
Tok tok tok.
Wajah cantik sekretaris yang seksi itu muncul dari balik pintu ruangan Arga. Arga hanya melihat sekilas memastikan orang yang masuk lalu tenggelam lagi pada pekerjaannya.
"Maaf Pak, anda punya jadwal meeting dengan Bapak Hasan Maulana, pemilik Ligna Store. Siang ini jam 12 tepat di Dominic Cafe 'n Resto." kata Dian mengingatkan.
"Sekarang sudah jam 11 Pak, mengingat perjalanan kesana memakan waktu hampir 1 jam an, sebaiknya anda bersiap." lanjut Dian yang melihat tidak ada tanda-tanda bosnya itu beranjak.
Menurut informasi yang diterimanya dari Reza, Ligna Store merupakan perusahaan yang mendistribusikan furniture kelas atas yang tengah berkembang dengan baik. Itu adalah peluang yang baik bagi perusahaannya Arga bisa menjalin kerjasama dengan mereka. Dan Dian tidak ingin bosnya itu terlambat dalam pertemuan tersebut dan meninggalkan kesan kurang baik.
"Hum." Arga menjawab dengan gumaman.
"Apa semua berkasnya sudah siap?" tanya Arga yang sudah memegang jasnya dan menenteng tas laptopnya.
"Beres semua Pak." jawab Dian disertai senyum semanis gulanya.
"Pak Reza sudah menunggu Bapak di lobi." lanjut Dian memberitahu keberadaan Reza.
Iya. Duo tampan itu sudah sepaket. Sedang Dian, tugasnya adalah menghandle urusan di kantor ketika duo tampan itu mengadakan meeting diluar perusahaan.
Reza mengemudikan mobil keluaran pabrikan Jepang milik Arga dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup padat siang itu meski belum memasuki waktu istirahat kantor. Sepertinya cuaca yang sedikit berawan membuat orang-orang senang beraktifitas di luar ruangan.
Mereka tiba di lokasi 15 menit sebelum waktu pertemuan yang dijanjikan. Mereka berjalan beriringan.
"Kau duluan, saya ke toilet sebentar." kata Arga meminta Reza menunggu di tempat yang sudah ditentukan.
"Baik Pak." kata Reza patuh.
Diluar dugaan, toilet pria lebih rame siang itu. Argapun harus rela mengantri. Dia menyesal karena tidak melakukannya ketika masih di kantornya. Setelah menuntaskan hajatnya, Arga bergegas menuju lokasi pertemuan dengan sedikit terburu buru. Sebentar lagi jam 12.
Brak!
Tanpa diduga Arga menabrak seorang wanita yang berjalan berlawanan arah dengannya ketika melewati belokan dari arah toilet.
__ADS_1
"Maaf." ucap Arga bersamaan dengan wanita itu.
Baik Arga maupun wanita itu saling mengangkat muka karena mereka mengucapkan kata maaf secara bersamaan. Lalu sama-sama tersenyum. Wanita itu kembali menundukkan wajahnya dan membereskan barang-barang bawaannya yang tercecer dilantai.
Deg!
Arga berniat membantu awalnya, tapi demi melihat wanita yang ditabraknya itu, dirinya malah terdiam menatapi wajah wanita itu.
"Dia kan?" gumam Arga dalam hati.
Wanita cantik yang menabraknya atau ditabraknya barusan kembali menatapnya. Lalu tersenyum. Arga terpaku. Wanita dihadapannya itu benar-benar menarik perhatiannya, menguras pikirannya, dan meresahkan ketenangannya belakangan ini.
"Sekali lagi maaf Mas, saya permisi." ucap wanita itu seraya berdiri dari posisi jongkoknya hendak meninggalkan Arga.
Wanita itu merasa tidak nyaman ditatap Arga lekat. Seolah menelanjanginya.
Arga mencoba menahan wanita itu. Dan berniat menuntaskan rasa penasarannya. Tapi begitu menatap mata kelinci milik wanita itu, dirinya seolah kelu. Perasaannya tidak karuan. Jantungnya berdetak cepat dan darahnya berdesir. Iya. Dia merasa mengenalnya. Dia harus mencari tahu.
"Hania!" panggil seorang wanita cantik lainnya yang usianya lebih dewasa dari wanita bermata kelinci itu.
"Lama amat? Udah ditungguin juga." ucap wanita itu sambil melirik kearah Arga yang sedang menyaksikan interaksi keduanya.
"Jadi namanya Hania." batin Arga sambil terus menatap wanita itu.
"Hania...." gumam Arga dalam hatinya.
"Namanya juga seperti ngga asing." Arga kembali membatin.
Mendengar nama Hania disebut membuat pikiran Arga melayang-layang mencoba menggali ingatannya. Dirinya merasa nama wanita itu sungguh tidak asing ditelinganya.
"Mba Niken kenapa nyusulin kesini?" tanya Hania, matanya masih melirik-lirik ke arah Arga yang tetap menatapnya.
"Ayo! Yang lainnya udah datang, eh kamunya malah belum balik-balik." cerocos wanita yang disebut Mba Niken itu.
__ADS_1
"Permisi ya Mas Ganteng, maaf lo ini, Hanianya masih ada perlu." pamit Niken pada Arga sambil menggandeng tangan Hania berlalu dari hadapan Arga.
Hania yang digamit oleh Niken hanya menurut saja mengikuti langkah sahabatnya itu. Hania sempat menoleh pada Arga yang masih menatapnya, menganggukkan kepalanya sambil tersenyum mengisyaratkan pamitnya.
Drrrt drrrt.
Getaran ponsel didalam saku celananya, seketika menyadarkan Arga dari lamunannya namun diabaikannya. Dirinya yang menyadari isyarat Hania yang akan meninggalkannya, hendak mencegah kepergian wanita cantik itu. Baru akan membuka mulutnya, ponselnya bergetar lagi.
Dirogohnya ponsel yang terus bergetar itu, nama Reza terpampang di layarnya, sang asisten sudah menghubunginya beberapa kali. Dengan perasaan kesal diangkatnya panggilan dari Reza. Terlewat sudah kesempatannya untuk mengejar wanita bermata kelinci itu.
"Oke, saya kesana sekarang." pungkas Arga setelah diberitahu jika kliennya sudah tiba dan menunggunya.
Ingin sekali Arga menunda pertemuannya kali ini dengan kliennya. Namun, orang dewasa tidak bisa berlaku sesuka hatinya. Dengan langkah gontai dia berjalan ke tempat dimana Reza dan kliennya menunggu.
Hampir 2 jam Arga dan kliennya berdiskusi, membuat kesepakatan, dan akhirnya menandatangani kontrak kerjasama mereka di caferesto itu. Mereka berpisah. Kopi hitam Arga pun sudah dingin.
"Kamu balik ke kantor duluan, saya masih ada perlu di sini." perintah Arga pada Reza.
"Anda yakin tidak ingin ditemani?" tanya Reza.
Arga menganggukkan kepala. Dia ingin mencari keberadaan wanita bermata kelinci tadi. Dirinya berharap wanita bernama Hania itu masih berada di mall itu.
Sepeninggal Reza, Arga mulai menyusuri mall itu. Matanya menyapu setiap sudut mall itu. Setiap tempat, kafe, salon, bahkan foodcourt pun dia datangi tapi nihil. Wanita itu tidak ada disana. Sudah hampir 1 jam Arga berkeliling mall itu. Lantai demi lantai sudah dijajaki. Tapi tidak kunjung menemui wanita cantik bermata kelinci itu. Diacak-acaknya rambutnya, dia frustrasi.
"Dia dimana?" carinya gamang.
Drrrt drrrt.
"Pak, ibu negara ada dikantor." pesan dari Reza.
"Beliau menunggu anda", lanjut Reza.
"Pak, beliau tidak akan meninggalkan kantor sebelum bertemu anda." lapornya.
__ADS_1
Ponsel Arga bergetar lagi. Reza kembali menghubungi Arga setelah beberapa pesannya diabaikan atasannya. Arga menatap layar ponselnya, enggan untuk menerima panggilan itu dan membiarkan ponsel itu hingga tidak bergetar lagi. Dimasukkannya ponselnya ke dalam saku celana bahannya. Dia memutuskan untuk kembali ke kantornya.