
2 minggu berselang, Arga mewujudkan niatnya mengadakan syukuran setelah sang ibu kembali dari luar kota. Tentu saja niatnya itu disambit baik oleh sang Ibu. Tak main-main, pria karismatik itu sampai menyewa jasa event organizer. Dan yang mengejutkan Hania adalah event organizer itu milik Ferdi, pria menawan yang dicemburui Arga dan tak pernah akur sebelumnya. Meski banyak pertanyaan di benaknya tentang kedua pria yang sama-sama mencintainya itu, Hania tetap merasa lega dan senang Ferdi akhirnya berhenti mengejarnya dan berteman dengan Arga.
Setelah acara syukuran selesai, Arga bukannya membawa Hania kembali ke rumah. Pria tampan itu malah membelokkan mobilnya ke sebuah hotel berbintang 5. Akan ada syukuran yang lainnya. Begitu kata Arga. Namun, Hania mulai merasakan suami tampannya itu menyembunyikan sesuatu darinya. Dari memasuki hall hotel tersebut sudah tampak dekorasi bunga-bunga khas acara pernikahan.
"Syukuran macam apa yang dekorasinya mirip dekorasi gedung pernikahan?" gumam Hania namun masih bisa didengar Arga.
"Bukan syukuran biasa." sahut Arga seraya tersenyum dan mengerlingkan matanya.
Sebenarnya masih banyak lagi keganjilan yang ingin ditanyakan Hania pada suaminya. Namun, Arga selalu menjawab dengan deheman atau malah mengalihkan topik pembicaraan. Dan kini pria tampan itu malah menariknya memasuki sebuah kamar suit di hotel itu.
"Apa kita akan menghadiri pesta pernikahan?" Hania tidak tahan untuk tidak bertanya karena Arga juga memintanya mengganti gaun muslim yang dikenakannya dengan sebuah gaun pesta yang tampak mewah dan elegan.
"Nanti kamu juga akan tahu, honey." sahut Arga seraya melangkah memasuki ruang ganti.
"Aku pakai ini? Aku juga keliatan berlebihan. Bisa-bisa pengantinnya kalah cetar dong." seloroh Hania lalu wanita cantik itu terkekeh sendiri sementara para gadis muda yang bertugas meriasnya hanya tersenyum.
"Mas. Apa ini ngga berlebihan? Ini terlalu mencolok untuk ukuran tamu undangan." protes Hania ketika melihat Arga sudah berdiri di belakangnya dengan setelan mahal yang membuatnya makin mempesona.
Arga tak menghiraukan perkataan Hania. Pria yang kini tampil menawan itu malah terpaku menatap Hania yang kini berdiri tak jauh darinya. Pria tampan itu sungguh terpesona dengan penampilan istrinya. Hania memang tidak pernah berlebihan dalam merias wajahnya. Baru kali ini Arga melihatnya seperti itu.
Dan dirinya sangat bersyukur untuk itu. Istrinya itu pandai menjaga dirinya. Dengan tidak berlwihan dalam merias wajahnya. Bisa dibayangkan seberapa menariknya Hania di mata kaum adam lainnya jika wanita cantik bermata kelinci itu berdandan seperti itu setiap hari?
"Cantik." Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Arga, itupun spontan memuji istrinya.
Mendapat pujian begitu, Hania malah memutar bola matanya seolah mencibir jawaban Arga.
"Apa saya sudah rapi?" tanya Arga pada perias di ruangan itu, berbasa basi mengalihkan topik obrolan.
"Ayo, honey. Kita bisa terlambat nanti." ajaknya setelah mendapat anggukan dari para perias itu.
Tangan Arga sudah terulur menunggu tangan Hania menyambut. Meski dalam hatinya mencibir, Hania tetap menerima uluran tangan sang suami dan berdampingan meninggalkan kamar hotel yang sudah dipesan Arga sebelumnya. Sepeninggal kedua sejoli itu, para perias beralih menghias kamar suit itu layaknya kamar pengantin.
Sementara itu Hania semakin keheranan. Sepanjang koridor hotel menuju roof top, dekorasi dengan bunga lily dan warna-warna kesukaannya, bertebaran. Wanita cantik itu semakin terkejut ketika keluar dari lift, sebuah foto dirinya dan Arga yang sedang berpelukan mesra terpampang dengan bingkai setinggi dirinya, menyambut setiap tamu yang baru keluar dari pintu lift.
"Mas. Ini?" mata kelinci Hania sudah berkaca-kaca.
"Kejutan." lirih Arga seraya menatap manik mata berwarna coklat terang itu.
"Ini hadiahku untukmu, honey. Pesta pernikahan kita. Maaf. Ini sedikit terlambat. Tapi aku sudah berusaha maksimal. Semoga ini bisa buat kamu bahagia." ucap Arga seraya menggenggam tangan Hania lalu mengecupnya.
__ADS_1
Tepukan tangan meriah pun mulai terdengar. Lalu lambat laun menghilang seiring terdengarnya gesekan biola yang merdu menyambut kedatangan kedua mempelai. Sekuat tenaga Hania menahan air matanya agar tidak tumpah supaya riasan wajahnya tak rusak, nyatanya air mata itu bagai banjir bah yang tak terbendung.
"Mas. Make up ku gimana? Rusak dong, ya?" Arga malah terbahak mendengar pertanyaan Hania.
Bukannya menjawab, Arga malah mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kameranya pada Hania. Cekrek!
"Mas. Apaan sih?" tegur Hania yang kesal melihat Arga malah memotret dirinya dengan ponselnya.
Tak ingin sang istri keterusan marah, Arga pun membalik layar ponselnya menghadap Hania. Membuat wanita cantik itu merasa lega karena riasannya masih aman. Dasarnya make up kualitas brand ternama, meski hujan badai sekalipun tidak akan luntur, apalagi hanya linangan air mata.
"Masih cantik. Dan selalu cantik. Dengan atau tanpa riasan itu. I love you." puji Arga.
Konsep pesta pernikahan outdoor yang selama ini menjadi impian Hania sepertinya terwujud melalui Arga. Pria itu diam-diam sudah menyiapkannya untuk dirinya. Bahkan suaminya itu menggandeng Ferdi yang memiliki perusahaan event organizer yang tengah naik daun dan bekerjasama mewujudkan pesta pernikahan itu.
Seminggu sebelum pesta pernikahan kejutan untuk Hania, Arga sengaja menemui Ferdi. Pria tampan itu sudah mulai bisa akur dengan pria menawan yang dulu pernah menjadi rivalnya itu. Ya. Sejak Ferdi membantunya mencari Hania.
Ferdi juga mulai menyadari jika Hania memang bukan untuknya. Selain itu, sikap istrinya yang tidak lagi mengekangnya, membuatnya menyadari bahwa dirinya membutuhkan istrinya dan sudah mulai menyayanginya. Buktinya ketika sang istri merelakannya dan memilih tinggal terpisah di apartemen, dirinya merasa kehilangan.
Singkatnya, Arga mengungkapkan keinginannya untuk merayakan pernikahannya dengan Hania. Selain syukuran tentu saja. Dengan sentuhan keahlian Ferdi, jadilah pesta kejutan itu.
Arga memuntun Hania ke sebuah titik semacam pelaminan karena letaknya tak lebih tinggi dari lantai roof top itu agar memudahkan para tamu memberinya selamat. Tamu yang diundang pun adalah orang-orang terdekat mereka. Satu persatu orang yang dianggap dekat dengan mereka memberikan ucapan dan juga doa baik untuk Hania dan Arga. Termasuk Galih. Sahabatnya yang selalu dianggap sebagai ancaman oleh Arga.
"Mas juga ngundang Galih?" tanya Hania seraya menatap Arga.
"Ngga ada maksud buat pamer 'kan?" tanya Hania masih tak percaya dengan niatan sang suami.
"Ya ampun, honey. Ya jelas ngga dong. Buat apa coba?" tegas Arga.
"Ya barangkali." lirih Hania lalu mengalihkan tatapannya ke arah Galih seraya melemparkan senyumnya untuk pria berwajah manis itu.
"Aku ngundang dia karena dia sahabatmu, honey. Juga sebagai rasa makasihku karena selama ini dia jagain jodohku dengan baik." terang Arga dengan suara yang lebih lembut dari sebelumnya.
"Mas...." Hania terharu mendengar ucapan Arga yang menyentuh hatinya, membuat matanya berkaca-kaca.
"Simpan ucapan makasihmu buat nanti malam, honey." bisik Arga di telinga Hania seolah tahu apa yang akan diucapkan Hania, lalu pria itu mengerlingkan matanya dan tersenyum nakal, membuat Hania jengah.
Dengan senyum manis yang menghipnotis para tamu undangan wanita, Galih yang nampak sangat maskulin, melangkah tenang menghampiri kedua mempelai yang tengah menatapnya dari pelaminan.
"Hania?" sapa Galih.
__ADS_1
"Selamat, ya. Doaku selalu mengharapkan yang terbaik buatmu." ucap Galih dengan suara yang bergetar.
Sebagai seorang pria yang pernah mencintai Hania dengan segenap rasa, Galih merasakan hampa ketika akhirnya Hania jatuh ke pelukan pria lain. Sekian lama bersahabat dengan wanita cantik itu, Galih sudah merasakan jika dirinya mencintainya. Namun keraguan Hania, membuatnya tetap menamai kedekatan mereka sebagai persahabatan.
Secara impulsif Galih menarik Hania ke dalam pelukannya. Pria bertubuh atletis itu tidak peduli pada tatapan Arga yang menghunus tajam padanya.
"Makasih. Aku juga selalu berharap yang terbaik buatmu." balas Hania dengan mata yang semakin mengembun.
"Hei, jangan nangis. Nanti make up nya luntur." goda Galih seraya mengurai pelukannya, membuat Hania terkekeh dan mengusap sudut matanya.
Pria berwajah manis itu beralih pada Arga. Setelah mengucapkan selamat, Galih memeluk Arga ala pria dewasa. Saling menepuk punggung.
"Jaga dia baik-baik. Kalau lu nyakitin dia, gue bakal rebut dia dari lu!" ancam Galih setengah berbisik.
"Lu ngeraguin kredibilitas gue?" sahut Arga menyombong.
Kedua pria dewasa yang tampak akur itu tetap saja saling mengancam meski dibalut senyum dan wajah sumringah.
"Mas ngundang semua karyawan restoran?" tanya Hania ketika melihat para karyawannya berkumpul di salah satu meja dan melambaikan tangan padanya.
"Ini pestamu, honey. Sudah seharusnya orang-orang yang berhubungan baik denganmu turut berbahagia untukmu." sahut Arga.
"Ooh.... Sweet banget suamiku ini. Makasih ya, Mas." ucap Hania seraya memeluk sang suami.
Seketika riuh suara tepukan tangan dan suitan terdengar dari berbagai sudut. Melihat Hania dan Arga berpelukan, spontan seluruh tamu undangan mengapresiasinya. Hania baru akan melepas pelukannya tapi Arga malah menahannya.
"Tetap begini, honey." pinta Arga.
"Tapi aku malu, Mas." rengek Hania menyembunyikan wajahnya.
"Makanya dipikir dulu sebelum bertindak. Lagipula kenapa malu? Kamu meluk suami sendiri 'kan?" goda Arga sambil mengulum senyum.
Tanpa mereka sadari, seorang wanita cantik paruh baya sedang menatap Hania dengan sorot mata yang tak terbaca. Matanya sudah berkaca-kaca. Dengan tangan yang bergetar, wanita blesteran itu meraih gelas berisi air mineral dan meneguknya. Lalu meletakkannya kembali. Wanita paruh baya itu kembali menatap Hania setelah mengusap sudut matanya yang tampak basah.
"Hania memang cantik, Ma. Tapi ngga usah gitu juga ngeliatnya." tegur Iden yang tiba-tiba mendudukkan dirinya di kursi di sebelah wanita paruh baya itu.
*******
Thanks for reading!
__ADS_1
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘