
Mengikuti instingnya, Arga memerintahkan Reza untuk mencari tahu pengirim buket bunga lili yang ditujukan untuk Hania setiap hari. Dan benar saja. Ada sesuatu yang tidak beres di balik buket bunga itu. Ada Raka yang masih mengincar istrinya.
"Dia masih di sini? Dia keliaran di sekitarku dan kalian ngga bisa nemuin bajingan itu!? Apa aja kerja kalian, hah!?" Arga mulai emosi tapi menekan nada suaranya serendah mungkin agar tidak membangunkan Hania.
"Maaf, Pak. Anak-anak sudah mencari ke setiap sudut ibukota. Bandara, terminal, bahkan pelabuhan sudah dipantau. Tapi seperti yang kita tahu, Pak Raka benar-benar pandai bersembunyi. Dia bisa berada dimana saja." terang Reza.
Hania tampaknya sudah mulai terusik. Wanita cantik itu menggeliatkan tubuhnya dan merubah posisinya membelakangi Arga. Kesempatan itu digunakannya untuk menarik lengannya dan bangkit dari tidurnya. Dengan satu tangan memegang ponsel, Arga mengenakan kimono tidurnya untuk membalut tubuh polosnya dengan satu tangannya lagi, sambil mendengar keterangan Reza. Lalu perlahan meninggalkan kamar besarnya menuju ruang kerjanya yang terletak di seberang kamarnya.
"Gimana perusahaannya? Apa ada yang mau menjalin kerjasama dengannya?" selidik Arga.
"Nilai sahamnya terjun bebas. Perusahaan itu sangat butuh bantuan finansial. Jika dalam waktu 3 bulan ke depan Pak Raka tidak mendapat investor, dapat dipastikan perusahaan itu pailit. Sejauh ini, beberapa pengusaha yang didatanginya menolak proposalnya " sahut Reza.
"Usahakan perusahaan itu jatuh secepatnya!" geram Arga lalu mematikan sambungan ponselnya.
Arga mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Tangannya masih menggenggam benda pipih berharga puluhan juta itu. Cahaya temaram dari lampu di halaman rumahnya sedikit membantu penerangan di dalam ruang kerja yang memang tidak dinyalakan lampunya. Disandarkannya tubuh atletisnya pada sandaran kursi. Tatapannya menerawang menyapu plafon ruangan yang bercat putih itu.
Ingatannya melayang pada keakraban yang terjalin antara dirinya dan Raka yang sudah berlangsung lama. Bagaimana persahabatan mereka bermula, bagaimana mereka melewati masa-masa remaja labil dalam mencari jati diri, saling menghibur dan mengisi, bagaimana mereka saling meluangkan waktu satu sama lain, bagaimana dekatnya hubungan keluarga mereka setelah mereka bersahabat. Orangtuamu adalah orangtua kita. Sedekat itu mereka saling menganggap kekeluargaan di antara mereka. Ya. Baginya Raka adalah saudaranya.
Arga mendesah. Hatinya berdenyut nyeri mengingat orang yang selama ini dianggapnya saudara dengan teganya menusuknya dari belakang. Dadanya mendadak terasa sesak. Matanya mengembun. Arga menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar seolah ingin melepaskan beban berat yang serasa menghimpit dadanya. Pria itu membiarkan airmatanya lolos begitu saja. Dia mengisak dalam gelapnya malam. Sendiri.
Sementara itu, Hania yang baru terbangun dari tidurnya menyadari jika hari sudah berganti malam dan Arga tidak ada di sampingnya. Sambil memegang selimut yang dililitkan di tubuh polosnya, Hania berjalan menuju jendela lalu menutupnya berikut gordennya. Wanita bertubuh ramping itu menuju kamar mandi lalu membukanya. Kosong. Kemana suaminya?
Setelah membersihkan dirinya dan memakai piyamanya, Hania melanjutkan mencari keberadaan Arga.
"Mba Hania mau makan? Biar bibi siapkan, ya?" sapa Bi Sumi yang melihat kehadiran Hania di dapur.
"Boleh, Bi. Bibi liat Mas Arga ngga?" tanya Hania menyebabkan Bi Sumi mengernyitkan kening.
"Bangun tidur tadi, Mas Arga udah ngga ada di kamarnya. Mungkin bibi liat Mas Arga keluar?" terang Hania.
"Ooh... Bibi kira ada apa, Mba. Hla wong dari datang tadi sore Mas Arganya sudah sama Mba Hania. Tapi saya juga belum liat Mas Arga turun itu Mba." sahut Bi Sumi.
"Apa mungkin di ruang kerjanya?" duga Bi Sumi.
"Ah iya. Mungkin di ruang kerjanya. Saya juga belum cek ke sana tadi. Ya udah Bi, saya susul Mas Arga dulu, ya." ucap Hania lalu meninggalkan Bi Sumi yang menata hidangan dan peralatan makan di meja makan.
Klek!
Perlahan Hania memutar gagang pintu ruang kerja Arga dan terbuka. Itu artinya suaminya sedang berada di sana. Ah. Kenapa dirinya tidak terpikirkan ruangan ini?
Hania masuk ke dalam ruangan itu seraya melebarkan matanya. Ruangan itu hanya diterangi lampu halaman yang masuk melalui celah gorden yang sedikit tersingkap.
"Mas?" sapa Hania ketika dalam keremangan melihat Arga menelungkupkan kepalanya di meja bertumpu pada lengannya.
"Honey? Kamu ke sini?" Arga mendongakkan kepalanya dan segera mengusap sisa airmata yang mulai mengering lalu bertanya dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Aku udah nyari Mas kemana-mana." sahutnya seraya berjalan mendekat.
Arga langsung menarik tangan Hania hingga wanita cantik yang sangat dicintainya itu jatuh ke pangkuannya. Lalu dengan lembut mel***t bibir kenyal berwarna merah muda kesukaannya itu.
"Udah wangi." ucap Arga seraya mengendus leher jenjang istrinya.
"Kenapa lampunya ngga dinyalain sih?" tanya Hania.
Wanita cantik itu sudah akan berdiri, mungkin akan menyalakan lampunya. Tapi Arga segera melingkarkan lengannya ke pinggang rampingnya Hania, menahannya tetap berada di pangkuannya. Pria karismatik itu tidak ingin Hania melihatnya habis menangis.
"Tetap di sini, honey." bisiknya.
"Tapi gelap, Mas." protes Hania.
"Biarin aja." sahut Arga seraya mengeratkan pelukannya.
"Tapi...." ucapan Hania terhenti.
"Lampunya rusak. Besok biar diganti Mang Diman." potong Arga.
Hania hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, yang tidak begitu jelas dilihat Arga.
"Kalau gitu Mas mandi dulu sana. Bau acem!" gurau Hania seraya mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
"Ohya? Bagian mananya yang bau asem? Sini? Atau sini?" ucap Arga seraya mendekatkan ketiaknya ke arah Hania.
"Aku tanya, honey. Yang mana yang bau asem?" Arga terus menggoda Hania.
"Kamu ngga mau jawab? Kamu ngga tau atau memang karena aku ngga bau asem?" tanya Arga lagi seraya mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
"Akh! Mas! Geli!" Hania menjerit ketika Arga menggelitikinya.
"Jadi?" Arga menaikkan sebelah alisnya, sementara Hania menggelengkan kepalanya.
"Jawaban apa itu, honey? Apa itu artinya aku ngga bau asem? Hum?" tekan Arga dengan suara seraknya, membuat Hania menganggukkan kepalanya.
Anggap saja anggukan Hania adalah jawabannya. Arga hanya terkekeh melihat tingkah sang istri.
"Tolong siapkan bajuku. Aku udah lapar." putus Arga setelah puas menggoda istrinya.
"Siap, suamiku yang ganteng." ucap Hania dengan gaya centilnya.
Senyum Arga mengembang. Istrinya selalu menggodanya dengan sikap genitnya yang baru diketahuinya setelah menghalali wanita itu. Rasa sedih yang tadi sempat menderanya seakan lenyap dengan kehadiran Hania. Gurauan garing tak berbobot yang dilontarkan istrinya itu cukup menghiburnya, membuatnya melupakan penghianatan mantan sahabatnya untuk sesaat.
Tok tok tok!
__ADS_1
Klek!
Hania membuka pintu ruangan Arga perlahan lalu masuk tanpa bersuara. Wanita itu menyunggingkan senyumnya ketika melihat Arga seperti tidak menyadari kehadirannya di sana.
"Sibuk banget kayaknya suami aku." sapa Hania yang masih berdiri di depan pintu yang sudah tertutup kembali seraya bersedekap.
"Honey? Kamu kesini? Ngga ngabarin dulu?" sambut Arga seraya berdiri dan berjalan mendekati sang istri.
"Wangi parfummu beda. Kamu ganti?" ucap Arga setelah mengecup kening dan bibir Hania.
"Ngga. Cuma nyobain oleh-oleh ibu." sahut Hania yang masih dalam dekapan Arga.
"Ibu ke rumah?" tanya Arga lagi.
"Cuma mampir sebentar tadi, terus pergi sama temen-temen arisannya. Ohya, aku masakin Mas makanan kesukaan Mas. Mas belum makan 'kan?" Hania menunjuk paper bag yang diletakkannya di meja tamu.
"Tau aja aku lagi pengen makan masakanmu?" puji Arga membuat Hania memutar bola matanya.
Jelas saja Hania tahu Arga sedang menggombalinya. Setiap hari juga dirinya yang menyiapkan makanan untuk suaminya itu. Hanya absen 1 hari karena suasana hatinya yang sedang sendu karena merindukan mendiang Tiara, putrinya.
Sepulang dari perusahaan Arga, Hania singgah ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa keperluan termasuk keperluan dapur.
Baru saja memasuki lobi, tubuhnya mendadak menegang dan gemetaran. Mata kelincinya yang berwarna coklat muda itu tiba-tiba bersiborok dengan pria tampan yang sangat dibencinya dan ingin dihindarinya seumur hidupnya. Raka. Matanya langsung berkaca-kaca. Kakinya terasa berat hingga rasanya tidak sanggup dilangkahkan.
Hania terpaku di tempatnya. Apalagi ketika pria yang memiliki postur tubuh yang sama seperti suaminya itu semakin mendekat ke arahnya. Bayangan beberapa bulan yang lalu kembali berputar di benaknya. Ingin rasanya menjerit tapi lidahnya kelu. Hingga akhirnya hanya airmatanya yang mengalir di pipi mulusnya.
"Hania?" Hania menggelengkan kepalanya ketika Raka menyapanya, mengisyaratkan agar tidak mendekat padanya.
Tubuh Hania semakin bergetar tatkala Raka menyentuh lengannya. Dalam hatinya sudah menyumpahi pria di hadapannya itu. Sungguh Hania benci pria itu.
"Kamu takut padaku? Jangan takut. Aku ngga akan nyakitin kamu. Aku janji. Aku cuma mau bicara aja sama kamu. Bisa?" ucap Raka menenangkan Hania dengan suara lembut.
Sebenarnya Raka adalah tipe pria penyayang dan perhatian. Sama seperti Arga. Hanya saja karena cintanya yang terlalu dalam pada gadisnya dulu membuatnya salah paham yang kemudian membutakan hatinya.
"Ja-jangan dekati aku!" suara Hania bergetar.
Hania tidak percaya. Rasa traumanya membuat Hania ketakutan dan merasakan benci sekaligus. Bagaimana bisa, dia yang sudah menyebabkan putrinya meninggal dan menodainya, tidak akan menyakitinya? Susah payah Hania mengeluarkan suaranya. Meminta Raka untuk menjauhinya. Namun sepertinya pria itu tidak bergeming. Malah kini pria itu menarik tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Memeluk tubuh ramping Hania.
"Maaf." lirih Raka.
Hania yang terkejut dengan tindakan Raka semakin ketakutan dan akhirnya tak kuasa lagi menahan kesadarannya. Wanita cantik itu pingsan dalam dekapan Raka.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘