
Arga kembali memenuhi panggilan penyidik di kepolisian setelah menyelesaikan makan siang yang dramatis. Tak masalah jika dia harus seharian berada di kantor itu, asalkan urusannya bisa selesai sehari itu. Dirinya tidak mau waktunya terbuang sia-sia mengurusi penghianat perusahaan dan keluarganya. Sudah susah-susah membujuk Hania dan mengajaknya sampai Surabaya, jangan sampai perjuangannya tidak membuahkan hasil.
Jam 6 sore lebih sedikit, Arga dan pengacaranya baru meninggalkan kantor polisi. Reza sudah menunggunya di ruang tunggu kantor itu sejak pulang dari perusahaan milik Arga jam 5 sore tadi.
"Apa Bapak akan makan malam dulu sebelum kembali ke apartemen?" tanya Reza setelah mobil yang mereka tumpangi membaur dengan mobil-mobil lainnya di jalan raya.
"Ngga usah, saya makan di apartemen saja. Hania sudah menyiapkannya", jawaban Arga kontan membuat dua pria kepercayaan Arga saling melirik.
Ya. Tadi sebelum Arga meninggalkan apartemennya, dia meminta Hania memasak untuk makan malam mereka. Dan Hania setuju menyiapkan makan malam dengan menu pilihan Arga. Senyumnya langsung terbit membayangkan makan malam bersama Hania dengan menu kesukaannya. Ah. Wanita pemilik mata kelinci itu benar-benar menyenangkan hatinya.
Tiara sedang menonton tivi ketika Arga dan asistennya Reza memasuki apartemennya, bukan nonton dalam arti yang sebenarnya karena faktanya, dia malah asik menggambar dan mewarnai dengan tivi yang menyala. Melihat Arga pulang, Tiara langsung berseru riang menyambut kedatangannya. Pria dewasa itu tersenyum seraya mengusap rambut panjang bergelombangnya Tiara. Hatinya menghangat ada yang menyambutnya pulang dengan riang. Sudah lama dirinya tidak merasakan sensasi seperti itu. Dulu, Devan selalu menyambutnya.
Senyum Tiara langsung pudar melihat seorang pria dewasa lainnya datang bersama Arga. Tiara langsung mendekat ke arah Arga lalu menggenggam tangan Arga. Tiara belum mengenal Reza, pasalnya tadi pagi dirinya tertidur sepanjang perjalanan dari turun pesawat hingga tiba di apartemen Arga. Hingga pria manis itu pergi lagi, Tiara masih terlelap.
"Sayang, ini Oom Reza, temannya Oom", Arga mengenalkan Reza dengan suara lembut karena menyadari Tiara yang merasa takut dengan kehadiran orang baru.
Sayang? Reza mengerutkan keningnya seraya menatap Arga takjub ketika mendengar atasannya itu menyebut gadis kecil itu "sayang". Hah. Sudah sedekat itu rupanya, sampai-sampai atasannya itu menyematkan panggilan "sayang". Kemudian pria itu mengalihkan tatapannya pada gadis kecil yang dipanggil "sayang" itu.
"Hai gadis kecil... Nama Oom, Reza. Oom temannya Oom Arga. Nama kamu siapa?" Reza memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya tak lupa senyum semanis gulanya yang tersungging di bibirnya.
Tiara masih menelisik Reza meski pria itu sudah berusaha bersikap seramah mungkin begitu menyadari gadis kecil itu takut padanya.
"Namaku Tiara, Oom", akhirnya Tiara menyambut uluran tangan Reza dan memperkenalkan dirinya.
"Oom, liat deh. Bagus ngga?", tanya Tiara mengalihkan perhatiannya seraya menunjukkan hasil karyanya.
"Humm... Bagus", komentar Arga seraya duduk di sofa di ruangan itu.
Reza yang merasa diacuhkan kedua insan beda usia itu kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya di lantai satu. Ya. Selama di Surabaya, Reza akan ikut tinggal di apartemen Arga. Dirinya menempati kamar di lantai satu bersebelahan dengan ruang kerja Arga. Apartemen Arga termasuk apartemen mewah yang terdiri dari dua lantai dan memiliki empat kamar. Dua kamar di lantai dua berukuran lebih besar. Salah satunya ditempati Arga. Dua lagi di lantai satu. Satu ditempati Reza, dan satunya lagi dijadikan ruang kerja Arga.
"Tapi ini belum selesai Oom, aku mau kasih gambar anjing disebelah sini tapi aku ngga bisa gambarnya", keluh Tiara pada Arga.
Arga seketika teringat akan putranya, Devan, yang juga suka menggambar. Devan juga sering mengeluh tidak bisa menggambar sesuatu dan memintanya mengajarinya.
"Mau Oom ajarin?", Arga menawarkan diri untuk mengajari gadis kecil itu yang dengan senang hati dianggukinya.
Tiara menyerahkan sebuah kertas kosong pada Arga. Pria dewasa itu mulai menggoreskan pensilnya dan Tiara memperhatikan dengan serius. Melihat hasil goresan-goresan pensil Arga, Tiara berdecak kagum padahal gambarnya belum jadi seutuhnya.
"Nah, sudah jadi!", seru Arga memperlihatkan hasil gambarnya pada Tiara.
__ADS_1
"Waaah bagus Oom, kayak beneran!" puji Tiara untuk kesekian kalinya.
"Aku mau coba, aku mau coba!", Tiara antusias mencoba menggambar seperti yang dicontohkan Arga.
Arga memperhatikan gadis kecil itu menggoreskan pensilnya. Sesekali mengajarkan caranya memegang pensil saat menggambar.
"Pensilnya jangan terlalu ditekan, sayang", tegur Arga sesekali.
"Oh iya, hihihi...", gadis kecil itu cekikikan menyadari kekeliruannya.
Arga hanya tersenyum seraya mengusap rambut Tiara. Sepertinya pria dewasa itu suka mengusap rambut gadis kecil itu sekarang. Terasa lembut alami. Rambut khas anak-anak yang belum terkena produk perawatan rambut apapun kecuali shampo.
Arga yang mengajari Tiara menggambar dan sesekali mengoreksinya, terlihat seperti seorang ayah yang sedang mengajari putrinya. Tanpa disadari sepasang mata mengawasi kedekatan dua insan beda usia itu. Dialah Hania. Mata kelinci wanita cantik itu sampai berkaca-kaca. Mengingat Tiara yang selalu bersikap mandiri di depannya, kini terlihat manja di depan Arga.
"Mas, udah pulang?", sapa Hania keluar dari tempat mengintainya.
Arga menoleh mendengar suara lembut Hania menyapanya. Wanita bertubuh ramping itu berjalan ke arahnya seraya menyunggingkan senyum semanis madunya. Arga merasa senyuman itu untuk menyambutnya, turut tersenyum. Lagi-lagi hatinya menghangat.
"Iya, barusan", sahutnya.
"Ma, liat deh. Bagus kan? Oom Arga tadi yang 'ngajarin", sela Tiara memamerkan hasil goresan pensilnya.
"Bilang apa dong sama Oom Arga?", peringat Hania seraya menyerahkan kembali kertas menggambar putrinya.
"Oh iya, makasih ya Oom udah ngajarin aku 'nggambar", ucap gadis kecil itu seraya memamerkan deretan gigi susunya yang putih.
"Iya sayang, sama-sama. Besok lagi kalau butuh bantuan Oom, Tiara boleh datang ke Oom", balas Arga lalu menawarkan bantuannya di lain waktu, gadis kecil itu hanya mengangguk.
Hati Hania menghangat melihat binar dimata Tiara yang tidak pernah dilihatnya. Arga lah yang menciptakan binar itu. Pria tampan nan karismatik yang dengan sedikit memaksa masuk ke dalam kehidupannya dan menciptakan banyak debaran di jantungnya dan desiran dalam darahnya.
"Aku udah siapin makan malam. Mas mau makan dulu atau mandi dulu?", tanya Hania yang melihat Arga masih mengenakan kemeja yang tadi siang dipakainya.
"Aku mandi dulu aja, badanku rasanya gerah", ucap Arga lalu meninggalkan ruangan itu.
Tak lama berselang, Arga sudah tampak segar dengan celana jeans hitam selututnya dan kaos polo berwarna putih. Tiara sudah duduk manis di salah satu kursi di meja makan. Gadis kecil itu tersenyum senang melihat kedatangan pria dewasa itu. Sementara Hania menuang air mineral ke dalam gelas. Wanita lembut itu juga tersenyum pada Arga. Bi Mar sudah pulang sejak jam 5 sore tadi.
Arga duduk di seberang Hania. Mengambil ponselnya di saku celananya dan mengetikkan sesuatu lalu setelah itu meletakkan ponselnya di atas meja makan. Tak lama berselang, Reza keluar dari kamar yang terletak di sudut ruangan itu. Hania hanya tersenyum ketika tatapan matanya beradu dengan mata Reza. Wanita cantik itu juga belum mengenal Reza. Dan sepertinya Arga enggan mengenalkannya.
"Malam semua", sapa Reza.
__ADS_1
"Malam, ayo Mas, makan bareng", tawar Hania setelah membalas sapaan Reza.
"Makasih", sahut Reza seraya menarik kursi disebalah kiri Arga.
Mereka makan malam berempat dengan santai. Tiara yang ceria tampak lebih ceria malam itu. Dan hanya Hania yang tahu. Tiara terus bercerita dan bertanya pada Arga tentang segala hal yang melintas dipikirannya. Tak jarang pria karismatik itu tergelak mendengar celetukan Tiara.
Reza semakin merasa takjub dengan perubahan Arga. Pasalnya, atasannya itu tidak pernah seceria ini setelah kepergian putranya, Devan. Baguslah. Reza menatap Hania. Ternyata wanita cantik itu dan putrinya membawa perubahan yang baik untuk bosnya.
Tiara sudah terlelap ketika Arga mengetuk pintu kamar yang ditempati Hania. Tak lama terdengar suara handle pintu yang diputar perlahan. Dirinya sudah menduga, Arga lah yang mengetuk pintunya. Memanganya siapa lagi?
"Mas, ada apa?", tanya Hania heran Arga malam-malam datang ke kamar yang ditempatinya.
"Bisa ngobrol sebentar?", pinta Arga.
Hania lalu mengekori pria tampan itu. Ke tepian kolam renang. Memang tempat yang nyaman untuk ngobrol dan bersantai tapi sekarang malam sudah larut. Arga duduk di salah satu kursi malas, begitupun Hania. Mereka duduk berhadap-hadapan.
"Aku besok free, gimana kalau besok kita ke Malang?", Arga mulai membuka obrolan.
"Kenapa ke Malang?", tanya Hania bingung.
"Kamu ngga lupa kan kita mau ajak Tiara having fun?" ucap Arga mengingatkan Hania.
Kita? Hania melirik Arga. Bukannya ajakan ke Surabaya itu idenya Arga? Kenapa dirinya jadj ikut diseret-seret? Bukannya Hania hanya membantunya menepati janji pada Tiara?
"Iya sih, tapi kenapa ngga disini aja, ngga usah jauh-jauh", Hania enggan jika harus bepergian lagi.
"Disana lebih banyak destinasi pariwisatanya, Han, banyak pilihan, terutama untuk Tiara", ucap Arga mempertahankan maksudnya.
"Terserah Mas aja deh, aku 'ngikut", Hania akhirnya pasrah saja, toh, percuma berdebat dengan pria tampan itu jika sudah punya kehendak, lagipula ini sudah malam dan dia mengantuk.
"Makasih sudah mendukungku", Arga spontan menggenggam jemari Hania dan tersenyum lebar.
"Eh?", Hania terkejut dan salah tingkah, jemarinya tiba-tiba digenggam Arga.
"Oh, maaf, maaf, aku... reflek", Arga segera melepas tangan Hania setelah menyadari kelakuannya.
Hah. Reflek yang menguntungkannya. Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
**********
__ADS_1
Thanks for reading