
Hania menyambutnya? Senyumnya terpajang terus dibibir seksinya. Arga tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Kemarin wanita itu masih menjaga jarak dengannya, namun hari ini wanita pemilik mata kelinci itu mulai mengikis jarak. Masih diingatnya bagaimana tadi Hania dengan senyum yang mengembang menghampirinya. Dengan tatapan mata yang tidak pernah Arga lihat sebelumnya, menatapnya penuh binar. Membuat Arga merasa semakin diterima.
"Mas belum makan kan? Mau apa?", tawar Hania sambil membawakan segelas jus jeruk yang dimintanya pada karyawannya sebelum naik ke lantai dua.
"Apa aja deh, kayaknya aku bisa makan segala jenis makanan sekarang ini", gurau Arga.
"Wah, kayaknya kamu kelaparan banget deh Mas", sahut Hania sambil terkekeh.
"Banget. Aku ngga sempet sarapan tadi", ujar Arga membuat Hania menoleh.
"Sesibuk itu? Sampe ngga sempet sarapan?", tanya Hania.
"Hum, aku buru-buru tadi", kilah Arga.
Ah. Seandainya bukan suara lembut Hania yang didengarnya yang ternyata hanya ilusinya saja, belum tentu dirinya sanggup membuka matanya. Rasanya sangat lelah. Saking mengakar sampai ke alam bawah sadarnya, dirinya sampai merasa kehadiran Hania di dekatnya. Tadi pagi itu, suara wanita cantik itu terdengar sangat nyata. Berbisik di telinganya. Mengingatnya membuat senyumnya terbit segaris.
Siang itu, Arga dan Hania menikmati hidangan yang dibuat langsung oleh Hania. Lagi-lagi Arga merasa diperhatikan. Dan, dilayani? Membuatnya
merasa melambung.
Meskipun dirinya pernah menikah namun sang mantan istri tidak pernah menyiapkan segala kebutuhan Arga kecuali melayani kebutuhan biologisnya. Tidak pernah mengantarnya sampai di depan pintu ketika akan bekerja, tidak pernah menyambutnya pulang, duduk bersama menikmati hidangan, apalagi memasak untuknya. Bahkan putra mereka pun diabaikannya. Mengingat mendiang putranya, dia sedih. Arga menghela napas untuk mengusir ingatan yang tiba-tiba datang diwaktu yang tidak tepat.
"Mas ngga papa?", tanya Hania yang mendengar Arga menghembuskan napasnya dengan berat sambil memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Arga.
"Ehem. Ngga. Aku ngga papa", sahut Arga sambil tersenyum tipis untuk menetralkan perasaannya.
Hania masih menatap wajah tampan Arga dengan perasaan ganjil. Dirinya merasa pria karismatik itu sedang gundah. Ekspresi wajah Arga terlalu kentara.
"Jangan khawatir Han, beneran aku ngga papa. Aku sedang ada yang kupikirkan aja, masalah pekerjaan", dusta Arga menenangkan Hania.
Eh? Hania segera memalingkan wajahnya. Apakah terlalu kelihatan jika dirinya mengkhawatirkan Arga? Ah. Bisa GeEr nanti dia. Hania menggigit bibirnya karena ketahuan menatapi pria tampan itu.
"Makasih ya, ini makan siang terbaikku", ujarnya setelah karyawan yang membereskan bekas makan mereka sudah turun.
"Makan siang terbaik?", alis Hania mengerut.
"Iya, setiap acara makan yang makanannya dimasakin kamu bakal jadi acara makan terbaikku apalagi ditemani kamu gini", gombal Arga.
"Ehem. Kok pulang dari Belanda Mas jadi pinter 'nggombal sih? Shakespears kan adanya di Inggris" kekeh Hania menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
Arga tergelak. Hari ini hatinya berbunga-bunga. Wajah Hania yang tersipu malu membuatnya merasa wanita cantik itu mulai menyukai rayuannya. Membuatnya gemas.
Tiba-tiba dia teringat Tiara. Ya, gadis kecil itu pasti masih merajuk.
__ADS_1
"Han, maaf ya, soal janjiku ke Tiara. Dia pasti marah lagi sama aku", ujar Arga.
"Mas tenang aja, anak itu kalau ngambek ngga pernah lama kok", sahut Hania menenangkan Arga yang merasa bersalah.
Sikap Hania yang tidak menghakiminya itu membuatnya tenang. Bahkan wanita cantik itu seperti tidak ingin dirinya merasa bersalah. Seperti merasa tidak ada tanggung jawab yang harus dibebankan padanya. Dengan kata lain, menyenangkan putri wanita itu bukan tanggung jawabnya. Memikirkan kemungkinan itu membuat hatinya perih.
Ya. Hania tidak mau menyalahkan Arga. Perhatian pria karismatik itu terhadap putrinya sudah lebih dari cukup. Dia cukup tahu diri. Dia siapa. Arga siapa. Tidak ada hubungan yang mengharuskan pria tampan itu selalu memenuhi keinginan putrinya.
Setahunya Arga pria yang baik. Pria itu hanya ingin melakukan hal yang baik. Dan dirinya tidak bisa mencegahnya melakukan kebaikan. Hania tidak ingin GeEr terhadap perhatian Arga. Dia takut salah paham dengan perhatian pria tampan itu. Lagi-lagi dirinya mempertebal benteng pertahanannya.
"Mas, ngga balik ke kantor? Ini udah jam 4 lho", ucap Hania mengingatkan Arga.
"Kamu ngusir aku nih?", gurau Arga.
"Bukan begitu. Biasanya jam segini kan masih jam kantor", sahut Hania, Arga melihat jam tangannya.
"Aku bisa ngerjain kerjaanku di rumah. Nanti ada orang yang nganter berkas-berkasnya ke rumah", ucap Arga.
"Kamu udah off? Kita jemput Tiara?", tanya Arga.
Hania menatap pria tampan di depannya yang sedang menatapnya. Ah, iya. Dia ingat, pria itu adalah bosnya. Suka-suka dialah.
Acara resepsi di lantai bawah sudah selesai ketika Arga dan Hania turun. Para karyawan yang dipandu Lisa sedang membereskan sisa-sisa pesta. Sontak kehadiran kedua insan yang dianggap memiliki hubungan khusus oleh para karyawan restoran, mencuri perhatian.
Ada yang senyum-senyum, ada yang bisik-bisik, ada yang curi-curi pandang, bahkan ada karyawati yang tanpa sadar langsung menatap kagum pada sosok Arga hingga rekan disebelahnya menyadarkannya dengan pura-pura menyeka liur dimulut karyawati tersebut. Kontan adegan itu mengundang tawa rekan-rekan lainnya. Begitu juga Hania. Arga hanya tersenyum tipis.
"Ohya, Ferry mana?", tanya Hania mencari chef macho kesayangannya.
"Bu Hania telat, Mas Ferry udah cabut, barusan aja", jawab Lisa dengan santainya.
Arga menaikkan sebelah alisnya demi mendengar percakapan Hania dan para karyawannya yang santai dan terkesan nglunjak.
"Tumben anak itu buru-buru kabur. Ada apa sih?", tanya Hania penasaran.
"Entah. Ngga bilang apa apa juga Mas Ferry nya", jawab Lisa.
"Kayaknya lagi pedekate deh Bu sama mahasiswi Trisakti. Jam segini kan udah bubaran kampus. Kali aja modus jadi supri, ya kan?", sahut Anja.
"Bukannya Mas Ferry lagi jalan sama mba model itu ya?", celetuk seorang karyawan lagi.
"Eh, Iya lho, masak udah putus sih? Kan barusan jadiannya", sahut satu karyawan lagi.
Hania melirik Arga yang sedang menatapnya. Kira-kira tatapan itu berkata, masih lama?
__ADS_1
"Ya udah deh, semua, saya duluan ya... Beresin yang bener, abis itu kalian boleh istriahat", pamit Hania mengalihkan obrolan unfaedah itu.
Arga mengikuti mobil Hania meninggalkan restoran. Menjemput Tiara di rumah Mba Niken. Hari ini, Hania sengaja meninggalkan putrinya disana, dirinya akan sibuk seharian karena resepsi itu.
Tiara sedang tidur ketika Hania dan Arga tiba. Terlihat begitu pulas. Saking pulasnya, Tiara sampai sulit dibangunkan. Arga yang tidak tega akhirnya menggendong gadis kecil itu dan menidurkannya di kursi belakang mobil Hania.
"Mba Binar, Mas Bayu, makasih ya udah jagain Tiara", ucap Hania seraya memeluk Binar dan mengusap rambut Bayu.
"Kita seneng kok tan, ada Tiara disini, jadi maennya bisa lebih seru. Lagian tadi Mas Bayu ada temennya, jadi aku ada temennya", sahut Binar seraya tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Ya udah deh kalau gitu, udah mau malam, tante sama Tiara pulang dulu ya. Kalian hati-hati di rumah", pesan Hania sebelum meninggalkan kediaman Mba Niken.
Setelah menempuh jarak selama kurang dari satu jam, Hania dan Arga sampai di rumah minimalis Hania. Arga kembali menggendong Tiara. Hania berjalan didepan, membukakan pintu. Arga mengantar gadis kecil itu ke kamar Tiara yang terletak di sebelah kamar Hania.
Arga menidurkan Tiara dengan hati-hati di ranjang hello kitty, tidak ingin membuat gadis kecil itu terbangun. Lalu menyelimutinya dengan selimut berkarakter hello kitty. Sementara Hania menyalakan pendingin ruangan. Melihat Tiara tertidur pulas, hati Arga menghangat. Senyum segaris terbit di bibirnya. Puas menatap Tiara yang tertidur pulas, Arga pun keluar dari kamar itu diikuti Hania.
Drrrt drrrt drrrt.
Ponsel Arga bergetar ketika dirinya baru mendudukkan dirinya di sofa di depan tv usai sholat maghrib dengan Hania. Nama Reza terpampang di layarnya.
"Ya, Rez?", sapa Arga.
"Selamat malam Pak", sapa Reza di seberang ponsel.
"Hum", gumam Arga.
"Begini Pak, pihak penyidik ingin meminta kesaksian anda. Semakin cepat anda bersaksi semakin cepat pula kita menyelesaikan kasus ini", terang Reza.
"Sejauh ini, Bapak Aris tidak terlalu merepotkan penyidik, sehingga penyelidikan berjalan cukup lancar", lanjut Reza.
Arga harus ke Surabaya. Kehadirannya disana sedang dibutuhkan. Tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Kenapa tidak sekalian mengajak Hania dan Tiara? Dia bisa menepati janjinya untuk mengajak gadis kecil itu piknik. Setelah selesai dengan urusannya di kepolisian, Arga bisa membawa Tiara berjalan-jalan ke kawasan wisata disana. Dua, tiga hari disana dirasanya cukup untuk menyenangkan gadis kecil itu.
"Saya akan kesana, mungkin lusa. Besok saya kabari pastinya", putus Arga.
Arga memutuskan sambungan teleponnya bertepatan dengan Hania yang baru datang membawakannya kopi hitam dan kudapan. Arga menoleh pada Hania yang tersenyum padanya. Senyum Hania menular.
"Jadi ngerepotin", tukas Arga seraya menatap cangkir kopi di depannya.
"Ini cuma kopi Mas, aku masih punya banyak", sanggah Hania seraya menyeruput teh chamomilenya.
Arga ikut menyeruput kopi hitam buatan Hania yang akan selalu disukainya. Meminum kopi buatan Hania menimbulkan sensasi yang berbeda bagi Arga. Terasa nikmat. Padahal, jika di rumahnya, Bi Sumi lah yang selalu membuatkan kopi untuknya. Takaran kopi dan gula sesuai selera Arga. Tapi rasanya biasa saja. Hanya berasa kopi yang bisa diterima lidahnya.
*******
__ADS_1
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 😊😊😊
Terimakasih