
"Ma, Oom, sini! Cepetan! Liat deh ada black swan!", seru Tiara dengan antusias, sementara Hania dan Arga sudah lelah sedari tadi mengekori Tiara berlarian kemana-mana.
Setelah sampai di Malang, Tiara memilih kebun binatang sebagai tujuan pertamanya. Dan disanalah mereka, di salah satu kebun binatang terbesar di Jawa Timur
"Sayang, pelan-pelan! Jangan lari!", seru Arga sambil mempercepat langkahnya karena Tiara sudah menghilang di balik kerumunan pengunjung lain.
Arga menembus kerumunan pengunjung itu namun Tiara tidak ada disana. Kemana dia? Arga berdebar, dia takut Tiara tersesat dan terpisah darinya dan Hania. Wajahnya terlihat cemas. Dia menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Tiara. Lagi-lagi nihil. Tiara tidak ada disana.
"Mas, Tiara mana?", tanya Hania yang sudah berdiri di belakang Arga.
Arga tidak menjawab tapi raut wajahnya yang cemas menunjukkan ada yang tidak beres. Hania menoleh kesana kemari. Wajahnya juga mendadak tegang. Tiba-tiba rasa cemas menelusup ke dalam hatinya. Perasaannya tidak enak.
"Mas? Tiara kok ngga ada?", tanyanya lagi, matanya sudah berkaca-kaca.
Hania langsung berjalan setengah berlari kesana kemari mencari Tiara. Dia sudah cemas setengah mati. Arga mendekati Hania kemudian merangkul bahu Hania untuk menenangkan wanita cantik itu.
"Han, kamu yang tenang, kita cari Tiara sama-sama. Aku telpon Reza dulu, biar dia ikut bantu", Ucap Arga menenangkan Hania.
Wanita cantik itu sudah menangis. Jarinya saling meremas. Dia panik, tidak tahu mulai mencari dari mana. Jadi dia hanya berdiri di samping Arga yang sedang menelepon Reza. Bahunya masih dirangkul pria tampan itu.
Melihat kepanikan Arga dan Hania, beberapa pengunjung bertanya dan mencoba membantu. Ada yang memberitahu pihak informasi, ada juga yang memberitahu pengunjung lainnya siapa tahu ada yang melihat gadis kecil dengan ciri-ciri yang tadi disebutkan Arga.
Arga menemui pihak keamanan objek wisata tersebut. Sementara Hania mencari Tiara di sekitar lokasi tempat terakhir Tiara terlihat. Sambil menahan tangisnya, dia berusaha tegar. Hah. Siapa lagi yang berniat jahat padanya? Dia berharap Tiara cepat ketemu dan baik-baik saja.
"Ya Allah, lindungi anakku ketika perlindunganku tkdak sampai padanya", Hania merapalkan doa dalam hatinya.
Tring tring tring.
Ponsel dalam genggaman Hania berdering. Nama Arga tertera dilayarnya. Dijawabnya panggilan itu. Setelah memberitahukan keberadaannya, Hania menutup sambungan ponselnya.
"Han?", Hania menoleh begitu mendengar suara yang kini sangat dihapalnya menyebut namanya.
"Gimana Mas?", tanya Hania seraya menatap Arga dengan mata masih mengembun.
__ADS_1
"Aku udah nemui pihak keamanan disini. Mereka sedang mencari baik lewat cctv maupun secara langsung", terang Arga membalas tatapan mata kelinci itu.
"Gimana kalau Tiara ngga ketemu? Aku harus apa?", isak Hania pilu.
Arga langsung merengkuh tubuh ramping Hania. Mengusap punggung wanita itu. Mencoba memberi ketenangan dan menyalurkan kekuatan pada ibu beranak satu itu.
"Hush... Jangan ngomong gitu. Tiara pasti ketemu. Kita berdoa terus biar Tiara cepat ketemu, ya?", hibur Arga, dia juga takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada gadis kecil itu.
Arga dan Hania masih berusaha mencari kesana kemari. Setiap kerumunan mereka datangi tapi Tiara tidak ada disana.
Tim keamanan sudah diturunkan. Mereka menyisir segala penjuru lokasi wisata. Reza dan beberapa orang kepercayaannya sudah tiba di lokasi satu jam kemudian sejak Arga meneleponnya. Mereka berkoordinasi mencari Tiara. Agar tidak mengganggu kenyamanan pengunjung lainnya, mereka bergerak senyap.
Sudah hampir dua jam lebih pencarian Tiara dilakukan tapi Tiara belum ditemukan. Hania sudah lemas dan matanya sembab karena banyak menangis. Mata kelinci yang selalu berbinar itu berubah sayu. Hati Arga berdenyut nyeri melihat wanita yang menghangatkan hatinya berubah sendu. Hania duduk di sofa didalam ruangan keamanan, sementara Arga berdiri, berbicara pada pimpinan keamanan.
Drrrt drrrt drrrt.
Ponsel dalam saku celana jeans Arga bergetar. Reza. Nama yang diharapakan Arga dapat memberi kabar baik itu tertera di layar ponselnya.
"Gimana Rez?", tanya Arga tak sabaran.
"Dimana!?", Suara Arga yang meninggi karena emosinya tiba-tiba meluap, membuat orang yang berada di ruangan itu menoleh padanya.
Hania yang melamun dengan tatapan kosong juga menoleh pada pria tampan itu. Dia merasa ada kabar baik diujung ponsel Arga. Wanita cantik yang kini matanya sembab itu bangkit menghampiri Arga. Dia berdiri disamping Arga. Menyadari kedatangan wanita itu, Arga spontan merengkuh bahu Hania dengan satu tangan dan tangan satunya masih memegang ponsel.
"Tahan orang itu! Aku kesana sekarang!", perintah Arga dengan suara dingin.
Hania menoleh menatap Arga. Kenapa suara pria karismatik itu berubah menjadi dingin dan meninggi? Kenapa pria itu marah? Hania semakin berdebar membayangkan yang terjadi.
"Orang kepercayaan saya sudah menemukan pelaku dan putri kami. Kami akan kesana. Tolong anda membantu prosesnya", terang Arga pada pimpinan keamanan yang berbicara padanya tadi.
Hania masih menatap Arga tak percaya dengan pendengarannya. Pria itu bilang Tiara sudah ketemu. Dan apa tadi katanya? Tiara putri kami? Wanita cantik itu merasa darahnya berdesir dan hatinya bergetar sekaligus senang secara bersamaan. Dan tangisnya meledak dalam pelukan Arga. Tiba-tiba dia merasa tenang bersama Arga. Pria tampan itu benar-benar bisa diandalkan.
Tiara langsung berlari ke pelukan Hania, begitu melihat wanita cantik itu tiba di lokasi penemuannya.
__ADS_1
"Ma...", Tiara menangis dalam pelukan Hania.
"Sayang", tangis Hania pecah lagi.
Arga yang sedang emosi langsung menerobos ke depan pelaku yang diduga menculik Tiara dan meninju wajah pria yang juga tampan itu hingga babak belur. Baru kali ini dia merasa begitu emosi pada seseorang. Pria yang dipukul Arga tidak sempat membalas. Jika dibandingkan Arga, sepertinya pria itu tidak memeiliki kemampuan beladiri sebaik Arga.
"Mas! Udah Mas! Jangan pukul lagi, dia bisa mati!", Hania mendekat dan menjerit, mencoba menyadarkan Arga, dia tahu pria itu sedang emosi.
Hania terkejut melihat Arga memukuli seorang pria dan dia takut. Dia tidak pernah melihat Arga sebrutal itu. Pria tampan itu selalu bersikap lembut dihadapannya.
"Mas Reza! Tolong!", seru Hania pada Reza meminta pria berwajah manis itu melerai Arga.
Reza dilema. Ingin melerai tapi nanti Arga akan memarahinya, dia tidak pernah mengganggu atasannya itu ketika menghajar orang yang dianggap bersalah selama masih wajar. Dan tindakan Arga kali ini dianggapnya masih wajar. Tapi demi melihat mata wanita cantik yang menghunus tajam padanya, membuatnya mematuhi permintaan wanita cantik itu. Hah. Kenapa tiba-tiba menjadi takluk pada wanita cantik itu?
Reza meminta beberapa orangnya melerai Arga. Lalu membubarkan pengunjung yang berkerumun disana.
Seketika tatapan Arga menghunus tajam padanya, membuatnya salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas?", panggilan Hania mengalihkan tatapan Arga dari Reza, kali ini pria tegap itu selamat dari amukan Arga.
Arga menoleh dan mendekati Hania dan Tiara. Dia berjongkok dan memeluk gadis kecil itu lalu menggendongnya dan mencium pipi kirinya. Tiara memeluk leher Arga erat memyembunyikan wajahnya di ceruk leher pria dewasa itu seperti mencari perlindungan. Arga mengelus punggung Tiara menyalurkan ketenangan. Hania ikut mengelus rambut putrinya.
"Han?", Hania menoleh kearah suara, Arga juga.
Mata Hania seketika membulat melihat siapa yang memanggilnya. Ryan. Pria yang juga tampan, yang dipukuli Arga tadi ternyata Ryan. Mantan suaminya. Ayah kandung Tiara. Hatinya mendadak sakit. Mulutnya membisu. Wajahnya menegang.
Hania berjalan mendekat ke arah pria itu. Plak! Sebuah tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri pria yang juga tampan itu. Pria itu tertawa getir.
"Bukankah aku juga berhak ketemu putriku?", ucap pria itu dengan suara sendu.
"Aku juga merindukannya, Han!", lanjutnya.
Arga mengernyitkan dahinya. Matanya menatap tajam pria dihadapan Hania. Hatinya berdenyut nyeri. Putriku? Apakah pria itu ayah kandung Tiara? Mantan suami Hania? Mendadak dirinya gelisah.
__ADS_1
********
Thanks for reading