Yang Terakhir

Yang Terakhir
164. Hania Dimana!


__ADS_3

"Apa yang sebenernya sedang terjadi, Iden!? Kenapa Arga sepertinya memusuhi Raka!? Kasih tau Tante!" tanya Tante Monica dengan suara bergetar yang ditekan.


"Kalian udah lama berteman bahkan udah kayak saudara 'kan? Trus, kenapa Raka bawa kabur istrinya Arga?" lanjut wanita paruh baya itu.


Tante Monica terus mencecar Iden dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia tahu jawabannya. Hanya saja, masalah itu terlalu pribadi dan sensitif. Pria blesteran itu tidak ingin melangkahi Arga, si empunya masalah. Tapi sekarang dia jadi bingung, akan menjelaskan apa pada wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.


"Jujur ya, Tante. Aku memang tahu masalah yang terjadi antara Arga dan Raka. Tapi itu bukan hakku untuk cerita sama Tante. Lebih baik Tante tanya aja sama Raka atau Arga." ucap Iden diplomatis.


Sungguh, Iden merasa iba pada Tante Monica. Melihat wanita paruh baya itu bersedih membuatnya merasa geram pada Raka. Sahabatnya itu benar-benar keterlaluan. Kurang baik apa ibunya padanya, hingga dia bertingkah seperti anak yang kurang kasih sayang begitu? Bahkan Iden saja masih merasakan hangatnya perhatian dari wanita paruh baya itu hingga kini.


"Hania?" batin Ferdi.


Iya. Itu pasti Hania. Tidak mungkin dirinya salah. Pria menawan itu masih mengingat jelas rupa Hania bahkan bayangannya pun bisa diingatnya dengan baik. Ferdi bergegas memutar arah mobilnya. Kembali memasuki komplek apartemennya dan langsung menuju parkiran di lantai dasar apartemen. Dia beruntung, saat berkeliling mencari mobil sport yang tadi menyeruduknya, seorang pria bertubuh tinggi atletis baru saja keluar dari dalamnya dan terlihat terburu-buru memutari mobilnya.


"Tunggu!" cegah Ferdi.


Merasa seseorang menegurnya, Raka menoleh ke arah suara. Lalu mendesah. Matanya menatap lekat Ferdi. Dia terusik dan tidak suka. Satu tangannya masih memegang pintu yang terbuka dan satu tangannya lagi berkacak di pinggangnya.


"Gue?" tanya Raka sinis.


Ferdi menganggukkan kepalanya. Masih bersikap ramah meski dirinya kesal dengan reaksi Raka yang terkesan masa bodoh.


"Cuma ada kita berdua di sini." ujar Ferdi seraya terkekeh


"Gue tau, cuma ngga yakin aja." sergah Raka masih sinis.


"Gue sibuk! Mau apa lu!?" tanya Raka kesal.


Pria tampan itu khawatir Hania terbangun dari pingsannya. Akan lebih sulit baginya membawa wanita itu ke unitnya karena sudah pasti dia akan histeris dan akan menarik perhatian.


"Boleh gue bicara sama, dia?" pinta Ferdi seraya menunjuk ke pintu mobil yang terbuka.


"Memangnya siapa lu!?" Raka mulai menampakkan raut tak sukanya dengan jelas ketika Ferdi menunjuk Hania.


"Gue Ferdi. Gue cuma mau mastiin aja kalau dia itu temen gue, Hania." sahut Ferdi tak gentar.


Raka mendengus. Ferdi semakin yakin jika wanita di dalam mobil itu adalah Hania.


"Dia Hania. Puas!? Minggir! Gue sibuk dan buru-buru!" seru Raka.


Ferdi memiringkan senyumnya. Pria menawan itu merasakan kejanggalan dalam sikap Raka yang menghalang-halanginya. Dia tahu betul Hania sudah menikah dengan Arga, pengusaha muda yang sukses nan arogan dalam anggapannya. Bukan pria di hadapannya saat ini. Tapi kenapa kesannya pria itu menguasai Hania?


"Gue mau nyapa dia. Udah lama banget gue ngga ketemu dia. Bahkan gue belum ngucapin selamat atas pernikahannya." tolak Ferdi yang tidak mau menyingkir.


"Ngga perlu! Nanti gue sampein!" cegah Raka ketus.


"Gue ngga butuh izin dari elu 'kan? Lu bukan suaminya." Ferdi terus mencoba memancing emosi Raka.

__ADS_1


"Apa maksud lu!? Cari masalah sama gue, lu!?" Raka mulai terpancing emosinya.


Pria tampan itu membanting pintu mobilnya hingga membuat Ferdi terkejut tapi tetap tenang. Raka menghampiri Ferdi dengan langkah lebar-lebar. Sorot matanya menghunus tajam ke arah Ferdi. Dia ingin segera menyingkirkan pria yang mengusiknya dan menghalang-halanginya.


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat di rahang Ferdi, membuat pria menawan itu terjungkal karena terkejut. Dengan cepat Raka merangsek maju dan memberi pukulan bertubi-tubi pada Ferdi. Ferdi pun tak mau kalah. Pria itu cukup menguasai ilmu bela diri. Meski tidak jago-jago amat. Ferdi mampu membalas pukulan Raka. Keduanya saling membelit dan memukul hingga sama-sama babak belur. Hingga keduanya sama-sama kelelahan dan tergeletak lemas kehabisan tenaga.


Di saat bersamaan, Arga dan Reza tiba di area parkir apartemen tempat terjadinya duel. Arga berlari melewati Raka dan Ferdi menuju mobil Raka. Dibukanya pintu mobil dengan paksa. Mencari Hania.


"Dimana istri gue!?" seru Arga menatap Raka dengan tajam.


Arga sudah merasakan lega luar biasa saat bisa menemukan keberadaan Hania melalui GPS yang terpasang di ponselnya.


"Kita menemukan lokasi Bu Hania, Pak. Titiknya di apartemen Bima Sakti. Itu apartemen lama Pak Raka." lapor Reza serambi mengemudi.


"Sudah kuduga, dia ada ditempat yang ngga pernah kita bayangkan selama ini. Siapa sangka anak tak berguna itu ada di sana?" gumam Arga yang diangguki Reza.


Namun, begitu membuka pintu mobil Raka, harapan Arga seperti terbang begitu saja. Hania tidak berada di dalam mobil itu. Arga mendengus penuh amarah. Argh!


"Dimana Hania!?" bentak Arga seraya mencengkeram kemeja Raka.


Raka yang masih lemas kehabisan tenaga setelah pertarungannya dengan Ferdi ikut terkejut. Pria tampan itu menoleh ke arah Ferdi yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu sedang menatapnya dengan ekspresi yang sama dengannya.


"Tadi dia di dalam mobil gue." sahut Raka datar.


Merasa penasaran, Ferdi memeriksa mobil Raka. Benar. Hania tidak ada disana. Hanya tas dan sebelah sepatunya saja. Jelas-jelas tadi dia melihatnya sendiri. Hania tengah tertidur di kursi itu. Kemana dia?


"Tanya dia. Dia juga liat sendiri Hania ada disana." ujar Raka datar seraya menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


Arga menoleh pada Ferdi. Sedikit terkejut. Tadi dirinya tidak menyadari adanya pria yang dulu pernah menjadi rivalnya itu disana.


"Elu?" ujar Arga.


"Iya. Gue liat sendiri Hania disini." sahut Ferdi membenarkan ucapan Raka.


"Lu sendiri, kenapa bisa ada di sini!? Apa lu sekongkol sama bajingan itu!?" tanya Arga sinis.


Tidak hanya sampai disitu. Pertanyaan bernada serupa terus bermunculan. Arga tengah mencemburui Ferdi, mantan rivalnya. Atau mungkin masih menjadi rivalnya.


Ferdi menjelaskan alasan keberadaannya di sana berikut memar dan luka-luka di wajah dan beberapa bagian tubuhnya setelah Arga terus-terusan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang berlandaskan kecemburuan.


"Ini semua gara-gara elu, b*ngs*t!" tuding Arga pada Raka.


Raka kembali harus merasakan pukulan di wajah dan tubuhnya, namun, pukulan Arga dirasakan lebih menyakitkan dan telak. Dia bahkan tidak dapat melakukan perlawanan apapun. Arga menguasai ilmu bela diri dengan baik, dan lagi mantan sahabatnya itu tengah diliputi amarah. Sudah pasti tenaganya berkali-kali lipat.


"Pak Arga!" seru Reza seraya menahan tangan Arga yang sudah siap melayangkan tinjunya, membuat Arga menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


Reza sedari tadi hanya diam dan memperhatikan pertikaian kedua mantan sahabat itu tanpa ingin melerai selama masih aman menurutnya. Tidak apa-apa jika Arga melampiaskan emosinya pada Raka. Pria yang memiliki postur tubuh sepertinya itu memang layak mendapatkannya. Ulahnya memang sudah keterlaluan. Dirinya saja gemas apalagi Arga.


"Mereka menemukan lokasi Bu Hania." ujar Reza membuat Arga seketika melepaskan cengkeramannya di kemeja Raka.


Arga dan Reza segera berlalu diikuti oleh Ben dan Jojo seraya membawa Raka serta.


"Gue ikut!" seru Ferdi.


Arga menatapnya tanpa ekspresi. Lalu menaiki mobilnya tanpa jawaban. Ferdi yang sudah bertekad untuk ikut serta, mengikuti mobil Arga. Anggap saja diamnya pria yang dianggapnya arogan itu sebagai persetujuannya.


Iring-iringan mobil Arga tiba di sebuah rumah minimalis yang cukup besar, masih di kawasan perkotaan. Arga memperhatikan keadaan sekitar. Rumah dan pekarangannya terawat. Terletak di kawasan strategis. Apa mungkin, para penculik itu menggunakan rumah itu untuk menyekap orang yang sudah diculik? Meski jarak antara rumah yang satu dengan yang lain cukup jauh, namun rumah itu terlalu "terlihat". Tak berselang lama, seorang pria bertubuh gempal menghampirinya.


"Bos. Sepertinya kita terlambat. Bu Hania sudah tidak ada di sini. Sepertinya mereka langsung pindah tempat begitu mengendus kedatangan kita." lapor pria itu.


"Cepat sekali." gumam Arga.


"Siapa mereka ini, Lik?" tanya Arga pada pria gempal itu.


Pria yang disapa Kelik itu memggelengkan kepalanya. Dia belum tahu. Pasalnya, dirinya tak pernah bertemu satupun dari sekelompok orang yang dicurigainya itu.


"Kami nemuin ini, Bos." ujar Kelik menunjukkan sebuah pisau lipat.


Arga menerima pisau lipat itu dan mengamati benda tajam itu. Dia seperti pernah melihatnya, tapi dimana?


"Itu punya Bas. Anak buah Oom Aris." celetuk Raka dari dalam mobil yang terparkir di sisi kirinya.


Celetukan Raka membuat Arga dan Kelik menoleh. Seketika Arga teringat sesuatu. Benar. Oom Aris. Pantas saja dirinya seperti pernah melihat pisau lipat yang kini dipegangnya itu. Pisau yang dibangga-banggakan sang paman. Tapi kenapa bisa pisau lipat itu ada di tangan Bas yang katanya tadi anak buah pamannya? Apa pamannya ikut terlibat di sini? Tapi kenapa menculik Hania? Apa pamannya masih ingin menghancurkannya? Argh! Kenapa pamannya tidak jera? Bahkan pria tua itu sedang berada di balik jeruji besi saat ini.


"Jadi lu tau, kira-kira kemana mereka membawa istri gue?" tanya Arga datar seraya menekan kata istri dalam kalimatnya.


Mantan sahabat Arga itu menganggukkan kepalanya. Arga yang memang membutuhkan bantuan terpaksa harus mengajak Raka bekerjasama demi menemukan Hania.


"Denger! Istri gue bisa ada ditangan orang-orang br*ngs*k lainnya itu karena elu! Jadi, tunjukin tanggung jawab lu untuk nyelametin istri gue!" tekan Arga, sementara Raka terkekeh.


"Lu tetep aja gitu. Suka banget mengintimidasi orang." keluh Raka.


Sebagai sahabat, Raka maupun Arga sangat mengenal pribadi satu sama lain. Pun saat Arga mencoba membalut permintaan tolongnya dengan mengintimidasi dirinya, pria tampan itu langsung tahu.


"Gue akan bantu lu. Demi Hania." ujar Raka seraya membuang muka.


********


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2