
Hania masih diam saja mendengarkan Arga sejak tadi, namun hatinya mulai luluh. Mungkin benar Arga memanfaatkannya. Dan harusnya dia marah, ya, dirinya sedang marah. Tapi mendengar penjelasan pria tampan itu membuatnya merasa apa yang dilakukan pria itu hal yang wajar. Pria itu hanya tidak ingin didekati wanita tadi.
Mungkin caranya yang sedikit keterlaluan. Hah. Dia jadi ingat Galih. Dirinya sering memanfaatkan sahabatnya untuk menghalau pria pria yang ingin mendekatinya. Apa bedanya dia dengan Arga? Apa begini rasanya dimanfaatkan seseorang? Hania mendesah.
Diliriknya pria seksi itu. Pria itu sudah berdiri dihadapannya, sedang menatapnya dengan wajah menyesal. Sungguh manis dimata Hania. Apalagi melihat kesungguhan Arga meluruskan kesalahpahaman itu, membuat Hania tidak tega marah lebih lama pada pria itu. Ah. Lemah.
"Oke, sekali ini aku maafin Mas, lain kali jangan begini lagi", putus Hania memberi Arga maafnya.
Jelas saja senyum Arga langsung mengembang. Tanpa disadarinya tangannya yang masih menggenggam jemari Hania, semakin mengeratkan genggamannya. Rasa leganya terpancar dari wajahnya yang seketika berbinar. Senyum itu menular pada Hania.
Tapi sejurus kemudian senyum di bibir Hania memudar saat matanya menatap jemarinya yang berada dalam genggaman Arga. Dia langsung menarik tangannya, yang membuat Arga juga menyadari genggaman tangannya. Keduanya kikuk.
"Ehem", Arga berdehem, Hania meliriknya.
"Kalau begitu, aku permisi", pamit Arga setelah hening sesaat, Hania hanya mengangguk.
Arga keluar dari ruang privat diikuti Hania. Mereka berjalan bersisian. Lagi lagi Hania mengantar pria tampan itu hingga keluar restoran. Tiba di teras, Hania baru melihat Adi duduk sambil memperhatikan tabletnya. Ternyata pria itu menunggu Arga disana.
Mengetahui kedatangan Arga, Adi langsung bangkit menghampiri atasannya.
"Ke kantor sekarang Pak?", tanya Adi memastikan, Arga mengangguk.
"Sepertinya kita akan terlambat menghadiri rapatnya Pak", Adi mengingatkan.
"Iya, sepertinya begitu", sahut Arga lalu menoleh pada Hania yang berdiri disampingnya.
"Sampai ketemu lagi Han", pamit Arga lagi, Hania mengangguk seraya tersenyum.
Arga berjalan duluan. Senyumnya masih melekat. Perasaannya lega dan senang, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Kami permisi Bu", Adi mengangguk hormat pada Hania, Hania pun membalas mengangguk.
Hania kembali masuk ke dalam restoran disambut para karyawannya yang senyum senyum tak jelas. Hania hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil terus berjalan lalu menaiki tangga menuju lantai dua, ke ruangannya.
Lisa tampak fokus dengan pekerjaannya sampai sampai tidak menghiraukan kedatangan atasannya itu. Pasti Lisa juga tidak menyadari kejadian dibawah tadi. Hania bersyukur karena pastinya gadis itu tidak akan mengganggunya dengan berbagai pertanyaan. Dia pun duduk dengan tenang di kursinya. Menenangkan hatinya yang sempat berdebar saat bersama Arga tadi.
"Mama....", suara nyaring yang terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka membuat dua wanita beda usia itu menoleh.
"Tiara?", Hania terkejut putrinya ada di ruangannya.
"Sayang, kamu kok ada disini? Bukannya masih jam sekolah ya?, tanya Hania.
"Pulang awal Ma. Tadi Bu guru juga udah nelponin mama tapi ngga diangkat, mama sibuk sih", terang Tiara.
"Terus, kamu dianter siapa?", tanya Hania lagi.
"Cindy sama Oomnya", jawab Tiara.
"Mereka masih disini kok, Cindy pengen es krim", sahut Tiara.
__ADS_1
Hania pun mengajak Tiara menemui Cindy dan Oomnya. Ingin berterimakasih. Dia tidak bisa membayangkan wajah Tiara yang kelamaan menunggunya datang menjemput seandainya Oomnya Cindy tidak bersedia mengantarnya. Yang jelas saat ini dirinya merasa sangat lega.
Cindy dan Oomnya sedang duduk di bagian outdoor restorannya, dekat dengan taman bermain. Tampaknya es krim pesanan mereka belum datang. Hania dan putrinya menghampiri mereka.
"Tiara, tante", seru Cindy dari mejanya sqmbil melambaikan tangannya, Tiara pun membalas lambaian tangan Cindy.
Oomnya Cindy menoleh karena Oomnya duduk membelakangi Hania dan Tiara. Mata Hania membelalak menyadari Oomnya Cindy ternyata Iden, pria yang menabraknya di kebun binatang tempo hari.
"Anda?", tunjuk Hania.
"Iya. Saya Oomnya Cindy. Apa kabar?", sapa Iden.
"Ah, saya baik, terimakasih", sahut Hania seraya tersenyum.
"Ayo tante duduk sini", ajak Cindy, Hania pun duduk disebelah Tiara yang sudah duduk duluan.
"Terimakasih sudah mengantar Tiara", ucap Hania.
"Anytime", Iden melemparkan senyumnya.
Hania tersenyum. Tak dipungkiri senyum Hania membuat Iden terpesona meskipun dia bukan wanita tipenya. Dimatanya, Hania terlihat mempesona. Penampilannya yang simpel dengan riasan wajah natural, membuat wanita itu terkesan elegan. Membuatnya tak bosan memandang wanita itu. Tapi sayang, wanita cantik di depannya itu milik Arga sahabatnya.
Hening. Sementara itu, Tiara dan Cindy sedang asik bermain ditaman.
"Sepertinya mereka sangat akrab, dengan anda Cindy juga begitu", Iden membuka obrolan.
"Iya, mereka berdua memang akrab", ucap Hania membenarkan tebakan Iden.
Lalu hening kembali. Entah kenapa dihadapan Hania, Iden kehilangan kemampuannya bermain kata. Hingga es krim pesanan Cindy datang, barulah suara riuh terdengar. Celotehan Tiara dan Cindy dapat memecah kecanggungan diantara mereka berdua.
Drrrt drrrt drrrt.
Arga. Sebuah nama tertera di layar ponsel Iden yang tergeletak di meja. Hania yang duduk di depan Iden juga dapat melihatnya. Apakah orang yang menelepon pria itu adalah Arga yang dikenalnya? Hania mengeryitkan dahinya. Dia jadi ingat, Iden kan sahabatnya Arga. Hania mendesah pelan.
"Maaf ya, saya angkat ini dulu", ucap Iden, Hania mengangguk.
Iden bangkit lalu menjauh dari Hania dan anak anak. Pria tampan itu tampaknya kesal. Meski menjauh, Hania masih dapat mendengar beberapa kali pria itu mengumpat dan protes. Hingga kembali ke meja mereka, wajah kesalnya masih terlihat. Hania hanya diam saja tak berkomentar apapun.
Tak berselang lama ponsel Hania bergetar. Arga. Pria itu meneleponnya ada apa? Tanpa beranjak dari duduknya, Hania menerima panggilan itu.
"Halo", sapanya.
"Kamu lagi sama Iden?", tanya Arga diseberang ponsel terdengar datar.
"Iya", jawab Hania sambil melirik Iden yang sedang menatapnya lalu memalingkan wajahnya seraya mendengus.
"Jangan deket-deket sama dia", Hania mengernyitkan alisnya mendengar larangan Arga.
"Kenapa? Dia baik", bela Hania seraya melirik Iden.
__ADS_1
"Ngga Han, dia ngga seperti itu", Hania hanya diam menanggapi Arga.
"Sudah ya aku tutup dulu", ucap Arga melembut memutus teleponnya.
Hania masih menatapi ponselnya. Dirinya heran kenapa pria karismatik itu melarang larangnya menemui Iden? Memangnya dia siapanya?
Iden yang tadinya menatap Hania memalingkan wajahnya. Dia kesal dengan sahabatnya itu. Bisa-bisanya berpikir yang bukan-bukan. Mana mungkin dirinya merebut Hania. Hania bukan tipenya meskipun wanita itu sudah membuatnya terpesona. Hah. Ada-ada saja. Dasar bucin baru!
"Cindy sayang, kita balik yuk, Oom masih banyak kerjaan nih", ajak Iden.
Akhirnya dengan berat hati, Cindy meninggalkan Tiara. Ah. Mereka benar-benar cocok.
Diperjalanan pulang, Iden melancarkan aksinya. Menanyai Cindy. Cindy yang memang akrab dengan Tiara, senang-senang saja ditanya tanya soal Tiara. Gadis kecil yang periang itu menceritakan semua yang diketahuinya. Iden hanya sesekali bertanya tapi jawaban yang keluar dari bibir kecil Cindy begitu lengkap.
"Kenapa Tiara ngga pernah ketemu papanya, sayang?, korek Iden.
"Katanya Tiara sih, kata mamanya kalau papanya itu kerja, tempatnya jauh, jadi ngga pulang-pulang", cerita Cindy.
Diam diam Iden semakin kagum pada Hania. Menurut Arga, Hania tidak memiliki pasangan, artinya dia single parent. Meski begitu, Hania tidak menjelek jelekkan mantannya dihadapan sang anak. Bibirnya tersenyum tipis.
"Tiara pernah telponan gitu ngga sih sama papanya?", mode ghibahnya muncul.
Cindy menggelengkan kepalanya. Seingatnya Tiara ngga pernah berhubungan dengan ayahnya.
"Tiara bilang kalau dia pernah denger mamanya telponan sama orang, terus nyebut nyebut namanya Tiara. Abis itu mamanya nangis", terang Cindy.
"Tiara bilang kalau orang itu pasti papanya, soalnya mamanya ngelarang orang itu nemuin Tiara", lanjutnya.
"Tiara juga pernah liat oom-oom datang ke rumahnya nemuin mamanya. Tapi mereka berantem, terus mamanya ngusir oom-oom itu. Tiara yakin itu papanya", Cindy terus bercerita.
"Emang Tiara ngga pengen gitu ketemu papanya?", Iden terus menggali informasi.
"Dia pengen sih, dulu, tapi sekarang udah ngga lagi", jawab Cindy.
"Lho, kenapa?", Iden penasaran.
"Dia tahu mamanya pasti bohong, bilang kalau papanya kerja ditempat yang jauh dan ngga bisa nemuin dia. Terus mamanya ngga mau cerita cerita soal papanya. Kalau ketemu sama papanya, mamanya pasti marah dan nangis. Tiara ngga mau mamanya sedih terus kalau ketemu papanya", Iden manggut manggut.
"Tiara yakin itu papanya? Kenapa bisa yakin?, Iden terus bertanya.
"Yakin. Tiara pernah liat fotonya yang disimpan mamanya di dalam laci meja", Iden masih manggut manggut.
Jadi, mantan Hania masih menemuinya. Dan apa Hania masih mencintai mantan suaminya itu? Sepertinya tidak. Dari cerita Cindy, Iden dapat menebak jika Hania ingin menjauhkan putrinya dari mantan suaminya. Hah. Pikiran Iden jadi melayang kemana mana memikirkan Hania.
Setelah perjalanan yang harusnya hanya menempuh waktu setengah jam, namun menjadi satu jam an itu berakhir. Iden sengaja memperlambat laju mobilnya. Iden memasuki halaman rumah bergaya tropis itu, menurunkan Cindy, lalu bergegas kembali ke kantor.
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan vote nya 💞💞💞
__ADS_1