Yang Terakhir

Yang Terakhir
198. Syukurlah, Dia Tumbuh Dengan Baik


__ADS_3

"Sini! Anak-anak mama, sini! Ren, Den." panggil Ibu Irene pada kedua putranya.


Kedua kakak beradik itu menurut dan mendekat ke arah sang ibu. Dan menerima dengan pasrah pelukan sang ibu. Baik Iden dan kakaknya tidak bisa menumpahkan air matanya sampai membasahi pipinya seperti mama dan papanya. Hanya saja kedua pria berwajah mirip itu sering mengusap sudut matanya. Malam itu, adalah malam yang paling tidak akan pernah dilupakan oleh mereka seumur hidup. Anak bungsu yang hilang dari keluarga mereka telah kembali. Apalagi banyak drama yang mengiringi.


Istri Rendy juga ikut terharu melihat pertemuan keluarga suaminya. Wanita beranak 2 itu tak luput dari perasaan mengharu biru. Beberapa kali dia mengusap pipinya. Bahkan hidungnya sampai memerah karena seringnya wanita itu menyusut hidungnya. Ya. Katakanlah dia cengeng.


Sementara itu Arga dan Galih, hanya berdiri menatap Hania dengan penuh suka cita. Wanita cantik yang mereka cintai, akhirnya kembali pada keluarganya. Meski mata kedua pria itu berkaca-kaca tapi tidak sampai membuat keduanya sibuk mengusap sudut matanya.


Aura bahagia jelas sekali terasa di ruang keluarga itu. Mata menangis tapi bibir tersenyum bahkan tertawa. Tak ada yang menyadari tatapan berurai airmata dari balik pintu. Ya. Pemilik tatapan itu adalah Syana. Ada rasa iri yang muncul di sudut hati kecilnya. Seandainya dirinya juga diterima seperti wanita itu, pasti dirinya juga akan berbahagia. Tapi nyatanya, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Ah. Seandainya saja dia ingat siapa dirinya, dia akan memilih kembali ke dirinya yang dulu.


Saat Galih menoleh ke arah kirinya, matanya menangkap siluet Syana di balik pintu. Pria itu melihat Syana mengusap pipinya. Dia menangis? Hatinya mendadak berdenyut nyeri melihat gadis itu menangis sendiri. Dia sudah membalik tubuhnya ingin menyusul gadis cantik itu, namun gadis itu malah berlalu meninggalkan ruangan. Dengan berbekal ibanya pada Syana, Galih ikut meninggalkan ruangan yang dipenuhi aura bahagia itu.


"Kamu ngga apa-apa? Kenapa menyendiri di sini?" sapa Galih yang berhasil menemukan Syana di sudut taman di belakang rumah Pratama.


Suara Galih yang tiba-tiba menyapanya membuatnya terkejut dan reflek menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya. Gadis cantik itu terus menghindar bertatapan mata langsung dengan pria bertubuh tinggi itu.


"Ngga. Pengen aja di sini. Lebih tenang." sahut Syana tanpa menoleh ke arah Galih.


Matanya terus menatap langit. Selain untuk menahan air matanya agar tidak jatuh, dia memang sengaja tidak ingin melihat Galih. Entah, kenapa dia merasa Galih begitu mengenalnya.


"Kamu ngga mau masuk?" tanya Galih lagi setelah mendudukkan dirinya di samping Syana di kursi taman.


"Aku, ngga mau ngerusak momen bahagia mereka, Kak." hati Syana berdenyut nyeri sekali saat mengucapkan kalimat barusan.


"Iya. Siapalah aku? Hanya orang yang sedang sial dan dimanfaatkan orang lain." batinnya seraya tersenyum kecut.


"Katamu, kamu pengen ketemu Hania." tanya Galih lagi.


Sebenarnya bukan tanggung jawab Galih untuk menemani Syana di sana dan dia bisa ikut bersuka cita berbagi kebahagiaan bersama Hania dan keluarga barunya. Tapi entah kenapa, hatinya tak tega meninggalkan gadis itu sendirian.


"Iya. Aku mau minta maaf. Tapi nanti, kalau mereka udah puas saling mencurahkan rasa." sahut Syana lirih lalu terdengar gadis itu menghela napas dalam-dalam.


"Gimana kalau kamu ngenalin dirimu sekarang dan nyampeiin niatmu? Kita semua tau masalah yang timbul bukan karena salahmu. Aku rasa mereka akan bisa nerima kamu. Apalagi Hania, dia perempuan yang baik hati. Dia pasti akan ada di pihakmu." rayu Galih.


"Dia pasti kaget begitu liat aku." ucap Syana seraya terkekeh, sementara Galih hanya tersenyum tipis.


"Kakak kayaknya kenal banget sama Hania." telisik Syana.


"Hum? Dia, sahabatku sejak SMA." sahut Galih.


"Ohya? Dan ngga pernah ada hubungan lebih? Wah hebat!" puji Syana saat Galih menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Lalu keduanya terdiam lagi.


"Kak." ucap Syana.


"Hum?" Galih menyahut seperlunya.


"Beneran Kakak kenal aku? Dan kita sekantor?" rasa penasaran akan masa lalunya membuatnya semakin ingin tahu. Galih pernah mengatakan jika dia mengenalnya.


"Iya. Aku bahkan tau apa aja kegiatanmu selain bekerja di kantor itu." jawaban Galih semakin membuatnya terpancing.


"Ohya? Wah, aku pasti aktif banget ya dulu!" ucapnya antusias.


"Jadi, orang seperti apa aku dulu?" tanya Syana seraya menoleh ke arah Galih.


Kini, Galih dapat melihat mata sembab gadis itu. Wajahnya juga terlihat pucat. Meski suaranya bernada riang tapi tidak dapat menyembunyikan raut sedih di wajahnya.


"Mas Galih, Mba Syana. Di panggil ke dalam. Makan malam sudah mau dimulai. Tinggal nunggu Mas Galih sama Mba Syana aja." Galih dan Syana langsung menoleh ke arah datangnya suara.


Baru saja Galih akan menceritakan tentang masa lalu Syana, Bibi sudah menyusulnya dan memintanya bergabung dengan yang lain.


"Makasih, Bi." ucap Galih lalu Bibi berlalu meninggalkannya dan Syana setelah berpamitan.


"Ayo masuk! Kita udah ditunggu." ajak Galih.


"Aku rasa ngga apa-apa. Jangan khawatir, ada aku. Aku pasti bantuin kamu." Galih sampai merasa heran dengan kata-katanya sendiri.


Dengan mudahnya pria gagah itu menawarkan perlindungan dan bantuannya. Dan lihat! Galih bahkan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Tidak biasanya dia begitu. Ah. Pasti karena rasa iba dan dia tidak tega pada Syana.


Ragu-ragu Syana meraih uluran tangan Galih yang kemudian menggenggamnya erat seolah menyalurkan ketenangan pada gadis cantik itu. Terasa sekali tangan Syana dingin di dalam genggaman Galih. Mereka berjalan berdampingan memasuki ruangan yang tadi ditinggalkan keduanya.


Semua mata seketika tertuju ke arah datangnya Galih dan Syana, termasuk Hania. Tatapan mata menyelidik langsung dapat dirasakan keduanya yang spontan melepaskan tautan tangan keduanya. Sejenak kemudian deheman demi deheman bersahutan di sana. Sementara itu, Hania terus terpaku pada sosok gadis cantik mirip dirinya di samping Galih. Hingga Arga menyadari sikap istrinya itu.


"Honey?" sapaan Arga mengalihkan tatapan Hania yang menoleh sekilas padanya namun kembali menatap Syana.


Arga menyenggol kaki Iden yang masih terjangkau olehnya. Padahal Iden tidak duduk di dekatnya. Tapi dasarnya tinggi, kakinya juga pastinya panjang.


Iden dapat menerima isyarat Arga dengan baik. Pria itu langsung berdiri dan berjalan menghampiri Syana lalu menariknya ke tengah ruangan.


"Hania? Dia Syana. Syana? Dia Hania." Iden berinisiatif memperkenalkan kedua wanita yang memiliki wajah yang mirip.


Syana menganggukkan kepalanya menyapa Hania. Sementara Hania, wanita itu malah melamun. Pikirannya tiba-tiba melayang ke kejadian beberapa minggu yang lalu dimana dirinya bertemu seorang wanita yang mirip dengannya. Dia kah?

__ADS_1


"Honey?" Arga kembali menarik Hania dari lamunannya.


Wanita cantik bermata kelinci itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Menetralkan rasa terkejutnya.


"Dia, mirip denganku." lirihnya seraya meremas tangan kanan Arga.


"Iya, honey. Dia mirip denganmu." bisik Arga lalu memberi sedikit kecupan di kepala Hania agar wanita lembut itu merasa lebih rileks.


Lagi-lagi jamuan makan malam tertunda karena kehadiran Syana. Iden dan Galih bergantian menjelaskan tentang Syana dari A sampai Z. Mendengar kisah malang yang menimpa gadis itu, Hania malah tersedu-sedu begitu pula Ibu Irene. Terutama Ibu Irene, dia merasa bersalah karena tidak memperhatikan dan peduli pada Syana selama gadis itu tinggal di rumahnya.


"Maaf." lirih Syana dengan mata berkaca-kaca setelah Iden dan Galih selesai dengan pembelaannya pada Syana.


"Oh, Syana." Ibu irene langsung menghambur memeluk Syana, meluapkan emosi dan rasa bersalah sekaligus melalui tangisannya.


"Maafin kami ya, Nak. Ngga seharusnya kami mengacuhkan kamu. Kamu ngga salah, Nak. Kami yang salah. Seharusnya kami mengerti kalau kamu juga cuma korban." ucapnya panjang lebar seraya menggenggam tangan Syana.


Wanita paruh baya itu kembali memeluk Syana. Dia juga memanggil Hania dan memeluknya. Perasaannya lega sekali. Kini Ibu Irene merasa seperti tengah memeluk kedua putri kembarnya. Ketiga wanita itu menangis. Syana merenggangkan pelukannya begitu pula yang lainnya. Lalu menatap Hania.


"Maafin aku, Kak. Karena aku, Kakak jadi tertunda bahagianya. Dan wajah ini...." Hania langsung menghentikan Syana yang terus menyalahkan dirinya.


"Ngga ada yang perlu dimaafin. Kamu juga ngga salah. Semua terjadi begitu aja. Udah. Ngga usah terlalu dipikirin." potong Hania.


Syana tersenyum dan mengangguk menuruti kata-kata Hania.


"Bener kata Kak Galih, Kak Hania memang baik hatinya." batinnya.


Ibu Irene merasa senang dengan kejadian dan kejutan malam ini. Hatinya sampai sesak rasanya saking bahagianya. Wanita paruh baya itu kembali memeluk kedua wanita cantik yang lebih muda itu dan menangis lagi. Hingga suara bocah menginterupsi sedu sedan itu.


"Oma! Aku udah laper, nih! Kapan kita mulai makan malamnya?" rengek Cindy, putri sulung Rendy yang kontan saja membuat seisi ruangan itu terkekeh.


"Oh, Cindy udah lapar ya? Aduh, maafin Oma ya, sayang. Ayo, kita mulai makannya. Pasti udah dingin itu masakan." ajaknya sambil melangkah ke ruang makan dan menggerutu, seolah tidak terjadi apa-apa di rumah itu.


"Bi! Bibi! Makanannya udah dipanasin lagi? Tolong dipanasin lagi deh. Ngga enak kalau lauknya ngga anget." perintahnya.


"Ayo, sini, sini! Duduk kita mulai makannya. Ini Mama sendiri yang masak khusus untuk anak-anak mama. Jadi jangan sungkan-sungkan ya." serunya.


Ya, begitulah Ibu Irene yang selalu menghangatkan rumahnya dengan keceriaannya.


Dan malam itu, meja makan Ibu Irene yang biasanya sepi, kini terdengar riuh oleh obrolan dan cibiran yang saling dilontarkan oleh para penikmat makanan yang terhidang di sana. Senyumnya tak surut demi melihat Hania yang terus tersenyum sesekali tergelak.


"Syukurlah. Dia tumbuh dengan baik." batinnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


*******


Makasih udah baca. Boleh dong di bonusin like dan vote 😘😘😘


__ADS_2