Yang Terakhir

Yang Terakhir
32. Aku Percaya


__ADS_3

"Kamu ngga perlu khawatir dekat denganku Han", Arga meyakinkan Hania.


"Aku bisa menjamin aku ini duda ting ting", selorohnya lalu Arga terkekeh sendiri.


"Kamu bisa tanya Adi atau Iden. Atau mau nyelidikin aku? Aku bisa bantu rekomen detektif terbaik. Atau kamu mau ketemu ibuku mungkin? Kamu bisa tanya tanya sama beliau, ibuku orangnya kooperatif", ucap Arga terus berusaha meyakinkan sambil bergurau memecah kebisuan Hania.


Hania masih menelisik wajah tampan nan karismatik pria dihadapannya. Dia mendengar setiap kata yang diucapkan pria itu. Terdengar meyakinkan. Tapi pikirannya yang melayang layang menariknya ke dalam ingatan yang membuatnya semakin mempertebal benteng pertahanannya.


Statusnya yang single parent, membuatnya dicemburui para istri pria hidung belang. Dirinya bahkan dituduh merebut suami orang dan sempat beberapa kali didatangi dan dihujat para istri yang tidak rela suaminya mendekatinya. Jelas saja, istri mana yang mau suaminya melirik wanita lain.


Jauh di lubuk hatinya, dirinya tidak terima dengan perlakuan para istri tersebut, bukankah justru dirinya yang menjadi korban pelakor? Kenapa dirinya malah dianggap pelakor? Dia saja merasa sangat membenci pelakor jadi untuk apa dirinya menjadi pelakor. Dia tahu bagaimana rasanya suami yang melirik wanita lain jadi bagaimana mungkin dia akan melukai hati wanita lain?


"Han?", Arga memanggil nama Hania yang sepertinya berpikir terlalu dalam, kali ini sambil menggenggam tangan Hania yang mengepal.


Panggilan lembut yang menelusup ke indera pendengarannya dan sentuhan hangat di tangannya menarik Hania dari lamunannya. Dia mengerjapkan matanya menandakan dirinya sudah kembali dari alam lamunannya. Lalu menoleh pada Arga yang sedang menatapnya dan tersenyum. Lalu tatapannya beralih ke tangannya yang berada dalam genggaman tangan Arga. Terasa hangat dan nyaman. Seketika hatinya bergetar. Hania mendesah pelan.


Kehadiran Arga membuat Hania merasa tidak sendirian. Entah kenapa, Hania merasa pria karismatik dihadapannya itu akan selalu menemaninya. Dia juga merasa ada rasa aman dihatinya ketika tangan Arga menggenggam tangannya, seakan menyalurkan kekuatan yang akan melindunginya. Hania jadi tidak ingin segera melepasnya seperti kemarin kemarin ketika menyadari tangannya dalam genggaman tangan Arga.


Mata kelinci Hania kembali menatap Arga, menatap matanya tepatnya. Mencari kejujuran disana. Semakin ditatap semakin mata tajam itu menyiratkan ketulusan. Tidak ada kebohongan disana.


"Udah, kamu ngga usah mikir yang aneh aneh. Cukup kamu percaya sama aku. Aku ngga akan menimbulkan masalah buatmu. Bisa kan?", pinta Arga.


Hania mendesah. Ah, pria tampan itu, kenapa sulit sekali menolaknya? Kenapa sekarang berada didekat pria seksi itu membuatnya merasa aman? Kenapa juga setiap sentuhan yang diberikan pria itu membuatnya hangat? Apa hatinya mulai menerima pria itu?

__ADS_1


"Aku percaya", ucap Hania sambil menganggukkan kepalanya.


Mendengar ucapan Hania, hatinya bersorak. Yes! Jangan lupakan senyumnya yang semanis madu itu. Wajah tampan nan karismatik itu seketika berbinar. Ucapan Hania yang mengatakan "aku percaya" seolah membangkitkan gairah hidupnya. Dia semakin bersemangat. Dia merasa dibutuhkan oleh seseorang yang diinginkannya.


Senyum Arga seperti bunga matahari, cerah. Senyum itu menular pada Hania. Meski kikuk, senyum Hania mengubah raut wajahnya yang semula sendu menjadi berbinar. Raut wajah itulah yang selalu dirindukan Arga.


"Makasih, udah percaya sama aku", ujarnya sambil mempererat genggamannya, Hania mengangguk.


Ada kelegaan yang menelusup ke dalam hatinya. Jalannya menggapai Hania menunjukkan kemajuan. Tapi dirinya belum bisa berpuas diri. Dia baru membuka sedikit celah mendekati Hania. Benteng kokoh wanita itu masih berlapis lapis.


"Kamu ngga papa setelah ini? Atau mau kuantar pulang?" tanya Arga memastikan keadaan Hania.


"Ngga usah Mas, aku udah ngga papa. Makasih", tolak Hania.


Arga masih menatap Hania. Wanita itu memang terlihat lebih baik. Wajahnya tidak semuram tadi meski masih menunjukkan ekspresi yang berubah ubah.


Arga berbalik lagi menatap Hania. Entahlah. Dirinya enggan meninggalkan wanita cantik itu. Tapi tidak ada alasan untuknya berlama lama disana.


Hania yang berjalan mengekorinya pun menghentikan langkahnya, dia juga menatap pria seksi itu. Dia merasa nyaman bersama pria itu tapi tidak ada alasan untuk menahannya lebih lama disana.


"Kalau ada apa apa dan butuh bantuanku hubungi aku, aku ngga keberatan", tawar Arga, matanya masih menatap mata kelinci itu.


Hania hanya menganggukkan kepalanya. Dapat dilihatnya seutas senyum terbit dibibir seksi pria tampan itu. Senyum yang dapat menenangkannya. Lalu pria itu berbalik. Hania menatap punggung kokoh Arga yang meninggalkan ruangan privat itu.

__ADS_1


Dalam hatinya dia merasakan senang, pria iti dapat membuatnya tenang. Tapi juga merasa bimbang. Dia masih bingung dengan hatinya. Sebentar melemah dan terbuai, sebentar menguat dan kembali memasang tembok penghalang. Apa tidak akan terjadi apa apa jika dirinya membuka hatinya untuk pria itu? Bagaimana jika pria itu hanya ingin berteman saja? Hanya menganggapnya sebagai teman? Sementara sekarang saja dirinya sudah merasa nyaman dengan kehadiran pria tampan itu.


Lamunannya melayang layang kemana mana hingga kemudian pria itu berhenti di depan pintu, kembali berbalik menghadapnya. Hania tahu maksudnya. Arga ingin dirinya mengantarnya seperti biasa. Hah. Bahkan sekarang dia tahu bahasa tubuh Arga, dan lama lama jadi semacam kebiasaan. Mengantar kepergian Arga. Apa suatu ketika nanti dia juga harus menyambut kedatangannya? Hania terkekeh dalam hatinya. Ada ada saja pikirannya itu.


Adi yang sudah menanti sang atasan, langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Arga berjalan keluar.


"Bapak jadi ke galeri?", tanya Adi memastikan.


Arga mendesah. Dia lupa dengan agendanya. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam 3 lebih sedikit.


"Iya. Sepertinya masih sempat", putusnya.


Arga menoleh lagi pada Hania yang masih menantinya.


"Sampai ketemu lagi Han, aku pergi dulu", pamitnya dengan enggan, Hania hanya melepasnya dengan senyuman.


Adi mengangguk hormat pada Hania yang juga dibalas anggukan. Hania menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Memperhatikan sedan mewah Arga meninggalkan restorannya.


Hania masih menatap mobil Arga yang berjalan perlahan kemudian menghilang di balik gerbang restorannya. Seuntai doa mengalir begitu saja dari bibir Hania, mengharapkan keselamatan dan kebaikan pria tampan yang diam diam mulai menarik perhatiannya.


Langit siang menjelang sore hari itu begitu cerah tapi sedari pagi sinar matahari bersinar lembut. Menggambarkan suasana hati Hania saat ini. Cerah dan tenang.


Dia ingat genggaman tangan Arga tadi menenangkan hatinya yang bergemuruh sesak. Pria tampan itu benar benar bisa dengan mudah menghangatkan hatinya yang sedang kalut. Pria itu seperti tahu bagaimana mengisi kekosongan hatinya. Bahkan dirinya dengan mudah mempercayainya. Sikap yang selama ini membentengi dirinya seperti runtuh dihadapan pria karismatik itu.

__ADS_1


*******


Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 💞💞💞💞


__ADS_2