Yang Terakhir

Yang Terakhir
55. Back To Real Life


__ADS_3

"Selamat datang kembali Pak", sambut Dian dengan senyum semanis gulanya ketika Arga tiba di depan ruangannya.


Arga hanya menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyum tipisnya, nyaris tak terlihat. Meski suasana hatinya sedang sangat baik hari itu, tapi tidak semudah melihat bulan di antara awan mendung untuk melihat senyum lebarnya. Hanya auranya saja yang terpancar diwajahnya yang berbinar. Adi juga menganggukkan kepalanya dengan senyum yang lebih lebar ketika sekretaris cantik itu menyapanya dengan menganggukkan kepala dan tersenyum. Pria bertampang teduh itu lebih ekspresif dibandingkan atasannya.


Arga memasuki ruangannya yang ditinggalkan selama seminggu. Rasanya dia lebih bersemangat hari itu. Adi dan Dian mengekor dibelakang atasannya seperti biasa. Lalu Dian akan membacakan agenda sang atasan. Jadwalnya tidak padat hari itu. Hanya rapat dengan divisi keuangan. Setelahnya hanya menandatangani berkas yang menumpuk.


Setelah Dian meninggalkan ruangan atasannya, giliran Adi yang melaporkan beberapa pertemuan dengan klien yang ditanganinya bersama Dian. Arga cukup puas dengan kinerja bawahannya. Mereka benar-benar bekerja dengan baik. Sepertinya dia juga harus berterimakasih pada Iden yang membantunya mengawasi perusahaannya.


"Wah, wah, wah... Yang baru pulang dari liburan. Wajahnya cerah amat Pak, kayak sinar matahari pagi ini", sapa Iden yang tiba-tiba masuk ke ruangan Arga.


"Kebiasaan Lu buruk! Maen selonong aja! Ketuk pintu dulu bisa kan?", tegur Arga dengan nada datar, yang ditegur hanya cengengesan.


Melihat interaksi informal diantara kedua bosnya itu, Adi segera mengundurkan diri dari ruangan itu.


"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih? Ngga inisiatif gitu, cerita ke Gue?", sindir Iden, yang pastinya sudah tahu kemana perginya sang sahabat sekaligus atasannya itu selama seminggu ini.


Arga malah sengaja mengabaikan sahabatnya itu dengan menyibukkan dirinya pada tumpukan berkas di mejanya.


"Yah, Gue dikacangin. Woi! Ga!?", seru Iden mengganggu Arga.


Pria tampan yang flamboyan itu ingin mendengar Arga bercerita tentang wanita yang sedang diincarnya. Meskipun dia sudah tahu. Dia hanya ingin Arga seperti dulu. Berbagi suka dan duka, termasuk menceritakan kisah asmaranya. Karena pria blesteran itu merasa Arga lebih tertutup sekarang.


"Gue sibuk! Ngga liat Lu kerjaan Gue banyak?", sahut Arga seraya menatap sahabatnya itu.


"Lu kayak pengangguran, pagi-pagi udah nangkring di rumah tetangga!", sindir Arga, yang membuat Iden terkekeh.


"Lu kira Gue emak-emak!?", sahut Iden sambil melempar bolpoin ke arah Arga namun luput.

__ADS_1


"Kerjaan Gue banyak kali! Gue kan kangen sama Elu nyet!", pria flamboyan itu tak terima dikatai tidak ada kerjaan.


Arga terkekeh mendengar ucapan Iden tanpa melihat ke arah partner kerjanya itu. Malah sibuk memeriksa berkas yang dipegangnya. Merasa diabaikan, pria berkulit putih itu bangkit dari duduknya hendak meninggalkan ruangan Arga.


"Lu utang cerita sama Gue!", Iden menghentikan langkahnya dan berbalik mengingatkan Arga, kemudian hilang dibalik pintu.


Arga meletakkan bendelan kertas yang dipegangnya. Disandarkannya tubuh atletisnya disandaran kursi empuknya. Menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Entah kenapa pria berkarisma itu tidak ingin bercerita apapun tentang Hania pada Iden atau siapapun. Merasa sayang jika orang lain tahu. Dia hanya ingin kisah wanita cantik bermata kelinci itu, hanya dia yang tahu.


Mengingat Hania, mendadak jantung Arga berdetak kencang dan darahnya berdesir. Bayangan peristiwa antara dirinya dan wanita itu kembali berputar dibenaknya. Begitu intim. Begitu romantis. Dielusnya bibir yang dianggap seksi oleh Hania itu. Merasakan sentuhan bibir Hania disana, meskipun hanya sekilas tapi sanggup menggetarkan hatinya. Senyumnya langsung terbit begitu saja.


Tok tok tok.


Ketukan dipintu menarik Arga kembali dari lamunannya. Tak berselang lama, sosok sang sekretaris yang cantik tapi tidak istimewa dimata Arga, memasuki ruangan. Arga masih menatapnya membuat sang sekretaris kikuk.


"Maaf Pak? Apa ada yang salah dengan penampilan saya?", tanya Dian memberanikan diri, karena terakhir kali ditatap Arga, dirinya malah kena teguran agar tidak memakai bawahan yang terlalu pendek.


"Ah, ini... Iya Pak, selama Bapak tidak disini, Pak Iden godain saya terus. Jadi, ini maksudnya supaya Pak Iden ilfil sama saya", sahut Dian yang juga melihat ke arah bawahannya seraya cengengesan, Arga terkekeh mendengar jawaban Dian.


Antara dirinya, Reza, dan Dian, cukup dekat sebagai atasan dan bawahan. Ya. Arga termasuk atasan yang cukup perhatian dengan orang-orang kepercayaannya. Pria karismatik itu tidak segan-segan melontarkan kritikannya pada masalah pribadi Reza dan Dian. Seperti menunjukkan ketidaksukaannya ketika Dian memakai pakaian yang terlalu terbuka dengan menegurnya langsung. Atau memberi masukan pada Reza yang tidak bersikap baik ketika menolak wanita yang memiliki perhatian khusus padanya. Begitupun sebaliknya, Reza dan Dian akan memberi masukan dengan tanpa beban padanya tentang masalah pribadinya.


"Ada apa?", tanya Arga setelah berbasa basi tadi.


"Rapatnya akan dimulai Pak. Berkas-berkasnya sudah saya siapkan", peringat Dian.


Arga melihat jam tangannya. Lalu bangkit dari duduknya hendak menuju ruang rapat. Dian mengekor dibelakangnya sudah siap dengan setumpuk berkas yang dibutuhkan atasannya itu.


Sementara Arga sudah langsung disibukkan dengan pekerjaannya, lain halnya dengan Hania. Wanita cantik itu masih bisa bersantai di rumahnya bersama Tiara. Wanita bertubuh ramping itu tidak bisa meninggalkan Tiara sendirian di rumah. Gadis kecil itu tidak mau ikut ibunya bekerja atau dititipkan pada keluarga Mba Niken. Mungkin gadis berambut panjang itu masih lelah, jadi inginnya bermalas-malasan di rumah saja.

__ADS_1


"Sayang, hari ini mau makan apa?", tanya Hania ketika melihat Tiara sudah menghabiskan 1 sisir pisang emas.


"Oom Arga ngga kesini Ma? Ngga makan siang sama kita?", tanya gadis kecil itu.


"Hum? Mama ngga tahu, sayang. Oom Arga pasti sibuk banget sekarang. Mungkin dia akan makan di kantornya atau restoran disekitar kantornya", jawab Hania menebak-nebak.


"Yaaah...", wajah Tiara terlihat lesu seketika membuat Hania terkekeh.


"Ha!", seru Tiara, dia sudah duduk dari posisi rebahannya, membuat Hania menoleh lagi.


"Gimana kalau kita ke kantornya Oom Arga? Mama masak buat kita makan bertiga?", tiba-tiba gadis kecil itu berseru, membuat Hania menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kita kasih kejutan buat Oom Arga. Gimana Ma?", tanya Tiara meminta persetujuan ibunya.


Hania menghela napasnya. Menatapi wajah Tiara yang terlihat bersemangat. Namun sepertinya dirinya tidak akan mengabulkan permintaan sang putri. Bagaimana mungkin? Hubungannya dengan pria tampan itu sejauh ini hanya sebatas teman. Teman apa yang tiba-tiba memberi kejutan dengan membawakan makan siang? Lalu apa tanggapan pria tampan itu?


Meskipun Arga menunjukkan perhatian lebih padanya beberapa hari selama mereka di Malang, Hania tidak ingin  besar kepala. Tidak ingin salah paham. Mungkin saja pria karismatik itu terbawa suasana karena kedekatan mereka saat itu. 


"Kita ngga akan kemana-mana. Kita makan siang di rumah aja, berdua", putus Hania.


Wajah Tiara langsung lesu lagi. Meski tidak tega, Hania tidak akan mengubah keputusannya. Dia hanya menjaga dirinya agar tidak terlanjur menyukai pria tampan itu, pria yang tidak mungkin menyukainya. Dia tidak ingin hatinya terluka lagi. Mencintai pria yang tidak benar-benar mencintainya.


********


Thanks for reading!


 

__ADS_1


__ADS_2