
Arga memasuki sebuah kamar di sebuah bangunan rumah lawas yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Seorang pria paruh baya yang masih mengenakan setelan kerjanya berupa kemeja putih berlengan panjang dengan dasi merah marun dan celana bahan berwarna hitam, dilengkapi sepatu pantofel yang mengkilat. Namun sudah tidak rapi lagi. Kemejanya sudah keluar dari selipannya di celana bahannya bahkan 3 kancingnya sudah raib entah kemana hingga menampakkan singlet putihnya, dasinya sudah mengendur, rambut berwaxnya pun sudah acak-acakan. Wajahnya sudah lebam dimana-mana bahkan sudut bibirnya tampak berdarah. Tangan dan kakinya terikat pada tiang di belakangnya. Ya. Pria itu diikat dalam keadaan berdiri.
Byur!
Seember air diguyurkan ke arah tubuhnya. Membuat pria yang tengah tak sadarkan diri itu seketika tersentak. Pria itu tampak gelagapan tiba-tiba disiram air dingin. Udara malam yang dingin membuat air yang sudah dingin bertambah dingin. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya menyingkirkan air yang membasahi rambutnya dan menetes ke wajahnya.
Arga hanya mengawasi dari jarak beberapa meter. Mengamati wajah pria itu. Tapi seberapa pun dalam dia menggali ingatannya, wajah itu tak kunjung diingatnya.
"Apa aku mengenalmu?" tanya Arga pada pria yang baru siuman itu.
Pria yang terikat itu langsung menoleh ke arah Arga. Dia menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Wajahnya tampak memelas.
"Apa kau mengenalku?" tanya Arga lagi.
Kali ini pria itu mengangguk membuat Arga mengernyitkan keningnya.
"Jadi apa alasanmu membantu pamanku?" tanya Arga dengan datar.
Pria paruh baya itu tampak terdiam cukup lama hingga seorang anak buah Arga menendang kakinya cukup keras membuatnya mengerang kesakitan.
"Dia... sahabatku." sahutnya seraya menatap Arga.
Mendengar jawaban pria paruh baya itu Arga terkekeh. Sahabat? Apa dia belum tahu karakter sahabatnya itu? Dirinya yang keponakannya saja ingin dihabisinya. Pamannya itu baru diketahuinya memiliki pikiran yang licik. Dan menghalalkan segala cara untuk memuluskan rencananya.
"Kemana sekarang dia? Apa dia berusaha menolongmu? Kudengar, justru orang-orangku yang menolongmu dari upayanya menutup mulutmu." cibir Arga.
Pria paruh baya itu tertunduk, wajahnya berubah lesu. Dia ingat 2 hari yang lalu, dirinya diikuti sebuah mobil ketika pulang dari kantornya. Kejar-kejaran pun tak dapat dielakkan. Pasalnya, 2 orang yang dikenalnya berada dalam mobil yang mengejarnya tiba-tiba menembaki mobilnya. Beruntung tembakan itu luput.
Dan entah darimana datangnya, sebuah mobil lain memotong jalur mobil itu hingga mobil yang tadi mengejarnya kehilangan kendali lalu menabrak pembatas jalan dan terguling.
Tapi naas, karena sibuk memperhatikan keadaan di belakangnya, pria tua itu tidak memperhatikan jalanan di depannya hingga dirinya pun menabrak kendaraan lain yang merupakan teman dari mobil yang memotong mobil yang mengejarnya tadi.
Orang-orang dalam mobil tadi membawanya dan menghajarnya hingga mengancamnya dan akhirnya karena orang-orang bertubuh kekar itu menggunakan putrinya untuk menekannya, pria tua itu membuka mulutnya.
Dan kini, pria itu berdiri tak berdaya di hadapan Arga. Ditambah tatapan tajam dari pria karismatik yang sama seperti tatapan sahabatnya, Aris. Membuatnya semakin tak bisa berkutik.
"Kau mirip dengannya, sangat mirip." ucap pria tua itu lemah.
__ADS_1
"Pamanku? Cih! Aku bahkan benci dengan wajahku yang mirip dengannya." ucap Arga datar dan dingin.
"Bukan. Ayahmu. Kamu benar-benar mirip dengan ayahmu. Aku seperti melihatnya." lanjut pria itu masih menatap Arga dengan mata bengkaknya.
"Kau mengenal ayahku?" Arga memicingkan matanya.
Pria itu terkekeh.
"Tentu saja. Aku, ayahmu, dan pamanmu. Kami berteman." sahut pria tua itu.
"Lalu kenapa kau membantunya menghancurkanku?" tanya Arga menatap pria tua itu dengan sinis.
Pria paruh baya itu menerawang. Mencoba merangkai kata untuk menjelaskan keterlibatannya.
"Pamanmu sudah banyak membantuku. Mungkin semacam balas budi." ungkap pria itu.
"Balas budi macam apa yang memghalalkan segala cara untuk membalasnya? Cih! Kamu sama saja dengannya." ejek Arga lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Pria paruh baya itu menundukkan wajahnya. Helaan napasnya terdengar berat.
"Maafkan aku." terdengar penyesalan dari suara pria paruh baya itu.
"Aku akan membantumu. Sebagai ungkapan maafku, dan terimaksihku, aku akan membantumu melawannya." ucapnya tulus.
Arga berbalik lagi menatap pria tua itu. Dan berjalan mendekat hingga jaraknya hanya selangkah kaki.
"Bukankah sepatutnya begitu? Kalian juga yang menyebabkan aku kehilangan putriku. Bagaimana dengan itu?" Arga mulai geram.
"Aku tau semuanya." sahut pria itu lagi seraya menatap Arga.
Arga menyunggingkan seringainya di sudut bibirnya. Lalu menghela napasnya.
"Semoga kali ini kau tau caranya membalas budi dengan benar. Jangan coba menghianatiku. Karena aku ngga akan segan melenyapkanmu juga." ancam Arga.
Tatapan mata Arga yang berubah mengelam dan dingin membuat pria tua itu menelan salivanya dengan susah payah. Seperti di cocok hidungnya pria itu mengangguk patuh.
Jam 2 dinihari. Arga mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Jalanan lengang mendukungnya melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, hanya hening. Tidak ada musik atau teman berbincang. Pria tampan itu mengendarai sendiri mobilnya.
Dari kejauhan sebuah mobil melaju kencang tapi tidak pernah mendahului mobil Arga. Mobil itu mengekori mobil mewahnya sejak dirinya mulai memasuki kota Jakarta. Arga menyeringai. Rupanya ada yang ingin bermain-main dengannya. Dia teringat pria tua tadi. Apakah mobil itu mengikutinya sejak dia meninggalkan Jakarta? Dengan cekatan disambungkannya ponselnya pada earphone dan menghubungi Reza.
"Ada yang ngikuti aku. Apa dia aman?" tanya Arga begitu Reza menyapanya.
"Aman, Pak. Mereka tidak akan menemukan tempat ini." tegas Reza di seberang ponselnya.
"Anda dimana? Saya akan mengirim bantuan." Reza terdengar khawatir.
"Kamu yang lebih tau aku ada dimana Rez. Bahkan kalau itu memungkinkan, badanku ini bakal kamu pasangi GPS juga." Arga berseloroh ditengah ketegangannya memacu mobilnya.
Terdengar Reza terkekeh. Pria itu seperti menertawakan dirinya sendiri. Kenapa jadi ikut panik sampai lupa jika tanpa bertanya pun dia tahu lokasi bosnya itu?
Pria berwajah manis itu segera membuka tabletnya dan mencari lokasi Arga lalu mengirimkannya pada Kelik.
"Tunggu sebentar lagi, Pak. Saya sudah mengirimkan bantuan." lapor Arga setelah hening sesaat.
Arga berputar-putar saja di daerah yang sama menghindari kejaran mobil itu. Bukan mengejar, mobil itu hanya menerornya saja. Membuat Arga semakin geram. Namun, tiba-tiba Arga dikejutkan oleh sebuah tembakan berperedam yang mengenai jendela kaca disampingnya. Beruntung kaca mobil itu anti peluru. Hingga hanya menimbulkan bekas.
"Aargh! Sial! Awas saja lu, brengsek!" pekik Arga seraya memukul setir mobilnya.
Tembakan kedua pun melesat lagi mengenai bodi mobil Arga. Lagi-lagi peluru itu hanya mental begitu saja. Itulah kelebihan mobil mewah Arga yang harganya bikin melongo. Dengan satu tangan mengendalikan mobilnya, tangan yang satunya membuka laci dashboard di sisi kirinya. Mengambil sebuah pistol yang memang selalu disiapkan Arga di sana. Pria bertubuh atletis itu langsung membalas tembakan lawannya dan berhasil melumpuhkan 1 pria yang sedari tadi menembakinya.
Arga memperhatikan mobil di sisi kanannya. Total ada 4 pria besar di dalam mobil itu dan Arga berhasil melumpuhkan 1. Pria yang duduk di kursi penumpang sudah bersiap akan menembaknya lagi. Dengan cepat Arga mengijak pedal rem dalam-dalam sehingga mobil itu melaju mendahului Arga. Pria itu berpikir pelurunya tidak akan cukup melawan mereka. Meski Arga jua memiliki keahlian menembak, tapi jika dalam keadaan kebut-kebuan tidak mungkin melumpuhkan lawannya hanya dalam 1 tembakan.
Tanpa diduga datang sebuah mobil dari arah kiri menabrak sisi kiri mobil itu dan terus mendorongnya hingga terjungkal. 4 pria bertubuh kekar keluar dengan cepat dari mobil itu dan menembaki seisi mobil yang sudah ringsek itu.
Seorang pria kekar mendatangi mobil Arga.
"Bos." sapanya ketika Arga keluar dari mobilnya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like. favoritkan, vote, dan kasih hadiah ya... komen juga boleh. untuk dukung terus karya ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘