Yang Terakhir

Yang Terakhir
159. Perhatian Arga


__ADS_3

Drrrt drrrt drrrt!


Getaran ponsel dalam saku celananya membuat Arga mengalihkan tatapannya dari punggung Iden yang menjauh.


"Gimana?" sahut Arga setelah sambungan ponselnya terhubung.


"Bos. Pak Raka... Kami kehilangan jejaknya." lapor Ben di seberang ponselnya.


"Kenapa bisa!? Bukannya kalian udah ngawasin dia dari tadi!?" bentak Arga tak suka, suaranya menggema di lorong yang sepi itu.


"Gue ngga mau tau! Cari dan temukan dia! Bawa dia ke hadapan gue secepatnya!" perintah Arga dingin penuh penekanan lalu memutus sambungan ponselnya sebelum Ben menyahut.


Arga meremas ponselnya menyalurkan emosinya yang tertahan sedari tadi. Pikirannya gamang. Hatinya sakit. Antara sedih dan marah.


"Maaf, Pak. Saya membawakan pakaian ganti anda." suara Reza yang tiba-tiba terdengar di sebelah Arga mengejutkan pria karismatik itu.


"Kamu ngagetin saya aja!" gerutu Arga seraya melirik sebal pada asistennya.


Arga benar-benar tidak menyadari kehadiran Reza saking larutnya dirinya dalam pikirannya yang melayang kemana-mana sambil menelungkupkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya yang bertumpu pada kedua pahanya.


"Maaf, Pak. Tadi saya sudah memanggil nama anda." ucap Reza membela diri.


"3 kali." tegasnya.


"Memangnya saya jin tomang, harus dipanggil 3 kali!?" sergah Arga membuang muka karena kesal.


Eh? Reza mengerjapkan matanya. Lalu mendesah.


"Tapi memang barusan dia menoleh pada panggilan ketiga 'kan?" batin Reza.


Pria manis berkaca mata itu heran memperhatikan atasannya yang uring-uringan. Dalam hatinya bertanya-tanya kenapa atasannya yang cenderung bersikap dingin itu sekarang rajin sekali berubah suasana hatinya. Sebentar senyum-senyum, sebentar mengomel, sebentar lagi diam saja, dan sesaat kemudian marah-marah. Tapi semua sikapnya itu dikarenakan sang istri, Hania.


"Arga?" kali ini suara sang ibu yang membuatnya menoleh.


Wanita paruh baya itu langsung meninggalkan butik sahabatnya ketika Iden mengabarinya. Dalam perjalanan Ibu Anna sudah banjir airmata. Dirinya terkejut dan khawatir sekaligus. Dia tak dapat membayangkan kondisi menantunya. Istri dari putra semata wayangnya itu sedang dalam masa pemulihan dari pendarahan yang dialaminya dan kini kejadian serupa terulang lagi dalam rentang waktu yang tidak lama. Wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu hanya bisa mendoakan keselamatan menantu dan calon cucunya.


Dengan berlinang airmata, Ibu Anna melangkahkan kakinya setengah berlari mendekati putranya, lalu memeluknya.


Reza hanya menatap drama di hadapannya dengan tatapan datar seperti biasa jika dirinya tidak mengetahui permasalahan yang terjadi. Dan tanpa ekspresi tentunya.


"Gimana Hania, Ga? Gimana calon cucuku?" tanya Ibu Anna di sela isak tangisnya.


Arga menghela napas dalam-dalam seraya menatap sang Ibu. Hatinya terasa sakit mendengar pertanyaan Ibunya. Tapi kini sakit yang dirasakannya bukan karena janin Hania bukan benihnya, tapi karena dia telah kehilangan calon anak yang sudah disayanginya itu. Arga tak dapat lagi menahan kesedihannya. Pria karismatik itu ikut terisak.


"Aku dan Hania kehilangan anak itu, Bu. Dia udah ngga ada lagi." terang Arga lirih seraya mengusap matanya dengan jari jempol dan telunjuknya.


"Apa?" Ibu Anna dan Reza sama terkejutnya ketika mendengar ucapan Arga.


Ibu Anna menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Sungguh wanita paruh baya itu terpukul. Bagaimana tidak? Sejak kepergian Devan, Ibu Anna sangat menginginkan cucu. Bahkan kehadiran Tiara membuatnya bahagia walaupun hanya sesaat. Dan kini, ketika doanya hampir terkabul, calon cucunya lagi-lagi meninggalkannya.


Sementara Reza, meskipun terkejut, pria berwajah manis itu tetap tenang tapi tatapan matanya lekat menatap Arga. Pantas saja suasana hati atasannya itu buruk. Ah, kenapa nasib rumah tangga sang atasan tidak pernah semulus karirnya? Pikiran Reza mulai melayang kemana-mana.


"Saya ikut berduka, Pak." ucap Reza bersimpati.

__ADS_1


Tak berselang lama, seorang perawat kembali seraya membawa cooler box berisi kantong darah dan masuk ke dalam ruamg bersalin dimana Hania masih mendapat pertolongan. Ibu Anna hanya menatap pintu ruangan itu tertutup kembali tanpa berkedip. Arga lalu mengajak sang Ibu untuk duduk di sofa.


"Kenapa bisa kejadian lagi, Ga? Apa terjadi sesuatu di jalan? Kamu bener 'kan jagain Hania?" cecar sang Ibu.


Lidah Arga kelu. Hania mengalami panik dan sepertinya rasa cemas yang berlebihan mulai menyerangnya. Istrinya itu pasti menahan diri agar tidak histeris, tapi berefek pada kandungannya. Dan penyebanya adalah perdebatan dirinya dengan Raka yang didengar Hania. Tapi tidak mungkin dirinya menceritakan penyebab Hania pendarahan kali ini. Pria tampan itu hanya menggelengkan kepalanya. Ah. Dia menyesal karena terpengaruh kata-kata Raka dan melupakan keberadaan Hania di sampingnya.


"Maaf, Bu." lirih Arga yang melihat kekecewaan di wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.


Prang!


Di tempat lain, seorang wanita seksi tampak sedang melampiaskan emosinya pada benda-benda dalam kamarnya. Dia membanting dan melempar apa saja. Bahkan memecahkan kaca jendela kamarnya dengan lemparan botol parfum mahalnya. Peralatan bersoleknya pun sudah berhamburan di lantai. Setelah puas, wanita seksi itu terduduk di samping tempat tidurnya seraya menangis sesenggukan. Diremasnya rambut sebahunya membuatnya menjadi acak-acakan tapi dirinya masih terlihat cantik. Dia Rosa.


Wanita itu baru saja mendapat kabar tentang Raka yang mengikuti Hania dari orang suruhannya. Rasa cemburu seketika membuatnya berubah menjadi bar-bar dan melupakan sikapnya yang anggun. Berbagai cara sudah dilakukannya untuk menarik perhatian sang don juan kembali padanya tapi sepertinya Hania benar-benar menghapus dirinya dari hati Raka.


Selama ini Rosa tahu jika Raka mencintainya. Tapi wanita cantik itu tidak pernah memandang Raka sebagai pria idamannya. Meskipun, pria tampan itu melimpahinya dengan kasih sayang dan materi, Rosa sama sekali tak berminat memiliki hubungan yang lebih dari hubungan simbiosis mutualisme. Benaknya dipenuhi Arga. Pria yang sama sekali sudah tidak menganggapnya. Tapi ketika Raka sudah memjaga jarak dengannya, barulah Rosa merasakan kehilangan. Baginya terlalu cepat kehilangan segala perhatian Raka. Dan dia tidak suka jika Raka berpaling. Apalagi jika wanita yang merebut segala perhatian Raka adalah Hania. Hania juga yang menguasai perhatian pria yang diidam-idamkannya, Arga.


Arga keluar dari kamar mandi di ruang vvip rumah sakit dimana Hania dirawat. Wajahnya tampak lebih segar dan tampan. Dirinya pun sudah berganti pakaian. Tadi, setelah memastikan Hania mendapat ruang perawatan yang sesuai, Arga bergegas membersihkan dirinya. Dirinya juga baru menyadari pakaiannya yang terkena noda darah yang sudah mengering.


Arga mendekati brangkar Hania, memeriksa keadaan sang istri, membenarkan selimutnya, merapikan anak rambutnya, memeriksa selang infusnya, memeriksa selang kantong darahnya, dan tak lupa memberi kecupan lembut di keningnya.


Ibu Anna hanya tersenyum melihat tingkah putranya. Arga selalu memperlakukan wanita yang menjadi istrinya dengan penuh perasaan. Hanya saja nasibnya yang lalu tidak beruntung. Dalam hatinya, wanita paruh baya itu mendoakan kelanggengan dan kebahagiaan rumah tangga sang putra.


Sementara Iden yang duduk di sebelah kiri Ibu Anna hanya memutar bola matanya dengan malas seolah berkata, bucin!


"Udah lama ya kamu ngga ngenalin tante sama pacar kamu." ucap Ibu Anna memecah kebisuan, membuat Iden menggaruk rambutnya yang mendadak gatal dan Arga menoleh dengan tatapan mengejek.


"Belum ada soalnya, tan. Masih nyari." cengir Iden.


"Anu tante, ummm... Nyari yang kayak Hania." sahut Iden asal.


"Apa!? Lu mau nikung gue juga!?" kali ini Arga yang menyahut.


Pria karismatik itu tidak suka jika ada pria lain yang mengagumi wanitanya. Jangankan mengagumi, menatapnya saja membuat Arga mengibarkan bendera perang.


"Gue tipe sahabat setia kalau lu lupa! Lagian bini lu itu bukan tipe gue!" sentak Iden.


"Ya walaupun ngga sulit sih untuk jatuh hati sama dia." gurau Iden dengan ekspresi tengilnya.


"Apa lu bilang!?" Arga sudah dengan posisi siap menerkam Iden jika saja Ibu Anna tidak menyudahi perdebatan tak jelas itu.


"Ayo Iden, minta maaf sama Arga!" perintah Ibu Anna layaknya memberi perintah pada anak tk.


"Kok aku sih, tan?" tawar Iden.


"Kamu yang mancing-mancing. Ayo!" tekan Ibu Anna lagi.


"Ga, sorry. Abis gue geli liat lu bucin!" ucap Iden seraya melontarkan ejekan membuat Arga memelototkan matanya.


"Arga. Diterima itu permintaan maafnya Iden!" perintah Bu Anna lagi karena Arga tidak segera menerima uluran tangan Iden.


Arga mendesah. Bukannya tidak ingin menerima uluran tangan Iden. Dalam hatinya merasa geli. Apa-apaan ibunya itu. Bersikap seolah dirinya dan Iden seperti anak kecil. Hah!


"Apa gue ketinggalan kejadian yang ngga mungkin terlupakan?" Arga dan Iden yang sedang berjabat tangan menoleh bersamaan dengan munculnya Darren di ruangan vvip itu lalu dengan secepatnya saling menarik tangan masing-masing.

__ADS_1


"Lu pulang?" tanya Arga dan Iden bersamaan dengan nada dingin yang sama, lalu saling melirik sinis ketika menyadarinya.


"Kalian kayak ngga seneng gue di sini? Gue kangen tau!" sahut Darren seraya mendekati kedua sahabatnya yang berdiri berdekatan lalu memeluknya bersamaan.


Tiga serangkai itupun saling membalas pelukan dan tepukan di bahu masing-masing. Tak lama. Karena Iden tidak suka berlama-lama dipeluk sesama jenis. Pria flamboyan itu selalu merasa geli.


"Gue turut berduka, man. Semoga istri lu cepet pulih dan kalian bisa secepetnya bikin lagi." ucap Darren yang diselipi gurauan.


Kini mereka sedang berada di kantin rumah sakit yang lebih mirip dengan kafe.


"Aamiin." ucap Arga dan Iden bersamaan seraya saling melirik penuh arti.


Di antara mereka bertiga hanya Darren yang tidak mengetahui fakta bahwa janin yang dikandung Hania adalah benih Raka. Arga sangat menutup rapat kenyataan bahwa Raka sudah menodai Hania demi wanita cantik bermata kelinci yang amat dicintainya. Sebenarnya mudah saja bagi Arga menghancurkan Raka, hanya saja karena untuk menutupi tragedi itu, Arga harus melakukannya sealami mungkin hingga tak ada yang curiga. Alami berarti membutuhkan waktu yang lebih lama.


Klek!


Arga baru akan mengulurkan tangannya untuk memutar gagang pintu, namun pintu sudah terbuka dari dalam. Dan tampaklah sosok Reza.


"Kamu sudah makan?" tanya Arga begitu melihat raut lelah di wajah asistennya itu.


Ada rasa bersalah dan tak tega melihat Reza. Pria berkacamata itu pastilah amat lelah. Tidak memiliki kepentingan di rumah sakit itu tapi ikut direpotkan.


"Sudah, Pak. Saya juga sudah menyiapkannya untuk Bapak dan Ibu negara." sahut Reza.


Arga tersenyum tulus. Dirinya merasa beruntung memiliki asisten yang peduli padanya.


"Makasih. Kamu boleh sekarang." perintah Arga yang diangguki Reza.


"Kalau begitu saya permisi." Arga mengangguk.


"Pak Iden, saya duluan." pamit Reza pada Iden yang berdiri di samping Arga.


"Ohya, Za. Istirahat yang baik." pesan Arga pada Reza yang baru berjalan beberapa langkah.


Pria manis berwajah datar itu mengulum senyum. Atasannya kadang memberinya perhatian-perhatian kecil yang membuatnya merasa dihargai. Itulah yang membuatnya betah bekerja pada Arga. Bukan semata karena bayarannya yang tinggi. Karena bayarannya yang tinggi pun sesuai dengan tenaga dan pikiran yang dikeluarkannya.


Arga dan Iden kembali ke ruang rawat Hania setelah Darren harus undur diri karena mendadak kliennya memajukan jadwal pertemuannya malam itu juga yang rencananya akan diadakan esok hari.


"Gue balik ya." pamit Iden.


"Ibu pulang aja ya malam ini. Aku ngga mau kalau ibu ikutan sakit karena kecapekan." pinta Arga pada ibunya.


"Ayo, Tan, aku antar sampe depan pintu rumah." tawar Iden yang mengerti maksud Arga seraya melontarkan gurauannya.


Malam ini, Arga menunggui Hania seorang diri. Baginya lebih baik begitu. Jadi dia bisa lebih mengekspresikan dirinya dalam merawat Hania.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.


🤗🤗🤗😘

__ADS_1


__ADS_2