
Sementara itu Arga, Reza dan Dian masih sibuk di kantornya. Ada sedikit masalah pada laporan keuangan yang diterima Arga dari kantor cabangnya yang di Surabaya.
"Kayaknya harus langsung kesana ini." ucap Arga yang mulai frustrasi.
"Ini sudah pasti ada orang dalam yang terlibat, kenapa baru ditemukan laporan ganjil kayak gini sekarang?" keluh Arga tentang temuan dugaan penyelewengan dana perusahaannya.
"Ibu Nadin juga terkejut ketika melakukan audit seminggu ini Pak, beliau tanpa sengaja menemukan pengeluaran yang tidak semestinya dalam jumlah yang tidak besar tapi dilakukan berkala selama hampir 3 tahun ini." lapor Reza menanggapi keluhan Arga.
"Iya sih Pak, kalo dana yang diselewengkan sedikit-sedikit pastinya ngga disadari." tambah Dian.
"Siapkan keberangkatanku besok pagi." perintah Arga.
"Kamu ikut!" tunjuknya pada Reza.
"Siap!" ucap Reza.
"Siapkan berkasnya sekarang, bawa pulang sekalian. Besok kamu jemput saya, kita langsung ke bandara." putus Arga.
"Cari penerbangan pertama, pake pesawat yang on time!" tegas Arga pada Dian.
Rasa lelah dan marah membuat rasa lapar semakin terasa. Sejurus dirinya mengingat Hania. Diliriknya jam tangannya. Jam 9 lebih. Mendadak ingin merasakan masakan wanita cantik bermata kelinci yang kini terikat pertemanan dengannya. Senyumnya mengembang. Dua insan yang sama lelahnya hanya duduk diam di depannya sambil saling melirik satu sama lain demi melihat perubahan ekspresi atasan mereka.
"Dian, pesankan makanan di Rasa Sayang Resto!", perintah Arga lalu beranjak menuju kursi kebesarannya.
Dian yang mendapat perintah merasa heran. Biasanya atasannya itu tidak pernah menyebut restoran atau kafe manapun untuk memesan makanan atau bahkan tidak peduli. Dia melirik Reza lagi. Reza hanya mengendikkan bahunya sambil merapikan berkas-berkas yamg tercecer di meja.
"Iya, saya pesan sup gingseng asparagus 1 porsi, nasgor seafood 4 porsi, mie goreng ekstra udang ekstra sayur 1 porsi, udang krispi ekstra saus keju 2 porsi, jus sirsak 2 porsi, teh chamomile 1 porsi", Dian memesan makanan begitu telepon tersambung.
"Diantar ke PT. Cakrawala Furniture jalan Asoka 28. Terimakasih." lanjutnya memberi alamat lalu memutus sambungan telepon.
Tak lama berselang pesanan Arga tiba, seorang sekuriti bertubuh tegap dan tinggi tapi tak lebih tinggi dari Arga, usianya pun tampak lebih muda dari Arga, mengantarkan pesanan tersebut ke ruangan atasannya itu.
Dian menerima paket itu lalu menyerahkan 5 lembar uang berwarna merah guna membayar pesanan Arga pada sekuriti tersebut. Dan juga menyerahkan 3 kotak makanan untuk dibagikan dengan teman sekuriti yang berjaga.
"Makan dulu baru pulang." perintah Arga setelah Dian meletakkan dan menyiapkan makanan itu.
Sudah menjadi kebiasaan Arga mentraktir karyawan yang lembur bersamanya. Seperti malam ini. Yang sudah pasti akan disambut riang. Begitu pula dengan Dian. Lumayan bisa sedikit menghemat uang makan. Tapi berbeda dengan Reza. Sebagai orang kepercayaan Arga, sudah pasti dirinya selalu ada di sekeliling bosnya itu. Apa yang dimakan Arga, dia juga memakannya.
Setelah membereskan dan menyiapkan berkas-berkas yang akan dibawa ke Surabaya, Arga dan 2 orang kepercayaannya itu meninggalkan kantor dengan mengendarai kendaraannya masing-masing.
Sementara itu, Hania tiba di rumah Mba Niken ketika Tiara baru terlelap. Kata Binar, Tiara menunggunya datang.
"Kok Mba Binar belum tidur sayang?" tanya Hania ketika menemukannya masih terjaga.
__ADS_1
"Iya Tan, belum ngantuk. Tadinya sih nonton ini sama adek, eh malah aku ditinggal tidur." jawab Binar sambil nyengir yang disambut gelak tawa Hania.
"Makasih ya Mba udah jagain dan nemenin Tiara. Tiara ngga bandel kan?" tanya Hania.
"Ngga sih Tan, adek pinter kok." puji Binar pada Tiara yang disebutnya sebagai adek.
"Mas Bayu udah tidur ya?" Binar mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu buruan tidur juga lo ya jangan begadang." pesan Hania yang kembali diangguki Binar.
"Tante ngga nginep sini aja sekalian?" tanya Binar ketika Hania hendak membuka pintu.
"Tante ngga rencana, sayang. Besok malah kerepotan nyiapin keperluan Tiara." jawab Hania sambil tersenyum.
Hania mendesah. Dia tahu Binar pasti merindukan orangtuanya yang jarang berada di rumah. Dulunya, Mba Niken selalu mengajak serta putra putrinya kemanapun Mas Hari, suaminya bekerja. Tetapi akhir-akhir ini Mas Hari tidak pernah lama tinggal di satu kota atau negara. Daripada bolak balik mengurus kepindahan sekolah dan beradaptasi terus-menerus, akhirnya pasangan suami istri itu sepakat meninggalkan putra putri mereka di rumah saja.
"Tante balik dulu ya." pamit Hania sambil menggendong Tiara yang lelap tak terganggu.
Keesokan harinya, Arga terbangun sedikit terlambat. Dengan persiapan secepat kilat dia membersihkan diri, memakai pakaiannya lalu melengkapi penampilannya dengan gesper dan jam tangan mahal dari brand ternama. Sepatu pantofel hitam mengkilat menambah kesan formalnya. Untung saja Bi Sumi sudah menyiapkan kopernya. Rencananya sesampainya di kota tujuan dia akan segera menuju kantornya. Secepatnya membereskan masalah di sana.
Di ruang tamu, Reza sudah menunggu. Dengan penampilan yang sama dengan Arga. Sama-sama formal.
"Ayo!" ajak Arga.
"Mas Arga ngga sarapan dulu?" tanya Bi Sumi yang muncul sambil membawa baki berisi secangkir kopi untuk Reza.
"Iya." jawab Arga pada Reza.
"Ngga sempat Bi, aku bisa terlambat nanti." ucap Arga menyahuti Bi Sumi.
"Aku pergi beberapa hari Bi, mungkin 3 harian. Bibi hati-hati di rumah ya." pamit Arga yang diangguki Bi Sumi.
"Iya Mas, hati-hati." ucap Bi Sumi.
Arga berjalan meninggalkan Reza dan Bi Sumi. Reza menggangguk pada Bi Sumi. Lalu berbalik mengikuti langkah Arga. Meski Bi Sumi hanya asisten rumah tangga, tapi Reza juga menghormatinya. Wanita paruh baya itu juga menyayangi Reza.
Masalah di kantor cabangnya Arga tenyata menyita banyak waktu. Perkiraan awal, masalah dapat terselesaikan hanya dalam waktu 3 hari ternyata meleset dari dugaan. Arga benar-benar geram. Hari ini adalah hari ke 4 nya berada di kota itu. Entah kenapa dirinya tidak betah berada di sana. Ingin segera pulang. Ingin segera bertemu Hania.
Sebelum keberangkatannya, dia mengabari wanita bermata kelinci itu. Dan hanya direspon dengan sebaris kata yang memintanya berhati-hati dan sebait doa agar selamat pergi dan pulang ke kota tujuan. Meski hanya pesan yang umumnya diucapkan pada orang yang bepergian, tapi pesan itu membuat Arga ingin segera kembali.
Kali ini, Arga dan Reza sedang makan siang di sebuah kafe resto yang terletak di seberang kantor cabangnya. Dirinya kembali teringat Hania. Mendadak ingin merasakan masakan wanita itu. Tapi ini di Surabaya, bagaimana caranya? Bisa saja dia kembali hari itu juga tapi itu artinya masalah di kantor cabangnya tak kunjung selesai. Dia menghela napas dan membuangnya dengan kasar.
"Apa ada masalah Pak? Apa makanannya ngga cocok?" tingkah Arga tak luput dari perhatian Reza.
__ADS_1
Reza yang duduk didepan Arga hanya memperhatikan bosnya itu dalam diam. Biasanya bosnya itu akan bersikap tenang. Tapi ini tidak biasa. Raut wajah tampan bosnya itu mengekspresikan ketidaknyamanan, gelisah, dan tidak bersemangat. Semakin lama berada di kota itu semakin membuat bosnya memancarkan aura dingin. Entahlah. Reza memutuskan diam dan menunggu perintah. Tidak ingin menanyakan apapun, apalagi memberikan sarannya. Daripada nanti dirinya yang kerepotan sendiri.
"Apa masalah ini ngga bisa selesai dalam waktu dekat? 2 ato 3 hari?" tanya Arga yang menjawab pertanyaan Reza dengan pertanyaan.
"Tinggal sedikit lagi Pak, kita sudah tau dalangnya, tinggal menangkapnya bulat-bulat" terang Reza menjelaskan situasinya.
"Orang ini ternyata licin juga." Arga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Beri dia hukuman yang membuat karyawan lainnya berpikir berkali-kali lipat kalo ingin mencurangiku." perintah Arga geram.
Jelas Arga geram. Selain mengganggu perusahaannya, penghianat itu juga mengganggu suasana hatinya. Dirinya baru saja menemukan wanita cantik bermata kelinci itu dan akan memulai mengejarnya. Tapi karena ulahnya, membuat Arga harus menunda pendekatannya. Arrrgh!
Baru kali ini Arga merasa begitu ingin menemui seseorang. Dan orang itu adalah wanita. Ya wanita cantik bermata kelinci itu. Entahlah. Rasa itu, semacam rindu?
Arga mendesah, lalu tersenyum. Selera makannya menguap bagai kabut terkena sinar matahari. Padahal sebelumnya dirinya mengeluh kelaparan karena melewatkan jam makan siangnya. Tapi demi mengingat Hania, rasa lapar itu tak terasa lagi. Reza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah artasannya yang tak biasa itu.
"Rez, kamu punya kekasih? Atau wanita yang kamu sukai?" tanya Arga yang membuat Reza spontan mengalihkan tatapannya dari tablet di tangannya.
"Hah?" Reza heran tiba-tiba atasannya menanyakan hal pribadi.
Reza seolah tidak percaya. Apa bosnya itu sedang menyukai seorang wanita? Apakah dugaanya benar? Bahwa bosnya itu jatuh cinta? Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebagai jawaban pertanyaan atasannya sekaligus terkejut dengan pemikirannya sendiri.
"Ya sudah, lupakan!" bermaksud menyembunyikan rasa groginya, Arga bangkit dan berjalan meninggalkan Reza.
Reza buru-buru menyusul atasannya itu setelah melakukan pembayaran. Keduanya kembali ke kantor Arga.
Di dalam lift, Reza menatap punggung Arga yang berdiri di depannya. Sambil mengelus dagunya, dirinya berpikir tentang wanita mana yang bisa mencairkan hati atasannya yang sudah membeku sekian lama itu. Bertemu dimana? Kenapa dirinya tidak tahu?
Hah. Reza jadi penasaran. Dan dirinya tidak pernah merasa sepenasaran itu pada wanita-wanita yang mencoba mendekati atau didekatkan pada atasannya itu. Baru kali ini.
"Wanita itu haruslah sepadan dengan besarnya rasa penasaranku!", monolog Reza dalam hati.
"Seperti apa sih wanita itu?" tanya Reza bergumam.
"Hah. Nanti sajalah nyari tahunya." pikirnya kemudian.
********
Happy reading Novelians...
Dukung aku terus ya...
😊😊😊
__ADS_1