
Pagi ini Hania bangun terlambat. Semalam, dia tertidur cukup larut. Bayangan wajah Arga yang suka seenaknya melintas di pikirannya, mengusiknya. Ya. Tidak bisa dipungkiri, dirinya merasa Arga memiliki perhatian lebih padanya. Arga yang perhatian padanya membuatnya tidak nyaman namun sekaligus senang.
Sedikit demi sedikit kehadiran Arga mampu membuatnya merasa hangat dan terbuai. Entah ada apa dengannya? Kenapa dengan Arga, dirinya seperti mudah sekali menerima pria itu?
Karena terlambat bangun, Hania tergesa-gesa menyiapkan keperluannya dan juga membantu menyiapkan keperluan sekolah putrinya. Bahkan mereka hanya sarapan dengan roti tawar yang diolesi selai. Bukan kebiasaan Hania.
Lalu berangkat dengan segera. Hania yang selalu berkendara dengan kalem, pagi itu sedikit mengebut. Sesampainya di sekolah pintu gerbang sudah tertutup. Tiara tetap terlambat.
Sementara itu, Iden memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata rata. Dirinya berharap Cindy belum terlambat. Harapan yang mustahil mengingat dirinya yang terlambat menjemput Cindy.
Setibanya di sekolah, pintu gerbang sudah tertutup. Artinya, Cindy terlambat. Drama ngambeknya Cindy pun dimulai. Iden yang tidak tahu bagaimana menenangkan seorang anak yang sedang merajuk mendadak merasa kepalanya pusing.
"Cindy sayang, maafin Oom Iden ya... Gara-gara Oom, Cindy jadi telat. Tapi beneran, Oom ngga sengaja." rayu Iden dengan suara lembut.
Cindy masih diam dengan mata yang mengembun, dapat dipastikan, sekali kedip, air mata itu langsung meluncur di pipi gembilnya.
"Oom janji deh, ntar pulang sekolah, Oom jemput tepat waktu terus Oom traktir es krim sebanyak yang Cindy mau." Iden masih merayu, jangan sampai anak itu menangis.
Air mata Cindy sudah tidak tertahankan. Gadis kecil itu menangis. Iden sudah kalang kabut. Tapi sejurus kemudian tindakan Cindy membuatnya terbengong-bengong. Dia menghapus air matanya dengan kasar dan segera keluar dari mobil Iden.
"Cindy! Tunggu sebentar." ucap Iden segera mengikuti keponakannya keluar mobil.
"Ada Tiara Oom, temen aku sama mamanya. Aku mau masuk sama dia", tukas Cindy lalu berlari meninggalkan Iden setelah mencium tangannya.
Iden hanya mengikuti Cindy dengan tatapannya. Dilihatnya juga teman dan ibunya yang dimaksud Cindy. Hania? Iden berdiri ditempatnya sambil menatap Hania, memperhatikan interaksi Cindy dan anak Hania. Jadi anak Hania sekolah di sini? Dia teman Cindy? Apa mereka akrab?
Iden mengelus-elus dagunya sambil berpikir. Kalau anak Hania teman Cindy, itu bisa jadi Cindy tahu tentang anak Hania. Senyum Iden terbit bagai bunga matahari. Terlalu lebar.
Iden berjalan memasuki kantor sambil bersiul. Hatinya sedang senang. Bukan karena sedang jatuh cinta atau pun habis memenangkan undian hadiah sekian juta. Tapi, tiket liburannya sudah semakin nyata. Kehadirannya selalu mengundang kekaguman para karyawati yang menatapnya. Dia benar benar pria yang tampan.
Di ruangannya yang tak kalah besar dengan ruangan Arga, Iden duduk sambil mengetuk-ngetukkan bolpoinnya pada meja kayu jati. Matanya menatap layar laptop yang menyala menunjukkan deretan huruf dan angka. Tubuhnya bersandar santai pada sandaran kursi empuknya. Pikirannya melayang kemana-mana. Dia tidak fokus pada pekerjaannya. Sebentar -sebentar melirik jam tangan mahalnya. Terasa sekali waktu berjalan begitu lambat. Sudah tidak sabar menunggu waktunya menjemput Cindy. Hah. Baru kali ini dirinya tidak sabar menjemput seseorang.
"Apa jam istirahat nanti gue kesana aja ya?" pikirnya.
"Ah, jangan, Cindy pasti nolak diajak keluar sekolah kalau belum waktunya pulang." dia tahu dari mana asalnya didikan itu.
Iden berusaha setengah mati untuk fokus kembali pada pekerjaannya. Sambil menunggu waktunya menjemput sang keponakan tersayang. Ah, tiba-tiba Iden jadi sangat menyayangi keponakannya itu. Tiketnya mendapat liburan tanpa gangguan.
Bukan tanpa alasan Iden sangat mengharapkan mendapat libur panjang tanpa gangguan. Iden sangat menginginkannya. Sebab, Arga selalu mengganggunya dan merepotkannya. Entah itu masalah pekerjaan ataupun ulah wanita-wanita yang mengejarnya. Libur di akhir pekan saja seperti hilang dari jadwal kerjanya. Kapanpun dibutuhkan dia harus siap. Sudah seperti tugas negara saja.
Tok tok tok.
Terdengar ketukan di pintu ruangannya. Lalu muncullah seorang wanita cantik yang seksi, sekretarisnya. Pakaiannya yang serba mini itu membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas. Iden sudah pasti menikmati pemandangan itu.
__ADS_1
"Maaf, Pak, sudah waktunya istirahat. Anda mau makan di luar atau saya pesankan makanan?" tanya wanita itu dengan suara serak-serak basah yang menambah aura seksinya.
"Gue makan di luar aja." jawab Arga, matanya masih menatap wanita itu.
"Sini!" perintahnya meminta sekretarisnya mendekat.
Iden langsung menarik pinggang langsing sekretarisnya begitu wanita itu mendekat lalu menjatuhkannya di pangkuannya.
"Dasar penggoda," desisnya di telinga wanita itu, yang tersenyum menggoda.
Sang sekretaris menggeliat kegelian. Bibir Iden yang menempel di telinganya membuatnya merasakan hawa panas yang keluar dari mulut pria tampan itu. Tidak ada yang tahu aktifitas panas mereka disela sela pekerjaan yang melibatkan keduanya. Digigitnya bibir bawahnya menahan gelenyar aneh yang dirasakannya.
Iden yang melihat bibir itu digigit langsung ********** cukup lama. Keduanya melepaskan bibir mereka setelah merasakan sesak. Lalu saling ******* lagi. Kancing kemeja sang sekretaris sudah terbuka menampakkan gundukan yang sangat disukai Iden. Tapi aktifitas mereka harus terhenti ketika ponsel Arga bergetar.
"Halo Bang?" sahut Iden setelah tahu siapa pengganggunya, Bang Rendy.
"Kamu bisa jemput Cindy sekarang? Gurunya ngabarin hari ini dia pulang cepat," terang Bang Rendy, senyum Iden mengembang.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Dia tidak perlu menunggu hingga sore menjelang. Hatinya bersorak.
Iden kembali ******* bibir sang sekretaris dengan rakus, sambil meremas gundukan kenyal kesukaannya. ******* sang sekretaris terdengar semakin seksi di telinganya. Jika saja dia sedang tidak memiliki misi dengan Cindy, sudah pasti wanita itu diseretnya ke ranjangnya.
"Keluar lo atau gue makan lo di sini," perintah Iden.
Iden memacu mobilnya di atas rata rata menuju sekolah Cindy. Dia juga sering nenekan klaksonnya. Tidak peduli pada sewotnya pengandara lain yang didahuluinya agar secepatnya sampai di sekolah keponakannya.
Sesampainya di tempat tujuan, Iden langsung berjalan cepat memasuki gerbang sekolah Cindy. Dilihatnya sang keponakan sedang duduk bersama putrinya Hania. Senyumnya langsung mengembang. Dewi fortuna sepertinya berpihak padanya.
"Hai keponakan Oom yang cantik, sudah lama nunggunya?" Iden menyapa dengan wajah sumringah.
"Kita baru keluar kok Oom." jawab Cindy.
"Ini siapa? Temannya Cindy?" Iden menoleh pada Tiara, pura pura tidak tahu, Tiara menatap Iden.
"Ini temenku yang tadi Oom, namanya Tiara." Cindy mengenalkan Tiara.
"Hai cantik, kenalin nih, Oom gantengnya Cindy." Iden mengenalkan dirinya.
Tiara terus menatap pria dewasa di hadapnnya. Sepertinya dia pernah bertemu dengannya. Tiara masih berusaha menggali ingatannya.
"Ah, aku ingat! Oom yang waktu itu nabrak mamaku kan?" tebak Tiara.
Ditebak begitu Iden langsung takjub. Ingatan anak-anak memang yang terbaik. Dia menghela napasnya lalu tersenyum.
__ADS_1
"Ohya? Kapan? Oom lupa." elak Iden pura-pura lupa.
"Iih Oom ini, yang di kebun binatang itu lho", seru Tiara.
"Oom ke kebun binatang? Iih kok ngga ngajak Cindy sih?" Cindy malah merengek.
"Eh, bukan begitu sayang, Oom kesana karena harus nemuin yang punya kebun binatang. Kantor Oom ada kerjasama sama orangnya." jawab Iden sekenanya menenangkan Cindy.
"Hum... Kamu belum dijemput?" tanyanya pada Tiara, yang dijawab gelengan kepala.
"Mamaku pasti telat jemputnya, apalagi sekarang ini mamaku pasti sibuk banget." terang Tiara.
"Kamu pulang sama kita aja, Oomku pasti anterin kamu, ya kan Oom? tawar Cindy lalu meminta persetujuan sang Oom, memaksa lebih tepatnya.
Iden tidak percaya, tanpa susah payah tiketnya sudah digenggaman. Dengan semangat dia menganggukkan kepalanya.
Iden memberitahu pihak sekolah Cindy dan Tiara. Dirinya yang akan bertanggung jawab mengantar Tiara pulang. Pihak sekolah awalnya keberatan apalagi Hania tidak bisa dihubungi. Tapi karena Iden bisa meyakinkan mereka, akhirnya izin pun dikantonginya.
"Kenapa ngga Papa kamu aja sih yang jemput kalo mama kamu lagi sibuk?" tanya Iden memecah keheningan.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya. Wajah seketika berubah sendu. Dia memalingkan wajahnya ke samping menatap keluar jendela mobil.
"Papa Tiara ngga ada Oom, Tiara ngga pernah ketemu Papanya." melihat Tiara diam saja, Cindy yang menjawab sambil berbisik.
"Ehem!" Iden langsung merasa tak enak hati.
"Maaf ya Tiara, Oom ngga tahu." sesalnya.
Tiara masih diam saja tapi Iden dapat melihat dari kaca visioner, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya, menatapnya sekilas melalui kaca visioner lalu kembali menatap keluar jendela.
"Ohya, ini Oom anternya kemana?" tanya Iden mengalihkan perhatian Tiara setelah hening sesaat.
"Ke restoran mamaku aja Oom, Rasa Sayang Resto, yang di jalan Pamungkas itu", jelasnya, Iden hanya menanggukkan kepalanya.
"Eh Tiara, di restoran mamamu ada es krim ngga?" tanya Cindy, mengingatkan Iden pada janjinya.
"Ada, enak tau ngga es krimnya mamaku tuh, kamu pasti suka." terang Tiara, suaranya sudah ceria kembali.
Karena es krim suasana di mobil Iden ceria kembali. Tiara seperti lupa pada rasa sedihnya. Dan Iden, sudah pasti tidak akan bertanya apapun pada gadis kecil itu. Nanti saja tanyanya sama Cindy saja. Sepertinya dua gadis kecil itu cukup akrab. Atau memang begitulah anak-anak, bisa berteman dengan siapa saja.
*******
Dukung terus karyaku ya... dengan like, favorit, dan votenya 🤗🤗🤗
__ADS_1