Yang Terakhir

Yang Terakhir
175. Sedikit Demi Sedikit


__ADS_3

Iden hanya melirik dari balik berkas yang dibacanya ketika Arga memasuki ruang kerjanya. Pria itu baru meletakkan bendelan kertas yang ditelitinya ketika sahabatnya yang baru pulang dari bulan madunya itu duduk di kursi di seberang meja kerjanya.


"Bang Rendy bilang kalau Tante Irene sempet ngedrop sepulang dari acara gue. Kenapa ngga ngomong?" tanya Arga datar seraya menatap Iden.


"Ntar ganggu lu honeymoon lagi." kekeh Iden.


"Ck! Paling ngga 'kan, sebelum berangkat gue besuk nyokap lu dulu." protes Arga.


"Nyokap udah di rumah, lu bisa temui dia nanti." ucap Iden seraya membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang diperiksanya.


"Syukurlah." ada kelegaan yang tersirat dari nada bicara Arga.


Arga mendatangi Iden untuk menanyakan kondisi ibunya Iden, sekaligus menanyakan perihal pekerjaannya yang diambil alih sahabatnya itu saat dirinya sedang berbulan madu.


Sedang serius membahas rencana baru mereka, Bela, sekretarisnya Iden datang mengantarkan kopi pesanan Iden. Arga sama sekali tidak terganggu akan kedatangan wanita seksi itu. Tapi bahasa tubuh wanita itu membuat suasana hatinya memburuk.


Dengan gaya seksinya, Bela mengibaskan rambutnya ke belakang memamerkan leher jenjangnya yang tak pernah gagal memikat targetnya. Arga jengah dibuatnya. Dengan tatapan setajam silet, pria tampan itu menatap Bela seolah ingin mengulitinya.


"Kalau masih ingin kerja di sini, kerja yang bener! Kerja pake otak jangan pake tubuh!" tegur Arga datar.


Kata-kata Arga yang tajam dan sikapnya yang dingin seperti tak tersentuh itu menyadarkan Bela. Sesaat dirinya lupa siapa Arga. Dia lupa bagaimana Arga menolaknya mentah-mentah dan menjatuhkan rasa percaya dirinya hingga tak kuasa mengangkat wajahnya di hadapan pimpinan perusahaan tempatnya bekerja itu. Entahlah. Melihat aura Arga yang tampan dan karismatik itu membuatnya secara impulsif ingin menarik perhatiannya. Sejenak Bela merutuki dirinya dalam hati.


"Kamu boleh keluar sekarang." perintah Iden menengahi.


"Sampai kapan lu pertahanin dia? Ato jangan-jangan lu udah kepincut sama perempuan itu?" ejek Arga setelah sekretarisnya Iden meninggalkan mereka, yang hanya dibalas lirikan tajam oleh Iden dan decakan kesal.


Pria blesteran itu tahu Arga sangat tidak suka melihat wanita dengan dandanan seperti sekretarisnya. Selain tampak murahan, tampilan Bela dianggapnya tidak sesuai dengan aturan berpakaian di lingkungan perusahaannya. Iden tahu sahabatnya itu sama sekali tidak tergoda atau takut tergoda, pria kariamatik itu cenderung risih jika berdekatan dengan wanita-wanita berpenampilan seperti Bela.


"Sebenernya dia anak yang baik cuma salah pergaulan aja. Lagian dia cerdas, kerjanya selalu beres dan bisa dipercaya." puji Iden.


Arga memgendikkan bahu. Pria karismatik itu bukannya membenci sekretarisnya Iden. Dirinya pun menyadari kelebihan yang dimilikinya akan selalu menjadi magnet yang akan menarik wanita manapun untuk menyukainya.


Pria tampan itu bangkit dari duduknya hendak kembali ke ruang kerjanya. Arga sudah tidak berminat membahas bab pekerjaan dengan Iden.


"Ohya, nanti malam Hania ngundang lu makan malam di rumah. Darren sama Stella juga datang. Kebetulan Rizal masih di sini. Jadi kita kumpul-kumpul dulu sebelum pada ngilang lagi." ucap Arga yang teringat permintaan Hania.


Deg!


Jantung Iden seketika berdetak kencang ketika mendengar nama Hania. Pria blesteran itu mendadak kelu. Tubuhnya seketika menegang.


Brak!


Benturan daun pintu yang tertutup menyadarkan Iden yang sejenak terpaku. Pria flamboyan itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi yang empuk. Menghela napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar.


Iden memejamkan matanya. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu ketika dirinya baru mengenal Bela.


"Lu liat apa?" tanya Iden pada Bela yang fokus menatap seorang gadis kecil yang kebetulan lewat di depannya.


"Kayaknya gue pernah liat anak itu deh. Mirip sama tetangga gue dulu." sahut Bela tanpa mengalihkan tatapannya, membuat Iden ikut menoleh.


"Lu kenal?" tanya Iden.


"Ngga sih. Tapi anak kecil itu ngingetin gue sama tetangga gue dulu. Ya, dulu sih sempet kenal sebentar sebelum akhirnya mereka pindah." terang Bela seraya menyeruput minumannya.


Iden menatap seorang gadis kecil yang tadi ditatap Bela. Lalu menatap wanita dewasa yang duduk di sebelahnya yang diduganya adalah ibu gadis kecil itu karena kemiripan yang begitu mencolok. Bahkan pria flamboyan itu sempat memuji kecantikannya.

__ADS_1


Hah! Iden mendesah. Kini dirinya bingung. Dirinya meminta Arga menerima Bela bekerja di perusahaannya dan menjadikan wanita seksi itu sebagai sekretarisnya karena alasan tertentu. Dalam perjalanannya, Iden dan Bela malah terlibat hubungan simbiosis mutualisme. Pria tampan itu memanfaatkan Bela untuk melampiaskan gaya hidup bebas yang dianutnya. Setelah dirinya mendapatkan apa yang diinginkan untuk diketahuinya, apakah dirinya tega mencampakkan wanita seksi itu?


Pria blesteran itu melirik jam tangan mahalnya. Jam 2. Masih lama menuju makan malam di rumah Arga. Namun Iden sudah merasakan gugup. Apakah dirinya harus senang atau biasa saja ketika nanti bertemu Hania?


Sejak awal pertemuannya dengan wanita cantik yang usianya 3 tahun lebih muda darinya itu, Iden merasa terikat, namun dia lebih memilih mengabaikan perasaannya. Apalagi wanita itu adalah wanita yang diincar sahabatnya, Arga.


Cup. Sebuah kecupan di bibirnya membuat Iden tersentak. Pria blesteran itu memicingkan matanya lalu membenarkan posisi duduknya.


"Bela?" lirih Iden dengan suara serak.


"Maaf, yang. Aku ngagetin ya? Aku udah ketuk-ketuk pintunya tadi tapi ngga ada sahutan, ya aku masuk aja." ucap Bela dengan wajah memelas.


Iden melirik jam tangannya. Jam 5. Rupanya dia tertidur cukup lama tadi. Hingga tak terasa waktu berlalu dengan cepat.


"Kamu belum pulang?" tanya Iden seraya menghalau tangan Bela yang mencoba membuka kancing kemejanya, alih-alih menjawab pertanyaannya.


Hari itu, Iden sepertinya kehilangan gairah. Pria yang memiliki ketampanan khas pria bule itu sama sekali tak tergoda rayuan Bela yang sudah duduk manis di pangkuannya. Perasaan gugup karena akan bertemu Hania, membuatnya kehilanan selera pada tubuh seksi sekretarisnya.


"Pulanglah! Aku pengen istirahat." usir Iden membuat Bela mengerucutkan bibirnya.


Bela yang sudah kesal karena penolakan Iden, hanya bisa menurut saja lalu meninggalkan atasannya sekaligus kekasihnya itu seraya menghentakkan kakinya.


Kumandang adzan maghrib sudah berlalu sejak tadi. Namun Iden belum juga memutuskan untuk melajukan kendaraannya menuju rumah Arga. Kedua tangannya masih mencengkeram setir mobil dengan mesin yang belum menyala.


"Hah! Kenapa gue jadi deg-degan gini, sih?" keluhnya seraya menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


Iden mendesah. Lalu mulai menyalakan mesin mobilnya dan bersiap melaju memecah jalanan ibukota.


Sesampainya di kediaman Arga, pria blesteran itu disambut suasana hangat dimana canda tawa terdengar dari tempatnya berdiri. Dia terpaku ketika mendengar suara Hania tertawa.


Iden melangkah perlahan mendekati ruang makan yang terhubung dengan halaman belakang. Tampak para sahabat dan keluarganya berkumpul di sana. Tapi tatapannya fokus pada Hania yang tampak ceria. Pria tampan itu lagi-lagi memegang dadanya yang berdenyut nyeri. Matanya pun sudah mengembun. Pikirannya melayang pada kehidupan wanita cantik itu beberapa tahun silam. Dan juga beberapa kejadian beberapa waktu yang lalu. Mendadak rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya.


"Iden? Kok malah bengong di sini? Udah ditungguin sama Arga sama yang lain juga, tuh. Buruan. Acara makan-makannya ngga dimulai kalau kamu masih di sini aja." sapaan seorang wanita yang tanpa disadarinya sudah berdiri di belakangnya, membuyarkan lamunan Iden.


"Tante." sapa Iden lalu menyalami ibunya Arga.


"Iya, nih. Tante ngga ikut gabung?" tanya Iden berbasa-basi.


"Acara anak muda. Ngga nyambung sama Tante." sahut Ibu Anna.


Ya udah. Aku kesana ya, Tan." pamit Iden meninggalkan wanita paruh baya itu.


Langkahnya terhenti ketika dirinya berpapasan dengan Hania. Jantungnya berdebar dan lidahnya kelu. Ingin rasanya langsung memeluk wanita cantik itu namun ditahannya. Apa yang akan dipikirkan wanita itu dan suaminya jika dirinya nekat melakukannya? Bisa saja Arga akan langsung menghajarnya. Bukankah sahabatnya itu terlalu mencintai istrinya dan pencemburu?


"Hania." lirihnya, matanya lekat menatap Hania.


"Mas Iden baru datang? Ayo Mas langsung gabung aja, udah ditunggu sama yang lain." sapa Hania dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


"Ah. I-iya." sahut Iden seraya mengusap tengkuknya, dia kikuk.


"Ehm, kamu mau ngapain? Kubantu ya?" tawar Iden yang melihat Hania membawa nampan berisi gelas kosong.


"Siniin, biar aku aja yang bawa." Iden langsung merebut nampan yang dipegang Hania tanpa menunggu jawaban wanita cantik itu.


"Dibawa ke dapur 'kan?" tanya Iden yang sudah mulai meninggalkannya.

__ADS_1


"Eh, iya." sahut Hania dengan kening yang mengernyit.


"Mas Iden kenapa? Tiba-tiba ringan tangan gitu." batin Hania seraya mengekori Iden.


Hania tidak bisa untuk tidak merasa heran dengan sikap Iden. Pasalnya, selama mengenal pria blesteran itu, dirinya tidak pernah lebih akrab dari sekedar saling menyapa.


Bukan hanya Hania yang terheran-heran dengan sikap Iden. Bi Sumi dan Bi Lastri yang sedang menyiapkan makanan dan minuman di dapur pun sempat saling melirik ketika melihat pria tampan itu memasuki dapur dengan nampan berisi gelas kosong di tangannya seolah berkata, tumben.


"Makasih ya. Kamu bisa buat gunung es itu cair." ucap Iden memecah keheningan di antara mereka.


Saat ini Hania dan Iden ikut membantu Bi Sumi dan Bi Lastri menata gelas dan aneka kue di nampan.


"Maksud Mas, Mas Arga?" tanya Hania.


"Hum." sahut Iden sementara tangannya meletakkan piring di nampan.


Hania terkekeh. Merasa lucu dengan julukan yang diberikan Iden pada suaminya. Sementara Iden malah terpaku menatap wajah sumringah Hania. Hatinya lagi-lagi berdenyut nyeri.


"Kenapa Mas Iden yang makasih?" tanya Hania membuat Iden mengerjapkan matanya lalu mengalihkan tatapannya pada gelas-gelas di nampan.


"Gimana, ya? Aku ngerasa Arga kembali jadi dirinya yang dulu setelah kenal kamu." sahut Iden.


"Dia itu kayak robot. Hidupnya cuma kerja, makan, tidur, kerja lagi, makan lagi, tidur lagi. Ngga ada feel nya. Datar." terang Iden.


Hania hanya tersenyum menanggapi perkataan Iden. Dia pernah mendengar Arga mengakui perasaannya dan menceritakan bagaimana hidupnya dulu. Seperti robot. Persis seperti kata Iden.


"Kalian ngapain? Lu kapan datengnya?" suara bariton yang tiba-tiba menggema membuat Hania dan Iden menoleh bersamaan.


"Mas." Hania melemparkan senyum semanis madunya pada pria yang kini berstatus suaminya itu.


Arga langsung melingkarkan tangannya ke pinggang Hania, membuat Iden memutar bola matanya. Dalam hatinya, pria flamboyan itu mencibir sikap posesif Arga namun sekaligus senang. Hania berada di tangan yang tepat.


"Gue ke belakang dulu." pamit Iden yang tidak ingin berlama-lama melihat tingkah sahabatnya yang sepertinya malah sengaja pamer kemesraan di hadapannya.


Sepanjang perjalanan pulang dari makan malam dengan para sahabatnya, senyum Iden selalu tersungging di bibir tipisnya. Bagaimana tidak? Malam itu, Iden selangkah lebih dekat dengan Hania. Mulai sedikit demi sedikit mengenal kepribadian wanita cantik itu. Wanita yang kehadiran pasti mengejutkan bagi keluarganya.


Hingga keesokan harinya, senyum itu tidak pudar dari bibirnya. Perasaan hangat sedang menyelimuti hatinya. Meskipun dikenal sebagai atasan yang ramah, tetap saja ekspresi senang di wajahnya menimbulkan tanda tanya.


Klek!


Bugh!


Kedatangannya disambut pukulan di wajah tampannya membuat pria flamboyan itu tersungkur. Belum sempat menyadari yang terjadi sebuah pukulan menyasar wajahnya lagi. Tapi dengan sigap ditangkisnya.


"Ga! Lu apa-apaan, sih!?" tepis Iden lalu mendorong tubuh Arga dengan sekuat tenaganya.


Iden langsung bangkit ketika tubuh Arga terguling ke sampingnya seraya mengusap bibirnya yang berdarah. Namun, dirinya lagi-lagi tersudut.


"Lu yang apa-apan!? Lu nyeledikin istri gue!?" Arga mencengkeram kerah kemeja Iden.


*******


Thanks for reading!


Dukung terus karya ini ya... Jangan lupa like di tiap babnya ya, favoritkan, vote, dan kasih hadiah... Komen juga boleh.

__ADS_1


🤗🤗🤗😘


__ADS_2