
Arga berjalan tergesa-gesa memasuki vila berlantai 2 yang dibangunnya di pinggiran ibukota itu. Tinggi tubuhnya yang mencapai 180 centimeter itu membuat langkahnya yang panjang cepat mencapai ruangan yang dimaksud.
"Gimana bisa kabur!? Dia 'kan lagi sekarat!?" suara bariton yang yang sedang membentak anak buahnya, suaranya Kelik, terdengar sampai ke luar ruangan.
"Gue udah cek cctv, dia dibantu cewek seksi sama 1 lagi cowok seumuran kita-kita." ucap Johan dengan nada suara lebih rendah, bukan bermaksud membela rekannya yang sedang diomeli Kelik.
Semua percakapan dari ruangan yang terletak di bagian belakang vila itu dapat terdengar oleh Arga yang masih berjalan mendekati ruangan itu. Sayup-sayup namun masih terdengar jelas.
"Siapa yang sekarat?" suara Arga yang tiba-tiba muncul, memecah ketegangan di dalam ruangan itu membuat perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan itu teralihkan ke arahnya.
"Bos?" kompak mereka menyapa Arga yang masih berdiri di depan pintu yang terbuka dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
Arga menatap satu persatu anak buahnya. Suara dingin dan tegas menciutkan nyali sekumpulan pria berotot andalan kelompok mereka. Dibentak Kelik dan ditatap tajam oleh Johan saja mereka sudah bergidik, apalagi jika bos langsung yang berhadapan dengan mereka. Hanya Kelik dan Johan yang berani mengangkat kepalanya.
"2 hari lalu Pak Raka melukai dirinya dengan pisau buah yang tertinggal di kamarnya, Bos." sahut Kelik.
"Entah karena dia putus asa atau hanya akal-akalannya saja supaya bisa keluar dari sini hingga dia nekat ngelakuin itu. Dan karena lukanya terlalu dalam dan banyak mengeluarkan darah, kami membawanya ke rumah sakit." lanjutnya dengan Arga yang masih setia mendengarkan.
"Kondisinya masih lemah waktu aku ke sana. Ngga ada gelagat yang mencurigakan karena memang keberadaannya ngga ada yang tau." terdengar Kelik menghela napas berat.
"Terkait cewek dan cowok yang bawa Pak Raka kabur, belum bisa kita ketahui, Bos. Mereka pake masker dan topi. Itu ngehalangi kita untuk tau gimana mukanya." sambung Johan.
Arga menghela napas dalam-dalam. Pria karismatik itu memang masih tidak ingin menemui Raka, dirinya masih belum tahu akan membalasnya dengan cara apa. Yang terpikirkan olehnya saat itu adalah memberinya tekanan mental, membuatnya kesepian dan sendiri. Satu hal yang paling tidak disukai oleh mantan sahabatnya itu. Dan sepertinya caranya itu berhasil. Raka mulai frustrasi bahkan mungkin depresi. Pria itu mulai menunjukkannya dengan melukai dirinya beberapa kali dan kali ini adalah yang terparah.
"Cari dia! Aku ngga mau tiba-tiba dia muncul di depan Hania!" tekan Arga dengan sorot mata yang mengelam.
"Kita kembali ke rumah sakit!" perintah Arga pada Reza yang berdiri diam di belakangnya.
Pria manis berkacamata itu hanya mengangguk patuh dan berjalan mengikuti atasannya. Setelah Arga duduk dengan nyaman, Reza mulai melajukan mobil hitam mengkilap itu dengan kecepatan sedang.
Tok tok tok!
Ketukan di pintu membuat Hania yang sedang berbicara dengan Bi Sumi menoleh. Kemudian sosok yang muncul dari baliknya membuat matanya berbinar.
"Mba Niken!" seru Hania sedikit tertahan seraya membelalakkan matanya.
Hania setengah berlari menghampiri Mba Niken, sahabat yang sudah dianggapnya sebagai kakak perempuannya. Wanita cantik itu langsung memeluk wanita yang usianya lebih tua 10 tahun darinya itu.
__ADS_1
Mata Mba Niken sudah mengembun saja begitu melihat Hania. Wanita cantik yang berusia lebih muda darinya itu terlihat lebih kurus dari yang terakhir dilihatnya beberapa bulan yang lalu. Kesedihan sudah banyak berpengaruh pada berat badannya.
Merasakan Hania mulai mengurai pelukannya, Mba Niken segera mengusap air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Laras... Kamu juga datang? Oh, I miss you." kini Hania beralih memeluk Laras.
"So do i, Mba." Laras membalas pelukan Hania dengan riang.
"Betah nih di Bali." ucap Hania seraya melepas pelukannya.
"Harus betah lah Mba. Dio kerjaanya di sana, mau gimana lagi." sahut Laras.
"Baru minggu ini, Dio agak luang jadi kuajak ke sini deh. Kebetulan juga Mba Niken ada di sini. Ya walaupun cuma sebentar tapi kita bisa ketemu bareng." lanjutnya seraya tersenyum lebar dan sekali lagi memeluk Hania.
Mba Niken terus menatap Hania. Dirinya merasa tidak enak hati. Dia teringat saat itu. Hania pasti begitu terluka akan kematian putrinya. Dan di saat begitu, dirinya tidak bisa berada di sisi sahabatnya yang pastinya membutuhkan dukungan dari mana-mana termasuk dirinya. Wanita keibuan itu juga merasa terpukul dan kehilangan akan sosok Tiara, gadis kecil yang juga disayanginya seperti putrinya sendiri, bahkan menganggapnya sebagai anak bungsunya.
Mba Niken tidak tahu jika Hania juga mengalami pelecehan yang membuatnya harus menjalani terapi untuk menghilangkan traumanya. Entah apa reaksinya jika dia tahu.
"Mba kapan datengnya? Kok ngga ngabarin sih? Tau aku di sini darimana? Mba sama siapa? Mas Harry ngga ikut?" Hania mengalihkan tatapan ke arah Mba Niken dan memberondong wanita itu dengan serentet pertanyaan.
Mendengar nada suara Hania yang sepertinya sudah ceria, Mba Niken tidak ingin mengungkit-ungkit kepergian Tiara lagi. Sudah cukup membicarakan gadis kecil yang malang itu melalui sambungan telepon. Ya. Mba Niken langsung meneleponnya begitu mendengar kematian Tiara dari Lisa.
"Ngomong-ngomong, selamat ya, akhirnya si ganteng itu halalin kamu. Aku ikut seneng banget. Mas Harry titip salam. Dan aku ngga bisa lama, abis ini langsung terbang lagi." ucap Mba Niken seraya memgulurkan sebuah paperbag berlogo rumah mode internasional.
Kini mereka sedang berada di kantin rumah sakit, kantin yang lebih mirip kafe karena pasien rumah sakit itu dominan dari keluarga berada sehingga pengunjungnya pun mayoritas dari kalangan kelas atas. Hania mengajak Mba Niken dan Laras ke sana agar lebih santai dan tidak mengganggu Ibu mertuanya yamg sedang beristirahat.
"Sorry, telat." lirih Mba Niken.
"Aku juga. Semoga bahagia selalu ya Mba." sambung Laras.
"Apaan sih, Mba, Laras. Ngga pake ginian aku juga udah seneng kalian nyempetin dateng nemuin aku." sergah Hania dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Belum tuntas rasa rindunya pada Mba Niken dan, dirinya harus berpisah lagi dengan wanita yang dianggapnya kakak perempuannya itu. Dan airmata haru yang sudah ditahannya sedari tadi meluncur juga membasahi pipi mulusnya yang tirus. Hania menangis sesenggukan.
Mba Niken yang duduk di sebelah Hania segera menarik Hania ke dalam pelukannya. Laras yang duduk di seberang meja bangkit dan ikut memeluk Hania. Mereka terisak bersama. 2 wanita yang tulus bersahabat dengan Hania itu memberi dukungannya.
Jika diperhatikan, persahabatan mereka tampak lucu. Dari segi usia, mereka lebih cocok disebut sebagai kakak beradik. Mba Niken yang tertua, Hania si tengah, lalu Laras adalah bungsunya. Sudah cukup lama mereka menjalin persahabatan, namun karena kesibukan masing-masing mereka jarang bisa bertemu seperti sekarang. Memberi dukungan hanya melalui sambungan telepon atau panggilan video.
__ADS_1
Ceklek!
Hania membuka pintu perlahan agar tidak mengejutkan Ibu mertuanya dan Bi Sumi. Namun senyumnya malah mengembang saat melihat suaminya sudah berada di dalam ruang rawat itu juga tengah menyunggingkan senyumnya.
"Mas darimana aja? Abis dari ruangan dokter Dana, Mas langsung ngilang aja. Aku sempet nanyain sama dokter Dana lho." protes Hania yang tiba-tiba ditinggalkan tadi.
"Sorry, honey. Aku sampe lupa ngabarin kamu. Aku ngurus sedikit masalah sama Reza tadi." sahut Arga seraya menarik tubuh Hania agar lebih mendekat dengannya dan mengecup kening Hania sekilas.
Diperlakukan semanis itu, Hania tidak jadi melampiaskan kekesalannya. Padahal tadi sewaktu mengetahui dirinya ditinggalkan begitu saja, Hania sudah bertekad akan mengomeli pria tampan itu sekembalinya dia entah darimana.
"Kamu seneng, udah ketemu sahabat-sahabatmu?" tanya Arga seraya menatap wajah ayu istrinya.
"Mas tau?" Arga mengangguk perlahan.
Tadi, sekembalinya Arga dari vilanya yang berada di pinggiran kota, dirinya tidak menemui Hania di ruang rawat ibunya. Sesuai kata Bi Sumi, Arga nermaksud menyusul Hania ke kantin yang lebih mirip kafe itu. Namun begitu sampai di pintu masuk kantin, dirinya melihat Hania tengah mengobrol dengan 2 wanita lainnya yang juga dikenalnya. Mba Niken dan Laras.
Terlihat sekali ekspresi bahagia terpancar dari wajah istrinya yang masih terlihat pucat. Senyumnya tak pernah surut, sesekali wanita pujaan hatinya itu tergelak bersama sahabat-sahabatnya. Senyum Hania pun menular padanya.
Melihat Hania yang bahagia berkumpul dengan kedua sahabatnya, Arga memilih meninggalkan tempat itu. Pria karismatik itu tidak ingin merusak suasana pertemuan yang membahagiakan wanitanya. Dia tidak ingin kehadirannya malah membuat suasana menjadi canggung.
"Kenapa ngga gabung?" tanya Hania seraya membalas tatapan suaminya.
"Untuk apa? Itu 'kan women's time. Kalau aku ada di sana rasanya ngga pas." sahut Arga.
Hania mengangguk, isyarat membenarkan ucapan suaminya. Benar. Tadi dia dan kedua sahabatnya memang sedang membicarakan, ah, tepatnya menggosipi suami mereka. Jadi, jika tiba-tiba Arga muncul di sana pastilah obrolan mereka tak lagi seru.
Cup.
Hania membelalakkan matanya ketika tiba-tiba sebuah kecupan dengan sedikit lum***n mendarat di bibirnya. Wajahnya seketika merona. Dia malu. Apalagi saat diliriknya, Bi Sumi seperti sedang salah tingkah. Pastilah wanita paruh baya itu melihat aksi Arga. Hania menghembuskan napas berat seraya melirik tajam pria tampan itu yang hanya di balas dengan kerlingan mata dan senyum semanis madu. Lalu dari gerak bibirnya, Hania dapat membaca jika Arga mengucapkan kata 'i miss you'.
*******
Thanks for reading!
Jangan lupa like, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh. Untuk dukung terus karya ini.
🤗🤗🤗😘
__ADS_1