Yang Terakhir

Yang Terakhir
87. Terbukalah Padaku


__ADS_3

Hania menatap Arga yang berubah sendu. Pria itu pasti sangat tidak suka dirinya berdekatan dengan pria lain. Apalagi Arga memiliki pengalaman yang sama dengannya. Sebenarnya dirinya kesal Arga menuntutnya bercerita perihal Ferdi yang menurutnya bukan siapa-siapanya dan tidak penting, menyudutkannya, dan menghakiminya seperti sekarang. Tapi masa lalu Arga sama dengannya. Mungkin, reaksi Arga yang berlebihan adalah bentuk dari pertahanannya. Agar tidak kembali terluka. Apalagi pria tampan itu sudah memintanya untuk memberinya kesempatan, yang dengan sadar dirinya bersedia memberinya. Bahkan dirinya membalas c**man Arga dengan penuh perasaan.


"Dia itu sudah menikah, Mas." sahut Hania, dia tidak ingin Arga berpikir dirinya juga menyukai Ferdi.


"Kalau dia masih sendiri, apa kamu akan mencintainya juga?" Hania menggeleng tak menyangka pria tampan yang mengaku mencintainya itu tidak mempercayainya.


"Aku ngga pernah seterbuka itu sama laki-laki manapun selain sama Mas." ungkap Hania seraya menatap Arga yang masih menunduk di depannya, membuat pria itu mengangkat kepalanya.


"Cuma Mas yang ngga bisa kutolak. Ngga tau kenapa tapi aku kayak menerima begitu aja kehadiran Mas." lanjut Hania membuat Arga menatapnya lekat.


"Setelah semua yang aku alami, aku cuma ngerasa paling nyaman dan aman sewaktu sama Mas." Hania mengakui perasaan yang selama ini ditepisnya di hadapan Arga.


"Cuma Mas yang bisa meyakinkan aku sewaktu aku ragu karena takut sakit hati lagi." mata Hania sudah berkaca-kaca.


Arga mendengarkannya sepenuh hati. Sungguh dia ingin menjadi yang pertama yang berjuang untuk menyembuhkan luka Hania. Tapi ternyata ada pria lain yang mendahuluinya. Dia ingin tahu sejauh apa pria lain itu berjuang untuk Hania.


"Apa dia juga melakukan yang aku lakukan? Meyakinkanmu?" tanya Arga.


Hania mengangguk. Sebenarnya Arga sudah tidak tega melihat Hania yang matanya sudah berkaca-kaca. Tapi dia masih penasaran. Dan tidak ingin rasa penasarannya hanya akan membuatnya cemburu buta nantinya. Sungguh dia tidak akan sanggup membayangkan Hania bersama pria lain.


"Apa Mas sekarang ragu sama aku? Ngga apa-apa, aku ngerti." ucap Hania pasrah seraya menahan airmata yang sudah bergelayut di pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak.


"Aku juga pernah ngalamin yang Mas alami. Bahkan Mas tau, sekarangpun aku belum bener-bener lepas dari bayang-bayang masa laluku." Hania merasakan nyeri di hatinya.


"Kepercayaan untuk orang seperti kita, itu hal yang langka. Pastinya Mas udah sering denger banyak selintingan negatif tentangku. Jadi wajar aja kalau Mas curiga sama aku. Aku sangat ngerti perasaan Mas." Airmata Hania mulai menetes di sudut matanya dan wanita itu sibuk menyekanya dengan punggung tangannya.


"Pak Ferdi, dari dulu aku sudah menghindarinya. Aku ngga siap menerima kehadiran laki-laki lagi dalam hidupku. Rasanya masih sakit. Rasa traumaku dan ujaran kebencian yang terlontar padaku membuatku sangat ingin hidup sendiri. Berdua saja dengan Tiara." Hania terisak.


"Aku malu dan sakit hati tapi aku ngga bisa apa-apa. Sekeras apapun aku membantah, aku tetap saja dianggap bersalah karena dianggap menggoda pasangan orang. Aku sangat ingin hidup tenang. Dengan begitu aku bisa membesarkan Tiara dengan baik." Hania menutup wajahnya dan menangis sesenggukan di hadapan Arga yang menatapnya dengan rasa bersalah.


Wanita cantik itu seperti menumpahkan semua perasaan yang mengganjal selama ini. Perasaan yang tidak bisa ditumpahkan pada siapapun, bahkan pada Galih yang notabene adalah sahabatnya sejak lama.

__ADS_1


Arga meraih tubuh Hania dan memeluknya dengan erat.


Bukan seperti ini yang pria itu kehendaki. Membuat Hania menangis? Oh, tidak! Pria itu hanya ingin Hania terbuka padanya. Jika memang pria itu bukan siapa-siapa seperti yang dikatakannya, seharusnya bukan hal yang sulit untuk diceritakan. Tapi Hania terkesan menghindar membuatnya curiga. Dan kecurigaannya hanya mendatangkan luka baru untuk Hania.


Kenyataannya, Hania merasa yang berhubungan dengan Ferdi hanya rasa malu dan sakit hati. Itu sebabnya wanita cantik itu enggan bercerita. Dan kini Arga membuatnya merasa tidak dipercaya. Tuntutan Arga secara tidak langsung membuatnya sadar diri. Dia yang banyak menyandang predikat negatif meskipun tidak ada satupun yang benar, mungkin tidak pantas untuk dicintai Arga. 


"Han, maaf. Aku ngga bermaksud membuka luka lamamu. Aku hanya merasa ngga nyaman dengan perasaanku. Aku sangat cemburu. Dan aku ngga mau rasa cemburuku hanya akan menjadi masalah untuk kita nantinya. Aku cuma mau kamu terbuka sama aku. Apapun itu. Jangan buat aku berpikir semauku." ucap Arga setelah tangis Hania reda.


"Tapi Mas ngga percaya aku." ucap Hania disela isaknya.


"Hei. Siapa bilang aku ngga percaya?" Arga menaikkan dagu Hania agar dapat menatap mata kelinci milik Hania.


"Aku cuma mau tau sejauh mana hubunganmu sama dia, tapi karena kamu ngga terbuka, aku jadi mikir macem-macem. Aku itu pencemburu, Han. Sangat. Karena aku mencintaimu. Jadi mulai sekarang terbukalah padaku, Bisa 'kan?" ucap Arga dengan lembut.


Hania membalas pelukan Arga. Wanita cantik itu memeluk tubuh Arga dengan erat. Dapat dirasakannya kehangatan tubuh pria tampan itu merambat ke hatinya.


"Han? Mau sampai kapan begini, hum? Aku sih ngga keberatan kalau kamu maunya begini terus." goda Arga.


Perlahan pria itu mel***t bibir merah jambunya Hania. Arga sangat menyukai bibir Hania. Ingin rasanya membenamkan bibirnya di sana setiap saat. L***tan itu semakin lama semakin dalam saat Hania membalasnya. Namun Arga segera menyudahi cumb**nnya itu ketika merasa 'jendral jack'nya mulai bereaksi.


Arga menatap Hania dengan mata sayu. Napasnya memburu. Terlalu bersemangat mencum** Hania sampai-sampai membangunkan senjata pusakanya yang memang selalu bereaksi berlebihan jika berada di dekat Hania.


"Ayo, kita jemput Tiara." ucap Arga pada Hania yang masih mengatur napasnya.


"Hah? Ah, iya." sahut Hania kikuk, wajahnya merona.


Arga tersenyum tipis. Pria itu yakin Hania juga mencintainya hanya masih butuh waktu untuk menghilangkan bayang-bayang penghianatan di masa lalu. Wanita itu begitu lembut hatinya. Mungkin karena itu dia jadi perasa dan mudah terluka. Arga hanya perlu bersabar menunggu Hania membuka hati untuknya seutuhnya, sembari membantu wanita itu meyakinkan perasaannya.


Arga juga merasa tidak perlu lagi mencemaskan kehadiran Ferdi di sekitar Hania. Wanita itu sudah meyakinkannya bahwa pria yang dianggapnya tak tahu diri itu bukan siapa-siapa bagi Hania. Dan lagi wanita itu sudah mengungkapkan hanya bisa menerima kehadirannya saja. Membuatnya merasa lega luar biasa. Artinya hati Hania sudah terpaut padanya.


Arga mengendarai sedan mewahnya meninggalkan apartemennya menuju sekolah Tiara. Sepanjang jalan pria tampan itu tersenyum. Wajah yang tadinya masam berubah cerah, menambah kadar ketampanannya.

__ADS_1


Namun wajah cerah Arga seketika berubah mengelam ketika melihat sosok pria yang sangat tidak ingin ditemuinya, bersandar pada sebuah mobil sedan di depan pintu gerbang sekolah Tiara. Ryan. Mantan suami Hania itu kini ada di depannya. Dadanya bergemuruh. Arga cemburu karena hingga saat ini Hania masih terus saja mengingat-ingat pria itu, sekaligus emosi mengingat betapa dalamnya pria yang dianggapnga tak setia itu melukai wanitanya.


Arga menoleh pada Hania yang duduk terdiam di sampingnya. Sorot matanya tajam menatap mantan suaminya. Cairan bening pun mulai bergelayut di pelupuk matanya. Dapat dijamin hanya dengan sekali kedip airmata itu pasti langsung tumpah.


"Han?" Arga menggenggam tangan Hania bermaksud memberi ketenangan.


Arga tahu wanita itu masih merasa kecewa dan sakit hati dengan perlakuan mantan suaminya. Meski dia tahu sudah tidak ada cinta lagi untuk sang mantan, Arga tetap saja cemburu. Bagaimanapun juga, Ryan pernah menjadi pria yang dicintai Hania. Namun, pria tampan itu menekan perasaan itu dalam-dalam.


Hania masih menatap mantan suaminya dengan genangan air mata di pelupuk matanya. Hah. Dia gusar. Kenapa pria itu ada di sini? Di sekolah Tiara? Apa yang ingin dilakukannya di sekolah putrinya itu? Pikiran Hania kalut. Bayangan Ryan merampas Tiara darinya menari-nari di benaknya. Dia takut Ryan mengambil Tiara.


"Mas, Tiara, Mas. Aku... ngga mau dia...ngambil Tiara." ucap Hania terbata disela tangisnya yang sudah tumpah. Arga mengeratkan genggamannya, sementara tangan kanannya sibuk mengusap air mata Hania yang sudah meluncur bebas di pipi mukus itu.


"Kamu di sini aja. Biar aku yang turun." ucap Arga tenang tapi penuh penekanan.


Hania menggeleng seraya menahan tangan Arga. Wanita itu tahu Arga tidak suka dengan kehadiran mantan suaminya itu. Dia tidak ingin Arga berulah. Dia masih ingat bagaimana dulu Arga memukuli Ryan hingga babak belur. Dan dia tidak dapat menjamin hal itu tidak akan terulang lagi.


"Aku ikut." putus Hania.


Arga terdengar mendesah ketika Hania memutuskan ikut turun menemui Ryan. Pria itu ingin Hania tetap berada di dalam mobilnya hingga wanitanya itu tidak perlu bersinggungan lagi dengan Ryan.


"Kamu yakin?" ucap Arga yang mempertanyakan keyakinan Hania tapi sebenarnya lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Apakah diri yakin akan baik-baik saja atau malah emosi melihat interaksi Hania dan Ryan.


Arga berjalan menghampiri Ryan dengan langkah penuh percaya diri dan tatapan mengintimidasi yang tajam. Di sebelahnya Hania berjalan ragu-ragu dengan tangan yang melingkar di lengan kiri pria karismatik itu.


"Dek?" sapa Ryan dengan senyum mengembang ketika menyadari kehadiran Hania di sana tapi senyum itu sirna setelah menatap Arga, pria tampan yang sepertinya selalu ada di sekitar Hania.


*******


Thanks for reading!


Dukung karyaku dengan lika dan favoritkan ya... 🤗

__ADS_1


__ADS_2