Yang Terakhir

Yang Terakhir
52. Berdamai


__ADS_3

Makan siang yang tenang di sebuah restoran tepi danau yang lebih seperti taman bunga dan tempat rekreasi keluarga. Arga memang sengaja memilih tempat itu. Dia ingin mengajak Tiara bermain sebentar disana sebelum pulang. Pria karismatik itu tidak bisa mengulur waktu lebih lama di kota itu. Alih-alih mengajak Hania berunding, obrolan mereka malah berakhir dengan emosi Arga yang memuncak. 


Tak banyak obrolan antara Arga dan Hania, hanya Tiara yang terus berceloteh dan Arga menanggapi. Hanya sesekali Hania menimpali.


"Oom, aku mau naik perahu itu", tunjuk Tiara dengan wajah sumringah.


"Iya, nanti, abisin dulu makannya", perintah Arga, Tiara mengangguk lalu menyuapkan makanan ke mulutnya, gadis kecil itu makan dengan lahap.


Meski tidak terlibat obrolan hangat seperti biasa tapi ekor mata Arga selalu memperhatikan wanita cantik itu. Dia ingin tahu wanita itu sedang apa?


"Makan yang banyak, Han", ucap Arga ketika melihat Hania hanya memakan sedikit makanan yang dipesannya.


Arga mulai mengetahui kebiasaan Hania. Wanita cantik itu akan kehilangan selera makannya jika sedang ada yang dipikirkannya. Apakah karena pertengkaran mereka tadi? Pria tampan itu semakin merasa bersalah.


Hania yang ditegur begitu menoleh ke arah Arga dan menatapnya sekilas lalu menunduk lagi, menatap makanan dihadapannya.


"Aku udah kenyang", sahut Hania yang kehilangan selera makannya.


"Iya nih mama, makannya dikit", Tiara ikut menimpali.


Hania tersenyum menanggapi celetukan Tiara seraya membelai rambutnya putrinya. Hania mendesah lirih. Gadis kecil itu suka mendukung Arga sekarang. Pria itu juga sering mendukung putrinya. Mereka sepertinya memiliki selera yang sama. Kompak sekali. Ada rasa senang melihat Tiara bisa merasa nyaman berdekatan dengan orang baru. Gadis kecil yang mirip dengannya itu langsung bisa menerima pria dewasa itu.


"Ngga cocok ya? Mau kupesenin makanan yang


 lain?", tawar Arga.


Dirinya mengkhawatirkan Hania, sejak kemarin wanita cantik itu tidak makan dengan cukup. Ditambah hari ini. Makanan didepannya pun belum di sentuhnya. Arga semakin menyesal sudah berbicara dengan emosional tadi. Ah. Ingin sekali pria tampan itu menggenggam tangan Hania tapi diurungkannya. Mengingat sikap Hania yang masih dingin padanya, dia tidak ingin wanita itu menolaknya nanti.


"Oom, aku udah selesai. Ayo!", ajak Tiara yang sudah bangkit dari duduknya.


"Ah, iya, ayo!" Arga menoleh pada Tiara lalu ikut bangkit dari duduknya.


"Sayang...", Hania menegur putrinya. Tiara menoleh pada ibunya lalu pada Arga.


"Han?", Hania menoleh pada Arga yang menatapnya, pria tampan itu menggelengkan kepalanya dan Hania memahami maksud dari isyarat pria itu, wanita itu menghela napasnya.


"Makanlah yang banyak. Pesan apapun yang kamu mau. Aku ngga mau kamu sakit", perintah Arga lalu meninggalkannya mengikuti Tiara yang sudah berjalan lebih dulu.


Sepeninggal Arga dan Tiara, Hania mencoba menyuapkan makanan kemulutnya. Arga benar. Dia tidak boleh sakit. Ah. Pria karismatik itu mengkhawatirkan kesehatannya. Baru disadarinya jika semua makanan yang ada di meja makan itu adalah menu-menu kesukaannya. Seulas senyum terbit dibibir merah jambunya.

__ADS_1


Hania memperhatikan keceriaan Tiara yang menikmati beberapa wahana yang disediakan restoran itu dari tempat duduknya. Arga pun sama. Wajah pria tampan itu tampak berseri. Membuatnya terlihat semakin tampan. Lamat-lamat terdengar tawa mereka dikejauhan.


"Mama!", seru Tiara ketika bebek-bebekan yang mereka naiki melintas didekat Hania.


Gadis itu melambaikan tangannya. Dia juga melihat Arga tersenyum padanya. Senyum yang menghilang beberapa saat barusan karena perselisihan mereka. Senyum yang membuatnya tenang dan baru disadarinya, dia merindukan senyum itu.


Hari sudah sore ketika Arga mengajak mereka kembali di hotel. Hari yang melelahkan meski Hania hanya duduk manis menunggu Arga dan Tiara bermain. Ingin rasanya merebahkan tubuhnya dan terlelap.


Tok tok tok.


Keluar dari kamar mandi, Hania disambut ketukan dipintu kamarnya yang terdengar lirih. Tiara sudah tertidur pulas. Setelah membersihkan diri, putrinya mengeluh sudah mengantuk. Gadis kecil itu pasti lelah. Sambil mengikat rambutnya asal Hania membuka pintu kamarnya dan melihat sosok tinggi nan tampan itu berdiri didepannya.


"Mas?", sapa Hania menatap Arga.


Arga menatap lekat wanita cantik yang rambutnya sedikit basah didepannya. Rambutnya yang dicepol asal-asalan dan sedikit berantakan terlihat seksi dimatanya. Leher jenjang yang mulus terpampang didepan matanya. Rasanya ingin sekali membenamkan wajahnya disana. Menghirup aroma wangi tubuh yang sekarang menjadi candunya yang menguar memenuhi indera penciumannya itu.


Sebuah sapaan menarik Arga dari pikiran mesumnya. Menghempaskannya pada kenyataan bahwa wanita itu masih menjaga jarak dengannya. 


"Kita berangkat jam 6", ucap Arga sambil menunjukkan e-ticket di ponselnya, Hania menatapnya sebentar tak berniat menerima uluran ponsel Arga.


Hania kembali menatap Arga. Pria itu terlihat segar. Tubuhnya menguarkan aroma wangi musk, dari sabun atau parfum? Yang jelas Hania sudah hapal wangi tubuh pria seksi itu. Pria itu memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. Pria tampan itu benar-benar menuruti keinginannya untuk kembali hari itu juga. Tapi entah kenapa dirinya jadi bimbang.


"Tapi Tiara baru tidur", sahut Hania seraya menoleh ke arah tempat tidur dimana putrinya terlelap, Arga juga ikut melongok kedalam kamar.


"Salah Reza juga kenapa pesen tiket yang jam segini", keluh Arga.


Hania hanya terdiam. Kini dia ragu. Pulang sekarang atau besok-besok? Melihat bagaimana cerianya Tiara yang hanya bermain bebek-bebekan dan naik perahu tadi, rasa bersalah kembali mencuat. Mungkin benar yang dikatakan Arga beberapa waktu yang lalu tentang menyesal yang datang terlambat. Jelas dirinya tidak ingin merasakan itu.


"Hum... Soal tadi siang... Maaf aku udah emosi. Ngga seharusnya aku bersikap begitu. Aku hanya merasa kita sudah saling memahami jadi aku kecewa saja ketika kamu menyebutku orang lain", ungkap Arga lalu terkekeh.


Mendengar perkataan Arga, Hania diam terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Rupanya dia telah melukai perasaan pria baik hati itu. Hatinya berdenyut nyeri. Dirinya merasa bersalah.


"Mas?", ucap Hania menghentikan langkah pria tampan itu.


"Ya?", Arga menoleh pada Hania.


"Ada apa?", tanya Arga yang melihat Hania sepertinya ragu mengatakan sesuatu.


"Apa, tiketnya bisa dicancel? Umm, maksudku, mungkin kita bisa disini beberapa hari lagi. Dua atau tiga hari lagi?", ucap Hania.

__ADS_1


Hania ingin putrinya mendapatkan keinginannya. Kapan lagi dirinya bisa memenuhinya? Benar kata Arga, selagi ada kesempatan ya harus dimanfaatkan. Dan sekaranglah kesempatan itu. Putrinya itu terlalu sering mengalah padanya. Tidak menuntutnya macam-macam. Dirinya yang orang dewasa lebih sering menuntut putrinya untuk mengerti dirinya dan kesibukannya.


"Bisa!", sahut Arga semangat.


Senyum Arga mengembang sempurna. Apakah itu artinya Hania kembali percaya padanya? Ya. Arga hanya ingin meyakini itu saja. Wanita cantik itu kembali percaya padanya.


"Mas?", panggilan Hania yang selalu terdengar lembut ditelinganya kecuali beberapa saat yang lalu.


"Aku... Maaf. Harusnya aku ngga begitu. Aku cuma merasa selama ini semuanya aku sendiri yang ngatur. Aku membuat semua keputusan sendiri. Apalagi itu tentang aku dan Tiara. Mungkin terbiasa sendiri, aku jadi merasa aneh ketika ada orang lain mempengaruhi keputusan yang kubuat", ungkap Hania. 


Tak dipungkiri hati Hania merasa sesak mengakui kenyataan hidupnya. Terbiasa sendiri.


"Aku cuma ngga mau terlalu ngerepotin orang lain, Mas", lanjut Hania.


"Tapi aku bukan orang lain Han", protes Arga.


Hania menatap Arga. Apa yang dipikirkan pria tampan didepannya ini? Jika dia bukan orang lain lalu dia menganggap dirinya siapa? Hania bingung, dirinya tak mengerti pria itu ingin dianggap sebagai siapa olehnya.


"Kenyataannya memang begitu Mas", Hania terkekeh namun hatinya sesak.


Arga memang baik dan bersikap hangat padanya. Saking hangatnya dia sampai berpikir pria tampan itu menyukainya. Tapi lagi-lagi pikiran itu ditepisnya. Wanita cantik itu tidak mau salah paham dengan kebaikan Arga.


"Aku bukan orang lain lagi. Apa kamu ngga ngerasain?", ucap Arga seraya menatap mata kelinci Hania lekat.


Sebenarnya Arga ingin Hania merasakan apa? Wanita cantik itu semakin bingung. Hania menatap mata Arga yang menatapnya lekat. Mereka bersitatap cukup lama. Hania memutus tatapannya ketika pria seksi itu mendekat, menipiskan jarak diantara mereka.


Arga menekan emosinya agar tidak meluap seperti tadi siang. Ditatapnya mata kelinci yang memikatnya hingga takluk tak berdaya pada pesona wanita cantik itu. Dirinya merasa gemas memikirkan sulitnya memiliki hati Hania. Tanpa sadar, Arga merapatkan tubuhnya pada tubuh wanita itu. Tangannya terulur menarik pinggang rampingnya, mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan dekat. Lalu. Cup.


Hania memejamkan matanya ketika Arga semakin mendekatkan wajahnya. Kemudian dirasakannya bibir Arga mengecup keningnya. Dia terpaku ditempat tidak bisa kemana-mana. Pria itu memeluk pinggangnya posesif. Jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya menempel pada tubuh pria tampan itu. Saking menempelnya, dia dapat merasakan sesuatu yang keras diperutnya. Milik Arga.


Hania merasa tak nyaman dengan milik Arga yang keras menempel diperutnya. Apa maksudnya merasakan "ini"? Hah. Hania jadi berpikiran mesum. Iya. Dirinya juga pernah menikah. Jadi sudah pasti pernah melihat benda pusaka milik suaminya. Dirinya jadi membayangkan benda pusaka milik Arga. Membayangkannya membuat darahnya berdesir. 


Arga masih menatap wanita cantik yang masih terpejam itu. Hampir saja kehilangan kendali. Melihat bibir kenyal merah jambu milik Hania membuatnya seakan lupa jika mereka baru saja berbaikan. Dan lagi-lagi harus frustrasi karena lagi-lagi si "dia" bereaksi berlebihan. Dan pastinya wanita itu merasakannya juga.


Arga melepas pelukannya tapi masih menatap wajah merona Hania. Sementara Hania, dia sudah kikuk setengah mati. Dia malu. Malu karena berada sedekat itu dengan Arga dalam keadaan disengaja. Dan malu karena sudah membayangkan benda pusaka Arga yang menegang. Arga tersenyum menatapi wanita itu salah tingkah. Dirinya benar-benar gemas. 


"Jangan lagi menganggapku sebagai orang lain, Han. Jangan sungkan padaku", pinta Arga, tangannya terulur mengusap pipi Hania.


Merasakan punggung tangan Arga mengusap pipinya membuatnya berdebar. Hania seketika memejamkan matanya. Hatinya menghangat. Wanita itu merasa disayangi.

__ADS_1


******


Thanks for reading!


__ADS_2