Yang Terakhir

Yang Terakhir
18. Akhirnya Terkuak


__ADS_3

Tidak tahan dengan amarah yang sudah ditahannya sejak beberapa hari yang lalu, Arga langsung meninju rahang pria paruh baya itu. Seketika darah segar mengalir dari kulit yang sudah pasti robek mengingat kerasnya pukulan Arga.


Tidak sampai disitu. Arga terus memukuli pria paruh baya tadi. Di hidung, rahang kanan kiri, tangan, kaki, perut, dada, pelipis, punggung. Beberapa bagian tubuh pria itu sudah berlumuran darah.


Terdengar jeritan yang teredam kain dari pria paruh baya itu tapi Arga masih belum puas. Hingga Reza yang harus menghentikan tindakan Arga. Bisa bahaya kalau terus berlanjut.


Arga menghela napas dan membuangnya dengan kasar berharap amarahnya ikut terbuang. Dia mengatur napasnya seraya menyisir rambutnya yang mulai memanjang dengan jarinya yang berlumuran darah. Lalu melangkah mendekati pria paruh baya itu, dan mengangkat wajah berlumuran darah yang sudah tertunduk lemas itu.


"Apa salahku Oom? Apa salah mendiang ayahku? Kau,,, tega sekali!" Arga bertanya sambil memandang wajah yang mirip wajah mendiang ayahnya dan juga dirinya, matanya sudah berkabut.


Napas Arga memburu menahan kesedihan hatinya. Si penghianat itu tak lain dan tak bukan adalah adik kandung mendiang ayahnya. Dari garis keluarga mendiang ayahnya, Arga hanya memiliki seorang paman.


Oom Aris. Orang yang menggantikan sosok mendiang ayahnya. Selain wajahnya yang mirip, tubuh dan karakter sang paman juga mirip. Oom Aris jugalah yang mengajarinya bela diri hingga dia meraih sabuk hitamnya. Oom Aris jugalah tempatnya mengadu ketika dirinya sedang tidak akur dengan ayahnya. Yang mengajarinya mendaki gunung, arung jeram, memancing, off road, dan hal-hal ekstrim lainnya, karena sang ayah terlalu sibuk bekerja.


Tapi siapa sangka sang paman memiliki pikiran picik dan serakah seperti itu. Dan sejak kapan? Arga meraup wajahnya dengan kedua tangannya dan berjongkok di hadapan sang paman, memandangi wajah yang mirip mendiang ayahnya dan juga dirinya, lalu meletakkan kepalanya di pangkuan sang paman.


Orang kepercayaan Reza melepas sumpalan kain yang diplester pada mulut Oom Aris lalu Reza memerintahkan semua keluar dari kamar mandi itu. Terdengar tawanya mengejek Arga.


"Kamu itu cerdas tapi aku bisa menipumu dengan mudah." ucapnya.


"Aku sangat menyayangimu Arga. Tapi disisi lain aku juga membencimu." lanjut Oom Aris.


"Aku berpikir, apakah kalau aku yang menikahi ibumu, wajahmu akan mirip denganku?" kata Oom Aris seraya menatap wajah Arga yang kini menatapnya.


Kekehan mengejek kembali terdengar.

__ADS_1


"Apa yang mau Oom katakan!?" tanya Arga dengan intonasi yang mulai meninggi, dia semakin tidak sabar.


Tawa Oom Aris semakin menggema di dalam kamar mandi yang cukup luas itu.


"Aku yang bertemu ibumu lebih dulu, yang mengenalnya lebih dulu, yang,,, mencintainya lebih dulu." Arga terbelalak mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut sang paman.


"Iya, aku mencintai ibumu." tegas Oom Aris.


Dia memandangi wajah keponakannya itu. Memanglah mirip dengannya. Tapi dia bukan darah dagingnya. Oom Aris mencintai Ibunya Arga. Sejak awal bertemu ibunya Arga sudah menarik perhatiannya. Tapi ternyata orangtuanya menjodohkan ibunya Arga dengan sang kakak, Arya, ayahnya Arga. Tampak sekali, baik ayahnya Arga dan ibunya Arga saling menyukai sehingga acara perjodohan hingga pernikahan pun berjalan sangat lancar.


Kakek dan Nenek Arga tahu kalau Oom Aris juga menyukai ibunya Arga dan merasa khawatir akan mengganggu rumah tangga ayah dan ibunya Arga jadi Oom Aris dijodohkan dengan wanita yang tak kalah cantik dari ibunya Arga. Setelah menikah, Oom Aris menjalankan usaha milik kakeknya Arga yang berada di luar kota.


Oom Aris kembali ke Jakarta ketika Neneknya Arga meninggal, menyusul kepergian sang suami. Saat itu Arga berumur 6 tahun. Oom Aris memyayangi keponakannya itu, benar benar sayang yang lahir dari hatinya. Arga kecil membuatnya ingin memiliki keturunan juga.


Tapi karena rasa cinta pada ibunya Arga belum hilang, Oom Aris kesulitan menyentuh Tante Mela, istrinya. Karenanya hingga usia pernikahannya berumur 5 tahun, mereka belum dikaruniai momongan.


ketika ayahnya Arga berhasil menjadikan perusahaan yang dibangunnya sendiri menjadi perusahaan furniture no. 1 di Jakarta. Berbagai akal busuk mulai menyelinap dan bersarang di otak Oom Aris. Oom Aris tersenyum masam mengenang rasa bencinya yang dahulu hingga sekarang.


"Aku mengajarimu hal hal ekstrim, bukan tanpa alasan." suara parau Oom Arga kembali terdengar.


Arga masih berjongkok di hadapan sang paman. Matanya menatap tajam ke arah wajah yang berlumuran darah itu. Otaknya masih berputar-putar mencerna cerita sang paman. Dirinya masih tidak percaya. Sang paman yang dirasanya menyayanginya tega melakukan perbuatan yang menyakitinya. Katakan saja dirinya naif. Tapi bukan keluarga yang tidak harmonis begini yang diinginkannya. Tiba-tiba dirinya teringat sang ibu. Apakah ibunya sekarang sedang baik-baik saja? Apakah ibunya tahu jika sang paman mencintainya? Apakah ibunya tahu yang dilakukan pamannya?


Pamannya membenci ayahnya yang dianggap merebut ibunya dan ingin menghancurkan ayahnya. Oom Aris itu mencintai ibunya. Dia tidak mungkin melukai wanita yang dicintainya.


Jadi dia memilih menyingkirkan anaknya untuk menghancurkan ayahnya. Jadi? Mata Arga seketika terbelalak mendapati pemikirannya sendiri. Tidak mungkin! Tangannya mengepal erat.

__ADS_1


Mendengar kata demi kata yang meluncur lancar dari mulut sang paman dengan raut wajah tanpa rasa bersalah, membuat darah Arga mendidih. Jika tidak ingat akan jasa-jasanya, ingin rasanya Arga melenyapkannya. Aaargh!


"Kenapa? Kamu masih ngga percaya? Heh!" ejek Oom Aris.


"Oom, aku mungkin terlalu berharap memiliki keluarga yang harmonis." ucap Arga lalu berdiri.


"Aku ingin memiliki keluarga yang saling menyayangi, bisa saling menerima dan memaafkan." lanjut Arga.


"Tapi situasi kita berbeda." matanya kembali mengelam, menatap tajam sang paman.


Dengan sekuat tenaga ditendangnya dada pria paruh baya itu hingga terjungkal ke belakang. Pria itu seketika tak sadarkan diri. Arga mendesah berat. Air matanya tak terbendung lagi.


Reza dan anak buahnya langsung menerobos masuk ke kamar mandi karena mendengar keributan. Dirinya tak percaya dengan penglihatannya. Pria paruh baya itu tergeletak tak bergerak dan masih terikat pada kursi kayunya. Seorang anak buah Reza mendekati tubuh pria paruh baya tadi dan memeriksanya.


"Dia pingsan, Pak." lapornya menata Reza.


"Angkat dia!" perintah Reza.


Arga segera mengusap cairan bening di sudut matanya dan berjalan keluar kamar mandi ketika Reza sudah berada di dalamnya. Dia duduk di sofa ruang keluarga yang terletak dekat jendela kaca besar. Pandangannya menatap nanar kelap kelip lampu kota Surabaya.


"Rizal akan datang memeriksa Oom Aris." Reza baru saja memanggil dokter pribadi yang juga salah satu sahabat Arga.


Arga hanya menganggukkan kepalanya. Dirinya masih kesal pada pamannya itu. Kurang baik apa keluarganya pada sang paman. Bahkan ibunya yang mungkin saja tahu jika sang paman mencintainya tetap bersikap baik. Bahkan Tante Mela sering menginap di rumah mereka ketika berada di Jakarta.


***********

__ADS_1


Dukung karya ini terus ya,,, dengan like favorit, dan vote 😊😊😊


Krisannya juga ditunggu 🤗


__ADS_2