Yang Terakhir

Yang Terakhir
148. Mual Pagi Hari


__ADS_3

Hania menghembuskan napas berat seraya melirik tajam pria tampan itu yang hanya di balas dengan kerlingan mata dan senyum semanis madu. Lalu dari gerak bibirnya, Hania dapat membaca jika Arga mengucapkan kata 'i miss you'.


"Kalian masih di sini?" suara serak khas bangun tidur yang terdengar lemah membuat Hania dan Arga menoleh ke arah ranjang pasien. Ibunya Arga sudah terbangun dan tengah menatap anak dan menantunya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Memangnya Ibu ngga suka kita di sini?" Arga bukannya menjawab pertanyaan ibunya tapi malah balas bertanya.


"Ck! Bagusnya kalian pulang daripada di sini bikin senep (sebah) yang liat." usir sang Ibu.


Hania dan Arga saling bertukar pandang mendengar perkataan sang Ibu, seolah saling bertanya, apanya yang bikin sebah, sih?


"Kalau mau mesra-mesraan kayak tadi, di kamar aja sana! Kasian Bi Sumi." sindir sang Ibu.


Eh? Bi Sumi yang disebut namanya hanya bisa nyengir seraya mengusap rambutnya yang digelung. Semakin salah tingkah karena sekarang menjadi pusat perhatian ketiga majikannya.


Ibu Anna menjadi kesal. Baru terbangun dari tidurnya setelah meminum obatnya tadi siang, dirinya mendapat pemandangan mesum dimana Arga menc**m Hania dan sedikit mel***t bibir istrinya itu. Tidak hanya dirinya, tak jauh dari sana, Bi Sumi juga tampak malu-malu setelah tanpa sengaja melihat aksi pengantin baru itu.


"Harusnya kalian di rumah aja. Jadi kalau sewaktu-waktu pengen bisa langsung ke kamar." kini giliran Hania dan Arga yang salah tingkah dengan sindiran sang Ibu.


"Ehem." Arga berdehem menanggapi perkataan ibunya sekaligus menetralkan kekikukannya. Sementara Hania, wanita itu menundukkan wajahnya seraya menyelipkan rambut ke telinganya.


Tok tok tok!


Ketukan di pintu di sambut helaan napas oleh Hania. Wanita cantik itu merasa sedikit lega. Sindiran ibu mertuanya benar-benar membuatnya malu. Itu semua karena ulah Arga yang bertindak semaunya. Dia jadi teringat bagaimana perkasanya suaminya semalam, yang seolah tidak punya rasa lelah. Paginya pun pria tampan itu bangun terlebih dahulu dan tampak lebih segar dan bersemangat. Seperti baru mendapatkan energi tambahan.


"Kalian masih di sini?" tanya dokter Dana yang baru memasuki ruang rawat Ibu Anna.


"Ck! Kenapa semua nanyanya gitu, sih? Memangnya kenapa kalau kita masih di sini?" kesal Arga.


Mendengar keluhan Arga, dokter Dana terkekeh. Entah kenapa melihat Arga dan istrinya masih berada di ruang rawat Ibunya, membuatnya spontan bertanya. Dokter berwajah kalem itu mengira Arga sudah kembali ke kediamannya karena hari sudah berganti malam. Mungkin karena Arga dan Hania adalah pengantin baru, pasti sedang panas-panasnya. Bagaimana dirinya tidak berpikir begitu? Pagi tadi saja, sewaktu dirinya singgah ke rumah adik angkatnya itu, pria tampan itu belum juga keluar kamar, padahal matahari sudah tinggi. Jadi, maksud kedatangannya pun tertunda dan hanya menitipkan pesan pada Bi Lastri.


"Kamu ngga pulang Dan?" tanya Ibu Anna lirih.


Dana menoleh pada sang Ibu dan berjalan mendekati ranjang pasien. Diraihnya tangan wanita paruh baya itu lalu diciumnya punggung tangannya dengan takzim.


"Aku 'nginep di sini, Bu. Besok aku libur." sahut Dana seraya tersenyum.


"Kalian ngga usah ke sini kalau kalian mau. Besok aku yang jagain Ibu." perintah Dana.


"Iya, kalian di rumah aja. Bila perlu bulan madu sana! Biar cepet kasih ibu cucu." untuk ukuran pasien yang baru bangun dari koma, Ibu Anna ini nemiliki tenaga lebih untuk mengomeli putranya.


Tanpa disadarinya, ucapan sang Ibu juga menyinggung Dana. Dokter karismatik itu hanya bisa menundukkan wajahnya. Dia ingat, Ibu angkatnya itu sering memintanya untuk menikah lagi supaya bisa memberinya cucu. Wanita paruh baya itu selalu mengeluh ingin memiliki cucu, banyak cucu. Dan salah satu harapannya itu bisa dilimpahkan padanya.


"Putraku ada 2. Dan sehat semua. Harusnya aku bisa punya beberapa cucu 'kan?" begitulah ucapan sang Ibu waktu itu yang kini terngiang di telinganya.


"Kalian bisa titipin cucu-cucuku di rumahku. Biar rame. Atau aku gantian nginep di rumah kalian. Supaya aku ngga kesepian." Dana juga teringat kata-kata ibunya yang ini.

__ADS_1


Malam sudah merangkak makin larut, ketika mobil mewah Arga memasuki halaman rumahnya yang minimalis tapi besar itu. Lampu ruang tamu sudah padam. Itu artinya Bi Sumi dan Bi Lastri sudah berada di kamarnya.


"Ngga usah pencet bel, Mas. Aku bawa kuncinya kok." cegah Hania ketika Arga akan menekan bel pintu untuk memberitahukan Bi Sumi dan Bi Lastri akan kedatangannya.


Arga menoleh pada Hania. Senyumnya seketika mengembang. Dasar wanita. Mahkluk lembut yang selalu memikirkan hal-hal kecil semacam ini. Membawa kunci duplikat rumahnya kemana-mana? Hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya.


"Love you." bisik Arga seraya memeluk Hania dari belakang.


Entahlah. Mendadak dirinya ingin bermanja-manja pada istrinya. Wanita berhati lembut yang sejak awal membuat hatinya terasa hangat dan sejuk sekaligus karena sikapnya yang penyayang dan perhatian itu.


"I know." ucap Hania tersenyum dan tangannya terulur membelai rambut suaminya.


"Miss you." bisik Arga lagi dengan hembusan napapsnya yang terasa panas di telinga Hania lalu mengecup pipi kanannya, sementara wanita cantik itu hanya terkekeh.


Hania tahu jika suaminya itu sedang menginginkannya. Sejak menikahinya, Arga tidak sungkan-sungkan bersikap mesum padanya setiap saat. Jika dulu pria itu selalu dapat mengendalikan dirinya, dan setelah menghalali dirinya, sepertinya suaminya itu tidak akan membiarkan istrinya menganggur.


Hania sedang menyisir rambutnya setelah memakai krim malamnya ketika Arga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Pria itu pasti sengaja begitu. Membuat Hania membayangkan sesuatu yang perkasa yang terbungkus di dalamnya.


"Mas? Kenapa ngga pake baju, sih? Ntar kedinginan lho." tegur Hania dengan wajah yang merona.


"Aku justru kepanasan sekarang, honey. Butuh didinginkan." ucap Arga seraya menarik Hania bangkit dari duduknya hingga menempel sempurna di tubuhnya.


Malam kedua bagi pengantin baru itu sudah dipastikan panas. Hania tidak berharap bisa tidur dengan nyenyak. Seperti kemarin, dirinya akan bangun kesiangan dengan semakin banyak tanda cinta di tubuhnya dari sang suami.


Hoek! Hoek!


Hania memuntahkan segala isi perutnya hingga tak ada lagi yang bisa dikeluarkan kecuali air yang lama-lama juga tak ada lagi. Hingga dirasanya mulutnya terasa pahit. Kepalanya pun serasa berputar-putar membuatnya memejamkan mata. Keringat dingin bercucuran. Dan tubuhnya gemetar.


Hoek! Hoek!


Arga yang terlelap dalam tidurnya setelah memuaskan dirinya dan istrinya beberapa kali semalam pun akhirnya terganggu. Suara Hania yang sedang memuntahkan isi perutnya membuatnya membuka mata lebar-lebar.


Hoek!


Dengan perasaan cemas pria perkasa itu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi dengn langkah lebarnya. Tanpa sehelai benang. Tubuhnya juga polos seperti Hania.


Perlahan dibukanya pintu kamar mandi yang tidak tertutup sempurna. Dilihatnya Hania sedang menunduk di depan closet sambil berpegangan pada dinding kamar mandi. Satu tangannya memegang perutnya. Istrinya itu seperti sedang kesakitan.


"Honey?" Arga mengelus punggung Hania lalu memijat tengkuk istrinya dengan perlahan.


"Kamu sakit?" tanyanya tak yakin.


Hania hanya menggelengkan kepalanya. Dirinya tak mampu menjawab secara lisan karena rasa mualnya. Pun tak yakin dengan kondisi tubuhnya. Seingatnya, sebelumnya dirinya baik-baik saja. Setelah bermesraan dengan Arga pun dirinya tidak merasakan tubuhnya bermasalah. Baru pagi-pagi ini, dirinya merasakan mual yang berlebihan.


"Masih mual?" pertanyaan Arga membuat Hania kembali menggeleng.

__ADS_1


Arga menuntun Hania perlahan kembali ke kamar. Tubuh istrinya itu terlihat lemah. Wajahnya kembali memucat dan tampak lesu.


"Kamu istirahat dulu, aku buatkan yang hangat-hangat." perintah Arga.


"Ngga usah, Mas. Biar aku buat sendiri. Aku udah ngga mual kok." cegah Hania seraya menahan Arga yang hendak bangkit.


Meski masih merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pusing, Hania mencoba untuk berdiri. Namun, begitu dirinya bangkit, kepalanya terasa berputar. Wanita cantik itu terasa melayang. Hampir saja ambruk ke lantai andai saja Arga tidak sigap menahan tubuhnya.


"Jangan keras kepala, honey. Kali ini biar aku yang buat." ucap Arga dengan lembut.


"Mas. Maaf ya." ucap Hania dengan wajah memelas ketika Arga hendak beranjak dari duduknya.


"Untuk?" tanya Arga.


"Lag-lagi aku ngerepotin Mas." sahut Hania lirih.


Sungguh wanita cantik itu merasa tak enak hati pada suaminya. Ini adalah hari keduanya menyandang status istri 'lagi', tapi malah tidak bisa melayani suaminya. Harusnya dirinya lah yang menyiapkan segala keperluan sang suami. Tapi nyatanya sama saja seperti kemarin.


"Ngga usah dipikirin, honey. Bikinin kamu makanan dan minuman hangat bukan hal yang sulit. Bahkan aku akan berusaha terus buat nyenengin kamu." ucap Arga.


Kini Hania kembali terbaring di ranjang dengan selimut menutupi tubuh polosnya dan mulai memejamkan matanya. Setelah rasa mualnya berkurang, rasa kantuknya kembali lagi. Semalam, Arga benar-benar mengganggu tidurnya dan membuatnya mend*s** tak berdaya.


Arga kembali ke kamarnya dengan nampan berisi sop daging dan teh chamomile kesukaan Hania. Hari masih terlalu pagi untuk istrinya memakan makanan berat. Arga hafal betul kebiasaan wanita cantik itu yang tidak pernah sarapan dengan makanan berat.


Ceklek!


Perlahan dibukanya pintu yang tertutup sempurna itu dengan satu tangan. Tampak kerepotan karena Arga harus menyeimbangkan nampan yang berada di tangan satunya agar tidak miring dan akhirnya akan jatuh berantakan. Pria itu akan menjaga sebaik mungkin hasil karyanya. Ya. Arga memasak sendiri makanan hangat itu. Meski Bi Sumi sudah menawarkan bantuan tapi pria karismatik itu kukuh ingin membuat sendiri hidangan istimewa untuk istrinya.


Arga menghela napas ketika menjumpai Hania tengah terlelap. Namun ketika Arga akan beranjak dari tepi ranjang, Hania malah terbangun dan sibuk menutup hidung dengan selimut.


"Mas masak apa, sih? Baunya bikin aku mual lagi. Hoek!" Hania segera menutup mulutnya dengan tangannya dan berlari ke kamar mandi.


"Honey, hati-hati." peringat Arga.


Meski bingung karena disalahkan Hania tapi pria itu tetap mencemaskan Hania. Arga menyusul istrinya itu ke kamar mandi setelah meletakkan nampan berisi sop daging dan teh chamomile tadi di atas meja. Arga membantu Hania dengan memegangi rambutnya dan memijat tengkuknya. Sekian lama menunduk di depan closet, Hania tidak memuntahkan apa-apa. Hingga perutnya terasa sakit dan mulutnya terasa pahit lagi.


Hania berjalan ke luar kamar mandi dengan dituntun oleh Arga. Terasa sekali tubuhnya semakin lemah.


"Mas. Bawa keluar aja itu makanannya. Bikin mual." rengek Hania dengan suara yang lemah.


*******


Thanks for reading!


Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2