Yang Terakhir

Yang Terakhir
144. Kita Sahabat


__ADS_3

Hania berdiri mematung di depan kamar Arga. Tiba-tiba dirinya merasa tegang. Pintu kamar berukuran luas itu sudah terbuka lebar. Arga juga masih berdiri di sisi sebelah dalam, menunggu istri barunya masuk ke dalam kamar pribadinya yang akan menjadi kamarnya bersama sang istri.


"Honey? Kamu ngga mau masuk ke kamar kita?" suara Arga yang lembut menarik Hania dari lamunannya.


Hania mengerjapkan matanya beberapa kali. Hah. Iya. Kini dirinya sudah menjadi istri Arga, sudah pasti akan sekamar dengan suaminya itu. Tapi lagi-lagi perasaan tegang muncul. Rasanya seperti pertama kali. Dia gugup.


"Kamu gugup?" tanya Arga seolah tahu yang dirasakannya.


Hania mengulas senyum tipis dan sedikit menganggukkan kepalanya. Dia memang pernah menikah tapi itu sudah lama, dia sudah lupa rasanya menjadi pengantin baru.


Perlahan Hania melangkahkan kakinya memasuki kamar suaminya, sebuah ruangan besar yang didominasi cat berwarna putih dan furniture berwarna coklat, yang kini menjadi kamarnya juga.


Arga menutup pintu kamarnya lalu menguncinya. Hania membalik tubuhnya menghadap ke arah suaminya dan menatap pria tampan itu. Dia tertegun.


"Kenapa dikunci?" sebuah pertanyaan yang hanya dijawab senyuman oleh Arga.


Pria tampan itu mendekati Hania dan mengusap pipi tirus istrinya yang kentara sekali sedang tegang dan gugup. Perlahan Arga mendekatkan wajahnya. Cup. Bibir seksi Arga mendarat di kening Hania. Cukup lama bibirnya menempel di sana menunjukkan betapa sayangnya pria itu pada sang istri sampai-sampai Hania memejamkan matanya ikut meresapi dalamnya kecupan sang suami.


"Mau bersih-bersih dulu?" tawar Arga setelah melepaskan kecupan hangatnya di kening Hania.


Hania mengangguk dan langsung meninggalkan Arga yang tengah tersenyum simpul menatap ketegangan istri barunya.


"Fyuh! Kenapa gue ikutan tegang juga?" gumam Arga seraya berkacak pinggang dengan tatapan matanya tertuju ke pintu kamar mandi.


Sementara Hania merilekskan dirinya di kamar mandi, Arga memutuskan untuk membersihkan dirinya di kamar mandi yang berada di kamar tamu.


Ting tong! Ting tong!


Terdengar bel pintu rumahnya ditekan dengan tak sabaran oleh tamu yang jelas tak diundang kedatangannya. Arga masih berdiri di ujung tangga untuk melihat siapa pengganggunya malam itu.


Terdengar sayup-sayup suara Bi Darmi sedang berbincang dengan seorang pria. Lama-lama, Arga mengenali suara itu.


"Bagus lu ya! Nikah ngga nungguin gue!?" gerutu Iden dengan mata menyorot tajam ke arah Arga seraya berkacak pinggang.


Pria blesteran itu berdiri di depan anak tangga pertama sementara Arga masih berdiri tenang di tengah-tengah anak tangga seraya bersedekap.


"Gue tau lu sibuk." sahut Arga datar lalu berbalik meninggalkan Iden.


Dengan kesal Iden menyusul langkah Arga menaiki anak tangga menuju lantai 2. Dia tahu sahabatnya itu menunggunya di ruang kerjanya.

__ADS_1


2 hari yang lalu, Iden yang berhasil membujuk Bela, mengajak sekretarisnya itu ke Surabaya. Tujuannya tak lain adalah mengorek informasi sebanyak-banyaknya dari Hendra. Dan sekembalinya dari kota pahlawan barusan, Iden mengetahui pernikahan dadakan Arga melalui Reza yang menjemputnya. Sudah pasti dirinya kesal. Selama Arga berduka, dirinya lah yang paling banyak menerima kesusahan. Tapi ketika Arga sedang berbahagia, kenapa dirinya ditinggalkan? Ingin rasanya Iden menghajar sahabatnya itu. Memberi sedikit pelajaran tentang artinya berbagi.


"Lu kebelet kawin?" sindir Iden begitu sudah berhadapan dengan Arga.


"Katakan aja begitu." sahut Arga sekenanya.


Arga tahu Iden sedang kesal.


"Cih!" Iden berdecih lalu melempar Arga dengan bolpoin yang tergeletak di depannya.


Arga hanya tersenyum miring menanggapi kekesalan sahabatnya itu. Lalu meletakkan kembali bolpoin yang jatuh ke pangkuannya ke atas meja.


"Kenapa lu kesel? Harusnya lu seneng dong gue akhirnya nikah lagi." cibir Arga membuat Iden kembali berdecih.


"Sahabat macam apa lu!? Giliran susah aja, gue yang pertama lu seret-seret! Harusnya gue ini orang pertama yang tau rencana lu nikah, sialan!" gerutu Iden seraya menyorot tajam Arga dengan mata coklat terangnya itu.


Arga tergelak. Pria karismatik itu merasa lucu melihat Iden mengomel. Pria penuh pesona yang selalu berhasil menawan setiap wanita yang melihatnya dengan gaya kerennya, kini tengah mengomelinya layaknya ibu-ibu.


"Ga! Gue serius!" wajah Iden seketika berubah sendu.


"Sorry, sorry." Arga langsung menghentikan tawanya.


Sungguh Iden juga menginginkan sahabat sejak kecilnya itu bisa meraih kebahagiaannya kembali. Dia juga ingin menjadi saksi ketika hari bahagia sahabatnya itu datang. Kini, semua keinginannya itu sudah menguap menyisakan kesal. Namun tak urung membuatnya ikut berbahagia.


Dan yang semakin membuatnya merasa sesak adalah wanita yang bisa membuat sahabatnya bahagia itu dinodai sahabat mereka sendiri. Sungguh miris nasib Arga di matanya. Tapi dia bangga, Arga tidak memandang kejadian yang menimpa Hania sebagai masalah dalam hubungan mereka dan tetap mencintai wanita itu sangat dalam. Arga selalu terlalu jika jatuh cinta. Tapi kali ini sangat keterlaluan. Membayangkan rasanya menjadi Arga, Iden menjadi terharu sekaligus kesal pada Raka.


"Sorry, gue kebawa suasana." ucap Iden yang sudah melepas pelukannya seraya mengusap sisa air matanya di sudut matanya.


"Thanks, bro. Lu selalu dukung gue selama ini. Tanpa lu, gue ngga tau bakal jadi apa sekarang ini." lirih Arga tulus.


"Hei! Kita ini sahabatan dari kecil, bro. Daripada ke abang gue, gue lebih deket ke elu. Gue tau rasanya jadi elu." hibur Iden yang merasa Arga mulai sendu.


"I know." Arga menarik Iden dan memeluknya lagi.


Sungguh Arga bersyukur masih memiliki orang-orang yang tulus menyayanginya.


"Ga! Lepas! Geli gue lama-lama!" sentak Iden yang merasa Arga mulai mengusilinya dengan terus memeluknya.


Benar saja. Lagi-lagi Arga tergelak setelah mengurai pelukannya. Pria karismatik itu tahu Iden tidak akan suka dipeluk-peluk sesama jenis. Kecuali untuk tujuan seperti barusan, memberi dukungan.

__ADS_1


Suasana ruang kerja itu hening lagi setelah Iden menyorot Arga dengan mata coklat terangnya, membuat Arga menghentikan tawanya.


"Ada kabar apa?" tanya Arga datar dalam mode serius.


"Dugaan lu bener. Orang yang kita sangka Oom Aris itu memang bukan dia. Oom Aris masih sibuk memerintah orang-orangnya untuk ganggu elu." terang Iden.


Arga menghembuskan napas berat. Dia harus segera memutus kaki tangan sang paman. Dirinya tak habis pikir. Pria paruh baya itu kenapa bisa memiliki akal selicik itu? Padahal dia dan ayahnya lahir dari rahim yang sama dan dari benih yang sama. Apa rasa iri hati membuatnya berubah jadi manusia paling tega? Hingga sanggup mencoba menghancurkan bahkan melenyapkan keluarganya sendiri?


Ceklek!


Pintu terbuka dari luar membuat Hania yang tengah mengoleskan handbody ke tubuhnya menoleh. Tampak suaminya itu mengulas senyum tapi terlihat olehnya seperti dipaksakan.


"Mas? Dari mana aja? Aku tadi ke bawah nyariin lho." sambut Hania.


Arga mendekati Hania lalu mengecup puncak kepala istrinya itu.


"Ada Iden. Jadi aku nemuin dia sebentar. Kenapa belum tidur?" tanya Arga seraya mengusap pipi Hania dengan punggung jarinya.


"Aku, nungguin Mas." sahut Hania seraya tersipu.


Arga mengulas senyum lebar melihat pipi Hania yang mendadak merona. Pria itu selalu dibuat gemas dengan tingkah istri barunya yang malu-malu begitu.


"Nungguin aku? Memangnya kamu mau ngasih apa ke aku?" goda Arga yang semakin membuat Hania salah tingkah.


"Hah? Ngng... Ngga ada. Cuma nungguin aja. Aku, masih asing sama suasana kamar ini." sahut Hania lirih dan gugup.


Arga menuntun Hania menuju ranjang besar dan empuk yang selama ini ditidurinya sendirian. Lalu mendudukkan wanita pujaan yang kini sudah menjadi istrinya itu di tepian ranjang.


Kini pria itu sudah duduk di samping Hania, menghadap ke arah wanita cantik itu. Tangannya sudah membelai rambut panjang Hania yang sengaja digerai begitu saja, menambah kesan seksi di mata Arga. Belum lagi gaun tidur berbahan sifon sebatas pertengahan paha berwarna putih yang disiapkan sekretarisnya, membuat lekuk tubuh Hania sedikit menerawang.


Sepertinya istrinya itu tak punya pilihan lain selain memakainya. Tadi, dia sempat membuka lemari pakaian yang disiapkan untuk menyimpan baju-baju sang istri. Sebagian besar berisi gaun tidur yang menggoda iman.


"Kamu ngga mau ngasih aku sambutan istimewa? Sambutan yang cuma bisa dilakukan seorang istri ke suaminya?" bisik Arga lembut di telinga Hania yang membuat Hania merinding.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2