
"Capek?" tanya Arga seraya melirik Hania disela-sela fokusnya mengemudi.
Kini Arga dan Hania sedang dalam perjalanan pulang akan menjemput Tiara yang dititipkan di rumah Mba Niken. Kebetulan siang tadi wanita yang sudah seperti kakak bagi Hania itu baru tiba dari menemani perjalanan bisnis suaminya.
"Capek hati." sahut Hania lalu terkekeh, Arga pun ikut terkekeh.
"Repot kalau capek hati. 'Kan aku ngga bisa mijetin apalagi elus-elus." ujar Arga seraya mengerlingkan sebelah matanya pada Hania.
Hania memutar bola matanya melihat Arga yang mulai suka bertingkah genit padanya.
"Capek hati kenapa?" tanya Arga setelah hening sesaat.
"Liat ulet keket godain laki orang." celetuk Hania.
Arga mengernyitkan keningnya lalu menggaruk alisnya yang mendadak gatal.
"Ulet keket? Laki orang? Kamu liat apaan barusan, Han?" Arga kebingungan dengan istilah yang Hania ucapkan.
"Tunggu! Maksud kamu Valerie?" sejurus kemudian barulah Arga paham.
Arga tergelak mengetahui Hania menyamakan Valerie dengan binatang melata itu. Setahunya ulat keket itu menggelikan dan suka menempel dengan lekat. Jenis binatang yang tidak bisa diam. Arga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu cemburu?" tanya Arga kemudian seraya menolehkan kepalanya ke arah Hania.
"Hah? Ngga." sangkal Hania, dia tahu Arga menggodanya.
"Kok ngga sih?" tanya Arga gemas.
"Ih, maksa. Udah ah, Mas nyetir yang bener. Liat depan." sergah Hania membuat Arga terkekeh.
Sesampainya di rumah Mba Niken, Hania memasuki rumah bergaya skandinavia itu diikuti Arga. Wanita cantik itu sudah terbiasa keluar masuk rumah besar itu karena Mba Niken memintanya begitu. Anggap rumah sendiri. Tidak boleh sungkan. Dan para asisten di rumah besar itupun memperlakukan Hania layaknya memperlakukan majikannya.
"Mba Hania sudah datang? Mba Hania sudah makan? Mau dibuatin apa?" tanya Bi Darmi asisten tertua di rumah Mba Niken.
Bi Darmi juga memperhatikan Arga. Tidak biasanya wanita yang juga dianggapnya majikan itu mengajak seorang pria. Bahkan dirinya tidak pernah melihat Hania dekat dengan pria manapun kecuali Galih. Dia ini siapa? Ganteng!
"Eh, Bi Darmi. Udah kok tadi. Bibi ngga usah repot-repot, ini mau jemput Tiara aja abis itu langsung balik. Udah malem." tolak Hania.
"Tapi tadi pesennya Bu Niken, Mba Hania diminta nemuin ibu dulu." ucap Bi Darmi.
"Ya udah, saya temui Mba Niken dulu. Mba Nikennya dimana ya, Bi?" tanya Hania.
Kepalanya celingukan mencari sosok Mba Niken yang sedari datang tadi siang belum ditemuinya.
"Itu, lagi nyantai di halaman belakang sama Bapak." tunjuk Bi Darmi.
Hania pamit pada Bi Darmi menyusul Mba Niken ke halaman belakang.
"Ayo, Mas." Hania menarik tangan Arga agar mengikutinya.
Hania dan Arga melenggang melewati ruang tengah, lalu berbelok ke kanan ke ruang makan. Halaman belakang dapat terlihat jelas dari ruangan itu karena hanya dibatasi oleh jendela kaca besar. Lampu-lampu taman kuning keemasan menerangi taman itu. Tanaman pun tertata rapi di sana. Di sudut lain, terdapat kolam renang besar dengan gazebo dan beberapa kursi santai. Sungguh pemandangan yang menenangkan.
Terlihat Mba Niken melambaikan tangannya memberitahukan keberadaannya pada Hania yang baru keluar. Wanita yang usianya lebih tua dari Hania itu sedang duduk di kursi taman panjang berkerangka besi di sudut lain halaman yang banyak bunga lilinya. Ada sebuah meja panjang di tengah-tengahnya. Hania dan Arga menghampiri 2 pasangan suami istri yang sudah dianggapnya keluarganya itu.
"Lho? Kamu?"
__ADS_1
"Lho? Mas Harry?"
Ucap Arga, Mba Niken, dan suaminya bersamaan. Mereka cukup terkejut karena ternyata saling mengenal. Lalu saling terkekeh. Arga menjabat tangan Mba Niken, lalu berpelukan ala pria sejati dengan Mas Harry.
"Kok bisa?" celetuk Mba Niken yang lebih ekspresif.
Hania tidak heran jika Mba Niken tahu Arga. Dulu, mereka pernah bertemu meski hanya sejenak dan tidak sempat berkenalan. Tapi bagaimana Arga mengenal Mas Harry?
"Mas Arga kenal Mas Harry?" tanya Hania yang penasaran melihat keduanya sepertinya sudah akrab.
"Iya, Han. Mas Harry ini yang bantuin perusahaanku kemarin." terang Arga.
Dan akhirnya Hania dan Arga tidak jadi pulang cepat seperti rencananya tadi. Obrolan demi obrolan semakin malam semakin seru dan membuat lupa waktu. Apalagi kedua pria yang sama-sama pengusaha itu. Apalagi yang membuat mereka betah berbincang selain obrolan seputar bisnis dan berbagi pengalaman.
Sedangkan Hania yang sudah lama tidak bertemu Mba Niken, sibuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan wanita matang itu seputar Arga dan hubungannya dengan pria tampan itu.
"Akhirnya... Kamu mulai bisa menerima laki-laki baru. Aku seneng liatnya. Kamu jangan lama-lama buat keputusan. Cepet pulih. Kamu juga berhak bahagia dengan pasangan hidupmu." ungkap Mba Niken seraya memeluk Hania, airmatanya sudah meluncur bebas di pipi tirusnya.
"Keliatan kok si Ganteng itu tulus sama kamu. Jangan ragu-ragu lagi." bisik Mba Niken.
Hania hanya tersenyum. Iya. Dia juga tahu Arga tulus padanya. Hanya saja masalahnya ada pada dirinya yang masih berusaha keluar dari bayang-bayang tersakiti di masa lalu.
Kedua pria yang tengah asik mengobrol itu menoleh bersamaan melihat tingkah kedua wanita yang sama-sama cantik itu.
"Gitu banget sih, Ma, kangen sama adeknya." cibir Mas Harry yang tidak tahu penyebab istrinya menangis. Pria itu lalu terkekeh sementara Arga hanya tersenyum tipis.
Mba Niken memberengut karena ejekan suaminya. Dan Mas Harry mulai sibuk merayu istrinya. Entah kenapa Mas Harry sepertinya takut jika istrinya merajuk? Tapi pasangan itu terlihat romantis meski tidak muda lagi.
Arga menggenggam tangan Hania yang terus menatap pasangan di hadapannya, membuat wanita cantik itu menoleh. Arga menatap Hania penuh cinta dengan bibir yang tersenyum semanis madu. Dalam hatinya berharap bisa segera menghalali Hania.
Hania membalas genggaman tangan Arga yang selalu terasa hangat dan menghangatkannya. Senyum Arga pun menular padanya. Dan tatapan matanya menyiratkan perasaan cintanya pada pria yang sudah berjanji akan menunggunya membuka hatinya.
Tanpa keduanya sadari, pasangan suami istri di hadapan mereka tengah asyik menikmati adegan penuh cinta di hadapannya. Ada rasa bahagia yang ikut mereka rasakan. Mengingat banyaknya luka yang dialami wanita cantik yang sudah mereka anggap sebagai adik itu.
"Mama?" panggil Tiara membuat Hania menoleh.
"Boleh 'kan aku nginep di sini? Besok 'kan sekolahnya libur." Tiara mendekati Hania dan meminta izin untuk menginap.
"Tapi Sayang..." ucapan Hania terpotong.
"Oom Arga..." rengek Tiara pada Arga meminta bantuannya.
Arga langsung memangku Tiara ketika gadis kecil itu mendekatinya. Hatinya bahagia luar biasa ketika gadis kecil itu meminta persetujuannya juga. Serasa lengkap hidupnya kini. Tinggal menunggu Hania.
"Kenapa pengen nginep?" tanya Arga seraya mengusap rambut panjang Tiara.
Tiara memutar tubuhnya menyerong ke arah Arga yang tadinya duduk menyamping.
"Di sini ada Mas Bayu sama Mba Binar. Rame. Ada temennya." ungkap Tiara seraya memamerkan deretan putih gigi susunya.
"Hmm. Mama besok masih kerja, Sayang. Harus pulang. Kalau Tiara di sini, siapa yang nemeni mama di rumah?" pertanyaan Arga secara tidak langsung melatih Tiara berpikir sendiri tentang keinginannya menginap.
"Oom yang temenin mama di rumah." ucap gadis kecil foto kopian ibunya itu polos.
Hah? Semua mata keempat orang dewasa itu beralih menatap Tiara. Terasa sungguh lucu pemikiran anak-anak. Begitu polos memandang segala sesuatu. Dipikirnya semudah itu tinggal di rumah yang sama dengan wanita dewasa tanpa ikatan pernikahan. Tiara, Tiara. Arga tersenyum gemas.
__ADS_1
Akhirnya dengan segala bujuk rayu Tiara yang dibantu Arga, Tiara diperbolehkan menginap. Kedua insan beda kelamin itu saling berdiam diri dalam perjalanannya pulang. Tepatnya Hania yang mendiamkan Arga. Dia masih kesal karena membiarkan Tiara tinggal.
"Udah dong, Han. Jangan ngambek lagi ya?" rayu Arga seraya hendak meraih tangan Hania tapi dengam cepat wanita lembut itu menarik tangannya hingga membuat Arga hanya menggenggam angin.
Arga mendesah. Dirinya tidak menyangka keputusannya mendukung Tiara akan berbuah didiamkan Hania seperti sekarang. Pria tampan itu tidak berpikir sejauh itu saking bahagianya. Saat Tiara datang padanya meminta dukungannya, dia merasa diandalkan. Perannya sebagai ayah yang dulu tidak bisa dijalankan dengan baik akan diperbaikinya melalui Tiara. Dia akan sebisa mungkin memperhatikan, menyayangi, mendukung, dan ada untuk gadis kecil itu. Arga merasa Tiara adalah kesempatan keduanya yang tidak boleh disia-siakannya.
Arga menepikan sedan mewahnya di sebuah jalan yang agak besar sehingga tidak mengganggu pengendara lainnya.
"Kok berhenti?" tanya Hania sambil celingukan melihat sekitar.
"Kita akan tetap di sini kalau kamu masih ngambek." ancam Arga.
Hania mengerjapkan mata kelincinya beberapa kali membuat Arga merasa gemas. Wanita cantik itu mendengus. Dia masih kesal. Ditambah lagi sekarang pria tampan itu mengancamnya.
"Ya udah, aku turun di sini aja!" ketus Hania.
Arga langsung menahan lengan Hania. Mencengkramnya dengan sedikit kuat.
"Maka aku akan menciummu di luar sana." Arga menekan kata-katanya membuat Hania melototkan matanya.
"A-apa?" Hania semakin bergidik ketika tatapan Arga semakin dalam menatapnya.
"Kamu pilih aja. Mau dicium di sini atau di luar sana?" ucapan Arga semakin membuat Hania terintimidasi.
Hah. Pria tampan ini. Darimana dia belajar mengintimidasi orang dengan baik begini? Pikiran Hania melayang kemana-mana.
"Berbaikan denganku atau aku akan menciummu." Arga semakin mendekatkan tubuhnya pada Hania.
"Pilihan macam apa itu? Dia aja yang untung. Dasar pengusaha!" pekik Hania dalam hati.
Hania terus memundurkan tubuhnya hingga menempel di pintu. Tidak ada ruang untuknya menghindar. Wajah Arga yang semakin mendekat membuatnya memejamkan matanya. Wajah rupawan itu terlihat menyeramkan di dalam mobil yang minim cahaya itu. Hanya sorot dari lampu jalanan yang menerobos masuk.
"Oke, oke! Kita baikan aja. Udah, aku ngga ngambek lagi." ucap Hania, tangannya menempel di dada Arga, menahannya untuk lebih mendekat.
"Serius?" tanya Arga meyakinkan dirinya.
Hania mengagguk-anggukkan kepalanya tapi matanya masih terpejam. Arga semakin gemas saja melihat tingkah wanitanya yang seperti ABG.
Soal ancamannya, tentu saja dia tidak serius. Pria tampan itu suka sekali melihat ekspresi Hania yang berubah-ubah. Sungguh lucu dan membuatnya gemas. Jadi dia hanya menggertaknya saja.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat mulus di kening Hania. Sontak wanita cantik itu membuka matanya. Menatap tajam Arga yang tengah tersenyum manis sembari menatapnya.
"Curang!" sungut Hania seraya mencubiti lengan Arga.
Bukannya kesakitan, Arga malah tergelak. Dia menikmati momen seperti itu. Dimana Hania akan mengomel atau memberengut. Sungguh menggemaskan.
*******
Thanks for reading!
Like dan favoritkan ya, supaya ngga ketinggalan ceritanya.
Jangan lupa vote tiap hari SENIN, untuk dukung karya ini.
__ADS_1
🙏🤗