Yang Terakhir

Yang Terakhir
17. Tom Dan Jerry


__ADS_3

Hania masih duduk di ruangan yang dijadikannya kantor di restorannya, ketika senja mulai menyapa. Hari ini, Tiara dijemput oleh Bayu dan Binar yang diantar sopir pribadinya dan ikut serta ke rumah mereka, karena esok adalah hari minggu. Disandarkannya tubuhnya pada sandaran kursi, menatap langit senja dari jendela kaca berukuran besar yang kebetulan menghadap ke barat.


Ya. Bangunan restoran Hania menghadap ke selatan. Jadi sisi kanan dan kiri bangunan itu menghadap ke timur dan ke barat. Hania meminta sisi kanan dan kiri bangunan itu dipasangi jendela kaca yang besar. Selain untuk mengirit pemakaian listrik, pemandangan pagi dan sore hari bisa memanjakan mata. Seperti saat ini.


Sedang menikmati langit senja yang syahdu, tiba-tiba bayangan senyum pria seksi yang belakangan sering singgah dibenaknya itu melintas. Hania menghela napasnya. Lalu tersenyum mengingat kejadian tadi siang.


Memikirkan bagaimana cemasnya pria seksi itu ketika dirinya tidak segera mambalas pesannya. Sampai-sampai mengutus orang untuk memeriksanya. Diakuinya dirinya terharu. Merasa diperhatikan. Mendadak merasa senang mendapat perhatian semanis itu dari seorang pria.


Entahlah. Hania bingung. Kenapa merasa senang dengan perhatian pria itu? Bukankah selama ini dirinya selalu menjaga jarak dengan pria manapun yang ingin mendekatinya? Selalu mengabaikan perhatian dari pria-pria itu? Merasa kesal dengan segala usaha pria-pria yang mendekatinya? Hania mendesah lagi.


Ketika akan bangkit dari kursinya, Ferry, chef tampan yang macho, mengetuk pintu dan masuk. Hania menyandarkannya kembali tubuh rampingnya yang berbalut blous merah jambu. Dirinya menatap Ferry kesal perihal ponselnya yang hilang sementara kemarin.


Siang tadi Ferry meminta maaf karena kemarin tidak langsung memberikan ponsel milik Hania. Tentu saja, Hania mengomelinya, menyalahkannya, karena membuatnya kerepotan. Tapi Hania tidak benar-benar memarahi chef kesayangannya itu. Terlihat dari ekspresi Ferry yang mengulum senyum melihat ekspresi Hania yang mengomel.


Dan sore ini, Ferry kembali lagi ke ruangan Hania. Tentu saja dengan senyum semanis gulanya. Mendekati meja Hania dan duduk di depan atasannya itu. Tatapan matanya menyelidik. Tetap dengan senyumnya yang membuat para pelanggan wanita di restorannya panas dingin karena salah tingkah.


"Jangan senyum-senyum Fer, kamu tau aku tuh masih kesel banget sama kamu." omel Hania seraya menatap chef macho itu.


"Iya, iya mba, maaf." ucap Ferry sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya, masih dengan ******* senyumnya yang tampak tengil di mata Hania.


"Hah, udahlah aku mau balik. Liat senyummu bisa darting aku." pungkas Hania seraya memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas totenya.


"Hmm... Ngomong-ngomong, tadi siapa?" Ferry bertanya seraya membolak balikkan buku resep karya Hania yang sudah diterbitkan.


Ya. Selain menjadi chef dan pengusaha restoran, Hania juga menulis dan menerbitkan resep-resep hasil karyanya dalam buku. Dirinya juga kerap diundang dalam beberapa seminar tentang kuliner dan acara memasak.


"Siapa?" Hania balik bertanya tanpa ekspresi.


"Lisa bilang tadi ada pria katanya sih ganteng, kesini nyari mba." kata Ferry sambil menatap wajah Hania.


Hania mendesah. Haduh. Pasti terjadi kehebohan di dapur ketika dirinya tidak ada di sana. Para karyawannya pasti sibuk menggosipinya. Apalagi jika Lisa membumbuinya. Hm, pasti semakin sedap. Hania menggeleng-gelengkan kepalanya. Karyawannya yang satu itu memang kadang-kadang suka berlebihan.


"Bukan siapa-siapa", jawab Hania enteng karena memang pria yang tadi menemuinya bukan siapa-siapanya.


"Siapa-siapa juga ga pa-pa kok, Mba." goda Ferry seraya menyunggingkan senyumnya yang dianggap tengil oleh Hania.

__ADS_1


Mendengar tanggapan Ferry, Hania langsung melotot. Dia merasa mulai sore ini, pria macho didepannya itu akan sering menggodanya. Perasaannya sudah kesal saja. Apalagi senyumnya yang tengil itu.


"Eh tapi, sayang banget kalo Mas Galih dihempaskan." lanjut Ferry masih menggoga Hania.


Lagi-lagi senyum tengil itu bertengger di bibir chef tampan itu seraya menatap Hania dan menaik turunkan alisnya.


"Tuh kan?" keluh Hania dalam hati.


Hania semakin memelototkan matanya tanda semakin kesal, lalu bangkit dengan cepat hendak menghampiri Ferry. Dengan sigap Ferry juga berdiri. Namun terlambat. Tangan Hania sudah sibuk mencubiti lengan kekar chef macho itu.


"Aduduh Mba... Ampun Mba, ampuuun..." jerit Ferry menahan nyerinya cubitan Hania seraya terus mencoba menghindar.


"Rasain nih! Hum." kata Hania sambil terus melancarkan cubitannya.


Kegaduhanpun terdengar hingga ke dapur yang berada di lantai 1 karena suasana restoran sedang lengang, belum ada pengunjung yang berdatangan. Beberapa karyawan yang mendengar suara gaduh dari dalam ruangan atasannya itu, saling melirik satu sama lain lalu sepakat dalam diam menaiki tangga menuju lantai 2 tempat ruangan itu berada.


Sesampainya diujung tangga mereka tidak segera mendekat tapi malah cekikikan mendengar keributan kecil itu. Lisa yang baru keluar toilet hanya mendapati kasirnya seorang diri saja bertanya. Sang kasir hanya menunjuk dengan dagunya yang mengarah ke lantai 2.


Lisa berpapasan dengan beberapa karyawan tadi yang sudah membubarkan diri sambil cekikikan menuruni tangga.


"Ada apa?" tanya Lisa penasaran pada seorang karyawan yang berjalan paling belakang.


Masih dengan rasa penasaran, Lisa mempercepat langkahnya. Dia yakin "ngamuk"nya atasannya itu pasti karena keteledoran Ferry. Meski begitu dirinya tidak merasa khawatir sama sekali. Dia sudah hafal betul sifat Hania. Sekesal-kesalnya atasannya itu pada chef tampan itu, tidak pernah sekalipun Hania bertindak berlebihan. Hah. Dua orang yang sama-sama penting di restoran itu seperti Tom dan Jerry. Akurnya hangat-hangat tai ayam.


Ceklek! Pintu terbuka memperlihatkan pemandangan yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Ferry sedang menelungkup di sofa tunggal dengan rambutnya yang senantiasa rapi anti badai, tengah dijambaki Hania yang berdiri di sampingnya. Sudah dipastikan tampilannya berantakan luar biasa. Begitupun dengan Hania. Rambut sebahunya yang selalu dicepol ketika di restoran, juga kusut tak rapi lagi. Blous merah jambunya keluar dari dalam celananya. Lengan blous yang biasa digulung hingga sikupun melorot sebelah.


Keduanya langsung menoleh begitu mendengar tawa Lisa yang dianggap seperti tawa nenek sihir oleh Ferry. Kemudian spontan langsung berdiri sambil merapikan diri masing-masing.


"Ehem..", Ferry berdehem menetralkan suasana sambil menyugar rambutnya.


Hania melirik Ferry dengan senyuman sinis disudut bibirnya, seolah berkata, rasain!


Lisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya setelah berhasil menguasai tawanya. Ya. Jika Hania dan Ferry dalam mode childish begitu, dirinya tidak dapat menahan tawanya sekaligus merasa terhibur.


"Aku curiga, jangan-jangan kalian ini memang kakak adek yang terpisahkan." ejek Lisa.

__ADS_1


Dirinya merasa takjub pada atasannya yang biasanya bersikap tenang dan elegan itu bisa berubah bar-bar bila berhadapan dengan Ferry yang selalu menjaga wibawanya sebagai chef perfeksionis itu.


Hania dan Ferry secara bersamaan saling lirik lalu menggelengkan kepala dengan cepat. Melihat adegan tersebut Lisa merasa geli sendiri. Dirinya merasa berada di tengah-tengah sebuah keluarga. Memikirkannya, senyumnya terbit. Kadang kita tidak harus sepenuhnya menjadi dewasa, kita bisa meninggalkan sedikit sifat kekanak-kanakan dalam diri kita. Mungkin dengan begitu kita bisa menikmati hidup tanpa beban. Sekali-kali.


Ferry segera meninggalkan ruangan Hania. Sementara Hania kembali sibuk mengemas barangnya ke dalam tas totenya, lalu meninggalkan Lisa yang masih larut dalam pikirannya. Keduanya pastilah merasa malu.


Dirinya tersentak ketika pintu ruangan tersebut tertutup. Seketika tersadar dari lamunannya. Hah. Dipegangnya dadanya. Perasaan apa ini? Kenapa perasaannya jadi sebahagia ini?


"Boleh kan aku menganggap mereka keluargaku?" tanyanya dalam hati.


Malam semakin larut di kota pahlawan, tapi tidak menyurutkan semangat Arga untuk segera menyelesaikan masalah di kantor cabangnya. Apalagi dirinya baru mendapat asupan nutrisi dari wanita cantik bermata kelincinya. Ditemani Reza dan beberapa orang yang dibentuk Reza untuk menyelidiki kasus itu, Arga berencana akan membuka kedok si penghianat berikut kaki tangannya.


"Sekarang dia dimana?" tanya Arga dingin.


"Kami menyekapnya di apartemen Lotus, Pak." lapor Reza.


"Apa Bapak ingin menemuinya?" tawar Reza.


Arga ragu menemui si penghianat yang sekarang menjadi orang yang paling dibencinya. Tapi setelah menimbang untung ruginya, dirinya memutuskan untuk bertemu sebelum kasus itu dilimpahkan pada aparat yang berwenang. Tentu saja dirinya ingin memberi si penghianat itu tanda kasih.


Sesampainya di pintu apartemen tempat menyekap penghianat itu, Arga tak langsung masuk ke dalam. Dia menoleh pada Reza.


"Anda harus bisa menahan diri, Pak." peringat Reza yang diangguki Arga.


"Tapi... Boleh kan aku menghajarnya sedikit? Rasanya aku rindu bertarung dengannya." ucap Arga dingin, wajahnya mengelam.


"Mohon tidak berlebihan ya, Pak." Reza memberi lampu hijau.


Di dalam kamar mandi yang berukuran cukup besar, seorang pria paruh baya yang masih gagah dan terlihat masih tampan, sedang terikat pada sebuah kursi kayu. Mulutnya disumpal kain dan diplester. Dia hanya memakai singlet dan celana kolor. Pakaiannya tampak basah karena baru saja disiram seember air dingin.


"Mmmmmh.... Mmmmmmh...", pria paruh baya itu berusaha memberontak.


Tidak jelas apa yang ingin dikatakannya. Suaranya teredam sumpalan kain. Matanya merah melotot pada Arga. Dia berusaha berdiri tapi tidak bisa, kaki dan tangannya terikat. Terlihat sekali pria paruh baya itu marah pada Arga.


*******

__ADS_1


*Dukung karya ini terus ya,, dengan like, favorit. dan vote nya 🤗🤗


Krisannya juga boleh disumbangkan 😊


__ADS_2