Kakak kandung Iden itu menghembuskan napas dengan kasar lalu meraih amplop yang menggoda keingintahuannya.


"Ya Tuhan." lirihnya seraya mengusap wajahnya dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya lagi masih memegang kertas-kertas yang dikeluarkannya dari dalam amplop.


"Kenapa hal sebesar ini lu rahasiain dari gue!?" kesal Rendy.


Pria yang juga memiliki paras blesteran itu menatap Iden lekat. Dirinya merasa kesal. Tapi lebih kepada dirinya sendiri. Kenapa selama ini dirinya tidak menyadari kejanggalan dalam keluarganya? Kenapa dirinya tidak mencari tahu keberadaan saudari kembar adik bungsunya, Inka? Harusnya dirinya lebih peka, karena pada saat meninggalnya Inka, orangtuanya pun sudah mengatakan bahwa Inka memiliki saudari kembar. Dan pada saat itu dirinya sudah cukup mengerti apa yang terjadi. Kenapa ketika dewasa dia tidak mencarinya?


"Trus, gimana keadaannya sekarang?" tanya Rendy seraya meletakkan amplop coklat itu di atas meja setelah memasukkan semua kertas dan foto ke dalamnya.


"Sepertinya syok. Tapi kondisinya masih aman. Gue yakin dia kebingungan. Gue juga bingung gimana ngasih taunya. Tadinya gue udah minta mama untuk ngajak dia keliling rumah supaya dia liat foto-foto mendiang Inka." terang Iden mengenai rencananya.


"Sejak kapan lu menyadari ini?" tanya Rendy lagi. Sungguh pria itu penasaran.


"Sejak Arga tertarik sama dia." sahut Iden.


Rendy mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


Di ruang perawatan Hania, Arga duduk berseberangan dengan Galih. Pria karismatik itu enggan untuk menatap sahabat istrinya.


"Ya udah, sayang. Ibu lega ngga ada hal serius yang terjadi. Ibu pulang dulu ya. Besok ke sini lagi. Kamu mau dibawain apa?" ucapan sang ibu serentak mengalihkan perhatian kedua pria dewasa yang tengah perang dingin itu.


"Ngga usah, Bu. Besok setelah visit dokter aku mau pulang aja." tolak Hania.


"Emang udah boleh?" tanya Galih dan Ibu Anna bersamaan membuat Hania dan Arga mengernyitkan keningnya.


"Aku udah enakan kok. Lama-lama di sini, bisa-bisa aku malah sakit beneran." seloroh Hania seraya terkekeh.

__ADS_1


"Ada-ada aja kamu." timpal ibunya Arga ikut terkekeh.


Sepeninggal sang Ibu, Arga masih belum terlibat pembicaraan panjang dengan Galih. Hanya obrolan basa-basi agar Galih tidak terlibat obrolan panjang dengan sang istri.


"Lu ngga balik? Udah larut malam, istri gue juga butuh istirahat!" ketus Arga mengusir Galih terang-terangan karena dirinya semakin kesal pada sikap pria itu yang malah menunjukkan perhatiannya pada Hania.


"Galih, sebaiknya kamu balik dulu ya. Ini udah larut malam, kamu pasti perlu istirahat. Aku ngga mau kamu juga ikutan sakit karena kelelahan nungguin aku." dukung Hania agar tidak terjadi huru hara di kamar rawatnya.


"Honey." tegur Arga yang jelas tidak suka Hania menunjukkan perhatiannya pada Galih.


Galih berdecak seraya melirik Arga dengan tersenyum sinis. Merasa kelakuan suami sahabatnya itu terlalu berlebihan. Dasar posesif!


"Kamu bener, Han. lama-lama di sini aku bisa sakit beneran." sahut Galih sekaligus menyindir Arga.


Hania hanya menanggapi ucapan sahabatnya itu dengan senyum manisnya. Dia tahu betul maksud Galih. Penolakan yang ditunjukkan Arga pada Galih begitu kentara. Tapi dia bisa apa? Sekeras apapun dia meyakinkan Arga tentang hubungannya dengan Galih, nyatanya pria tampan itu tetap memandang Galih sebagai rivalnya.


"Ya udah, aku pamit ya. Kabari aku kalau besok udah keluar supaya aku tahu harus kemana kalau mau ketemu kamu." pamit Galih seraya mengusap kepala Hania.


Sementara itu Arga hanya bisa berdecak menahan kesal. Dia dapat merasakan Galih memperlakukan Hania dengan sayang yang berbeda. Bukan sayang sebagai sahabat, tapi lebih pada perasaan dari seorang pria pada seorang wanita. Modus!


"Jaga Hania baik-baik!" pesan Galih yang dibalas tatapan tajam oleh Arga hingga pria gagah itu menghilang di balik pintu.


Klek!


"Mas. Bisa ngga sih, kamu bersikap baik sama Galih? Dia itu sahabatku." protes Hania.


"Aku tahu, honey. Dia itu penting buatmu. Tapi dia tetap aja laki-laki yang mencintaimu. Dan itu ancaman buatku. Aku ngga perlu beramah tamah dengan seseorang yang jelas-jelas ancaman buatku." tegas Arga.


Keesokannya, sedan mewah Arga memasuki halaman rumah bergaya minimalisnya saat matahari mulai menggelincir turun. Hania benar-benar bersikeras ingin pulang sementara Arga menginginkan sang istri dirawat barang sehari lagi untuk memastikan kondisi mentalnya, sesuai saran dokter yang merawatnya. Namun, pria tampan itu akhirnya luluh juga pada kemauan sang istri saat melihat Hania yang tampak begitu tertekan dan tak nyaman.


Tadi, wanita cantik itu juga menagih janji Arga, mengantarnya ke rumah mendiang orangtuanya sepulang dari rumah sakit. Cukup lama mereka berada di sana. Hingga siang menjelang barulah Arga mengajak Hania kembali. Sepanjang perjalanan pun Hania hanya diam. Seperti larut dalam pikirannya sendiri.


"Kita makan dulu, ya. Kita mampir ke restoran gimana?" ucap Arga memecah keheningan.


Itu sudah kali kesekian pria tampan itu mengajak Hania berbicara tapi wanita cantik bermata kelinci itu masih setia dalam diamnya.


"Honey." ucap Arga lagi, kali ini tangannya mengusap puncak kepala Hania membuat wanita itu menoleh.


"Kita makan dulu, ya?" tawar Arga yang hanya diangguki oleh Hania.


"Kamu mikir apa sih? Dari tadi lho aku ngajakin kamu ngomong tapi kamu malah diam aja." tegur Arga seraya menoleh sekilas.


"Ngga. Ngga lagi mikir apa-apa kok, Mas. Lagi pengen diam aja." sahut Hania seraya menyunggingkan senyum semanis madunya.


Rupanya ucapan Hania beberapa jam yang lalu tidak terbukti. Nyatanya wanita itu masih larut dalam lamunannya meskipun mobil yang ditumpanginya sudah terparkir manis di garasi sejak beberapa menit yang lalu. Hingga lagi-lagi Arga harus menyadarkannya. Tentu saja sikapnya itu menimbulkan berbagai pertanyaan di benak sang suami. Tapi lagi-lagi Arga harus menahan rasa penasarannya karena jawabannya selalu berupa gelengan kepala.


Setelah makan malam, Arga langsung mengajak Hania ke kamar mereka. Pria itu sangat merindukan kehangatan sang istri.


"Honey. Kalau kamu diem aja, bisa-bisa aku jadi suami yang haus belaian lho." pancing Arga ketika sentuhannya hanya diabaikan begitu saja oleh Hania.

__ADS_1


"Hah?" Hania menatap Arga seraya mengedipkan matanya beberapa kali.


Sungguh wanita cantik bermata kelinci itu merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi? Saat ini, dirinya sama sekali tidak berminat pada sentuhan sang suami. Pikiran dan jiwanya tersita pada penemuannya di rumah keluarga Iden beberapa malam yang lalu.


"Maaf ya, Mas. Aku, ngga bermaksud begitu." ucapnya dengan nada suara selembut mungkin dan wajah memelas seraya membelai rahang Arga yang tanpa disadarinya malah semakin membuat pria tampan itu meletup-letup.


Baginya yang baru merasakan kembali kehangatan seorang wanita dan kecanduan surga dunia, 3 hari bukanlah waktu yang singkat. Hingga sentuhan Hania yang hanya membelai rahangnya saja sudah membuat hasrat kelelakiannya langsung aktif.


"Kamu harus tanggung jawab, honey. "Jendral Jack" sudah siap tempur." bisiknya dengan suara berat yang parau.


Bibir Arga yang menempel di telinga Hania, membuat wanita cantik itu seketika meremang. Belum lagi hembusan panas napasnya, semakin membuat darah Hania berdesir. Pria itu benar-benar sedang berada di titik ingin dipuaskan. Maka dengan lihai Arga merang**ng sang istri agar gai**hnya ikut tersulut. Meskipun pernah menganggur selama lebih dari 5 tahun, pria perkasa itu dengan mudah mengingat kembali bagaimana caranya memanjakan istrinya.


Sret!


Hania membuka gorden jendela dan pintu kaca yang langsung terhubung dengan balkon di kamarnya. Cahaya lembut matahari pagi seketika memenuhi kamar besar yang setia menjadi saksi percintaannya dengan sang suami. Wanita cantik itu berbalik menghadap ke arah ranjang. Senyumnya terbit ketika melihat Arga justru semakin mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Hania mendekat dan duduk di sisi sang suami.


"Mas. Ayo bangun." bisiknya di telinga Arga lalu mengecupi telinga pria itu.


"Ummm.... Honey. Tolong jangan menggodaku." tegur Arga tanpa membuka matanya.


Arga masih setia bergelung dalam selimut tebalnya. Membuat Hania ingin menggodanya lagi. Kini jari lentiknya mulai meraba rahangnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Lalu turun ke leher dan terus ke dada, terus ke perut, terus ke bawah.


"Stop, honey." Arga langsung menangkap tangan nakal Hania.


Pria tampan itu memicingkan matanya. Dengan lembut Arga menarik Hania ke dalam pelukannya.


"Mas. Nanti aku berantakan." rengek Hania manja, sementara Arga semakin mengeratkan dekapannya.


"Aku udah mandi, ya. Udah rapi lagi. Aku juga udah siapin sarapan spesial buat kamu. Ayo bangun." ucap Hania seraya mengusap wajah Arga.


"Aku maunya sarapan kamu aja, gimana dong?" goda Arga.


Pria itu sedang uji nasib. Jika beruntung dia akan mendapatkan jatahnya lagi. Jika tidak, setidaknya dia sudah berusaha. Toh semalam, dirinya sudah memintanya pada sang istri sampai beberapa kali.


"Idih, maunya." cibir Hania seraya melepaskan diri dari dekapan sang suami.


Arga tergelak. Lalu bangkit dan menyingkirkan selimut yang membungkus tubuh polosnya, menampakkan "jendral jack" yang sudah tegak berdiri. Hania melotot dan menggelengkan kepalanya ketika Arga berjalan semakin mendekat padanya.


"Ayolah, Mas. Jangan sekarang, ya. Aku masih ngilu." pinta Hania dengan wajah memelas.


"Trus maunya kapan?" goda Arga seraya meremas b*k*ng Hania.


Seringai Arga terbit. Dengan gerakan cepat pria perkasa itu mengangkat tubuh Hania yang ramping dan membawanya ke ranjang besarnya lalu mengungkungnya di sana.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2