
Hania yang sudah membersihkan diri sedang membuatkan minuman hangat untuk Arga dan putrinya ketika dua orang yang bersekongkol membuatnya basah-basahan itu tiba. Tiara langsung memasuki kamar mandi di kamarnya. Sementara Arga yang melihat Hania di dapur, menghampiri wanita bertubuh ramping itu. Hendak menggodanya.
Ya. Arga melihat Hania di dapur ingin memberinya sedikit balasan karena secara tidak sengaja sudah mengerjainya barusan, membawa handuk dan baju atasannya. Pria bertelanjang dada itu berdiri tepat dibelakang Hania. Begitu dekat hingga wangi shampo Hania dapat tercium olehnya. Pria itu mengunci tubuh ramping Hania dari belakang hingga tubuhnya sedikit menempel b****g Hania.
Melihat leher jenjang nan mulus Hania, tak dipungkiri dirinya tergoda. Dia mengendus leher itu. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Hania. Dan lagi-lagi si "dia" bereaksi berlebihan membuat pria itu semakin bergelora. Tanpa sadar tangannya menarik tubuh Hania semakin merapat ke tubuhnya. Bibirnya sudah menempel di leher jenjang itu. Napasnya terdengar berat. Namun sejurus kemudian dia tersadar.
"Kamu ngerjain aku, hum?", ucap Arga. Kini bibirnya menempel di telinga Hania.
Hania terkejut ketika tiba-tiba ada yang mengukungnya dari belakang, tapi dia sudah hapal siapa orangnya. Arga. Entah kenapa dirinya tidak memberontak ketika pria itu mengukungnya bahkan mendekapnya dari belakang dan menempelkan bibirnya di lehernya, mengecupinya?
Dia menikmati setiap sentuhan pria seksi itu. Dan semakin bergairah ketika senjata pusaka Arga sangat terasa mengeras menempel di b****gnya. Dia merasa napasnya sesak. Hingga Arga menempelkan bibirnya ditelinganya, barulah dia tersadar. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menoleh ke samping kanan. Menatap Arga yang menatapnya sayu.
Kabut gairah terlihat jelas dimata tajam itu. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya. Sementara Hania sudah memejamkan matanya, sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia pasrah saja dengan naluri yang menuntunnya. Cup. Bibir Arga menempel tipis di bibir Hania. Jantungnya sudah berdebar tidak karu-karuan.
"Mama! Baju unicornku mana!?", suara Tiara yang melengking terdengar mendekat, reflek Arga melepas dekapannya dan Hania bergeser menjauh, keduanya canggung.
Hania menatap Arga yang bertelanjang dada dan benda pusakanya masih menegang. Sementara Arga terlihat frustrasi menatapnya. Wanita itu segera menggeser tubuhnya kedepan Arga menutupi benda pusakanya agar Tiara tidak melihatnya.
"Ma? Baju unicornku ngga ada", adu Tiara, gadis kecil itu menatap Hania dan Arga bergantian.
"Kok Oom, belum mandi sih?", tanya Tiara polos.
"Ah. Iya sayang. Tadi Mama minta tolong Oom dulu. Kamu cari lagi deh nanti mama bantu, mama cuci tangan dulu, ya?", sahut Hania yang melihat Arga diam saja tidak menjawab pertanyaan Tiara, lalu memerintah gadis kecil itu kembali ke kamarnya lagi.
Hania segera menyusul Tiara ke kamar setelah gadis kecil itu tidak terlihat lagi.
"Mas, umm... cepetan mandi, nanti kedinginan. Aku, nanti aku buatin minuman panas", perintah Hania terbata sebelum meninggalkan Arga.
Arga hanya menatap punggung Hania hingga menghilang di balik pintu. Mendesah berat. Dirinya benar-benar frustrasi, semakin lama semakin tidak bisa mengendalikan dirinya ketika berdekatan dengan wanita cantik itu. Tapi kemudian mengulum senyumnya mengingat Hania menerima sentuhannya barusan.
Hembusan pendingin udara di ruangan suit room itu menuntun langkah Arga menuju kamarnya. Kulitnya merinding kedinginan. Di dalam kamar mandinya, pria yang sedang frustrasi itu berkacak pinggang menatapi si "dia" yang GeEr tiada tara. Dan kini dia harus menenangkannya.
Selang setengah jam, Arga baru keluar dari kamarnya. Sudah rapi dengan kaos polo biru muda dan celana kardigan berwarna coklat susu. Sudah ada Tiara yang duduk manis dengan secangkir coklat panas dan churros menemani. Pria dewasa itu mendudukkan diri di sebelah kiri Tiara. Hania datang membawakan secangkir kopi hitam panas kesukaan pria tampan itu dan segelas teh chamomile untuknya. Dia masih gugup.
"Malam ini mau kemana?", tanya Arga pada Tiara, menetralkan jantungnya yang berdetak kencang saat matanya bertemu mata kelinci milik Hania.
Tiara mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya didagu, matanya menerawang, seolah berpikir. Tapi mau kemana? Sedangkan dia tidak tahu mana-mana di kota itu. Tingkahnya itu mengundang kekehan Arga dan Hania.
"Kamu mikir apa sih, sayang?", tanya Hania seraya membelai rambut Tiara, merasa gemas.
"Emang Oom mau ngajak kemana? Aku ngga tau
mau kemana?", ucap Tiara menatap Arga seraya memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Mau beli oleh-oleh?", tawar Arga.
Mendapat tawaran begitu, wajah Tiara langsung murung. Melihat perubahan yang kontras diwajah gadis kecil itu, Arga menoleh pada Hania. Tatapannya seolah bertanya, dia kenapa?
"Sayang, kamu bisa beliin oleh-oleh untuk Bu guru, Pak Amril, Cindy, Mas Bayu, sama Mba Binar kok", hibur Hania tapi Tiara masih murung.
Melihat wajah Tiara yang berubah sendu, membuat hati Hania tercubit. Selamanya Tiara tidak pernah mengoleh-olehi siapapun sepulangnya dari liburan. Memangnya siapa yang akan dioleh-olehinya? Dirinya tidak memiliki keluarga lain yang akan diberinya oleh-oleh. Seperti teman-temannya.
Arga menatap Tiara lekat. Dirinya merasa bersalah dan menyesal telah mengusulkan idenya. Sekarang bagaimana menghibur anak perempuan itu?
"Maaf", ucap Arga lewat gerakan bibirnya tanpa bersuara ke arah Hania yang disambut senyum manis seolah berkata, tidak apa-apa.
"Eh, kita keliling kota aja gimana? Kita kan belum pernah jalan-jalan di kota ini malam-malam selama disini, ya kan? Katanya ada kampung lampion gitu disini. Ya kan. Mas?", Hania meminta persetujuan Arga, wanita cantik itu masih berusaha menghibur putrinya.
"Ah iya bener, Oom juga pengen kesana deh. Ayo! Ntar keburu kemalaman", sambut Arga semangat.
Tiara mendongakkan wajahnya. Matanya yang bening menatap Arga dan Hania. Gadis kecil itu mengangguk saja sedangkan wajahnya masih tersisa raut muramnya, namun lebih cerah.
Dengan petunjuk dari gugul map, Arga mengendarai sendiri mobil pribadinya yang dikirimkan anak buahnya dari Surabaya. Arga menyetir dengan kecepatan sedang. Kebetulan malam itu adalah weekend jadi jalanan kota itu padat. Mereka benar-benar berkeliling-keliling saja. Tiara enggan berhenti di setiap tempat yang ditunjukkan Arga dan Hania.
"Katanya mau ke kampung lampion", protes Tiara, dirinya jadi penasaran dengan tempat itu tapi malah diajak berputar-putar saja.
"Jadi, Tiara mau kesana?", tanya Arga sambil menyetir sambil memperhatikan wajah gadis kecil itu dari kaca visioner.
"Iya", sahut Tiara mengulang jawabannya,
Arga dan Hania mengulum senyum mendengar Tiara mulai membuka suaranya. Itu artinya gadis kecil itu mulai baik-baik saja. Arga mulai memahami setiap kebiasaan anak perempuan berlesung pipi yang membuatnya jatuh sayang dalam waktu secepat-cepatnya itu. Seperti ibunya. Dua wanita beda usia yang saat ini semobil dengannya begitu kompak memikatnya. Arga melirik Hania yang tengah tersenyum menatapnya.
Mata bening Tiara terlihat berbinar begitu tiba di kampung lampion. Aneka warna lampu yang bergantungan terlihat seperti bintang dilangit. Juga berbagai karakter yang dibentuk dari lampion. Gadis kecil itu terlihat takjub dengan suasana di tempat itu. Senyumnya berubah jadi tawa riang. Jiwa banci kameranya mendadak bangkit. Minta difoto disana dan disini. Dia sudah lupa dengan kesedihannya.
Melihat Tiara yang kembali ceria, Arga merasa lega. Matanya terus mengawasi gadis kecil itu. Mendadak dirinya teringat Devan. Putranya itu dulu begitu mudah tersenyum dan tertawa riang kembali setelah kerap merasa kecewa. Mungkin begitulah anak-anak.
Hingga malam semakin larut. Tiara sudah lelah berlari kesana kemari, berswafoto, dan bermain beberapa permainan disana. Bahkan mereka makan malam dengan menu sederhana khas kota Malang ditempat itu.
Meski jalan-jalan malam itu hanya berkeliling di kampung lampion, namun tidak kalah berkesan bagi Tiara. Sepertinya setiap tempat yang dikunjunginya memiliki kesan yang menyenangkan baginya.
"Sayang, udah malam nih, pulang yuk!", ajak Hania.
Arga tengah menemani Tiara bermain ATF. Pria itu langsung melihat jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan kirinya ketika Hania berseru mengajaknya dan Tiara pulang. Eh? Tadi panggilan 'sayang' ditujukan untuk dirinya juga tidak ya? Senyum tipis terbit disudut bibir pria tampan itu, memikirkan dirinya yang GeEr dengan panggilan 'sayang' Hania.
Sesampainya di hotel tempat mereka menginap, Tiara sudah tertidur dengan lelap. Hania sudah akan membangunkan gadis kecil yang cantik itu tapi Arga melarangnya.
"Biar kugendong aja, kasian, dia capek banget kayaknya", cegah Arga.
__ADS_1
Arga menyerahkan kunci mobilnya pada petugas parkir valet, lalu berjalan memutar ke bagian samping kiri mobilnya. Hania memberikan jalan untuk Arga agar bisa mengangkat tubuh mungil itu kegendongannya.
Arga menidurkan Tiara di ranjang berukuran besar di kamar yang ditempati Hania dan putrinya itu. Lalu menyelimutinya dan mengusap puncak kepala gadis kecil itu. Sementara Hania menyalakan pendingin ruangan. Lalu mengekori Arga keluar kamar.
"Besok kita check out jam 9. Flight kita jam 11. Kamu istirahat sekarang", ucap Arga seraya menatap wajah cantik Hania.
"Umm... Soal Tiara tadi, aku bener-bener minta maaf, Han. Aku ngga bermaksud buat dia sedih", sesal Arga lagi.
"Kalau soal oleh-oleh, anak itu kadang suka sensitif", ucap Hania seraya tersenyum masam.
"Kenapa?", Arga jadi penasaran.
"Dia suka terpengaruh cerita dari teman-temannya. Kalau oleh-oleh itu diberikan kekeluarga seperti kakek nenek, oom tante, tapi... Tiara ngga punya keluarga lain selain aku", wajah Hania berubah sendu ketika bercerita.
"Maaf", ucap Arga, tangannya terulur menggenggam tangan Hania menyalurkan kekuatan.
"Udah Mas, ngga pa-pa. Ngga usah di bahas lagi", pungkas Hania.
Hati Hania mendadak berdenyut nyeri. Sudah lama tidak ada yang bersimpati padanya. Mendapat perhatian dari Arga, wanita cantik itu terharu. Padahal pria tampan itu hanya menggenggam tangannya saja. Hania terbiasa hidup mandiri sejak kepergian sang ayah, lalu ibunya. Tidak mempunyai saudara lainnya karena sang ayah adalah anak tunggal dan sang ibu dibesarkan di panti asuhan. Mengingat yang dimilikinya hanya Tiara, wanita malang itu mendadak pilu. Meratapi dirinya yang hanya sebatang kara.
"Han. Are okay?", hati Arga ikut berdenyut nyeri menatap mata kelinci wanita cantik itu berkaca-kaca.
Hania menghela napas dalam-dalam sambil mengerjap-ngerjapkan matanya namun pertanyaan Arga malah membuat air matanya luruh. Sudah lama dirinya tidak menangisi nasibnya yang sendirian, bahkan ketika bersama Galih sekalipun. Ini kali pertama Hania menangis di depan Arga. Menangisi hidupnya.
Arga yang sedari tadi menatapnya merasakan hatinya bertambah perih melihat air mata wanita itu berderai membasahi pipi mulus wanita itu. Direngkuhnya tubuh ramping Hania dan membawanya dalam dekapannya. Memeluk erat wanita yang mencuri hatinya. Membiarkan wanita itu menangis didadanya. Entah karena terbawa suasana atau rasa empati, mata tajam Arga ikut mengembun.
Hania mengeratkan pelukannya ditubuh Arga. Entah karena merasa diperhatikan atau hanya sedang bersedih saja, tangisnya semakin pecah dipelukan pria tampan itu.
"Sudah tenang?", tanya Arga setelah merasa Hania sudah tidak menangis lagi.
Arga mengendurkan pelukannya dan membantunya mengusap air matanya ketika wanita itu mengendurkan pelukannya.
Hania hanya menganggukkan kepalanya seraya menyunggingkan senyumnya. Pelukan Arga dirasanya begitu hangat dan menenangkan.
"Makasih. Maaf baju Mas jadi basah", Hania melepaskan pelukannya dan menatapi baju Arga yang basah.
"Ngga masalah, Han. Kamu boleh selamanya nangis disini. Cuma disini", Arga menekan kalimat terakhirnya, membuat Hania terkekeh.
"Istirahatlah, jangan sampai besok kita kesiangan", perintah Arga dan diangguki Hania.
Jarum jam menunjukkan angka 1 tepat. Arga berjalan tegap sambil menggendong Tiara yang tertidur nyenyak sejak pesawat baru take off tadi. Terlihat seperti hot daddy. Dan Hania berjalan disamping pria berkarisma itu. Tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Mereka tiba di bandara Soetta. Di Jakarta. Ya. Saatnya kembali kerutinitas karena liburan telah usai.
*************
__ADS_1
Thank for reading!