Yang Terakhir

Yang Terakhir
196. Si Pemilik Suara Merdu


__ADS_3

"Dia...." Galih menggantung ucapannya lalu menatap Syana lekat.


Galih tentu mengenal gadis dalam foto itu. Syana. Gadis cantik berdagu belah dan selalu ceria. Dimana ada Syana tempat itu akan ramai. Karyawati di divisi keuangan di kantor barunya di Bandung itu langsung menarik perhatiannya sejak pertama kali dirinya mulai aktif di sana.


Namun ketertarikannya itu tak serta merta membuatnya dekat dengan gadis itu. Hanya saja dia senang jika gadis itu terlibat dalam proyek yang sama dengannya. Kehadirannya mampu menumbuhkan semangat pada karyawan yang lain.


Suatu sore, sepulangnya dari kantor, Galih yang kala itu termasuk pendatang baru yang ingin mengenal kota kembang itu, menyempatkan diri berkeliling kota sendirian. Tanpa terasa malam menjelang tapi Galih masih enggan untuk pulang. Rupanya pria gagah itu begitu menikmati keindahan kota itu. Galih menghentikan laju mobilnya di sebuah kafe resto. Memesan makanan dan minuman untuk dinikmatinya sendiri. Dia belum punya teman nongkrong di kota itu.


"Selamat malam kakak-kakak semua. Senang rasanya bisa menemani kalian menyantap hidangan lezat malam ini. Seperti biasa ya, boleh request lagu. Atau kalau mau tes vokal, boleh banget. Hehehe..." sapa seorang wanita dengan suara merdunya seraya terkekeh.


"Baru ngomong aja udah merdu gini." batin Galih tanpa menoleh.


"Baiklah. Ini lagu pertama kita ya. Boleh ikutan nyanyi kalau tahu lagunya. Itung-itung bantuin saya ya. Hahaha...." gelak pemilik suara merdu itu diiringi alunan musik.


Kurasa getaran cinta


Di setiap tatapan matanya


Andai kucoba 'tuk berpaling


Akankah sanggup kuhadapi kenyataan ini


Oh Tuhan tolonglah aku


Janganlah kau biarkan diriku jatuh cinta kepadanya


Sebab andai itu terjadi akan ada hati yang terluka


Tuhan tolong diriku...


Walaupun terasa indah


Andai ku dapat juga dirinya


Namun kuharus tetap bertahan


Menjaga cinta yang tlah lebih dulu ku jalani


Galih larut ke dalam suasana yang tercipta karena lagu yang dibawakan oleh si pemilik suara merdu itu. Benar-benar memanjakan telinga pengunjung. Terdengar juga beberapa pengunjung ikut bernyanyi meski dengan suara yang mungkin bisa merusak kesyahduan lagu tadi dan pula nadanya yang lari kemana-mana. Tapi sepertinya pengunjung tidak peduli.


Tak lama kemudian terdengar riuh tepuk tangan pengunjung seiring usainya lagu tadi.


"Sepertinya banyak yang menghayati lagunya Kak Derby, ya. Hehe.... Tapi lagunya memang enak didengar, ya ngga sih?" para pengunjung kafe pun menyahuti umpan si pemilik suara merdu itu, dia pintar sekali menghidupkan suasana.


"Baik. Lagu kedua, request annya Kak Ayu, ya. Tinggal kenangan, ya. Wah, melow lagi deh kita, hehehe..." ucapnya diiringi alunan musik.


Pernah ada rasa cinta


Antara kita kini tinggal kenangan


Ingin kulupakan semua tentang dirimu

__ADS_1


Namun tak lagi kan seperti dirimu


Oh bintangku


"Yang tahu lagunya, yuk nyanyi bareng." ajaknya lagi di sela-sela menyanyinya.


Jauh kau pergi meninggalkan diriku


Disini aku merindukan dirimu


Kini kucoba mencari penggantimu


Namun tak lagi kan seperti dirimu


Oh kekasih


Pemilik suara merdu itu benar-benar bisa mengajak pengunjung ikut larut dalam setiap lagu yang dibawakannya. Terbukti dengan sebagian besar pengunjung malah seperti paduan suara. Suasana jadi lebih mirip seperti konser mini.


Galih menyunggingkan senyumnya mengagumi pemilik suara merdu itu. Kali ini dia penasaran seperti apa penampakan pemilik suara merdu itu. Atau jangan-jangan dia itu seorang penyanyi profesional?


Deg!


Arga tepaku di tempat duduknya seraya menatap pemilik suara merdu yang barusan dikagumi suaranya.


"Syana?" gumamnya dalam hati.


Syana yang menyadari kehadiran salah satu manager di perusahaan tempatnya bekerja sedikit menganggukkan kepalanya, menyapanya dari kejauhan seraya tersenyum manis sekali.


"Jadi kamu juga kerja di sini? Memang ngga capek? Seharian udah di kantor belum lagi kalau ada lembur, trus malamnya di sini." ucap Galih yang penasaran ketika Syana sedang beristirahat.


"Saya butuh uang, Pak. Gaji saya kurang, Pak. Sekalian nyalurin hobi. Hehehe...." sahut Syana seraya meringis.


"Ya memang ngga akan cukup kalau gaya hidupmu hedon." tegur Galih lagi.


"Saya ngga aneh-aneh kok, Pak. Saya buat bayar utang." sanggah Syana sedikit tak terima karena disangka hedon.


Baru saja Galih akan bertanya lagi ketika seorang rekan Syana memintanya kembali untuk mulai memainkan beberapa lagu lagi. Mereka berpisah di sana. Galih merasa lelah malam itu dan ingin segera pulang.


Galih masih menatap gadis yang mirip Hania itu. Menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar saat tersadar dari lamunannya. Melihat Syana, terselip rasa iba di hatinya. Bagaimana tidak? Gadis itu dulunya periang tapi kini tampak seperti menanggung beban berat. Lebih banyak diam dan sering melamun. Senyumnya yang manis sekali itu pun tidak pernah terlihat semenjak dirinya bertemu di kantor polisi pagi tadi.


Syana dikenalnya sebagai gadis pekerja keras. Meski beban hidupnya berat, gadis itu selalu tampil ceria dan menghangatkan suasana. Lika-liku hidupnya menempanya menjadi sosok yang kuat.


Belakangan baru diketahuinya bahwa gadis itu juga bekerja sebagai kurir pengantar makanan saat akhir pekan. Dia melakukan itu semua untuk membayar hutang yang telah menumpuk. Sebelum meninggal, Ibunya Syana sempat meminjam uang kepada beberapa orang temannya untuk biaya pengobatannya sendiri dan juga neneknya Syana. Hingga ibunya dan neneknya meninggal, hutang-hutang itu belum terbayar dan diwariskan pada gadis malang itu.


"Kamu, apa kabar?" tanya Galih dengan tatapan yang lebih lembut dibandingkan sebelumnya.


"Kamu sama sekali ngga ingat aku? Kita satu kantor loh." imbuhnya seraya menyunggingkan senyum tipisnya.


Syana sempat terpana melihat senyum manis Galih meskipun yang disunggingkannya senyum tipis-tipis saja. Ah. Mungkinkah? dulu dirinya menyukai pria gagah ini? Ya. Tak salah, sih. Galih berwajah teduh dan tampan. Tubuhnya juga bagus. Tinggi dan atletis. Dan lagi pria itu tampak penyayang. Dan lagi, mereka satu tempat kerja. Pasti intensitas ketemuan mereka cukup tinggi. Bisa jadi 'kan karena sering ketemu lama-lama dia suka?


"Ngga. Aku.... Akh! Sssh!" desis Syana seraya memegangi kedua sisi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.

__ADS_1


Lagi-lagi bayangan pria gagah di depannya itu terbersit. Dalam benaknya, pria itu tampak berbicara dan tersenyum padanya. Jelas sekali, pria itu mirip dengan Galih.


"Syana!"


Galih dan Iden sama-sama menggumamkan nama yang sama.


"Ngga usah dipaksa kalau kerasa sakit, Syana. Pelan-pelan aja." ucap Iden lembut memperingatkan Syana seraya mengusap punggung gadis itu.


"Kamu ngga apa-apa?" tanya Galih penuh perhatian, tangannya spontan menggenggam tangan Syana.


Syana hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab 2 pertanyaan sekaligus. Sesekali gadis itu meringis menahan nyeri di kepalanya.


"Kamu bawa obatnya?" tanya Iden lagi.


Lagi-lagi Syana memggelengkan kepalanya. Dia tidak sampai berpikir akan mengalami sakit kepala. Kedatangannya bersama Iden bertujuan memberikan kesaksian. Jika yang dipertanyakan hanya kejadian setelah dirinya terbangun di rumah sakit, dia tidak perlu berpikir keras, atau berusaha mengingat sesuatu yang hilang. Tapi kehadiram Galih, membuat bayangan-bayangan yang terlupakan kembali berputar di pikirannya. Semakin lama semakin tampak jelas.


Iden mengajak Syana kembali ke kediaman orangtuanya. Syana harus beristirahat. Gadis itu lelah. Fisik dan pikirannya sangat lelah. Tampak sekali dari wajahnya yang muram dan tak bersemangat.


Mendadak Iden merasa bersalah telah bersikap tak peduli pada gadis itu. Padahal jika dipikir-pikir bukan mau gadis cantik itu juga masuk ke dalam lingkaran masalah keluarganya. Semua karena kepicikan Aris dan Handoko. Secara impulsif, pria blesteran itu mengusap rambut hitam sebahunya Syana. Dan pria tampan itu hanya tersenyum tipis ketika Syana menoleh padanya, menatapnya heran.


"Apa rencana lu sekarang?" tanya Iden sebelum mereka masuk ke mobil masing-masing.


"Gue mau nemuin Hania." sahutnya datar dan berlalu seraya melambaikan tangannya.


"Ohya, apa Syana udah pernah ketemu Hania?" tanya Galih membalik tubuhnya kembali mengurungkan langkahnya.


"Kata Arga, Hania yang pernah liat Syana. Kebetulan." Galih menganggukkan kepalanya.


"Berarti Hania ngga tau kalau dia dicopy?" Iden terkekeh mendengar istilah Galih.


"Di copy?" ulangnya lalu terkekeh lagi.


"Gimana dengan Syana?" tanya Galih seraya melirik sisi mobil Iden dimana Syana duduk.


"Syana? Belum. Tapi dia udah tau kalau wajahnya diubah mirip dengan Hania." terang Iden.


"Dia sempat stres. Berat badannya turun banyak dari yang pertama dia dateng. Dia mau ketemu Hania, mau minta maaf katanya." Iden terkekeh.


"Kenapa minta maaf?" tanya Galih seraya mengernyitkan keningnya.


"Dia pikir itu salahnya. Karena punya kemiripan dengan Hania, dia sampe dimanfaatkan orang tua itu." Iden menghembuskan napasnya dengan kasar.


Lalu keduanya saling melempar tatapan ke sembarang arah dan suasana pun menjadi hening.


"Salam sama Hania. Dan sebaiknya lu ngga usah bahas Syana atau apapun tentang masalah ini. Gue sama Arga udah ngerencanain pertemuan dia sama orangtua gue dan Syana." ucap Iden memecah keheningan diantara mereka.


"Gue duluan. See you." pamitnya lalu masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu meninggalkan Galih yang masih berdiri di area parkir.


Galih memasuki unit apartemennya. Melepas jaket bomber yang sejak tadi melekat di tubuh atletisnya dan melemparnya ke sandaran sofa begitu saja. Lalu melangkah ke arah jendela kaca besar yang menampakkan pemandangan langit biru keputihan yang cerah. Lalu merogoh saku celananya, meraih 2 lembar foto yang tadi disimpannya di sana. Ditatapnya lekat foto Syana.


"Dia memang mirip Hania." gumamnya lalu tersenyum tipis.

__ADS_1


*******


Makasih udah baca... ditunggu kelanjutannya ya... 🥰🥰🥰


__ADS_2