
"Lu yang apa-apan!? Lu nyeledikin istri gue!?" Arga mencengkeram kerah kemeja Iden.
Pria karismatik itu membenturkan punggung Iden ke arah dinding. Menatapnya dengan tajam. Arga kesal setengah mati. Kenapa para sahabatnya mencoba mengganggu istrinya? Kemarin-kemarin mendiang Raka, dan sekarang Iden. Hah. Benar-benar membuatnya merasa dihianati sekali lagi.
Semalam, Reza mendatangi kediamannya. Memberitahu hasil penemuannya yang membuatnya tidak bisa memejamkan mata semalaman.
"Kamu yakin?" tanya Arga penuh tekanan, membuat Reza menganggukkan kepalanya mantap.
"Saya ngga sengaja liat Kelik mengikuti Bu Hania beberapa hari yang lalu, Pak. Dari situ saya curiga dan mulai mengikutinya." terang Reza.
"Memangnya untuk apa dia nyari tahu masa lalu istriku?" gumam Arga namun masih terdengar oleh asistennya.
Reza menggelengkan kepalanya. Dirinya juga tidak tahu alasan Iden meminta Kelik mengumpulkan informasi tentang Hania.
"Minta Kelik kesini!" perintah Arga datar namun sangat terasa aroma murka dalam dirinya. Pria itu kesal, anak buahnya bermain-main di belakangnya.
Reza menurut. Mengambil ponsel di dalam saku celananya dan mulai menghubungi pria kekar yang selama ini menjadi partner kerjanya.
Tak sampai 1 jam, pria berwajah kaku itu tiba di kediaman Arga.
Bugh! Bugh!
Beberapa pukulan keras mendarat di wajah Kelik. Saking kerasnya, bibir pria itu sampai berdarah. Seperti biasa, jika Arga mengamuk, anak buahnya tidak ada yang akan menginterupsinya. Termasuk Reza. Dan Kelik yang menjadi sasaran hanya diam seraya meringis menahan nyeri. Meskipun tidak mengetahui pasti latar belakang permasalahan yang membuat Arga memukulnya, Kelik tidak berani bertanya. Cukup dengan melihat wajah pria tampan yang menjadi bosnya saat itu, dirinya sudah bisa meraba dimana letak kesalahannya tapi tidak berani memastikan.
Dan kini, pagi-pagi sekali Arga sudah meninggalkan rumahnya dan istrinya yang masih bermalas-malasan di tempat tidur setelah semalam saling memanjakan. Dengan tidak sabar pria karismatik itu menunggu kedatangan Iden di ruangannya. Dia tidak mungkin bisa menunggunya datang ke ruangannya. Sosok yang sedang menguji kebaikan hatinya. Jadi begitu pintu terbuka, Arga langsung menyerangnya, meluapkan kekesalan hatinya.
"Apa lu juga mau gue hancur!? Hah!?" bentak Arga tepat di depan wajah blesteran Iden.
"Maksud lu apa, sih Ga!? Ngga ngerti gue!?" Iden berkilah seraya melepaskan cengkraman tangan Arga pada kerah kemejanya.
Iden masih mencoba untuk menghindari tuduhan Arga. Tidak ingin perbuatannya diketahui sahabatnya itu. Namun, sepertinya keberuntungan tidak memihaknya. Arga sudah mengetahuinya. Wajah dingin sang sahabat sudah cukup menjelaskan dugaannya.
"Akh!" pekik Iden ketika Arga kembali mencengkram kerah kemejanya dan membenturkannya lagi pada dinding di belakangnya.
"Apa tujuan lu nyelidikin istri gue!? Mau apa lu sama Hania!?" Arga kembali membentak Iden.
Terlihat sekali saat itu Arga sedang dikuasai amarah. Sementara Iden mencoba menekan egonya untuk tidak membalas perlakuan Arga padanya. Dia tahu, Arga bersikap begitu karena mengetahui ulahnya. Iya. Diakuinya, dirinya memang bersalah. Tapi di sisi lain dia berhak untuk mengetahui sesuatu yang dianggapnya penting yang menyangkut keluarganya.
Bugh!
Sebuah pukulan mendarat lagi di wajah Iden. Lalu disusul pukulan lainnya di tubuh pria flamboyan itu. Iden hanya menangkis pukulan Arga, dan beberapa kali membalasnya. Perkelahian berlangsung sengit tanpa ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!" Iden tertatih menjauhi Arga seraya terbatuk-batuk.
"Lu salah paham, Ga! Gue... ngga ada maksud... apa-apa! Sumpah!" ucap Iden di sela-sela napasnya yang terengah-engah seraya memegang perutnya yang terasa nyeri.
Sementara itu, Arga yang juga kelelahan, menyandarkan tubuhnya ke dinding di belakangnya. Pria karismatik itu terkekeh mendengar ucapan sahabatnya yang terkesan membela diri.
"Cih! Mana ada maling yang ngaku!" cibir Arga tanpa menoleh pada Iden.
Hening tercipta di ruangan kerja Iden. Baik Arga maupun Iden masih terdiam dengan pikiran masing-masing.
Iden yang kini terduduk di lantai bersandar pada meja kerjanya, menatap Arga yang kini juga terduduk di lantai bersandar pada dinding. Sahabatnya itu tampak kacau, mungkin dirinya juga seperti itu, bahkan bisa melibihi yang dilihatnya kali ini.
Tampak olehnya Arga mengusap sudut matanya. Sebelah alisnya terangkat. Pria yang cenderung bersikap dingin itu menangis? Rasanya sulit untuk percaya jika tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Wajah Arga yang menampakkan kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan, membuat sisi melankolisnya tersentuh. Pria flamboyan itu mendesah. Merasa tak tega.
Dengan tertatih, Iden mendekati Arga lalu menghempaskan dirinya di samping sahabatnya itu. Tampak Arga hanya meliriknya lalu membuanag muka. Terdengar olehnya, Arga mendengus. Kentara sekali pria itu marah padanya.
"Ga." Iden menyapa Arga yang tidak mau menatapnya.
"Sorry. Gue ngga ada maksud apa-apa. Gue cuma mau mastiin sesuatu." ucap Iden dengan nada suara santai.
"Cih! Ngga ada maksud apa-apa tapi lu nyelidikin istri gue!" tekan Arga.
Hati Arga berdenyut nyeri mendengar ucapannya sendiri. Perasaan melangsa diam-diam menelusup ke relung hatinya. Baru saja dirinya merasa mendapat pencerahan yang menghangatkan hatinya dan membuatnya memiliki tujuan hidup, namun sepertinya ada harga yang harus dibayarnya. Sungguh tidak adil baginya.
Iden tercubit mendengar setiap ucapan sahabatnya itu. Dia bisa merasakan apa yang dirasakan Arga. Belum lama Arga dihianati sabahatnya sendiri. Sudah pasti, saat ini pria karismatik itu berpikiran serupa. Pria itu pasti tidak ingin hancur lagi. Iden tahu pasti Arga ketakutan. Takut terpuruk lagi. Dialah saksi bagaimana hancurnya Arga dulu dan susahnya bangkit dari keterpurukannya.
"Sorry." lirih Iden, sementara Arga terkekeh menanggapinya dan Iden tahu Arga sedang mencibirnya.
Apakah dirinya harus mengatakannya sekarang? Pria bernetra coklat terang itu menjadi gamang. Rasa bersalah dan kasihan pada sahabatnya membuatnya goyah.
"Hania sebenarnya bukan anak kandung kedua orangtuanya yang sudah meninggal, Ga." ungkap Iden perlahan.
Arga terbelalak mendengar ucapan Iden. Benarkah? Seketika ada banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya. Pikirannya langsung tertuju pada sang istri di rumah yang sedang bermalas-malasan di tempat tidur. Dirinya tak dapat membayangkan bagaimana rasanya menjadi Hania.
"Sewaktu baru lahir, ada oknum bidan yang menculiknya." lanjut Iden seraya menoleh pada Arga, menatap sahabatnya yang masih terdiam.
Iden bangkit dari duduknya menuju meja kerjanya dan membuka laci. Sebuah amplop berwarna coklat berukuran besar dikeluarkan dari dalam sana.
"Semua ada di sini." ucap Iden seraya mengangkat amplop besar itu, menunjukkannya pada Arga.
Arga langsung bangkit dan menghampiri Iden. Dirinya sudah tidak sabar untuk mengetahui penemuan Iden atas istrinya. Arga mencoba meraih amplop itu dari tangan Iden tapi Iden segera mengelak.
__ADS_1
"Lu janji sama gue, bantu gue ngasih tahu Hania." tawar Iden.
Arga mengernyitkan keningnya tapi tak urung mengangguk juga. Meski dirinya masih belum paham dengan maksud Iden, pria tampan itu setuju untuk membantu. Setidaknya dirinya harus dilibatkan dalam masalah yang menyangkut sang istri.
Arga menerima amplop itu dan langsung membukanya, sementara Iden menatapnya dengan gamang. Apakah sudah saatnya memberitahu Arga dan Hania? Kemudian kedua orangtua dan keluarganya?
"Tiara?" gumam Arga ketika melihat sebuah potret seorang gadis kecil yang cantik mirip dengan mendiang Tiara.
"Itu... Inka." sahut Iden menjawab gumaman Arga yang terdengar olehnya.
Iya. Setiap orang yang mengenal mendiang Tiara pasti akan mengira potret gadis kecil itu adalah mendiang gadis kecil itu. Karena 99% kemiripan kedua gadis kecil itu.
"Inka?" Arga mengernyitkan keningnya seraya menatap Iden yang juga menatapnya.
"Tapi...." Arga masih belum memahami situasi yang terjadi, otaknya yang cerdas masih menebak-nebak beberapa kemungkinan.
"Inka itu saudara kembar Hania, Ga. Mereka kembar. Lahir dengan jarak waktu 15 menit aja. Lalu mereka dipisahkan dengan kejam. Saat itu oknum bidan itu langsung kabur dari rumah sakit tempatnya bekerja. Hilang jejak." terang Iden dengan mata memerah menahan sesak di dada.
"Gue udah usut lagi kasus itu. Tapi oknum bidan itu udah meninggal." suara Iden tercekat.
Pria tampan khas bule itu menghela napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. Teringat ketika dirinya menemukan keberadaan oknum bidan yang menjadi tersangka penculikan bayi Hania. Mendengar pengakuan wanita paruh baya itu, amarahnya memuncak dan membuatnya khilaf. Pria bernetra coklat terang itu menyiksa oknum bidan yang sudah lanjut usia itu hingga tak sadarkan diri dan meregang nyawa beberapa hari kemudian.
Sementara Arga mengepalkan sebelah tangannya erat dan yang satu lagi meremas kertas yang belum sempat dibacanya. Darahnya serasa mendidih. Baru mendengar secuplik cerita singkat Iden saja, amarahnya sudah membara. Belum juga dirinya membaca kertas-kertas dalam genggamannya.
"Apa hubungannya sama lu?" tanya Arga seraya menatap tajam Iden.
Pria tampan itu tampak tidak suka Iden mengetahui masa lalu Hania melebihi dirinya.
"Lu cari tahu aja di situ. Semua udah komplit. Termasuk tes DNA Hania." saran Iden seraya menunjuk kertas yang pegang Arga dengan dagunya yang memar.
"Lu juga ngelakuin tes DNA ke Hania!?" suara Arga terdengar penuh penekanan.
"Lancang!" seru Arga seraya menggebrak meja kerja Iden.
*******
Thanks for reading!
Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1