Yang Terakhir

Yang Terakhir
57. Menghapus Resah


__ADS_3

Arga langsung menuju ruangan Iden begitu sampai di kantornya. Entah kabar apa yang ingin disampaikan pria flamboyan itu. Kenapa tidak melalui telpon saja? Membuatnya penasaran saja.


"Ada apa?", tanya Arga begitu tiba di ruangan Iden tanpa mengetuk pintu.


"Bikin kaget aja Nyet! Ketuk pintu dulu napa? Gimana kalau gue lagi enak-enak?", sergah Iden membuat Arga melototkan matanya.


"Lu begituan di kantor gue!? Cih! Moral lu jongkok!", umpat Arga kesal.


"Santai man, gue ngga sebokek itu kali, sampai ngga bisa sewa kamar hotel!", Iden makin kesal saja.


"Ada apa? Lu ganggu istirahat gue aja!", tanya Arga, dirinya masih kesal membayangkan Iden berbuat mesum di kantornya.


"Nih! Ada tawaran bagus", Iden mendorong tabletnya ke hadapan Arga.


"Tawaran apaan?", Arga meraih tablet itu seraya menatap Iden.


Iden hanya menunjuk dengan dagunya seolah berkata, baca saja!


Semakin lama Arga semakin mengernyitkan dahinya. Lalu menggulir ke atas lagi, melihat bagian teratas email itu. PT. Bintang Kejora? Apa ini perusahaan Mas Harris?


"Kapan emailnya masuk?", tanya Arga penasaran.


"Barusan", sahut Iden.


"Kenapa Lu bisa ngga tau?", tanya Iden seraya menatap sahabatnya itu.


"Gue sama nyokap tadi, nenangin dia dulu", sahut Arga masih membaca email itu.


"Tante khawatir? Sorry, tadi gue cerita soal Oom Aris", Iden tampak menyesal, jika tahu begini, lebih baik dia menunggu Arga saja yang bercerita.


"It's okay. Nyokap pasti ngga nyangka juga, ternyata selama ini Oom gue sendiri berusaha bunuh gue", sahut Arga datar, mengingat perbuatan pamannya membuatnya jadi geram lagi.


"Musuh dalam selimut beneran Oom Lu", celetuk Iden yang diangguki Arga.


"Ngomong-ngomong, apa Lu kenal pemilik PT. Bintang Kejora ini?", tanya Iden lagi, sungguh dia penasaran saking cepatnya perusahaan itu merespon turunnya saham perusahaan Arga.


Arga mendesah. Pria berkarisma itu juga kurang yakin dengan dugaannya. Dirinya pernah berkenalan dengan seorang pengusaha sukses asal Indonesia di Jepang beberapa bulan yang lalu. Mas Harris. Tapi dia tidak begitu memperhatikan nama perusahaan yang dimiliki pria matang itu.


Tok tok tok.


Seorang wanita berjalan masuk. Tanpa menoleh pun, Arga tahu dari sepatu high heelnya yang beradu dengan lantai. Dialah sekretaris Iden. Wanita cantik itu mengangguk hormat pada Arga meski pria tampan itu mengabaikannya. Lalu berjalan lebih dekat ke arah Iden.


"Ini Pak, berkas yang anda inginkan", ucapnya seraya menyerahkan sebendel kertas  pada Iden.


Sekretaris itu berbicara dengan suara lembut yang dibuat-buat. Terdengar seksi ditelinga pria manapun. Tapi tidak bagi Arga. Pikiran dan hatinya sudah dipenuhi oleh Hania, wanita cantik bermata kelinci yang dinikahinya dalam mimpinya. Meskipun tidak ada Hania, Arga sangat menjauhi tipikal wanita seperti sekretaris Iden itu.


Sekretaris seksi itu berdiri agak menjauh dari Iden, menjaga sikap dihadapan pria pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Sesekali matanya melirik ke arah Arga yang masih serius membaca email itu. 


"Pria yang seksi", gumamnya dalam hati.


Melihat Arga yang selalu bersikap dingin membuatnya penasaran dan tertarik mendekati. Tapi bosnya itu tidak seperti Iden yang mudah dirayu. Sungguh, sebagai wanita dengan pergaulan bebas, dirinya menginginkan Arga. Pria tampan yang kaya raya dan masih betah menduda. Apalagi pria itu tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, pasti lebih menggairahkan.


"Apa masih ada yang Lu butuhkan Mbing?", tanya Arga pada Iden tanpa mengangkat kepalanya dari tablet yang dipegang, bermaksud mengusir sekretaris Iden, dirinya merasa diperhatikan wanita itu dan dia tidak suka.

__ADS_1


Iden mengangkat kepalanya, menatap Arga yang menatap tablet. Namun sejurus kemudian dirinya menyadari maksud sahabat sekaligus atasannya itu.


"Kamu boleh keluar", perintah Iden pada sekretarisnya seraya mengerlingkan matanya.


Arga menghela napasnya. Diletakkannya tablet yang dipegangnya ke atas meja. Lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi yang didudukinya.


"Lu masih nahan dia disini?", tanya Arga setelah sekretaris Iden menutup pintu.


"Kenapa? Kinerja dia bagus dan bisa dipercaya", sahut Iden tanpa beban.


"Hati-hati. Dia bukan perempuan setia", pesan Arga, pria tampan itu selalu menyelidiki siapa saja yang bekerja padanya, jadi dia tahu bagaimana kelakuan wanita itu di luar sana.


"Ohya?", Iden terkekeh mendengar Arga mewanti-wantinya.


"Gue tahu gimana ngendaliin dia", sahut Iden seraya menatap Arga.


"Terserah Elu. Gue ngga mau masalah lu sama sekretaris itu mempengaruhi perusahaan gue nantinya", peringat Arga kesal, dia tidak suka Iden memiliki hubungan pribadi dengan sekretarisnya.


"Gue balik. Soal email itu, nanti gue yang handle", putus Arga lalu meninggalkan ruangan Iden.


Iden menatap punggung sahabatnya itu hingga hilang di balik pintu. Dalam hati, pria tampan itu membenarkan ucapan Arga. Sekretarisnya memang bukan wanita setia. Tapi dirinya juga bukan pria yang bisa berkomitmen dengan seorang wanita. Dia sengaja menahan wanita itu tetap disampingnya karena kebutuhan biologisnya. Setidaknya dirinya hanya "bermain" dengan wanita itu saja saat ini. Dan ada lagi alasan yang belum bisa diungkapkannya.


Drrrt drrrt drrrt.


Ponsel disaku celana Arga bergetar. Sambil berjalan meninggalkan ruangan Iden, diangkatnya panggilan yang ternyata dari Hania.


"Han?", sapa Arga, pria itu mengabaikan sapaan sekretaris Iden.


Sekretaris Iden yang dilewatinya begitu saja langsung menatap Arga begitu mendengar pria seksi itu menyapa seseorang diseberang ponselnya.


"Dia dekat dengan seseorang? Apa dia punya kekasih? Siapa?", sekretaris Iden bertanya-tanya dalam hati.


Mendadak rasa cemburu menelusup dalam hatinya. Merasa kalah saing. Wanita yang disapa "honey" itu pasti lebih cantik darinya karena bisa menarik perhatian pria itu. Dirinya saja sudah susah payah mencoba mendekatinya. Jangankan menjadi dekat, pria itu bahkan tidak pernah menoleh padanya. Dia semakin penasaran. Merasa tidak suka pada wanita yang disangka kekasih Arga.


"Iya Han, nanti aku makan malam disana. Emang kamu masakin aku apa? Aku? Apa aja yang kamu masak pasti kumakan dengan senang hati. Hahaha... iya, sayang, miss you too", Arga terus berbicara dengan nada lembut diponselnya, terdengar mesra dan seksi, hingga suara Arga hilang dibalik pintu lift.


Sekretaris itu mendesah. Ah. Pria itu seakan berubah menjadi pribadi yang berbeda ketika berbicara dengan kekasihnya. Beruntung sekali wanita itu. Pasti menyenangkan diperlakukan begitu lembut oleh pria tampan itu. Dia mendesah lagi. Menyadarkan diri dari lamunannya.


"Mas, mau dimasakin apa?", tanya Hania diseberang ponsel Arga.


"Oom Arga, nanti datang lho ya, jangan janji-janji aja. Miss you Oom", sambar Tiara di tengah-tengah berlangsungnya obrolan Hania dan Arga, membuat pria dewasa di seberang ponsel tergelak.


Rasa kesal karena terus diperhatikan sekretaris Iden tadi langsung lenyap seketika demi mendengar suara lembut Hania. Senyumnya langsung terbit dibibirnya dan bertahan hingga dirinya memasuki ruangannya. Sampai-sampai sapaan Dian pun diabaikan. Membuat sekretarisnya heran. Dian heran bukan karena sapaannya diabaikan, dia terbiasa dengan itu. Tapi karena senyum yang mengembang lebih lebar hingga bisa terlihat jelas olehnya.


Di dalam ruangannya, Arga sudah tidak sabar menunggu waktunya pulang, meski sebenarnya dia bisa meninggalkan kantornya sesukanya tapi dia tidak ingin Hania menegurnya nanti. Sebentar-sebentar diliriknya jam tangannya. Ah. Kenapa waktu berputar lebih lambat sih? Pria tampan itu sudah tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Dirinya merasa rindu harus dituntaskan.


Terakhir kalinya Arga melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum jam berada diangka 3. Pria tampan itu mencoba menenggelamkan diri lagi dalam kesibukannya memeriksa dan menandatangani berkas-berkas.


Tok tok tok.


Sekretaris Arga memasuki ruangan sambil membawa sebuah berkas. Arga hanya meliriknya sekilas, lalu melihat kearah berkasnya lagi.


"Maaf Pak, ini surat perjanjian yang Bapak minta", Dian menyerahkannya pada Arga.

__ADS_1


Arga menerima berkas itu lalu membuka-buka halamannya. Membacanya sekilas.


"Ohya Pak, sekarang sudah jam 5 lebih, apa Bapak akan lembur? Apa bantuan saya masih diperlukan?", Dian mengingatkan Arga.


Seketika Arga mengangkat kepalanya menatap sekretaris cantiknya. Ternyata dia terlalu tenggelam dalam kesibukannya sampai lupa waktu.


"Kenapa kamu ngga ngingetin saya dari tadi?", ucap Arga malah menyalahkan Dian, membuat wanita itu serba salah.


"Ya sudah, kamu boleh pulang, saya ngga lembur hari ini", perintah Arga.


Arga bangkit dari duduknya. Menyambar ponsel dan memasukkannya kedalam saku celananya. Membawa berkas-berkas yang belum selesai diperiksanya.


Tok tok tok.


Ketukan dipintu diabaikannya. Ketika asistennya masuk, pria tampan itu hanya melirik sekilas lalu sibuk lagi.


"Bapak sudah akan pulang? Mau saya antar?", tanya Adi.


"Iya, ngga usah saya nyetir sendiri aja" sahutnya, dia sudah selesai menata berkas yang akan dibawanya pulang.


"Apa itu?", tanya Arga yang melihat sebendel kertas yang dibawa Adi.


"Oh ini,  proposal kerjasama dari PT. Sumber Mulia. Perusahaan ini berbasis di Surabaya. Termasuk perusahaan yang sedang berkembang", ucap Adi seraya melihat pada berkas yang dibawanya dan menjelaskan garis besar tentang perusahaan itu.


Arga menerimanya. Pria itu membalik lembar pertama, membaca profil perusahaan itu sekilas lalu menutupnya lagi. Dia akan mempelajarinya lagi nanti.


"Tolong bawakan tas ini", Arga menunjuk tas yang berisi berkas yang ditatanya tadi.


Adi mengangguk lalu meraih tas yang dimaksud atasannya dan berjalan mengekori Arga. Dian sudah tidak ada di mejanya. Wanita itu cepat sekali bersiapnya. 


Sesampainya di lobi kantornya, Arga berpapasan dengan Iden dan sekretarisnya. Lagi-lagi kelakuan sekretaris Iden itu membuatnya jengah. Bagaimana bisa wanita itu dengan sengaja membuka kancing teratas kemejanya didepannya? Beraninya! Tapi dirinya tidak ingin menegurnya sekarang. Nanti dia akan membicarakannya lagi dengan sahabatnya itu.


"Baru balik Lu?", sapa Iden.


"Hmm, Gue duluan. Hati-hati Lu", pesan Arga lagi.


Iden hanya terkekeh mendengar sahabatnya itu terus mewanti-wantinya. Dia tahu maksud sahabatnya itu. Lalu menoleh pada sekretarisnya yang masih menatap Arga.


"Apa ketampananku mulai luntur dimatamu, baby?", selidik Iden.


Mendapat teguran begitu, sekretaris Iden langsung gelagapan. Dia jadi salah tingkah ketahuan memperhatikan Arga.


"Ya ngga dong sayang. Kamu tetap numero uno", kilah wanita seksi itu.


"Jangan coba-coba menghianatiku baby. Kamu cuma punyaku", peringat Iden yang membuat wanita itu salah tingkah.


"Iya sayang, aku milikmu", sahut sekretaris itu seraya menyunggingkan senyum manisnya.


"Good girl", ucap Iden seraya membelai rambut wanita itu.


Arga tiba di rumah Hania ketika adzan maghrib berkumandang. Wajah sumringah dan gelak tawa Tiara menyambutnya. Membuatnya merasa pulang ke rumah. Ditambah senyum semanis madunya Hania yang seketika membuat semua keresahan dan kekalutannya hilang seketika. Ingin sekali membawa wanita lembut itu kedalam dekapannya. Merasakan hangatnya pelukan wanita itu.


**********

__ADS_1


Thanks for reading!


__ADS_2