
Tok tok tok!
Arga memang sedang menunggu seseorang. Pagi tiba dan setelah membersihkan dirinya Arga memanggil psikiater yang menangani Hania selama ini. Tapi baru sore hari psikiater itu bisa datang karena dirinya sedang berada di luar kota. Pria karismatik itu mempersilakan sang tamu masuk ke dalam kamarnya setelah menutupi tubuh Hania dengan selimut sebatas dadanya. Istrinya itu masih tertidur.
"Apa yang terjadi, Pak? Apa Bu Hania mengamuk, sampai luka-luka begini?" tanya psikiater itu sembari memeriksa keadaan Hania.
"Bukan. Tadinya istriku baik-baik saja hingga dia mendapat kekerasan fisik dari orang-orang yang mencoba menculiknya. Dia juga melihat sahabat kami meninggal dalam insiden itu. Dia panik dan ketakutan. Dia juga sempat histeris. Aku takut kalau nanti jadi seperti dulu." terang Arga panjang, sementara dokter wanita yang usianya lebih tua darinya itu membelalakkan matanya, bisa jadi dia terkejut.
Arga memang sengaja mengatakan kebenarannya pada psikiater itu agar Hania mendapatkan terapi yang tepat dan segera pulih. Meski mungkin nantinya akan membuat psikiater itu bertanya-tanya lebih jauh. Tapi sepertinya itu tidak terjadi. Psikiater itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya meski ekspresinya berubah-ubah demi mendengar penuturan Arga dan tetap bersikap profesional.
"Sssh! Ah!" Hania mulai menggeliatkan tubuhnya.
Rasanya nyeri di beberapa bagian membuatnya sedikit meringis dan mendesis.
"Honey. Udah bangun?" Arga sudah siaga menenangkan istrinya jika nantinya menunjukkan penolakan atas kehadiran orang lain di dalam kamarnya.
Hania yang semula menatap lekat psikiater yang tengah tersenyum padanya seraya memeriksa tensi darahnya, menolehkan kepalanya ke arah Arga yang duduk di sisi kirinya.
"Honey, aku sengaja memanggil dokter Astri. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." ucap Arga lembut, tangannya tak henti mengusap punggung Hania.
Hania menoleh lagi pada psikiater yang bernama Astri itu lalu tersenyum.
"Apa kabar, dokter Astri. Maaf, saya merepotkan anda lagi." sapanya sopan.
Sikap Hania yang seolah tak mengenali psikiaternya setelah dirinya terbangun dari tidurnya itu karena masih merasa linglung. Setelah serentetan kejadian yang menakutkan dirinya kemarin, sistem tubuhnya seolah memerintahkan untuk siaga.
Dokter Astri meninggalkan kediaman Arga dan Hania setelah memastikan keadaan Hania dan memberinya resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi Hania agar segera pulih.
Arga kembali ke dalam kamarnya. Pria tampan itu tidak mendapati Hania di ranjang besar mereka. Namun, suara gemericik air dari kamar mandi sudah menjadi jawaban.
Klek!
Hania keluar dari kamar mandi dengan rambut terbungkus handuk membuat leher jenjangnya terekspos sempurna ditambah tubuhnya yang dibalut jubah mandi yang panjangnya tak bisa menutupi paha mulusnya itu membuat Arga membelalakan matanya. Secara impulsif, pria tampan itu melangkah mendekat dan langsung menarik tubuh ramping sang istri merapat ke tubuhnya.
"Mau menggodaku ya?" bisik Arga dengan suara yang sudah terdengar parau.
"Apaan, sih, Mas? Aku 'kan baru selesai mandi." sanggah Hania menolah tudingan suaminya.
__ADS_1
"Ini? Ini? Maksudnya apa, hum?" ucap Arga lagi seraya mengusap tengkuk dan paha lalu sedikit meremas b*k*ng Hania.
"Mas...." Hania sudah mendesah saja ketika tiba-tiba Arga mengec*p dan menj*l*t telinganya.
"Aku akan pelan-pelan, honey. Janji." rayu Arga ketika Hania menahan tangan Arga yang akan membuka jubah mandinya.
Pria tampan itu sudah tidak dapat menahan diri lagi ketika bersama istrinya. Sudah sekian lama dirinya menahan hasratnya.
"Janji ya, pelan-pelan." ulang Hania, akhirnya bersedia melayani sang suami demi melihat mata Arga sudah dipenuhi kabut gairah, mengabaikan rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya.
"Janji." ucap Arga meyakinkan wanitanya.
Hania merasakan hawa panas dari deru napas Arga yang menghembus di telinganya. Tak dapat dipungkiri, sentuhan suaminya membuatnya terbuai dan hanyut dalam permainan sang suami. Rasa nyeri di tubuhnya mendadak sirna digantikan dengan rasa nyaman yang memabukkan.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Getaran ponsel di atas nakas mendengung bagai lebah di telinga Hania, memaksanya membuka matanya. Wanita cantik itu menoleh ke sampingnya di mana Arga berbaring tapi tidak menemukan pria tampan itu di sana.
Hania kembali memejamkan matanya yang terasa masih berat ketika benda pipih itu tidak menggeram lagi. Tubuhnya terasa penat dan nyeri sekaligus. Semalam Arga memang menepati janjinya kala menyentuhnya. Tapi menjelang dini hari pria karismatik itu melakukan aksinya lagi dan memang tidak menjanjikan apapun kecuali rasa yang memuaskan. Tapi selaras dengan itu, pria itu benar-benar tidak memberinya ampun. Seketika wajah Hania memanas dan merona, mengingat keperkasaan sang suami.
Klek!
"Udah bangun?" tanya Arga seraya menghampiri Hania.
Pria bertubuh atletis itu mengusap pipi Hania dengan telunjuknya. Lalu duduk di tepi ranjang di sisi kirinya.
"Masih capek?" tanyanya lagi yang diangguki Hania.
"Istirahat aja, aku ngga ke kantor hari ini." Arga mengecup kening Hania lalu beranjak menuju ruang ganti yang ada di dalam kamar itu.
Hania langsung bangkit dari rebahannya, menyusul sang suami.
"Kenapa ngga tidur lagi?" Arga menjeda aktifitasnya mencari baju di lemari pakaian dan menatap Hania yang mendekat.
"Badanku rasanya ngilu semua kalau rebahan terus." sahut Hania seraya membantu Arga memilihkan baju untuknya.
Arga memeluk Hania dari belakang. Menghirup aroma wangi bunga yang menguar dari rambut wanita cantik itu.
__ADS_1
"Mau kupijat?" ucap Arga sambil terus mengendus rambut Hania.
Hania langsung melirik suaminya tajam. Sebagai peringatan untuk tidak berpikiran nakal padanya. Melihat reaksi sang istri, kontan Arga terbahak.
"Apa yang kamu pikirin, honey? Aku 'kan mau mijitin kamu. Supaya kamu rileks." ucap Arga menepis kecurigaan Hania seraya memeluk pinggang rampingnya.
"Ngga usah modus deh, Mas. Awalnya iya mijit aja, tapi ujung-ujungnya pasti kesana juga." sungut Hania seraya menyerahkan sebuah kaos berlengan panjang berwarna putih.
Tawa Arga pecah lagi demi mendengar tudingan Hania yang diakuinya ada benarnya juga. Dirinya pasti tidak akan tahan dengan kemolekan tubuh sang istri. Dia pria normal.
"Udah ah, aku mau mandi. Rasanya lengket semua." Hania meninggalkan Arga yang masih tertawa dengan perasaan gemas.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Getaran ponsel di dalam kamarnya mengalihkan perhatiannya. Masih sambil terkekeh Arga membuka kunci layar benda pipih itu. Seketika kekehannya menghilang.
"Pak, Pak Aris mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat." itulah pesan yang dikirim asistennya.
Mata Arga fokus pada layar ponselnya. Pria tampan itu menghela napas dalam-dalam. Pesan yang dikirim asistennya mengingatkannya pada kejadian kemarin.
Dengungan letusan senjata api kembali terngiang di benaknya. Saat itu, Arga benar-benar terkejut. Begitu pula dengan beberapa orang yang berada di sana. Dia sempat sejenak menghentikan aksinya dan melihat sekitar, memastikan Hania baik-baik saja. Tapi tatapannya mendapati Raka tergeletak dengan dara segar mengucur dari punggungnya.
Seketika amarahnya memuncak dan dapat mengalahkan lawannya dengan cepat bahkan beberapa orang sekaligus. Melihat Raka tumbang sepertinya memberi tenaga tambahan untuknya.
Dia ingat, bagaimana wajah mantan sahabatnya itu dipenuhi penyesalan ketika mengucap maaf padanya. Arga menyugar rambutnya lalu mendesah.
Dengan perasaan marah dan benci, Arga memerintahkan Reza untuk membawa sang paman ke hadapannya supaya dirinya bisa membalaskan segala sakit yang telah diciptakan pria paruh baya itu.
Oom Aris lah yang menghasut Raka dan membuatnya melawan Arga. Pria tua itu juga berencana menghancurkannya tanpa memandangnya sebagai keluarga. Melibatkan istrinya dalam perselisihan mereka. Dan membunuh Raka.
Meski Raka pernah menorehkan luka yang dalam di hatinya, Arga tetap menyayangi pria yang sudah lama dikenalnya itu. Apalagi, meski acuh dan terlihat masa bodoh, Raka telah membantunya menemukan Hania dan berkorban untuk sang istri.
Tapi sepertinya keinginannya itu tidak akan terpenuhi. Reza yang diperintahkannya membawa Oom Aris malah memberinya kabar yang tidak diharapkannya. Pria paruh baya itu mati mengenaskan.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘