
Tok tok tok!
Reza memasuki ruangan Arga bersama seorang wanita cantik dan seksi. Mata pria tampan itu menatap wanita itu tak berkedip. Arga tak percaya wanita yang dulu pernah sangat disayanginya itu datang menemuinya ke Surabaya padahal pria itu sudah menolaknya.
"Kamu datang? Bukankah aku sudah melarangmu? Aku sudah ngga ingin ketemu denganmu lagi!" ucap Arga tanpa melihat ke arah Rosa.
"Bisakah kita ngobrol berdua aja?" pinta Rosa.
"Aku ngga mau dengar berita apapun dari mulutmu. Pergilah!" usir Arga tanpa menghiraukan permintaan wanita seksi itu
"Tapi aku merindukanmu." ucapnya seraya menggelayut manja di lengan Arga lalu mencium pipi kanan pria itu.
Reza masih terus mengawasi tingkah Rosa tanpa ingin memalingkan wajahnya. Pria berkacamata itu tidak begitu mengenal Rosa. Dirinya hanya beberapa kali bertemu dengannya
, itupun sudah lama sekali. Jika tak salah sekitar 5 tahun yang lalu. Sebulan setelah perceraian Arga dengan sang mantan istri. Kala itu, Rosa masih berstatus istri dari suaminya. Tapi dengan genitnya mencoba merayu Arga. Dan dari Iden lah dirinya tahu hubungan atasannya dengan wanita cantik dan seksi itu.
"Rosa! Kita sudah lama selesai. Dan aku juga menyadari kalau aku bukannya jatuh cinta padamu atau tergila-gila padamu. Aku hanya merasa bangga memilikimu saat itu. Ngga lebih." ungkap Arga datar.
"Bohong!" pekik Rosa.
"Aku tau kamu masih mencintaiku. Kamu bahkan ngga mengenalkanku pada kekasihmu." tangan Rosa mengelus dada Arga.
"Singkirkan tanganmu!" tepis Arga.
"Kenapa? Kamu masih ingat rasanya? Kamu takut terbuai lagi? Lalu kita akan mengulang yang dulu. Ayolah, sayang, jangan membohongi dirimu." ucap Rosa sambil tersenyum menggoda.
"Hentikan! Kita ngga pernah berbuat lebih seperti dalam mimpimu! Atau kamu melakukannya dengan laki-laki lain?" sanggah Arga seraya mencibir Rosa.
Sungguh Arga ingin sekali mengusir wanita itu dari hadapannya tapi Rosa benar-benar seperti ulat keket yang menempel erat padanya.
Bertemu dengan mantan kekasihnya itu sekarang membuatnya muak. Tidak ada getaran dalam hatinya seperti ketika dirinya bertemu Hania. Bahkan dengan mantan istrinya pun, Arga tidak merasa getaran hebat seperti yang dirasanya ketika bersama Hania. Dengan Hania, pria karismatik itu sangat berhati-hati, memperlakukannya bak kaca.
"Aku hanya mencintaimu Arga!" hardik Rosa tak terima disangka berselingkuh saat bersama dulu.
"Ohya? Aku pikir kamu hanya mencintai tubuh dan tampangku. Dan tentunya harta keluargaku. Tapi ketika itu semua ngga kamu dapatkan, kamu memilih pergi." Arga menjeda kalimatnya menghela napasnya perlahan.
Rosa menggelengkan kepalanya. Dulu dia menyukai Arga karena memang pria itu tampan dan dikenal sebagai seorang putra tunggal dari pengusaha kaya. Tapi ketika dirinya memutuskan memilih suaminya, barulah dirinya menyadari jika dia mencintai Arga. Ditambah lagi, mantan kekasihnya itu sudah sukses dan kaya raya sekarang.
"Ngga, Ga! Aku cinta kamu. Maaf aku ninggalin kamu waktu itu. Tapi setelah itu aku sadar, aku salah menilai perasaanku. Please, kasih aku kesempatan, Ga." mohon Rosa seraya berurai air mata.
Kini wanita seksi itu malah memeluk Arga dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Arga. Dada yang dulu selalu menjadi sandarannya.
"Cukup! Hentikan kekonyolanmu!" Arga mendorong Rosa hingga pelukan wanita itu terlepas.
"Aku ngga bodoh, Rosa. Aku tahu kelakuanmu di belakangku. Tapi ngga ada yang hilang dariku ketika rasa sayangku dihianati. Dan sekarang kamu datang lagi padaku? Untuk apa? Kenapa kamu meninggalkan suamimu, Rosa? Apa dia bangkrut?" cibir Arga seraya menjauh dari wanita seksi itu.
"Sekarang aku sukses dan kaya raya. Aku juga masih tetap tampan 'kan diusiaku yang sudah matang? Apa karena itu? Kamu datang lagi?" Arga menatap wanita didepannya lekat.
"Tapi sayang, hati dan tubuhku ini sudah ada yang punya. Dan itu bukan kamu. Dari dulu kamu tidak pernah menghuni hatiku. Dan hartaku? Dia akan jadi milik pemilik hati dan tubuhku." ucap Arga, seraya menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya dengan tangan yang bersedekap.
"Ngga. Ngga. Kamu bohong!" Rosa masih menampik kata-kata Arga.
Katakan saja jika sekarang dia menyesal. Wanita cantik dan seksi itu terbiasa dipuja dan dimanjakan dengan harta. Arga dulu pun memperlakukannya begitu. Melimpahinya dengan barang-barang berharga. Tapi ketika dia bertemu dengan pria lain yang lebih dewasa dan mapan dari Arga yang hanya putra dari pengusaha kaya, sementara pria lain itu sudah memiliki kekayaannya sendiri, membuatnya khilaf dan memilih meninggalkan Arga.
Dan ketika dirinya mendapati suaminya berhianat, disaat itu pulalah dia bertemu dengan Arga yang sudah bertransformasi menjadi pria dewasa yang sukses dan kaya raya. Di saat itu pulalah, keinginannya untuk kembali pada Arga muncul.
"Apa kata-kataku belum jelas? Perlu kutegaskan sekali lagi?" Arga menunggu reaksi Rosa.
__ADS_1
"Sudahlah, Rosa. Kalau yang kamu inginkan adalah kembali padaku, itu ngga akan pernah terjadi. Aku ngga akan bisa nerima kamu lagi sampai kapanpun! Hatiku sudah dimiliki perempuan yang kupilih sendiri." Arga melanjutkan kalimatnya dengan datar.
"Sekarang pergilah! Aku ngga sedang menganggur sekarang!" usirnya.
Bukannya pergi, Rosa malah mendekat dan mencoba memeluk Arga. Lagi-lagi wanita seksi itu harus menelan kenyataan ditolak Arga untuk kesekian kalinya.
"Reza akan mengantarmu." usirnya tanpa ekspresi.
Reza sudah bersiap menarik tangan Rosa tapi wanita itu sudah menghindar.
"Aku mencintaimu, Ga! Ingat itu! Dan aku selalu nungguin kamu!" ucap Rosa sebelum meninggalkan ruangan Arga.
"Gue bisa sendiri!" hardiknya pada Reza.
Reza hanya menghela napasnya perlahan. Matanya lekat menatap punggung wanita seksi itu. Dirinya tidak habis pikir. Kemana perginya akhlak wanita itu. Cantik tapi kasar. Berbeda sekali dengan Hania. Meski penampilannya tidaklah glamour, wanita itu terlihat elegan dan berkelas karena sikapnya yang manusiawi. Pantaslah atasannya itu tergila-gila pada wanita berhagi lembut itu. Reza menggelengkan kepalanya membayangkan masa lalu bosnya itu. Bagaimana pria karismatik itu bisa menjadi kekasih wanita kasar itu?
"Udah gue bilang Sa, Arga itu ngga pernah cinta sama lu. Dia macarin lu karena lu cantik dan terkenal. Banyak yang ngerebutin lu termasuk Arga." ucap pria tampan di depannya.
Kini Rosa sedang menumpahkan segala rasa kesalnya pada salah satu sahabat Arga yang juga mengenalnya dengan baik. Tidak dipungkiri pesona Rosa selalu menarik perhatiannya dari dulu hingga sekarang tapi sayangnya wanita seksi itu seolah menutup mata dan hatinya dari pria tampan itu.
"Kenapa sih lu pengen balik lagi sama Arga? Lu ngga bener-bener cinta 'kan sama dia?" tanya pria itu disela-sela kegiatannya menghisap rokoknya.
Rosa mendesah seraya melempar tatapannya ke sembarang arah.
"Bukan urusan Lu. Gue datang kesini buat minta tolong sama lu. Buat supaya Arga mau balik lagi sama gue." ungkap wanita seksi itu.
"Apa imbalannya buat gue?" tanya pria tampan itu seraya tersenyum penuh arti.
"Imbalan?" Rosa membeo ucapan pria itu.
"Hangatin ranjang gue, beauty." pinta pria itu.
"Ck! Lu ngga berubah ya? Tetap tega menghianati sahabat Lu sendiri." cibir Rosa.
Pria tampan itu tergelak mendengar cibiran Rosa. Dia ingat bagaimana liarnya mantan kekasih Arga itu di atas ranjang. Ditambah bentuk tubuhnya yang seksi itu, membuatnya semakin bergairah.
"Lu ngga mau nostalgia sama gue? Sini!" pria itu meminta Rosa mendekat.
Dengan jalannya yang anggun, Rosa mendekat. Pria itu langsung menarik tubuh wanita seksi itu hingga jatuh ke pangkuannya. Pria itu tidak pernah bisa menolak pesona Rosa yang memang menawan. Dia mulai membelai pipi wanita cantik itu. Kemudian jarinya berpindah ke bibir penuh nan seksinya. Dan mulai mendaratkan kecupan di sana. Semakin lama semakin dalam, hingga keduanya semakin terlena. Rosa pun menikmati setiap sentuhan pria tampan itu. Dia sering merasakan kejantanan pria itu dulu. Mengingatnya, membuatnya ingin merasakannya lagi.
"Lu masih kayak dulu. Selalu bisa buat gue melayang." ucap Rosa di sela desahannya.
Rosa tidak menampik, dirinya sering bercinta dengan beberapa pria, dan baginya, pria tampan itulah yang paling perkasa dan paling bisa memanjakannya di atas ranjang.
"Memang. Gue yang terbaik." sahut pria itu seraya mengecupi leher wanita cantik itu.
"Kita pindah tempat, baby?" ajaknya.
Disebuah kamar suit sebuah hotel bintang 5, dua insan terlihat sedang kelelahan setelah menyelesaikan pergumulan panasnya.
"Apa rencana lu?" tanya Rosa sambil memeluk tubuh polos sang pria tampan.
"Gue udah atur pertemuan dia sama relasi bisnis gue yang mau ngejalin kerjasama sama perusahaan dia di yy club." ungkap pria tampan itu.
"Lu tunggu kode dari gue." perintahnya kemudian.
"Oke. Gue ngikut aja. Gue tau rencana lu pasti mateng." ucap Rosa lalu mengecup pipi kiri pria tampan itu.
__ADS_1
"Lu siap-siap deh. Meetingnya malam ini." Rosa membelalakkan matanya tak percaya secepat itu akan menaklukkan Arga.
Malam jam 10, Arga dan Reza berangkat ke yy club menemui klien yang akan bekerjasama dengan perusahaannya. Pria tampan itu dan asistennya langsung memasuki ruang VIP. Di sana sudah menunggu 2 orang pria yang kira-kira berusia sama dengan Arga.
"Maaf, saya terlambat rupanya." ucap Arga berbasa-basi.
"Ah, ngga kok, Pak. Saya yang terlalu cepat samapi di sini karena sudah ngga sabar ingin ketemu anda." sahut klien Arga.
"Saya Damar. Dan ini asisten saya Luki." tambah pria itu memperkenalkan dirinya dan asistennya.
"Iya. Saya Arga. Ini asisten saya Reza." balas Arga.
"Anda sudah sangat terkenal dikalangan para pebisnis. Jadi ngga perlu memperkenalkan diri begini, saya sudah tau." ucap Damar seraya tersenyum.
"Ah, ngga juga. Akan lebih baik kalau kita berkenalan secara langsung 'kan?" tukas Arga.
"Iya, iya, anda benar." ucap Damar.
Botol-botol anggur dengan kadar alkohol sedang sudah tersedia di meja berbentuk segi empat di hadapannya. Dan tentu saja 2 wanita seksi yang menemani mereka. Sebenarnya Arga merasa keberatan dengan kehadiran 2 wanita itu di sana tapi dirinya juga harus menghargai tindakan kliennya.
Perbincangan dimulai dengan obrolan-obrolan ringan seputar gaya hidup di Surabaya, tempat-tempat nongkrong kaum high end di kota itu, dan wanita-wanita cantik. Untuk poin terakhir Arga tidak terlalu menanggapinya.
Setelah berbasa basi, barulah obrolan berlanjut membahas kerjasama mereka.
"Saya sangat berharap bisa bergabung dengan proyek anda kali ini, Pak Arga. Saya merasakan proyek ini akan menjadi proyek yang akan mendatangkan banyak keuntungan." Damar terus merayu agar Arga melibatkannya dalam proyeknya kali ini.
"Akan kami pelajari dulu proposalnya, Pak Damar. Karena memang ini adalah proyek besar kami yang 3 di kota ini, jadi kami memang harus selektif memilih partner kerja. Kami tidak ingin kecolongan dalam bentuk apapun." tegas Arga.
Sejak awal Arga sudah menaruh curiga pada Damar. Pengusaha bertampang manis itu sebenarnya bisa saja membuat proyek yang sama besarnya dengannya tapi kenapa malah ingin berinvestasi saja?
"Baiklah. Saya tunggu kabar baiknya, Pak Arga. Semoga anda ngga mengecewakan saya." ucap Damar sembari berseloroh.
"Silakan diminum, Pak. Saya rasa anda juga terbiasa dengan minuman ini. Gaya hidup di Jakarta pasti melebihi gaya hidup di sini." tawar Damar.
"Saya memang terbiasa dengan minuman ini. Tapi itu dulu. Saya pesan minta soda." ucap Arga pada seorang wanita di sana dan dengan gesit wanita itu mengambilkan pesanan Arga.
Sambil menunggu, obrolan berlanjut lagi. Benar-benar pria itu tak kehabisan bahan obrolan. Arga hanya menimpali hingga minuman Arga pun datang.
"Wah, saya salut dengan anda, bisa menghentikan kebiasaan seperti ini. Merusak kesehatan memang tapi yang namanya ketagihan memang sulit untuk berhenti." puji Damar lalu meneguk minuman beralkohol itu lagi.
"Saya sudah merasakan kerugian baik secara materi dan kesehatan karena minuman itu." ungkap Arga dan mulai meneguk minuman bersodanya.
Semakin lama Arga semakin merasa aneh pada tubuhnya. Kepalanya berdenyut hebat dan pandangannya berputar. Hingga tak lama kemudian pria tampan itu tak sadarkan diri.
Begitu pula dengan Reza. Asisten Arga itu juga merasa mual dan pusing setelah menghabiskan beberapa gelas minuman beralkohol itu. Dia mabuk. Dengan setengah kesadarannya yang menurun, Reza melihat Arga dipapah 2 orang suruhan Damar. Namun dia tidak berdaya untuk menolong. Ah sial! Bukannya tadi dia hanya minum beberapa gelas saja? Biasanya dirinya akan kuat meminum minuman itu hingga berbotol-botol. Pasti ada yang tak beres. Hah. Kenapa tidak mendengarkan instingnya tadi?
Ya. Reza juga merasa curiga pada Damar. Untuk pengusaha besar sepertinya menjadi second lead itu sungguh disangsikan. Aura persaingan sudah tampak di wajahnya. Jadi untuk apa dia datang menawarkan kerjasama?
Di sebuah kamar suit hotel bintang 5, Rosa sudah menunggu dengan pakaian saringan tahunya. Menerawang dimana-mana. Modelnya juga terbuka.
Ting tong!
Bel pintu kamar suit itu berbunyi mengalihkan perhatian Rosa yang gelisah sedari tadi. Dengan tak sabaran, wanita seksi itu membuka pintu dan terbelalak mendapati Arga yang dipapah 2 orang.
"Dia kenapa? Kok pingsan? Rencana gue ngga bisa mulus nih!" batin Rosa.
*******
__ADS_1
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, kasih hadiah... komen juga boleh. untuk dukung karyaku ini. 🤗🤗🤗