
"Kamu ngga mau ngasih aku sambutan istimewa? Sambutan yang cuma bisa dilakukan seorang istri ke suaminya?" bisik Arga lembut di telinga Hania yang membuat Hania merinding
"Hah?" Hania menoleh ke arah Arga yang duduk menempel padanya, mengikis jarak di antara mereka, membuatnya semakin salah tingkah.
Rasa merinding akibat bisikan Arga saja belum hilang, ditambah posisi mereka yang berdekatan begitu. Dengan tatapan mendamba, pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu, membuat Hania semakin gugup. Ingin rasanya dia meninggalkan kamar itu.
"Ini malam pertama kita, honey." bisik Arga lagi.
Suara Arga sudah serak dan berat menunjukkan pria tampan itu sudah siap berbuka puasa. Lebih dari 5 tahun lamanya Arga seperti mati rasa, tidak terpengaruh oleh penampilan wanita-wanita cantik dan seksi yang menggodanya. Namun, entah kenapa seiring dirinya yang tertarik pada pesona Hania, 'jendral jack'nya langsung ikut bereaksi pada wanita cantik itu. Sejak pertama kali tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Hania dalam insiden yang tak disengaja waktu itu, sejak itu pula Arga semakin jatuh hati pada wanita lembut itu.
Tangannya meraih dagu Hania dan mengarahkannya mendekat ke arahnya. Cup. Pria tampan itu mulai mel***t lembut bibir merah jambu istrinya yang terasa lebih kenyal dan menggairahkan malam itu. Dorongan hasratnya membuatnya mem*g*t bibir itu penuh tuntutan.
Kecupan yang berubah menjadi lu***an lembut yang menuntut dari sang suami membuat Hania terbuai. Secara impulsif, wanita cantik itu membalas dengan mesra. Namun, lagi-lagi bayangan dirinya dic*mb* Raka kembali muncul. Terasa sangat jelas hingga Hania melepaskan lu***annya tiba-tiba. Ketegangan kembali menguasainya. Dia ingat Raka juga pernah menyentuhnya dengan lembut.
"Honey? Liat aku." pinta Arga dengan napas memburu menahan gejolak.
Pria itu sudah pasti kecewa. Ditengah hasratnya yang memuncak, istri barunya malah memutus kegiatan pemanasan mereka. Arga tahu bayangan Raka pasti kembali terlintas di benak Hania dan dia tidak suka. Dia cemburu. Cemburu? Tentu saja! Meski bayangan yang melintas adalah bayangan yang membuat Hania merasakan kembali ketakutannya, tapi dari bayangan itu istrinya tengah terpikirkan pria lain. Di malam pertamanya!
"Pikirin aku saja, oke? Pikirin aku yang ngga suka kamu mikirin laki-laki lain." tekan Arga dengan suara yang bergetar.
Ingin rasanya Hania menangis. Wanita cantik itu jadi merasa bersalah. Bukan inginnya mengingat Raka, namun bayangan itu seolah muncul begitu saja ketika dirinya bermesraan dengan Arga.
"Maafin aku, Mas. Aku ngga bermaksud begitu. Maaf." lirih Hania dengan suara yang juga bergetar, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
Arga seketika tersadar. Ucapannya barusan pastilah membuat Hania terluka. Dan semakin merasa bersalah ketika melihat mata wanita yang sangat dicintainya itu sudah mengembun. Dengan lembut direngkuhnya tubuh ramping istrinya itu. Pria tampan itu menghela napas dalam-dalam.
"Aku yang minta maaf, honey. Aku yang terlalu cemburu." ucap Arga seraya membelai rambut Hania yang masih dalam pelukannya.
Merasakan Arga yang menurunkan egonya membuat Hania semakin terisak. Pria tampan yang sudah menjadi suaminya itu memang sudah sepantasnya merasa cemburu dan tak terima karena dirinya terpikirkan pria lain yang bahkan dirinya pun tak ingin memikirkannya dan sangat membencinya.
"It's okay, honey. Aku sangat memakluminya. Maafin aku yang egois. Nuntut kamu untuk memenuhi hakku. Terus ngerasa kecewa ketika aku ngga dapet itu. Harusnya aku mikirin kamu juga." lirih Arga sementara Hania terus menggeleng dalam pelukan Arga.
__ADS_1
Tanpa Hania ketahui airmata pria karismatik yang sudah sah menjadi suaminya itu mengalir di sudut matanya. Hati Arga terasa sangat nyeri melihat Hania yang terus merasa tertekan karena bayang-bayang traumatik yang dialaminya. Saking sakitnya, pria itu ikut menangis.
"Sialan lu, Ka! Gue pasti bales semua yang udah lu lakuin ke Hania!" geram Arga dalam hatinya seraya mengepalkan tangannya dan mata yang menyorot tajam menunjukkan amarahnya.
Cukup lama Arga memeluk Hania hingga wanita itu mengurai pelukannya. Dengan mata yang masih menyisakan titik air di pelupuk matanya, wanita cantik itu mendongakkan kepalanya menatap suami barunya yang juga menatapnya dengan sendu.
Hania mengulas senyum di bibir merah jambunya seiring menghangatnya hatinya. Pelukan Arga memang tidak pernah gagal membuatnya tenang dan nyaman. Sebelah tangannya terulur mengusap wajah tampan Arga yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
Sementara Arga, pria itu tak berkedip barang sedetik pun menatapi istrinya itu. Entah kenapa setiap melihat mata Hania yang menatapnya lekat, hati Arga selalu bergetar dan darahnya berdesir. Cup. Bibirnya mendarat lagi di bibir berbentuk hati milik istrinya itu. Mel***tnya dengan lembut. Senyumnya terulas tipis di sudut bibirnya ketika Hania membalasnya dengan tak kalah lembutnya.
Arga menc*mb* Hania dengan lembut meski sebenarnya ingin secepatnya menuntaskan hasratnya. Pria itu ingin membuat istrinya merasa nyaman terlebih dahulu hingga bayangan-bayangan yang membuatnya trauma tak lagi mengganggu.
Pria tampan yang sudah polos itu benar-benar menikmati pemandangan indah di hadapannya. Tiba-tiba pikiran Hania yang dic*mb* Raka melintas dibenaknya. Mantan sahabatnya itu juga pernah menyentuh wanita pujaannya. Membuatnya cemburu dan tidak terima. Arga mendesah seraya mengepalkan tangannya. Dirinya saja bisa merasa semarah itu hanya dengan membayangkannya, bagaimana dengan Hania? Istri barunya itu mengalami langsung perlakuan asusila Raka.
Hah. Bagaimana dirinya bisa seegois itu? Dan tidak memikirkan kondisi mental istrinya yang sedang diusahakan kepulihannya selama ini? Arga menggeleng-gelengkan kepalanya. Segera saja dienyahkannya pikiran yang mengganggunya itu. Dirinya sudah bertekad akan menghilangkan semua jejak Raka dari tubuh dan pikiran Hania.
"Ngga usah ditahan, sayang. Keluarin aja. Aku seneng dengernya." pinta Arga dengan suara parau dan berat seraya menatap Hania yang menahan setiap ******* yang keluar dari mulutnya.
"Namanya 'jendral jack'." bisik Arga membuat Hania semakin malu.
Malam itu memang malam pertama bagi Hania dan Arga. Meski bukan yang pertama kali bagi keduanya, sikap canggung dan tegang tetap dirasakan baik oleh Hania maupun Arga. Bedanya, jika Hania terlihat pasif, Arga lebih mengikuti naluri. Pria itu benar-benar pandai memanjakan istrinya.
Meski beberapa kali bayangan Raka muncul ditengah-tengah sentuhan-sentuhan yang diberikan Arga, Hania mencoba menepisnya dengan mengikuti saran suaminya untuk hanya mengingat suaminya itu saja. Dia tidak ingin membuat suaminya itu kecewa. Dia tahu Arga sangat menginginkannya.
Sikap Arga yang sangat memanjakannya membantunya mengusir jauh-jauh rasa traumanya. Sampai disini, bayangan Raka tak lagi muncul. Dia bisa begitu menikmati malam itu bersama sang suami.
Keesokan paginya, Hania terusik karena usapan-usapan lembut di wajahnya yang membuatnya geli. Beberapa kali wanita cantik itu mencoba menepis dan menghindar tapi sepertinya kemanapun dirinya bergerak usapan itu terus mengikutinya.
"Selamat pagi putri tidur." sapa Arga yang tengah tersenyum lebar seraya menatapnya penuh cinta ketika Hania akhirnya membuka matanya.
"Pagi." balas Hania seraya menjauhkan wajahnya dari wajah Arga yang barusan mengecup pipinya.
__ADS_1
"Mas.... Aku masih ngantuk, nih." rengek Hania manja seraya menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya lalu membelakanginya.
Arga hanya tersenyum melihat respon istrinya itu. Membuatnya gemas. Tapi tetap membiarkan wanita cantik itu tertidur lagi sementara dirinya tetap dalam posisi miring tapi kini tangannya memeluk tubuh ramping yang semalam menghangatkan tubuhnya. Istrinya itu pasti sangat lelah.
Memang salahnya membuat Hania masih mengantuk pagi itu. Semalam, Arga benar-benar seperti tidak mau rugi. Puasa yang sudah dijalaninya selama lebih dari 5 tahun benar-benar diakhirinya dengan penuh semangat. Dirinya seperti tak punya lelah. Beberapa kali dirinya mengganggu tidur sang istri karena ingin dipuaskan lagi dan lagi.
Drrrt drrrt drrrt!
Getaran ponsel di atas nakas membuat Arga mengalihkan perhatiannya dari sang istri. Pria karismatik itu mengernyitkan dahinya. Pasalnya bukan ponselnya yang bergetar tapi ponsel Hania. Tidak ada nama kontak hanya nomor yang tak dikenal.
"Dek! Bisa kita ketemu? Ada yang mau Mas omongin sama kamu. Soal...." kalimat penelepon itu terpotong.
"Mau ngomong apa sama istri gue!?" potong Arga ketika mengetahui siapa penelepon istrinya itu.
"Apa? Lu siapa!? Siapa yang istri lu!?" terdengar nada tak percaya dari ujung ponsel Hania.
"Gue Arga. Suami Hania. Sudah paham 'kan? Mulai sekarang kalau ada urusan sama istri gue, hubungi gue!" sindir Arga.
Arga tidak suka jika mantan suami istrinya masih menghubungi istrinya lagi. Sejak awal, pria tampan itu tidak suka dengan kehadiran Ryan di dekat Hania. Mode cemburunya langsung aktif begitu pria dari masa lalu wanita yang dipujanya itu muncul.
"Oh. Begitu. Selamat." ucap Ryan melemah.
Arga memutuskan sambungan telepon dari Ryan tanpa kata-kata penutup. Ditatapnya lagi sang istri yang kini menjadi pemandangan paling disukainya. Senyumnya terbit. Dia merasa bangga, istrinya itu pandai menjaga dirinya. Bahkan nomor kontak mantan suaminya saja dihapus dari daftar kontak di ponselnya.
Arga membawa istrinya ke dalam pelukannya membuat Hania menggeliat lalu melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. Arga mengecup puncak kepala Hania dengan sayang. Merasakan dadanya terasa penuh dengan rasa bahagia. Rasa yang tidak pernah dirasakannya, bahkan ketika masih terikat pernikahan dengan mantan istrinya.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
__ADS_1
🤗🤗🤗😘