
Hari masih pagi, matahari belum tinggi. Dengan bersandar pada sandaran kursinya kebesarannya di ruangan besar dan hening itu, Arga menatap keluar melalui jendela kaca besar yang mengarah ke arah matahari terbit. Membiarkan tubuhnya bermandikan sinar matahari pagi.
Pria tampan itu masih bergeming untuk beberapa saat. Meski diam tapi otak cerdasnya berputar mencari cara menyekesaikan konfliknya dengan sahabatnya. Pria itu mendesah. Antara tega dan tidak jika mengingat perbuatan sahabatnya itu.
Tok tok tok!
Arga menoleh ke arah pintu yang diketuk. Tak berselang lama sekretarisnya yang cantik memasuki ruangan itu sambil membawa tabletnya dan seorang sekuriti mengekor di belakangnya membawa sebuah kotak kecil sebesar kotk sepatu.
"Maaf, Pak. Ada paket yang harus diserahkan langsung pada anda." ucap Dian.
Arga menaikkan sebelah alisnya. Tumben? Seberapa penting isinya sampai harus diterima langsung olehnya? Aneh.
"Siapa pengirimnya?" tanya Arga.
"Dipaketnya sih, ngga ada namanya, Pak. Tadi yang ngantar bernama Ozan. Pesennya harus langsung dikasihkan ke bapak, gitu." terang sekuriti bername tag Anwar itu.
Arga masih memandang kotak paket itu.
"Sudah saya screen tadi, ini aman, Pak. Ngga ada kandungan logam dan sebagainya. Dan ini ringan." lanjut Anwar seraya mengangkat paket itu sedikit ke atas.
"Letakkan di meja dan tetap di sini! Dian kamu boleh keluar." perintah Arga.
Sekuriti itu menganggukkan kepalanya meski bingung. Pikirnya, urusannya sudah selesai ketika paket sudah diterima atasannya. Sementara Dian langsung meninggalkan ruangan Arga.
"Reza, ke ruangan saya sekarang!" perintah Arga melalui interkom.
Tak berselang lama, pria berperawakan sama dengan Arga itu sudah muncul di ruangan hening itu. Menganggukkan kepalanya menyapa atasannya. Arga menunjuk kotak paket di atas meja kerjanya dengan dagunya.
"Itu, paket? Untuk saya?" tanya Reza yang tidak mengerti maksud Arga.
"Ck!" Arga berdecak seraya menatap Reza tajam
"Itu untuk saya." ucap Arga kembali menatap kotak paket di depannya.
Reza ber oh ria lalu meringis seraya mengusap tengkuknya. Pria manis berkaca mata itu hanya mendesah pelan. Sedikit kesal. Dirinya dipanggil hanya untuk dipameri sebuah paket? Jadi maksudnya apa sih? Itu 'kan hanya paket? Kenapa harus memanggilnya segala?
Tapi sejurus kemudian Reza baru menyadari kejanggalan pada pengiriman paket itu. Jika untuk Arga, kenapa dikirim ke perusahaan? Bukan ke rumahnya saja?
"Anwar, tolong buka paketnya!" perintah Arga pada sekuriti yang sedari tadi hanya berdiri diam.
"Tunggu! Apa anda yakin, isi paket itu bukan hal yang berbahaya?" cegah Reza ketika Anwar hendak membuka paket itu.
Arga menatap Anwar yang sedang memegang paket itu.
"Tadi sudah saya screen, Pak. Pake detektor. Tidak ada yg berbahaya. Ini ringan, saya rasa isinya hanya kertas? Atau benda ringan. Anda ingin memegangnya?" tawar Anwar pada Reza.
Reza langsung meraih paket yang disodorkan padanya. Benar, kotak itu ringan. Sang asisten itu mendekatkan kotak itu ke telinga dan menggoyang-goyangkannya, tidak terdengar suara benda beradu.
Reza mengangsurkan kotak itu kembali pada Anwar untuk dibuka.
"Saya buka ya, Pak." ucap Anwar meminta izin pada Arga, yang diangguki atasannya itu.
Anwar membawa kotak itu ke meja tamu di sisi lain ruangan itu. Arga dan Reza mengikutinya. Kedua pria tinggi itu memperhatikan kotak yang sedang di bongkar pembungkusnya.
"Silakan, Pak." ucap Anwar seraya mendorong kotak yang sudah dilucuti pembungkusnya ke arah Arga.
Arga duduk di sofa tunggal di belakangnya. Perlahan meraih kotak itu. Anwar mundur beberapa langkah, sementara Reza masih berdiri di samping sofa yang Arga duduki. Terus terang Arga gugup untuk membuka kotak itu. Dia khawatir isinya berupa ancaman lagi.
Perlahan Arga membuka kotak yang mirip kotak sepatu berwarna hitam itu. Pria itu mengernyitkan keningnya ketika mengetahui isinya.
Sebuah surat kaleng dan amplop coklat yang diduganya berisi foto-foto. Diraihnya amplop itu dan dengan cepat mengeluarkan isinya. Seketika matanya terbelalak menatap foto-foto Hania dalam berbagai pose dan di beberapa lokasi.
"Gue yakin dia perempuan yang luar biasa sampe bisa naklukin hati lu yang sudah terlanjur membatu." Begitu isi surat tanpa nama yang sudah tak karuan bentuknya itu karena diremas Arga.
__ADS_1
Reza juga terkejut melihat foto-foto itu. Pria berwajah manis itu meminta Anwar meninggalkan ruangan atasannya itu ketika melihat perubahan ekspresi Arga.
"Dia ngawasin Hania? Brengsek!" Arga mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya, matanya menyorot tajam ke arah foto-foto itu.
"Rez, ingatkan Kelik, jangan sampai lengah. Terus awasi Hania. Tambah orang. Saya ngga mau terjadi sesuatu dengan dia." perintah Arga.
Reza langsung meraih ponsel di dalam saku celananya dan menghubungi Kelik. Sementara Arga kembali ke kursi kebesarannya. Namun segera bangkit lagi dan berjalan meninggalkan Reza.
"Anda mau kemana, Pak?" tanya Reza.
Arga yang sudah memegang gagang pintu menoleh.
"Menemui pecundang itu." suara Arga terdengar dingin dan penuh penekanan.
"Saya akan menemani anda." ucap Reza.
Arga tampak berpikir. Apakah sebaiknya mengajak Reza? Atau mengajak lawannya itu bertemu di tempat umum? Bukankah dirinya harus berhati-hati?
"Cepatlah." Arga membuka pintu ruangannya dan keluar, Reza langsung berjalan mengekori Arga.
Drrrt drrrt drrrt!
Dilihatnya layar ponselnya. Nama Iden tertera di sana. Sambil tetap berjalan Arga menerima panggilan dari sahabat sekaligus bawahannya itu.
"Gue buru-buru, sebaiknya lu ngomong yang jelas." sahut Arga begitu ponselnya tersambung.
"Lu kenapa, sih? Belum-belum udah nyolot aja lu?" balas Iden di ujung ponselnya.
"Gue matiin nih!" ancam Arga.
"Ck! Gue sama Pak Sam ada di kantor polisi sekarang. Kemarin kita udah masukin tuntutan baru ke Oom Aris. Hari ini gue sama Pak Sam dipanggil lagi. Dan bener seperti dugaan lu. Oom Aris ngga mau rugi sendiri. Dia ngaku ada yang bantuin dia. Tapi karena dia di Jakarta, lu buat tuntutan baru deh buat dia di situ." terang Iden panjang dan lebar.
Arga sampai menghentikan langkahnya di depan lift demi mendengar keterangan Iden. Ya. Karena rivalnya itu sangat rapi menutupi keterlibatannya dalam berbagai masalah yang menimpanya, Arga sampai harus memikirkan cara lain.
Beberapa hari yang lalu pria tampan itu mengumpulkan Iden, Reza, dan Kelik di kantornya.
"Iya bos, saya dan yang lainnya sampai harus menyelidiki ulang. Tapi semua bukti seperti tiba-tiba dibelokkan lagi ke Pak Aris." timpal Kelik.
"Lu ngga lupa 'kan, di antara kita berlima, dia yang paling pinter berkelit?" celetuk Iden mengingatkan.
Arga terdiam. Benar. Sahabat yang kini menjadi rivalnya itu memang pandai menutupi kesalahannya hingga sering lolos dari hukuman.
"Kenapa bisa begitu? Semua bukti larinya ke Oom Aris? Apa Oom Aris juga dihianati?" monolog Arga dalam hatinya seraya memijat pelipisnya.
Tiba-tiba bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Sebuah ide muncul di benaknya.
"Ya udah. Kita limpahkan aja semua tuduhan itu ke Oom Aris." cetus Arga membuat yang lainnya saling melempar tatapan satu sama lain.
"Gue yakin, Oom gue ngga akan terima tuduhan-tuduhan itu begitu aja. Dia pasti ngga mau menderita sendirian. Biar dia sendiri yang membuka mulutnya atas keterlibatan orang itu dengannya." papar Arga.
Dan di sanalah Iden sekarang. Mengurus tuntutan baru untuk pamannya Arga.
"Ga? Lu denger 'kan keterangan gue barusan?" tegur Iden karena tidak kunjung mendengar suara Arga.
"Iya. Gue denger." sahut Arga.
"Lu urus semuanya di sana." putus Arga.
Arga dan Reza memasuki lift yang terbuka di depannya. Melanjutkan niatnya menemui rivalnya. Itu adalah kali pertama Arga bertemu dengan mantan sahabatnya itu. Sebenarnya sudah sejak lama pria karismatik itu ingin bertemu dan meluruskan kesalah pahaman yamg terajadi di antara mereka. Tapi sepertinya waktu tidak mendukung. Arga terus disibukkan dengan masalah perusahaan yang ditimbulkan sang paman dan mantan sahabatnya itu yang sering berada di luar negeri.
Reza memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Mereka tidak sedang terburu-buru. Namun, tiba-tiba dari arah berlawanan sebuah mobil jeep dengan kecepatan tinggi melaju ke arahnya. Dengan cepat Reza membanting setir ke kiri untuk menghindari tabrakan dengan mobil jeep itu. Tapi kendaraan yang ditumpangi Arga malah menyerempet truk yang sedang terparkir membuat mobil itu terhempas ke kanan. Beruntung tidak ada kendaraan dari arah belakangnya.
Arga merasakan tubuhnya terhempas, bahkan keningnya mengeluarkan darah karena beberapa kali terbentur kaca jendela. Pria itu masih sadarkan diri. Mencoba mendudukkan tubuhnya seraya meringis. Reza yang duduk di belakang kemudi juga masih sadarkan diri.
__ADS_1
"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Reza menoleh ke kebelakang seraya meringis.
Kening Reza juga berdarah. Bahkan tampaknya lebih parah darinya.
Tak berselang lama beberapa warga yang berada di lokasi kecelakaan langsung mendatangi dan membantu Arga dan Reza. Sambil duduk di trotoar, Reza menghubungi Adi, memintanya datang ke lokasinya sekarang.
Arga menoleh ke arah kanannya dimana jeep yang tadi melaju kencang ke arahnya, menabrak sebuah minibus yang juga berlawanan arah. Merasa janggal, pria bertubuh atletis itu mendekati mobil jeep itu. Arga berusaha menyeruak di tengah kerumunan yang berusaha menolong penumpang mobil jeep dan minibus itu.
Arga berdiri tepat di hadapan seorang pria seusia Ferry yang tidak sadarkan diri. Bertubuh kekar dan bertato di lengan kirinya. Arga memperhatikan wajah pria itu. Dia ingat, dirinya pernah bertemu pria itu.
"Sial!" umpatnya dalam hati.
Arga baru menyadari jika dirinya juga sedang diawasi. Dengan napas memburu, pria tampan itu kembali ke tempat Reza berada.
"Kita diawasi." ujarnya membuat Reza langsung waspada, matanya melirik ke kanan dan ke kiri.
"Mobil jeep itu, memang sengaja mau mencelakai kita." lanjut Arga.
"Saya sudah meminta Adi datang kemari untuk membereskan masalah di sini, Pak." lapor Reza.
"Hubungi Kelik, minta dia nyelidiki orang di jeep itu." perintag Arga.
2 aparat polisi sudah berada di lokasi kecelakaan Arga dan Reza, begitu juga dengan Adi. Setelah dimintai keterangan, Arga dan Reza langsung menuju rumah sakit dengan diantarkan Mang Diman yang menyusul setelah Arga menyusulnya. Meninggalkan Adi untuk membereskan masalah yang tersisa.
"Mang, tolong jangan bilang Ibu, Hania, dan orang rumah lainnya. Aku ngga mau mereka semua panik dan khawatir." tekan Arga pada sopir keluarganya itu.
"Siap, Mas." sahut Mang Diman seraya menatap Arga melalui kaca visioner.
Sementara itu, Hania mulai disibukkan kembali oleh pekerjaannya. Hari itu, seperti yang sudah-sudah, restoran Hania selalu ramai pengunjung meski jam makan siang telah lewat sekalipun.
Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya hampir menunjukkan angka 5 ketika Hania memutuskan untuk pulang. Tanpa disadarinya sebuah minibus mengikutinya sejak dirinya keluar dari halaman restorannya.
Adzan maghrib telah mengumandang ketika Hania tiba di rumah minimalisnya. Wanita cantik itu menghela napasnya dalam-dalam sebelum memasuki rumah yang menjadi saksi suka dan dukanya bersama putrinya.
Namun, baru akan membuka pintu, sebuah sapaan membuatnya menoleh dan berbalik mendekati seorang wanita seusia Lisa yang bertanya alamat padanya. Hania fokus membaca kertas yang bertuliskan sebuah alamat ketika tiba-tiba hidung dan mulutnya dibekap dari belakang. Wanita cantik itu sempat meronta tapi sejurus kemudian tak sadarkan diri.
Drrrt drrrt drrrt!
Getaran ponsel Arga membuyarkan pikirannya yang dipenuhi Haiua. Pria tampan itu sedang dalam perjalanan ke rumah kekasihnya itu. Keningnya mengernyit begitu melihat nama anak buahnya tertera di sana. Arga memasang earphonenya lalu menerima panggilan itu.
"Bos, kita kehilangan Bu Hania." ucap Kelik begitu ponselnya terhubung.
Spontan Arga menginjak pedal rem dan membuat mobilnya berhenti seketika. Beruntung mobil di belakang Arga dapat segera menghentikan laju kendaraannya tepat waktu hingga tidak menimbulkan kerusakan pada kendaraan keduanya. Tapi Arga tak luput dari makian pengendaranya, yang hanya disahuti kata maaf oleh Arga.
Dirinya lebih fokus pada laporan Kelik. Hania hilang? Arga geram. Setir mobilpun jadi sasaran amarahnya.
"Bukannya sudah gue suruh perketat penjagaannya!? Apa aja yang kalian kerjakan!? Jagain 1 perempuan aja ngga beres!" Amuk Arga.
"Cari!" bentaknya pada Kelik, bahkan pria berbadan kekar itu sampai berjengit.
"I-iya bos." sahut Kelik gelagapan.
Kelik sangat tahu bagaimana Arga. Kemarahannya bisa menimbulkan petaka. Jika tidak berakhir di penjara atau rumah sakit, pastilah di rumah masa depan. Selain itu, rasa segan dan hormatnya lah yang membuat Kelik patuh pada pria karismatik itu.
Di sebuah kamar yang cukup luas berwarna abu-abu putih, seorang pria bertubuh kekar meletakkan seorang wanita cantik di sebuah ranjang yang empuk dan nyaman berukuran sedang. Wanita itu masih tak sadarkan diri. Seorang pria tampan memasuki kamar itu.
"Bos. Dia masih pingsan." lapor pria kekar tadi.
"Keluar!" perintah pria tampan itu.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Jangan lupa like, favoritkan, vote, kasih hadiah ya... komen juga boleh. Untuk terus dukung karya ini.
🤗🤗🤗😘