
Jam setengah 9 pagi, pesawat mendarat mulus di landasan bandara Juanda. Arga berjalan tegap sambil menggendong Tiara yang tertidur. Hania berjalan di sisi kanannya sambil menenteng tas hello kitty milik putrinya ditangan kanan. Tangan kirinya digenggam Arga. Entah pria tampan itu sadar atau tidak, namun genggaman itu terasa seperti perlindungan bagi Hania. Mereka terlihat serasi, seperti keluarga kecil.
Sepanjang jalan keluar dari bandara itu, tatapan mata kagum dari para wanita tertuju pada Arga. Dimanapun sosok tampan dan karismatik itu selalu mencuri perhatian. Hania semakin merasa tidak sebanding.
Di luar, Reza sudah menunggu Arga. Dirinya terpaku melihat atasannya tidak datang sendiri, melainkan bersama seorang wanita cantik dan seorang anak perempuan yang tengah tertidur di gendongan Arga.
Reza merasa takjub. Pasalnya, Arga tidak pernah menunjukkan kepeduliannya pada anak-anak meski atasannya itu menyukai anak-anak. Namun, pemandangan Arga yamg menggendong anak kecil, benar-benar menunjukkan sisi lain dari sifatnya. Setelah meninggalnya Devan, Arga memang menjaga jarak dengan anak-anak. Hatinya masih merasakan perih jika melihat anak-anak itu. Anak-anak itubakan mengingatkannya pada Devan.
"Siapa wanita cantik yang datang bersama Pak Arga?", Reza bertanya-tanya dalam hati.
"Apakah dia Hania? Iya, dia mungkin wanita itu", seketika matanya terbelalak menyadari tebakannya.
Kini tatapan Reza mengarah pada Hania. Menatap wanita cantik itu, seolah-olah tengah menelisiknya.
"Jaga pandanganmu Rez!", tegur Arga yang mendapati asistennya itu menatap Hania lekat hingga tidak menyadari dirinya sudah berada di dekatnya.
Reza terkesiap dan menjadi gelagapan. Namun dengan cepat dapat menguasai keterkejutannya. Tatapan tajam Arga yang setajam silet itu sedang menatapnya, membuat kerongkongannya kering seketika lalu dehidrasi dan sesak napas.
"Maaf Pak", lirih Reza.
"Permisi Bu, saya saja yang bawa", ucap Reza lalu mengambil alih troli yang dibawa Hania.
"Mobilnya disini Pak", Reza mengarahkan atasannya pada mobil yang sudah standby menunggunya di depan lobi.
Reza sebentar-sebentar melirik ke belakang, ke arah Hania melalui kaca visioner. Dia sungguh penasaran. Apakah wanita cantik itu Hania? Jika dibandingkan dengan wanita-wanita yang mengejar Arga, jelas wanita itu kalah seksi, kalah glamor, dan kalah menor. Wanita itu terlalu sederhana. Tapi dia merasa wanita itu berbeda. Seistimewa apa hingga membuat Arga kasmaran dan mengejarnya?
"Nyetir yang bener Rez kalau masih sayang sama bola matamu!", sindir Arga, pria itu menatap Reza dari kaca visioner, Reza langsung melakukan gerakan impulsif membenarkan duduknya.
Sesampainya di apartemennya, Arga langsung menggendong Tiara lagi menuju unitnya. Gadis kecil itu masih pulas. Hania berjalan di samping kanan Arga, dan Reza mengekori mereka sambil membawa koper Arga dan Hania dibantu sekuriti.
Arga membawa Tiara ke sebuah kamar di lantai dua. Menidurkannya disana. Hania mengekor saja.
"Kamu dan Tiara istirahat aja disini, kamarku di sebelah", terang Arga.
"Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan. Aku usahakan kita makan siang bareng", lanjutnya.
Arga akan segera menyelesaikan urusannya di kantor polisi. Entah berapa lama penyidik akan menyita waktunya. Dia hanya berharap urusannya cepat selesai.
__ADS_1
"Aku udah minta bibi yang biasa bersih2 disini untuk menemanimu", ucapnya lagi.
Hania hanya mengangguk pelan dan menatap pria tampan itu tersenyum sebelum benar-benar menghilang di balik pintu kamar yang ditempatinya.
Terdengar suara pintu apartemen terbuka. Hania yang baru keluar dari kamar mandi segera keluar kamar untuk melihat siapa yang datang. Dia ingat tadi Arga meminta seseorang menemaninya.
Matanya terpaku pada seorang wanita cantik dan seksi dan glamor sedang berdiri didepan pintu apartemen. Dia memindai wanita seksi itu.
"Mas Arga pasti bercanda ini, masak bibi tukang bersih-bersih seseksi ini?" , Hania geli sendiri membayangkan wanita glamor itu menyapu dan mengepel lantai.
"Oh, hai! Kamu siapa? Kok ada di apartemen Arga?", tanya wanita itu tanpa mengukurkan tangannya.
"Arga? Dia nyebut Mas Arga dengan namanya aja? Siapa dia? Kok tau password apartemen ini? Saudaranya kah?" , Hania bertanya-tanya dalam hati, dia heran.
"Aku Hania. Anda?", Hania balas bertanya.
"Ah, kenalin, aku Lala, kekas...", ucapan wanita yang memperkenalkan diri sebagai Lala itu terpotong.
Tit tit tit tit tit tit. Tiiiit. Terdengar kode password apartemen itu ditekan. Kedua wanita yang belum saling mengenal itu sama-sama menoleh kearah suara. Pintu apartemen Arga kembali terbuka. Sosok Arga muncul dari baliknya. Tampak raut sedikit terkejut di wajah tampan itu ketika melihat Lala disana tapi segera berubah datar dan dingin.
"Arga sayang... Kamu datang?", sapa wanita itu akan memeluk Arga, tapi ditepis oleh Arga.
"Sayang... Kamu kok gitu?", sahutnya dengan nada manja.
Hania menguatkan hatinya. Rasanya kecewa sekali melihat pria yang sudah membuatnya nyaman dipanggil sayang oleh wanita lain. Ya, walaupun belum tentu pria itu memiliki perasaan yang sama.
"Jangan panggil aku sayang!", nada bicara Arga seketika berubah datar dan dingin, ekor matanya melirik Hania yang sedang menatapnya.
Arga sudah takut saja jika Hania berpikir yang tidak-tidak. Hah. Kenapa wanita sialan ini ada disini sih? Arga jadi geram. Bukankah dirinya sudah mengingatkan wanita itu untuk menjauh darinya?
"Kita ngga ada hubungan apapun selain teman!", lanjutnya lagi, masih dengan nada bicara yang datar.
Terlihat sekali Arga tidak menyukai kehadiran wanita itu. Nada bicara yang selama ini terdengar lembut di telinga Hania seakan lenyap. Menampilkan sosok Arga yang berbeda. Hania jadi berpikir, apakah hubungan mereka tidak berjalan lancar dulu? Pasti sangat menyakiti Arga hingga sikap Arga berbeda.
"Kamu lupa ya sayang, kita pernah menghabiskan waktu bersama, bahkan password apartemen ini masih sama dengan tanngal malam itu", ucap Lala manja seraya memeluk lengan Arga.
Ingatan Arga melayang ke peristiwa malam sial itu. Saat itu dirinya masih terpuruk. Disaat yang bersamaan di kafe tempatnya menyendiri sedang ada perayaan ulang tahun seorang anak kecil seusia Devan. Kebetulan hari itu juga hari lahir putranya. Jika masih ada, pasti dia akan merayakannya juga.
__ADS_1
Merasa frustrasi dia meninggalkan kafe itu dan pergi menuju club malam. Dia ingin menghibur dirinya dengan minuman yang membuatnya melayang. Tanpa disangka, Lala, wanita cantik dan seksi yang menyukainya juga ada disana. Alih-alih menemani Arga, wanita itu mencampur minuman Arga dengan obat perangsang. Arga yang sudah mabuk berat tidak menyadarinya dan meneguk minuman itu.
Sudah lama Lala menyukai Arga tapi pria itu memilih Riska. Setelah berpisah dengan istrinya, wanita itu mendekatinya lagi. Tapi Arga yang sejak awal hanya menganggap Lala sebagai adik karena kedekatan keluarga mereka.
Arga yang sudah dibawah pengaruh alkohol dan obat perangsang sudah tidak bisa mengenali siapa wanita di depannya. Dan karena dorongan nafsu dari obat itu membuat Arga khilaf.
Dengan rakus Arga ******* bibir Lala lalu menjalar ke leher mulusnya. Tangannya sudah bergerilya kemana-mana. Memegang apa saja yang disukainya. Sudah lama dia menahan diri.
Lala membawa Arga ke sebuah hotel berbintang tidak jauh dari club malam itu. Malam semakin panas sepanas hasrat Arga yang sudah mencapai ubun-ubun.
Dengan liar Arga menjamah tubuh Lala. Cukup lama Arga bermain di gundukan buah dada yang kenyal, **********, menyesapnya, menggigitnya dengan gemas, membuat Lala mendesah tak karuan. Mendengar ******* wanita itu gairah Arga semakin terpacu. Ciumannya menjelajahi perut ramping dan mulus itu, menjilatinya hingga membuat empunya menggelinjang.
Setelah itu dia tidak ingat lagi. Tahu-tahu sudah berada di rumah sakit sebagai pasien. Dia menoleh kesamping kanan. Ada Iden dan Reza disana. Wajah kedua pria itu terlihat tegang.
Mengingat peristiwa itu kembali, membuat Arga semakin geram.
Arga memegang pergelangan tangan wanita itu dan menghempaskannya. Wajah Arga semakin mengelam, namun matanya menatap Hania sendu seolah berkata, jangan percaya!
"Sayang!" bentak wanita itu tidak terima Arga menghempaskan tangannya.
"Hum,, maaf,, kalian selesaikan saja masalah kalian, aku permisi", ucap Hania ingin segera berlalu dari ruangan itu.
Hania makin tidak tahan mendengar panggilan sayang dan sikap manja wanita itu pada Arga. Apalagi barusan wanita itu berkata "sudah menghabiskan waktu bersama", membuatnya membayangkan yang tidak-tidak, membuat telinganya semakin panas dan hatinya berdenyut nyeri. Dia sendiri tidak tahu kenapa begitu. Apakah dia cemburu?
"Han?", panggil Arga.
Suara Arga yang lembut kembali terdengar di telinganya ketika menyebut namanya. Tapi suasana hati yang panas tidak membuat suara lembut pria tampan itu menghentikan langkahnya. Dia terus melangkah.
"Han! Sayang!?", suara Arga sedikit meninggi memanggil Hania.
Deg. Langkah Hania langsung terhenti. Sayang? Arga memanggilnya "sayang"? Dia membalikkan badannya menghadap Arga. Pria itu masih menatapnya sendu.
"Arga!?", tegur Lala, tapi pria tampan itu menaikkan sebelah tangannya menginterupsi wanita itu.
"Han, tolong jangan salah paham ya sayang, aku bisa jelasin nanti", ucap Arga lembut.
Arga benar-benar takut jika Hania menjauh darinya. Sampai-sampai menyebut Hania dengan sebutan sayang agar Hania tahu jika dirinya bersungguh-sungguh. Meski dirinya berdebar juga ketika mengucapkannya.
__ADS_1
Nada bicara yang selalu ditampilkan Arga ketika berhadapan dengannya, membuat wanita itu terdiam ditempatnya. Dia masih meresapi kata "sayang" yang ditujukan padanya tadi. Dua kali dia memanggilnya dengan sebutan "sayang".
**********