Yang Terakhir

Yang Terakhir
93. Mambela Diri


__ADS_3

Seorang wanita cantik dan seksi dengan pakaian kurang bahannya melangkah angkuh ditemani 2 orang temannya yang juga cantik dan seksi dengan pakaian yang sama kurang bahannya. Dia Valerie.


Wanita itu berencana menghabiskan waktunya dengan shopping, perawatan tubuh, dan nonton bersama 2 temannya itu di mall terbesar di ibukota.


Di tempat yang sama, Hania ditemani Anja sedang berbelanja kebutuhan restoran dan sekaligus kebutuhan rumah. Sekali jalan 2 3 pekerjaan tertuntaskan. Anja pun ikut membeli beberapa barang kebutuhannya yang telah menipis persediaannya. Mumpung sedang diskon besar. Pikirnya.


Ketika sedang melewati sebuah salon perawatan kecantikan, mendadak Hania berhenti. Seorang wanita cantik bertubuh sintal memanggilnya. Laras. Ya. Saat ini, Hania melewati salon kecantikan milik Laras.


"Somse deh Mba Hania sekarang ya? Udah ngga pernah mampir-mampir lagi." ledek Laras seraya mencolek lengan Hania dengan jari telunjuknya.


"Laras? Ngga gitu. Tau sendiri 'kan aku sibuk. Ngga bisa santai-santai kayak kamu gini." sanggah Hania seraya tersenyum, sejurus kemudian memeluk wanita cantik yang usianya lebih muda darinya itu.


"Kangen deh." ucapnya.


"Aku lebih kangen lagi." balas Laras.


"Sejak aku nikah, kita ngga pernah ngumpul-ngumpul ya? Lama banget. Berasa tahunan deh." keluh Laras seraya memanyunkan bibirnya.


"Lebay deh ah. Ngga selama itu juga kali." timpal Hania menanggapi sahabatnya yang ratu drama itu sembari terkekeh.


"'Kan aku bilang serasa, Mba Han-Han." lagi-lagi Laras memanyunkan bibirnya.


"Kebetulan ketemu di sini, jadi ngga perlu calling-calling lagi. Besok kita ketemuan yuk! Aku ada treatment baru nih Mba. Khusus vip member aku gratisin. Besok ajak Mba Niken ya, dia baru balik 'kan dari Jepang? Aku udah ngundang Nisa sama Mba Ruri. Aah! Pasti seru deh, kita kan udah lama ngga ngumpul." cerocos Laras lalu memeluk lengan Hania seraya menyandarkan kepalanya dengan manja ke bahu Hania.


"Besok, ya?" ucap Hania pelan seraya menoleh pada Laras di sampingnya.


"Bisa, 'kan? Ayo dong. Plis." mohon Laras sembari mengatupkan tangannya yang masih memeluk lengan Hania.


"Iya deh. Siang 'kan?" Hania menyanggupi permintaan sahabatnya itu karena tidak ingin terjadi drama yang membuatnya jadi pusat perhatian.


Hania dan Anja melanjutkan kegiatannya di mall itu. Sementara Laras sudah melenggang bersama suaminya yang barusan menjemputnya. Pasangan pengantin baru itu sedang hangat-hangatnya.


"Salon kecantikan tadi itu punya temen Bu Hania?" tanya Anja yang sedari tadi memperhatikan interaksi Hania dan Laras seraya matanya melihat aktifitas perawatan di dalam salon itu yang hanya dibatasi dinding kaca lebar.


"Iya." sahut Hania singkat.


"Besar ya, Bu. Alatnya juga serba modern. Pasti mahal perawatan di situ. Bu Hania kalau perawatan juga di situ? 'Kan yang punya temen sendiri." cerocos Anja yang kagum dengan fasilitas salonnya Laras.


Hania hanya tersenyum menanggapi ocehan Anja. Hingga tibalah mereka di depan sebuah restoran Jepang.


"Kamu udah laper belum? Kita makan dulu yuk! Udah waktunya juga nih." ajak Hania dan Anja pun hanya mengekor.


Bagi Anja yang hanya anak daerah yang merantau ke ibukota, makan di rumah makan hanya sebatas keinginan yang entah kapan akan terwujud. Dia harus berhemat agar uang yang diterima dari kerja kerasnya cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama sebulan ke depan. Syukur-syukur jika dia tidak sampai berhutang. Dan lebih bersyukur lagi jika dia bisa mengirimi orangtuanya di daerah atau menabung. Dirinya bisa makan enak di restorannya Hania yang berkelas pun karena dia bekerja di sana. 


Hania memesankan makanan yang dirasanya cocok di lidahnya dan terlebih lagi di lidahnya Anja yang diketahuinya belum pernah makan makanan Jepang kecuali yang kw.


"Bu, Bu Hania kok ngga kasih menu ala-ala Jepang gitu sih di restoran? 'Kan bisa narik pelanggan baru." tanya Anja di sela-sela makannya.


"Yang saya sajikan di restoran itu melalui belajar yang ngga sebentar, Nja. Saya harus bener-bener ngerti seluk beluknya supaya kalau ada kurangnya, saya tau gimana benerinnya. Ngga asal masak, asal sama tampilannya tapi mengabaikan rasanya yang kadang pas kadang ngga pas, berubah-ubah. Nanti pelanggannya berasa di php sama masakan saya. Ngga sesuai ekspektasi. Malah pada kabur." terang Hania.


Anja menghela napasnya. Ternyata masak saja bisa jadi serumit itu bagi seorang bosnya. Tapi benar juga sih. Jika tidak terlalu menguasai ilmunya pastinya tidak akan maksimal. Dirinya saja yang hanya seorang waitres, harus belajar membawa nampan dengan gaya tapi tetap aman. Dan itu ada teorinya. Lalu prakteknya? Haaah. Lama sekali. Pikiran Anja melayang membayangkan perkataan bosnya itu dan membandingkannya dengan proses yang dialaminya.

__ADS_1


"Hania?" merasa namanya disebut, Hania menoleh ke arah suara.


Deg.


Pria yang selalu mengejarnya, dulu dan kini, sedang berdiri di sampingnya. Menatapnya penuh puja dengan senyum manis yang mengembang di bibir tipisnya.


"Mas Ferdi?" sebuah suara yang menyapa pria itu sontak mengalihkan tatapan terkejut Hania.


"Valerie?" batin Hania


Valerie yang belum menyadari keberadaan Hania langsung memeluk dan memberi ciuman di pipi kanan dan kiri Ferdi. Dada berimplannya menempel lekat di dada pria itu.


"Valerie, jangan seperti ini. Ngga enak dilihat orang." Ferdi mencoba melepaskan pelukan wanita cantik dan seksi itu tapi tangan Valerie malah melingkar  erat di pinggang Ferdi.


"Aku kangen tau, Mas. Udah lama kita ngga main bareng. Sejak kamu nikah trus pindah, jadi kayak ngehindarin aku." keluh Valerie yang terdengar manja dan memuakkan bagi Hania.


Hania memutar bola matanya, malas melihat adegan ulat keket menempel dimana-mana. Kemarin, wanita ulat keket itu menempel-nempel pada Arga. Juga bertingkah manja dan memancing hasrat. Dan lihat sekarang? Hah. Untung Arga tidak tergoda.


Sedangkan Anja yang baru saja memuji pria gagah bertubuh tinggi proporsional itu di dalam hatinya, hanya bisa melongo tanpa mengedipkan matanya demi menatap Valerie yang datang-datang langsung menempel begitu.


Hania menyantap makanannya tanpa mempedulikan tingkah 2 insan yang membuatnya kesal itu.


"Plis Valerie. Tolong lepas ya?" Ferdi merasa kesal karena kehadiran Valerie yang bertingkah mesra dengannya. Dia khawatir Hania semakin tidak terjangkau olehnya.


"Kenapa sih, Mas. Dulu aja, seneng banget dipeluk-peluk." sergah Valerie.


Ferdi mengalihkan tatapannya pada Hania yang tidak peduli akan kehadirannya. Valerie mengikuti arah tatapan mata pria yang pernah dihangatkan ranjangnya itu.


"Jadi, Mas Ferdi ngga mau dilihat sama dia!?" Valerie meninggikan suaranya karena emosi sudah mulai menguasainya.


"Ck!" Valerie berdecak karena Ferdi tak menjawab pertanyaannya.


Diamnya Ferdi sudah menjadi jawaban yang ingin didengarnya. Sementara Hania sudah menatap Ferdi dengan kesal. Haish! Kenapa pria itu malah diam saja sih? Bikin masalahnya semakin melebar. 


"Heh! Pelakor! Ngga puas Lu ya ngerebut calon tunangan Gue!?" sentak Valerie seraya menuding Hania, membuat wanita berhati lembut itu langsung berdiri begitu juga Anja.


Suara Valerie yang keras sontak mengundang pelanggan di dalam restoran Jepang itu menoleh. Apalagi ada kata-kata 'pelakor' di sana. Mereka memandang Hania sinis. Memang, dimana-mana yang namanya pelakor itu adalah musuh sejuta umat. Hanya saja, tatapan sinis mereka salah alamat.


 


Anja yang kini berdiri di samping Hania dan sedari tadi menjadi penonton, sama seperti Hania, membelalakkan matanya.


"Siapa yang pelakor? Bosnya itu wanita yang lembut hatinya. Ngga mungkin tega menyakiti hati wanita lain dengan merebut pasangannya. Yang ada, bosnya itu yang malah sibuk menjaga jarak dari pria-pria hidung belang yang mencoba merayunya." bantah Anja dalam hati.


"Sekarang Lu godain pacar Gue!? Oh ya ampun! Ngga ada cowo lain gitu? Kenapa sih yang Lu incer itu laki-laki yang deket sama Gue!?"


Bagi Hania, bukan sekali dua kali dirinya di tuding pelakor. Harusnya dia sudah kebal, tapi entah kenapa, hatinya masih berdenyut nyeri ketika dirinya dituding seperti itu. Mungkin, masa lalunya yang berkaitan dengan pelakor. Dimana suaminya yang menjadi pusat hidupnya, direbut wanita lain. Yang membuatnya merasa tersakiti sangat dalam dan takut terluka lagi.


"Heh! Kamu ngga kenal Bu Hania seperti apa! Jangan seenaknya nuduh dong!" Hania baru akan membuka mulutnya yang bergetar, namun tiba-tiba suara bentakan Anja memekakkan telinganya.


"Kamu!?" suara Valerie tertahan karena kesal.

__ADS_1


Gadis itu kalau sudah marah terlihat garang. Meski tubuhnya mungil tapi nyalinya sebesar gaban.


"Yang kamu bilang calon tunanganmu itu siapa!? Pak Ganteng!?... Eh, Pak Arga!? Ish! Kepedean!" Anja sampai salah sebut saking emosinya.


Melihat Anja maju membelanya, Hania tidak ingin menghentikannya. Gadis itu dinilainya mampu menjaga ucapannya. Meski kesal, dia dapat mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya. Selama tidak ada penghuni kebun binatang yang keluar dari bibir tipis gadis itu, Hania hanya akan diam saja.


"Ngatain orang pelakor, situ waras!? Liat aja dandanan kamu tuh! Aku ngga yakin kamu cewe baik-baik!" ketus Anja, gadis itu sampai mendongakkan kepalanya karena tubuhnya tak setinggi tubuh Valerie lalu menatap tubuh Valerie dari atas ke bawah dan ke atas lagi dengan sinis.


Ferdi menarik lengan Valerie menjauhi Anja dan Hania tapi langsung ditepis wanita yang pernah membuatnya mendesah hebat itu. Dan malah membuat Valerie mengomelinya.


"Maaf, saya rasa kamu terlalu lebay memandang hubunganmu dengan  Mas Arga, calon suami saya." akhirnya Hania membuka mulutnya setelah merasa tenang.


Hah? Calon Suami? Anja yang mendengar ucapan Hania melongo. Dia terkejut. Bosnya itu memang dekat dengan Arga dan sepertinya memang memiliki hubungan. Tapi sejak kapan hubungan itu menguatkan posisi pria yang disebutnya 'Pak Ganteng' itu naik kelas jadi calon suami? Anja menghela napasnya. Terserahlah. Yang jelas, kabar ini pasti akan menghebohkan sejagad restoran.


Bukan hanya Anja yang melongo. Ferdi yang tampan pun dibuatnya melongo ketika Hania dengan jelas mengucapkan kata 'calon suami'. Itu seperti menegaskan hubungannya dengan pria arogan yang jadi rivalnya kini.


"Setau saya Mas Arga tidak pernah memiliki kedekatan emosional apapun denganmu. Apalagi sampai akan bertunangan? Bahkan dia enggan melirikmu." lanjut Hania penuh penekanan.


"Iya, dan itu karena Elu ada disekitarnya!" pekik Vakerie.


Hania mengernyitkan keningnya. Hah! Wanita ini benar-benar tidak sadar diri dan tidak tahu malu.


"Bukan! Mas Arga ngga menganggapmu sebagai orang yang istimewa baginya karena memang kenyataannya begitu. Kamu ngga bisa memaksakan maumu pada orang lain. Memaksa Mas Arga tertarik padamu? Seperti tadi malam? Ck ck ck ck! Kamu hanya menjatuhkan harga dirimu. Ayolah Valerie! Kamu memiliki kelebihan. Jangan hanya terfokus pada laki-laki yang kamu kira menyukaimu karena dia memperlakukanmu dengan baik." cerocos Hania panjang lebar.


Valerie tersenyum miring. Kini dia merasa sangat tidak menyukai Hania.


"Gue ngga peduli. Akan Gue buat Mas Arga balik ke Gue lagi." ancam Valerie dengan suara pelan namun penuh tekanan.


Hania mendesah.


"Lakukan semaumu. Aku juga akan melakukan yang harus dilakukan seorang calon istri untuk mempertahankan calon suaminya." balas Hania datar.


Hania seperti tersadar. Apa tadi? Kenapa dirinya bisa seyakin itu?


Dan yang lebih melegakan hatinya adalah dia membalas tudingan yang diarahkan padanya. Mungkin karena rasa kesalnya pada Valerie tadi malam masih bersisa.


"Saya berharap ngga ketemu kamu lagi, Valerie." tekan Hania lalu beranjak dari hadapan Valerie dan Ferdi.


"Han?" bisik Ferdi dalam hatinya.


Pria penuh pesona itu kecewa. Tapi rasa cintanya pada Hania tidak luruh seketika meski dia mendengar sendiri Hania juga mengakui Arga sebagai calon suaminya melalui bibir merah jambu yang ingin dirasakannya juga.


Sementara itu, Hania merasa kagum pada dirinya yang bisa membela diri barusan. Sepertinya dia mulai tertular virus mengintimidasi dari Arga. Hania berjalan seraya menyunggingkan senyumnya seperti bunga matahari. Lebar.


*******


Thanks for reading!


Like dan jadikan favorit ya supaya ngga ketinggalan ceritanya.


Jangan lupa Vote tiap SENIN untuk dukung karya ini 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2