Yang Terakhir

Yang Terakhir
124. Hancur


__ADS_3

Brak!


"Hania!" seorang wanita paruh baya tampak berdiri di depan pintu ruang rawat pasien dengan mata berkaca-kaca, hidungnya memerah, tampak habis menangis.


Arga yang sedang membujuk Hania untuk makan langsung menoleh, begitu juga dengan Hania.


"Ibu." ucap Arga dan Hania bersamaan.


Arga langsung melirik Iden yang tengah duduk seraya menatapnya.


"Sorry." Arga dapat melihat gerak bibir sahabatnya itu mengucapkan permintaan maaf tanpa suara.


Arga mendesah. Pria tampan itu sebenarnya tidak ingin membuat ibunya cemas dan jauh-jauh datang ke kota hujan itu. Pikirnya nanti saja memberitahukannya ketika mereka sudah kembali ke ibukota. Tapi dia melupakan Iden. Sahabat flamboyannya itu kadang lidahnya suka keseleo.


Sang Ibu langsung menghambur memeluk Hania yang langsung menangis lagi. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu juga menangis lagi.


Sementara Arga memilih menyingkir memberi ruang untuk kedua wanita kesayangannya itu dan mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal di sebelah Iden.


"Apa yang terjadi sama Hania? Siapa yang berani nyulik dia?" tanya sang Ibu seraya menoleh pada kedua pria yang sama-sama tampan itu


Arga mengernyitkan keningnya. Ibunya tahu? Darimana? Kakinya langsung menendang kaki Iden mengisyaratkan untuk diam ketika terpikirkan kemungkinan pria itu yang memberitahukan sang Ibu.


Iden yang merasa terkejut hanya bisa mendelik kesal menatap Arga. Arga melirik Iden sekilas dengan tajam seolah berkata, jaga mulut! Pria blesteran itu langsung mengalihkan tatapannya dengan kesal seraya mendengus.


Arga lalu menatap Hania sejenak. Mempertimbangkan akan memberitahukan ibunya atau tidak. Mengingat Hania masih trauma dengan tragedi kemarin. Dia takut jika mendengar nama Raka, kekasihnya itu akan histeris lagi.


Arga baru akan mendekat ke ranjang pasien ketika pintu ruang rawat Hania terbuka. Tampak Ferry diikuti Lisa muncul dari baliknya.


Melihat keadaan Hania yang pucat dan syok, Lisa langsung menghambur memeluk Hania. Dan menangis. Gadis manis itu, sedari di perjalanan menuju rumah sakit tempat Hania di rawat, sudah menangis terus. Membuat Ferry harus mengingatkannya untuk berpegangan padanya. Karena sibuk mengusap airmatanya, tangan gadis itu terus melepaskan pegangannya dari pinggang Ferry. Ya. Seperti kebiasaannya, kemana-mana Ferry lebih suka mengendarai belalang tempurnya.


Ferry ikut duduk di sofa tunggal berseberangan dengan Arga dan Iden. Pria macho itu hanya terdiam. Raut wajahnya menunjukkan penyesalan karena tidak bisa ikut menjaga Hania, bos yang sudah dianggapnya sebagai kakak perempuannya.


Tak berselang lama, pintu ruang VIP itu terbuka lagi. Reza masuk bersama beberapa perawat.


"Administrasinya sudah beres, Pak. Bu Hania bisa dipindahkan sekarang." ucap Reza yang hanya diangguki Arga.


"Loh? Hania akan dibawa kemana?" tanya sang Ibu yang kebingungan.


"Ke Jakarta Bu. Supaya lebih gampang menjaga dan mengawasinya. Di sana akan banyak yang bisa membantu." sahut Arga.


Tentu saja sang Ibu setuju begitu pula Ferry dan Lisa.


Di sebuah kamar, Raka sedang tidur terlentang. Bayangannya menggagahi tubuh Hania kembali mengisi benaknya. Hah. Pria tampan itu mendesah. Entah kenapa dirinya merasakan sensasi yang berbeda ketika menyetubuhi wanita cantik itu. Tapi, lagi-lagi bayangan wajah Hania yang memohon padanya sembari menangis membuatnya merasa sangat bersalah dan menyesal.


"Lu buta!"


"Bukan salah Arga kalau Rindy bunuh diri. Cewek itu yang salah. Lu liat sendiri 'kan aksi nekatnya Rindy nyatain perasaannya ke Arga di depan banyak orang."


"Apa lu liat Arga langsung nolak Rindy? Ngomong kasar, atau ngetawain Rindy?"

__ADS_1


"Bahkan Arga nolak Rindy waktu mereka sedang berdua aja."


"Lu pikir Arga bakal nerima Rindy ketika dia tau lu cinta sama cewek itu?"


Kata-kata Iden kembali terngiang-ngiang di telinganya. Raka kembali mendesah.


"Meskipun seandainya gue juga suka sama Rindy, gue ngga akan nerima dia karena lu cinta sama dia."


"Apa dia tau kalau lu cinta sama dia? Atau jangan-jangan dia sama sekali ngga pernah tau? Trus lu lampiasin rasa menyesal lu ke gue!?"


Raka kembali teringat kata-kata Arga. Mantan sahabatnya itu menolak dikatakan sebagai penyebab gadis yang dicintainya dulu bunuh diri. Dan. Ya. Arga benar. Dirinya tidak pernah menyatakan perasaannya pada Rindy.


"Gue suka sama cowok yang baik, sayang sama orangtua, ngga suka kasar sama cewek, ngga playboy suka mainin cewek, setia pacar, setia kawan, pinter, kalem, berprestasi." ungkap Rindy suatu ketika.


"Cih! Mana ada cowok kayak gitu Ndy? Kalau pun ada perbandingannya 1 banding 1000, dan yang 1 itu udah koit." cibir Raka.


"Ada!" sambar Rindy cepat membuat Raka menaikkan sebelah alisnya seraya menatap gadis cantik itu.


"Siapa?" tanyanya sambil mengejek.


"Arga!" sahut Rindy senyum-senyum seraya menutup kedua matanya dan meletakkan telapak tangannya di dadanya.


Seketika wajah tampan Raka memberengut.


"Kenapa Arga?" tanyanya berubah sinis.


"Hilih! Gue juga ganteng kali, gantengan gue malah." sergah Raka tak terima.


"Iya sih, lu lebih ganteng. Tapi Arga itu cool tau." Rindy menyunggingkan senyumnya seraya memuji Arga.


"Lu ngga suka sama gue? Sebagai cowok?" Jantung Raka berdetak kencang ketika menanyakan perasaan Rindy padanya.


Rindy terdiam sejenak seraya menatap lekat wajah Raka yang tampak berusaha bersikap biasa saja.


"Suka. Lu baik, sayang sama gue, selalu ngelindungin gue, selalu ada buat gue." Raka serasa melambung dan terbang tinggi dipuji-puji Rindy.


"Gue juga sayang sama lu, Ka. Lu itu sahabat terbaik yang gue punya." mendengar Rindy hanya menganggapnya sebagai sahabat saja, membuat Raka seperti dibanting dari ketinggiannya sesaat yang lalu.


Raka mendesah. Kenangannya bersama Rindy kembali berputar bagai potongan-potongan klip di benaknya. Pria tampan itu bangkit dari posisi berbaringnya. Berusaha mendudukkan tubuhnya yang terasa remuk akibat dihajar Arga. Pria itu meringis menahan nyeri di perutnya. Beruntung luka dalamnya tidak terlalu serius. Beberapa waktu yang lalu, Rizal, sahabatnya yang seorang dokter itu sudah memastikan kondisinya.


"Lu jadi sahabat, kurang ajar banget, Ka. Tega bener sama sahabat lu sendiri." sinis Rizal seraya memeriksa dan mengobati luka-lukanya.


Iden langsung menghubungi Rizal memintanya untuk segera ke ibukota. Seperti yang sudah-sudah. Jika Arga berulah, Rizal akan ikut terlibat membereskan kekacauan yang ditimbulkan. Tapi kali ini pria berwajah teduh itu langsung menyanggupinya begitu Iden menceritakan yang terjadi kecuali bagian Raka memperkosa Hania. Segitu saja sudah membuat pria yang biasanya tampil kalem itu, terdengar mengumpat dan geram pada Raka.


"Lu ngga tau apa-apa, Zal. Ngga usah ikut campur!" sergah Raka.


"Aww! Sakit anj***!" pekik Raka ketika Rizal dengan sengaja menekan bagian tangannya yang bengkak.


"Ternyata lu punya rasa sakit juga. Gue kira udah ikut jadi batu." sindir Rizal dengan kesal.

__ADS_1


Dari 4 sahabatnya yang lain, Raka lah yang paling sering membuatnya kesal dan berseberangan pendapat. Sikapnya yang cuek dan masa bodoh tapi sekaligus yang paling banyak akal, membuatnya serasa ingin membuangnya tapi sayang. Rizal menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya seraya menatap sahabatnya yang keras kepala itu.


Hari menjelang malam ketika Hania mulai menempati ruang rawat VIP di sebuah rumah sakit milik keluarga Darren. Ah, iya. Pria tampan itu belum terlihat sejak menghubunginya kemarin. Tentu saja Darren terkejut bukan main ketika mengetahui konflik Arga versus Raka. Pasalnya, mereka berempat tidak ada yang mengetahui ternyata Raka menyimpan luka terlalu dalam dan dendam membara pada Arga.


Arga menunggui Hania seorang diri. Sang Ibu sudah pulang diantar Reza, begitu pula Ferry dan Lisa. Sementara Iden, pria blesteran itu meninggalkan ruang VIP itu untuk menerima panggilan sejak setengah jam yang lalu hingga kini belum juga kembali.


"Please... Lepasin... Jangan seperti ini... Akh!" Hania mengigau membuat Arga yang tengah memeriksa berkas di laptopnya langsung bangkit dari duduknya.


"Honey." Arga megusap lembut pipi Hania untuk membangunkan wanita cantik itu.


"Lepasin... Lepasin... Tolong... Raka." Napas Hania tersengal-sengal, titik-titik keringat mulai muncul di keningnya, wanita itu mulai menangis lirih.


Mendengar nama Raka disebut Hania dengan pilu, hati Arga berdenyut nyeri. Dadanya terasa sesak seakan mau meledak. Matanya mulai mengembun. Pria itu sudah bisa membayangkan yang dilakukan Raka pada kekasihnya itu. Sakit hatinya melihat wanita yang dicintainya harus mengalami pelecehan seperti itu.


"Honey. Buka matamu sayang. Bangunlah." Arga terus mengusap pipi mulus itu bahkan pria itu menangkup wajah ayu itu dengan kedua tangannya dan mencium keningnya untuk memberikan ketenangan.


"Lepas..." Hania masih terus mengigau dan Arga sudah tak dapat membendung air matanya lagi.


"Honey." Arga mengeraskan suaranya membangunkan Hania.


Mata Hania seketika terbelalak. Wanita itu langsung terduduk seraya memegang dadanya yang terasa sesak. Hania meraup oksigen sebanyak-banyaknya, namun sejurus kemudian wanita cantik itu menangis sesenggukan.


"Honey." Arga menyentuh bahu Hania yang membuat wanita itu tersentak dan dengan spontan menampik tangan Arga dari bahunya.


"Honey. Ini aku." ucap Arga lembut membuat Hania menoleh ke arah pria tampan itu.


"Mas..." ucap Hania seraya terisak, suaranya parau akibat terlalu banyak menangis.


Arga langsung mendekap wanita cantik yang terlihat terpuruk dan menyedihkan itu. Arga merasa hancur. Raka benar-benar menghancurkan Arga dan Hania sekaligus.


"Apa yang harus gue lakuin ke elu, Raka! Brengsek!" geram Arga dalam hatinya.


Arga mengeraskan rahangnya, tatapan matanya menyorot tajam penuh amarah seraya tetap memeluk kekasihnya dengan erat. Tangannya pun mengepal kuat. Sudah tak sabar rasanya ingin menghabisi mantan sahabatnya itu.


"Mas..." lirih Hania setelah melepas pelukan Arga, wanita itu menundukkan kepalanya menatapi jari jemarinya yang bertumpu di pangkuannya.


Arga dengan sabar menunggu apa yang


akan dikatakan kekasihnya itu dalam diam seraya terus mengusap lengan wanita itu.


"Apa dia akan mendapat hukuman setimpal? Dia... Dia jahat sama aku. Aku udah hancur dan kotor. Aku... Aku malu." ucap Hania di sela isaknya.


********


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2