
Hania masih terheran-heran dengan sikap kedua pria yang dekat dengannya, Arga suaminya dan Galih sahabatnya. Malam ini, mereka terlihat akur sekali. Sambil bersedekap, wanita cantik bermata kelinci itu menyipitkan matanya menatap ke arah kedua pria yang sedang asyik mengobrol di halaman belakang rumahnya. Pemandangan yang luar biasa bagi dirinya. Tapi tak ayal membuatnya senang.
Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Arga mengajak Galih menurunkan perut di gazebo dekat kolam renang yang terletak di halaman belakang rumahnya sekalian berbincang ringan.
"Jadi Syana itu salah satu karyawati di kantor lu? Dan lu deket sama dia?" tanya Arga setelah dia mendengar cerita Galih barusan.
"Hum. Gue ngga begitu deket tapi cukup mengenalnya." terang Galih.
"Apa aslinya dia punya kemiripan sama Hania? Wajahnya keliatan natural." tukas Arga.
Galih memperlihatkan sebuah foto yang tersimpan di ponselnya pada Arga. Suami Hania itu langsung menyambar ponsel Galih dan fokus menatap foto itu.
"Ini siapa? Pacar lu?" tebak Arga spontan.
"Ck!" decaknya seraya melirik sinis pada Arga.
"Itu Syana!" sewot Galih.
"Syana?" ulang Arga.
Arga memperhatikan foto itu. Jika diperhatikan sekilas, gadis dalam foto itu memang mirip dengan Hania. Tapi jika diperhatikan dengan cermat, memang ada miripnya namun tak sama.
Arga mendadak iba pada Syana. Bagaimana kehidupan gadis itu selanjutnya? Dia menderita amnesia, ditambah rupa wajahnya yang diubah menjadi rupa wajah orang lain. Dia pasti akan kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya dengan wajah baru dan ingatan baru.
"Kasian dia." ucapnya.
Rupanya Galih juga memiliki pemikiran yang sama dengan Arga. Syana tidak ingat masa lalunya. Bagaimana dia melanjutkan hidupnya? Lalu apa kabar dengan pekerjaannya? Tentunya sudah lama dia absen. Apakah gadis itu akan kehilangan pekerjaannya? Lalu bagaimana juga dengan warisan hutang-hutangnya?
Hah! Pria berwajah tenang itu menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar. Mendadak dadanya terasa sesak karena memikirkan nasib gadis itu.
Sebagai satu-satunya orang yang mengetahui kehidupan Syana yang dulu, dia merasa terdorong untuk membantu gadis itu. Melihat kondisinya yang sekarang, seperti ada yang janggal dari sosok Syana. Gadis yang dikenalnya sebagai sosok periang dan kuat.
"Menurut lu apa Syana bisa ingat masa lalunya lagi?" tanya Galih.
"Tergantung seberapa parah kondisinya dan stimulasi yang diterapkan ke dia. Dan prosesnya bisa cepet bisa juga lama." sahut Arga.
"Dan yang terpenting adalah dukungan dari orang-orang terdekatnya. Keluarga, sahabat, pacar." imbuh Arga, dia menekan kata 'pacar' diakhir kalimatnya.
Galih berdecak lagi. Sedikit terganggu dengan penekanan kata 'pacar' diakhir kalimat yang Arga ucapkan. Apalagi suami sahabatnya itu juga meliriknya seraya menyeringai.
"Lu ngga tertarik sama Syana?" goda Arga membuat Galih semakin jengah.
"Siapa Syana?" kedua pria yang baru akur itu seketika menoleh ke arah suara yang tiba-tiba menginterupsi.
Hania yang penasaran dengan obrolan suami dan sahabatnya itu tak tahan lagi ingin tahu apa yang sedang diobrolkan. Dirinya kah? Ah! Tidak mungkin. Kedua pria itu tidak suka jika ada orang lain membicarakan dirinya.
"Bi, cemilannya udah jadi?" tanyanya pada Bi Lastri yang dimintanya menggoreng kudapan yang sudah disiapkannya untuk dibawanya mendekat pada kedua pria yang tengah akur itu.
"Eh, sudah Mba. Tapi masih panas." sahut Bi Lastri yang masih menata kudapan yang baru matang itu di piring.
"Ngga apa-apa. Gorengan kalau dingin ngga enak. Bi Lastri udah sisihin buat sendiri sama yang lain?" Hania selalu memasak apa saja dalam porsi besar agar bisa dimakan bersama, termasuk gorengan itu.
"Sudah, Mba. Itu." sahut Bi Lastri seraya menunjuk sepiring gorengan di piring yang lain, tak lupa senyumnya yang lebih mirip ringisan.
Arga langsung memasang senyum semanis madunya meyambut sang istri. Sementara Galih hanya melirik Arga.
__ADS_1
"Hei, honey. Apa itu?" tanyanya mengalihkan perhatian Hania.
"Moga aja dia ngga denger." gumam Galih di dalam hatinya.
"Oh, ini. Gorengan! Ada pisang, ubi, mendoan, sama tahu isi. Buat nemenin obrolan kalian. Biar tambah rukun." sahut Hania bersemangat seraya tersenyum.
Arga dan Galih saling melirik lalu sama-sama menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar.
"Besok pagi lu mau jogging bareng gue? Atau sore kita fitness bareng?" ucap Arga pada Galih lalu memakan makanan berlemak banyak itu malam-malam, sekaligus menyindir Hania, tapi yang disindir tidak merasa.
"Hahaha.... Kayaknya ide bagus itu. Bolehlah!" balas Galih lalu menyambar pisang goreng dan langsung menggigitnya.
"Hahaha.... Kayaknya lu harus sering-sering nemenin gue olahraga deh kalau di sini." celetuk Arga lagi.
Dua pria dengan bentuk tubuh ideal. Tinggi dan atletis. Dan semua itu terjaga tetap bagus berkat pola makan sehat dan olahraga teratur. Tapi malam itu, Hania datang membawa racun. Meskipun Arga sudah terbiasa dengan segala macam hidangan yang bisa membuat tubuhnya mekar, namun dia selalu mengimbanginya dengan tetap berolahraga.
"Ohya, siapa Syana?" Hania mengulang pertanyaannya lagi.
Uhuk! Uhuk!
Kedua pria itu langsung terbatuk karena tersedak gorengan.
"Kalian ini kenapa, sih? Aneh tingkahnya dari tadi! Tiba-tiba akur. Trus sekarang, batuk aja kompakan!" gerutu Hania seraya menyodorkan air putih pada keduanya.
"Tersedak, honey. Kamu suka ngagetin kalau nanya." sahut Arga seraya mengusap dadanya yang terasa nyeri.
"Aku 'kan cuma nanya, Syana itu siapa? Gitu aja kaget. 'Kan aneh." sahut Hania.
"Oh, Syana? Itu...." Arga menyenggol kaki Galih.
"Iya, honey. Pacar Galih." timpal Arga membuat Galih mendelik, menatap Arga seolah berkata, awas lu!
"Benar itu, Galih?" pertanyaan Hania semakin membuat Galih tersudut.
"Iya juga ngga apa-apa. Uuuh! Aku seneng deh kamu punya pacar." ucap Hania dan spontan menggenggam tangan Galih saking semangatnya.
Arga yang melihat tingkah istrinya ganti mendelik. Dadanya berdebar kencang dan ekspresinya berubah dingin.
"Kondisikan tanganmu, honey!" sentak Arga sambil menarik tangan Hania yang masih menggenggam tangan Galih.
"Eh? Hehehe.... Maaf. Aku terlalu bersemangat." ucapnya manja seraya melingkarkan tangannya di lengan Arga dan menyandarkan kepalanya di bahu pria karismatik itu.
"Dasar posesif! Untung ngga sampe peluk." cibir Galih dalam hatinya.
Arga menutup pintu rumahnya ketika Galih sudah keluar pintu gerbang bercat coklat tua itu. Lalu memeluk bahu Hania mengajaknya ke kamar mereka. Rasa lelah sudah menguasai tubuhnya dan kantuk mulai menyerang. Beberapa malam belakangan pria itu tidak bisa tidur dengan benar. Selain menggaggu Hania, dia juga diganggu Iden, Galih, dan Reza.
"Hari sabtu, Mamamu, umm.... Tante Irene, 'ngundang kita makan malam di rumahnya. Mau ya, honey." rayu Arga dengan mata menatap Hania yang sedang merapikan rambutnya, sementara tangannya sibuk menggulung kemejanya.
Pria tampan itu keceplosan menyebut mamanya Iden dengan sebutan mama untuk Hania tapi segera meralatnya. Dia belum tahu pasti bagaimana reaksi Hania saat mengetahui bahwa keluarga Pratama adalah keluarga kandungnya. Selama ini, istrinya itu hanya diam, sama sekali tidak membahasnya. Apakah Hania menerima atau menyangkalnya dengan tidak ingin membicarakannya?
"Aku harus gimana saat ketemu mereka?" tanya Hania dengan mata yang sudah mengembun.
"Apa kamu mau ketemu mereka? Mereka pasti seneng ketemu kamu. Perasaanmu sendiri gimana? Apa kamu merasa seneng saat tau kamu masih punya orangtua? Orangtua kandung?" tanya Arga hati-hati, tangannya mengusap pipi Hania, menyeka airmata yang sudah luruh.
Dia harus memastikan kondisi kejiwaan istrinya. Tidak mau merusak suasana bahagia yang tercipta nantinya. Oh. Bukan hanya suasana bahagia saja tapi juga akan mengejutkannya. Bukankah Syana juga akan ada di sana?
__ADS_1
Pagi itu, Arga mengantarkan Hania ke restorannya. Pria karismatik itu memberi izin pada Hania turun ke restorannya kembali agar wanita kesayangannya itu tidak merasa jenuh tapi hanya sebagai pengawas tidak boleh ikut turun memasak pesanan pengunjung.
Dasarnya Hania tidak bisa berdiam diri saja jika melihat karyawannya kerepotan, tetap saja wanita itu ikut membantu turun langsung ke dapur. Tindakannya itu juga diketahui Arga tapi masih bisa ditolerirnya. Hania hanya akan membantu jika pengunjung restoran membludak terutama di jam makan siang.
Hari sabtu menjelang. Sejak pagi Hania sudah tampak gelisah. Dia merasa asing dengan keluarga Pratama. Benaknya sudah dipenuhi bermacam-macam pikiran.
"Honey? Kamu kenapa? Is everything okay?" tanya Galih seraya mengusap punggung tangan Hania yang diam saja sejak datang ke ruangannya.
Arga sengaja meminta Hania memasakkan makanan kesukaannya dan mengantarnya ke perusahaannya. Dia ingin menenangkan istrinya ditengah-tengah kesibukannya. Dan seperti dugaannya, Hania tampak tak tenang. Lebih banyak diam dan melamun.
"Aku ngga baik-baik aja, Mas. Aku gugup." lirih Hania.
"Mereka orang asing bagiku. Maksudku.... Aku baru beberapa kali ketemu mereka. Aku harus bagaimana? Rasanya kayak mimpi." imbuhnya panjang lebar.
Arga menggenggam tangan Hania, menyalurkan rasa aman dan tenang untuk istrinya itu.
"Apa yang kamu khawatirkan? Mereka itu orangtuamu, honey. Kamu udah denger sendiri gimana kalian terpisah. Pasti ngga mudah buat mereka juga setelah tau anak mereka masih hidup tapi ngga tau dimana rimbanya." ucap Arga membantu menenangkan jantung Hania yang berdebar.
"Don't worrying something never happened yet, honey. Lagian ada aku yang bakal pasang badan kalau sampe terjadi sesuatu." lanjutnya lembut seraya mengusap pipi Hania dengan punggung jarinya.
(Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum pernah terjadi.)
Mobil Arga berhenti di halaman kediaman Pratama. Di sampingnya, sudah ada mobil Galih. Pria karismatik itu benar-benar menepati janjinya mengabari Galih ketika akan mempertemukan istrinya itu dengan keluarga Pratama.
"Apa semua sudah 'ngumpul, Bi?" tanya Arga mengekori seorang ART yang membukakan pintu tadi.
"Sudah, Mas. Mas Iden sama temennya, Mas Galih, ya, juga sudah datang. Mas Rendy sama istri dan anaknya juga." sahut Bibi.
"Galih juga ada di sini?" bisik Hania.
"Iya. Aku yang minta dia ke sini. Bukannya dia juga orang penting bagimu? Aku juga mau dia ikut 'nyaksiin hari bersejarahmu, honey." sahut Arga dengan suara pelan.
Hania hanya menatap Arga dari samping. Lalu tersenyum simpul.
"Makasih." ucapnya lirih.
"Anytime, honey." sahut Arga seraya menoleh lalu mendekatkan tangan Hania yang digenggamnya ke bibirnya kemudian mengecup punggung tangan istrinya itu.
Arga dan Hania diarahkan ke ruang keluarga, dimana semua anggota keluarga berkumpul di sana. Kedatangan Arga dan Hania langsung mendapat sambutan yang hangat. Meskipun begitu, Hania tidak bisa menghilangkan kegugupannya.
Wanita cantik bermata kelinci itu menyunggingkan senyumnya yang manis tapi terlihat canggung ketika Ibu Irene mendekatinya dan memeluknya. Mau tak mau Hania melepaskan genggaman tangannya pada Arga, membalas pelukan wanita paruh baya itu. Berjuta rasa seperti akan tercurah keluar jika dirinya tidak bisa menahan diri membuat dadanya sesak. Matanya saja sudah mulai mengembun. Ah. Beginikah rasanya?
"Sayang. Apa kabarmu?" tanya Ibu Irene dengan suara yang bergetar setelah melepas pelukannya tapi tidak melepas genggaman tangan Hania. Matanya sudah berkaca-kaca.
"A-aku baik, Tan-tante." sahutnya dengan terbata karena gugup semakin mendera.
"Mama, sayang. Panggil saya mama." air mata Hania seketika luruh tak terbendung demi mendengar permintaan Ibu Irene.
Kedua wanita cantik beda generasi itu kembali saling memeluk erat dengan air mata berurai. Pak Pratama tidak ingin ketinggalan. Pria tampan yang sudah tidak muda lagi itu ikut memeluk Hania. Dan tidak gengsi mengeluarkan air matanya. Air mata yang selama ini terbuang sia-sia kini terbayar sudah. Putri kembarnya yang hilang telah kembali. Dalam keadaan sehat dan cantik.
*******
🥺🥺🥺
Bersembeng...
__ADS_1