Yang Terakhir

Yang Terakhir
209. Kedatangan Iden


__ADS_3

Galih menatap sebal pada Iden yang barusan menyindirnya. Pria blesteran tadi memintanya menikah dulu sebelum menikmati surga dunia Tidak salah? Bukankah mereka sama saja? Bedanya Galih lebih kalem dan lebih bisa mengontrol hasratnya. Sementara Iden, pria tampan yang mendapat julukan flamboyan dari Arga itu mudah sekali terpikat pada wanita cantik dan seksi. Tapi mereka berdua sama-sama masih betah melajang. Tentunya dengan alasan yang berbeda.


Menikah? Hah! Mendadak pikiran tentang menikah membuat suasana hatinya memburuk. Jika ingin, sudah dari dulu dia akan memaksa Hania menciantainya lalu menikah dengannya. Karena sampai saat ini, wanita yang ingin dinikahinya hanya Hania. Dia belum terpikirkan untuk mendekati wanita lain yang nantinya akan dinikahinya.


"Aku buatin minum dulu ya, biar suasananya ngga tegang gini, aduh." celetuk Syana ragu-ragu untuk meninggalkan kedua pria dewasa itu.


"Boleh. Aku mau kopi aja, tanpa gula." Syana hanya mengangguki ucapan Iden kemudian berlalu.


Galih menghela napasnya. Masih tidak rela jika kesenangannya barusan diganggu Iden.


"Ada apa!? Jauh-jauh ke Bandung!? Kurang kerjaan banget!" ketus Galih.


Iden terkekeh menanggapi pertanyaan Galih. Pria bkesteran itu tahu jika saat ini, Galih sedang kesal karena kehadirannya yang tiba-tiba, membuat kesenangannya terganggu. Dia pun akan begitu.


"Lu beneran *****-***** adek gue? Ck!" Iden menyandarkan tubuh atletisnya seraya menatap Galih yang tampak santai menanggapi pertanyaannya.


Galih memilih diam tak menjawab. Malah fokus pada layar laptop Syana. Membuat Iden berdecak lagi.


"Gue diminta ke sini sama sahabat lu yang cantik itu. Buat mastiin lu ngga macem-macemin Syana!" Jelas saja bukan itu alasan Iden jauh-jauh datang ke Bandung, malam-malam pula. Itu hanya pesan titipan dari Hania. Agar keduanya berhati-hati dalam makna yang sebenarnya.


Galih menaikkan sebelah alisnya. Menarik ujung bibirnya, tersenyum kecut. Tidak mungkin Hania melakukannya. Wanita itu tidak akan mengurusinya sampai sedetil itu.


"Syana aman sama gue!" sahut Galih ketus.


"Gue percaya Syana bisa jaga diri. Gue cuma khawatir sama elu. Lu yang ngga bisa jaga diri lu dari Syana." ucap Iden datar.


Terdengar Galih mendesah. Iya. Iden benar. Syana bisa menjaga dirinya. Dia? Malam ini saja dirinya sudah mulai 'nakal'. Padahal gadis itu tidak melakukan apa-apa seperti halnya yang dulu-dulu. Tapi entah kenapa dirinya tergoda? Dia juga bingung.


Dulu, sebelum Syana kehilangan ingatannya. Sewaktu status Syana belum menjadi bagian keluarga Pratama. Sewaktu hubungan mereka masih sebatas rekan kerja dan teman nongkrong. Pun sekarang. Mereka tak jarang bertingkah layaknya sepasang kekasih. Beberapa kali Galih menc*mb* Syana. Meski berkali-kali begitu, Galih tetap tidak bisa memetakan perasaannya pada Syana. Hatinya masih milik Hania meski dirinya dengan berat hati telah merelakan sahabatnya itu.


Tanpa disadarinya, sikapnya itu seperti menarik ulur Syana. Kadang Galih menarik Syana masuk dalam kehidupannya, lalu mengabaikannya ketika merasa apa yang dilakukannya seperti memberi harapan pada gadis itu. Gadis itu menerima saja perlakuannya. Mungkinkah karena Syana suka padanya?


Galih mengacak rambutnya yang mulai memanjang. Dia jadi ingat untuk memotong rambutnya besok.


"Syana itu gadis baik-baik. Kalau mau macem-macem cari yang selevel sama lu. Gadis polos itu jangan diajarin aneh-aneh!" peringat Iden masih dengan nada datar nyaris berbisik tapi malah membuat Galih mendengus kesal.


"Apa sebenernya yang bikin lu tiba-tiba ke sini? Ngga mungkin banget Hania sampe sekhawatir itu sama gue atau Syana!?" tanya Galih seraya menatap Iden sebal sementara Iden hanya terkekeh.


"Ehem!" Iden berdehem seraya membenarkan posisi duduknya yang santai menjadi lebih tegak ketika Syana muncul kembali di ruangan itu.


"Mas Iden ada perlu, ya, di Bandung? Sampe berapa hari? Nginep di mana?" Iden terkekeh karena dicecar pertanyaan beruntun oleh Syana. Merasa lucu saja. Kenapa bisa seperti ibunya? Apa karena mereka sering bersama? Jadi Syana tertular kebiasaan sang ibu?


"Dia disuruh 'ngawasin kita. Katanya Hania yang suruh." Galih menjawab pertanyaan Syana enteng tapi masih terkesan kesal.

__ADS_1


Iden berdecak lagi.


"Ngawasin kita? Mba Hania?" Syana menggumam. Gadis itu menyebut Hania dengan sebutan Mba karena Hania yang meminta. Kecuali pada Arga, Syana masih memanggilnya dengan sebutan Kak. Dia masih canggung jika bertemu Arga.


"Udah. Ngga usah dipikirin. Lagian itu ngga mungkin banget. Hania ngga akan sempet ngurusin kita. Dia udah sibuk sama suaminya yang posesif itu." ucap Galih setengah menggerutu.


"Kayaknya masih ada yang ngga ridho, nih?" sindir Iden membuat Syana menoleh ke arah Iden yang kemudian menunjuk Galih dengan dagunya seraya menyeringai.


Nyut!


Ada yang nyeri di sudut hatinya. Syana menatap Galih lagi yang sedang membuang muka. Hania. Iya. Nama itu yang diketahuinya sebagai penghuni hati pria idamannya itu. Nama yang dikenalnya sebagai istri orang lain. Apa cintanya begitu besar pada wanita itu? Sampai-sampai tidak bisa melangkah maju meskipun wanita itu sudah menikah?


Iden yang sedari tadi tampak tak peduli, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Syana. Tampak sekali jika gadis itu kecewa.


Di malam Arga memergoki Galih menindih Syana, sebenarnya Iden juga melihatnya. Ketika Arga sudah berlalu menuju dapur, Iden baru akan kembali ke kamarnya setelah kembali dari menemui anak buahnya yang datang. Dia juga melihat apa yamg dilihat Arga. Tapi pria flamboyan itu hanya membiarkan keduanya dan diam-diam berlalu ke kamarnya yang berada di lantai 2.


"Hum... Dari aromanya kayaknya enak, nih, kopinya." celetuk Iden seraya membaui aroma kopi dari cangkir yang tengah diangkatnya mendekat ke hidung mancungnya.


Tingkah Iden itu kontan mengalihkan perhatian Syana dan Galih yang kemudian bersamaan menatap ke arahnya.


Slurp!


"Ah. Bener 'kan? Enak." seru Iden lalu menyeruput lagi kopinya beberapa kali, sangat menikmati.


Pasalnya. Iden itu berasal dari kalangan kaya raya. Pria high class sepertinya pasti nongkrongnya di kafe yang secangkir kopinya diracik secara profesional oleh barista berpengalaman. Yang rasanya pasti lebih enak dari kopi yang hanya diseduhnya dengan air panas yang mendidih.


"Gini." ucap Iden seraya meletakkan cangkir kopinya di meja lalu pria itu melihat jam tangannya sekilas, membuat Galih dan Syana menunggu kelanjutan ucapan Iden.


"Arga nemuin kejanggalan dalam laporan keuangan di perusahaannya kemarin. Sebenernya itu udah berlangsung lama. Beberapa bulan yang lalu. Itu seperti penyalahgunaan dana oleh salah satu oknum di perusahaannya. Tapi aliran dana itu larinya ke perusahaan kalian." terang Iden.


"Kalau udah begini, yang repot jelas gue. Gue yang harus turun tangan beresin masalah ini. Jadi gue minta kalian untuk gercep. Kar'na ini ngga cuma menyangkut kasus korupsi di perusahaan elu yang mencemarkan nama baik Syana. Tapi juga nyeret-nyeret perusahaan Arga." lanjut Iden serius.


Syana sampai tidak berkedip memperhatikan penjelasan Iden. Pria blesteran yang dikenalnya berperangai santai itu mendadak serius jika berbicara soal pekerjaan. Syana juga sampai takjub dengan aura ketampanan pria yang sekarang menjadi kakaknya itu yang malah meningkat 2 kali lipat.


"Gue akan masukin beberapa orang-orang gue buat bantu kalian." Iden mulai mendiskusikan rencananya.


Syana terkejut. Dia baru menyadari jika dirinya sedang terlibat masalah yang lebih serius dari sekedar fitnah yang mencemarkan nama baiknya.


"Setelah kamu dapatin semua informasi hasil audit setahun belakangan ini, sebaiknya kamu resign. Balik ke Jakarta. Sisanya biar aku sama Galih, sama orang-orangku yang nyelesaiin. Tenggatnya 2 minggu." perintah Iden.


"Tunggu! Kalau Syana langsung resign, padahal dia baru kerja 2 minggu, apa itu ngga bikin oknum itu curiga? Trus nantinya malah ngincer Syana?" Galih menginterupsi. Pria gagah itu merasa keberatan jika nantinya Syana justru menjadi target oknum licik tersebut.


"Syana aman di Jakarta. Ada Arga dan anak buahnya yang bakal lindungin dia." Iden menatap Galih dengan tatapan yang sudah dimengerti oleh pria itu.

__ADS_1


Siapa yang tidak mengenal Arga dan anak buahnya. Sekelompok pria bertubuh kekar dengan berbagai macam kemampuan masing-masing yang selalu bergerak cepat dan senyap. Tapi hasilnya selalu akurat. Tak diragukan lagi, Arga pandai memilih kawan.


"Jadi, kapan kita mulai?" pertanyaan Galih secara tak langsung menyetujui gagasan Iden yang sempat ditentangnya.


"Lusa. Hari ini, gue bikin 2 orang karyawan di perusahaan itu dirumahkan. 1 sekretaris pribadi manajer keuangan." Mendengar ucapan Iden, Syana jadi ingat jika hari ini, istri direktur yang membawahi divisi keuangan menangkap basah dirinya yang sedang melakukan hubungan terlarang dengan sekretaris pribadinya di hotel setelah menyelesaikan pertemuan dengan kliennya di hotel yang sama, yang berujung pemecatan si sekretaris. Mungkinkah kejadian itu adalah ulah Iden?


"1 lagi OB yang leluasa punya akses keluar masuk ruang pimpinan." lanjut Iden.


"Kenapa OB itu dipecat?" tanya Galih dan gelengan Iden membuatnya mengernyitkan keningnya.


"Ngga dipecat?" tanya Galih lagi.


"Hum. Ngga dipecat. Gue yang minta dia resign dan merekomendasikan orang gue." Galih mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Iden. Tepat seperti dugaannya. Setahunya posisi OB di perusahaan tempatnya bekerja adalah divisi paling aman, jarang ada pemecatan di sana, kecuali pensiun atau mengundurkan diri.


2 hari berlalu sejak Iden mendatangi rumah minimalis Syana. Sejak itu pula, Iden belum tampak lagi. Sekretaris pribadi direktur yang membawahi divisi keuangan sudah diganti dengan seorang pria muda bertubuh tinggi, tidak kurus dan tidak kekar, berkacamata, dan penampilannya rapi.


Semula Syana menduga jika orang-orangnya Iden akan bertubuh tinggi besar dan berotot kekar seperti yang pernah diceritakan Galih. Tapi nyatanya sekretaris pribadi itu berbeda. Mungkin istri sang direktur tidak menginginkan sekretaris pribadi suaminya seorang wanita lagi.


Dan pagi ini, OB pengganti yang dikatakan Iden mengantarkan kopi padanya dan beberapa rekan kerja yang memesan minuman hangat sebagai penyemangat di pagi hari sebelum mulai beraktifitas. Seorang pria sepantaran si sekretaris pribadi direktur tadi. Mungkin usia keduanya sekitar 27 tahun? Lalu bagaimana nasib OB yang diminta Iden mengundurkan diri? Hah?


"Kenapa aku jadi mikirin OB itu? 'Kan ada Mas Iden yang udah ngurusin?" batin Syana seraya mengendikkan bahunya.


Seminggu berlalu. Syana sudah menyalin separuh berkas laporan audit keuangan setahun belakangan di perusahaan tempatnya bekerja. Tentu saja di sela-sela waktunya menyelesaikan tugasnya.


Galih juga sudah mengantongi sejumlah nama yang terlibat. Termasuk oknum yang mentransfer uang dalam jumlah besar ke rekening Syana yang menyebabkan rekening itu gendut seperti ucapan Galih tempo hari.


Hingga pada hari ke 2 minggu ke 2 dari tenggat waktu yang ditargetkan, manajer divisi Syana, Pak Nir, hampir saja memergoki dirinya. Itu karena Syana salah mencetak file. Tanpa disadarinya saat layar komputer sedang menampilkan berkas audit 4 bulan yang lalu, saat itu Syana memcetaknya. Dipikirnya file yang terpampang adalah file yang sedang dikerjakannya. Dan karena terburu-buru, Syana tidak memeriksanya dengan baik.


"Syana, ini bukannya laporan 4 bulan yang lalu? Kenapa bisa ikut kesini?" tanya Pak Nir ketika Syana sudah berada di ruangan berukuran 5x6 meter itu.


Teguran Pak Nir otomatis membuat Syana terperangah. Dia spontan mengangkat wajahnya yang semula menunduk. Tapi Syana kembali menundukkan wajahnya ketika matanya bertemu tatap dengan atasannya itu. Gadis itu memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Jantungnya sudah berdebar kencang. Bodoh! Rutuknya.


"Sebentar!" ucap Pak Nir lagi.


"Ini laporan audit 4 bulan yang lalu?" Kenapa bisa ada di dalam laporanmu, Syana?" pertanyaan Pak Nir semakin membuat Syana gugup.


Syana memutar otaknya. Meski gugup, dia harus berpikir cemerlang.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa tap like, vote ya... Mau komen? Boleh dong. Mau kasih krisan? Monggo. Mau kasih hadiah? Mau banget!

__ADS_1


🥰🥰🥰


__ADS_2