Yang Terakhir

Yang Terakhir
63. Berebut Perhatian


__ADS_3

Arga dan Galih duduk berseberangan di meja makan. Tatapan keduanya berbanding terbalik dengan tatapan bersahabat tadi sore saat mereka membicarakan kesepakatan kerjasama. Arga sangat tidak suka jika pria didepannya itu memiliki hubungan dekat dengan Hania. Sementara Galih, dia merasa tidak dibutuhkan lagi oleh Hania karena kehadiran Arga. Dia tidak suka tersingkirkan.


"Oom Galih ngga makan?", pertanyaan Tiara mengalihkan tatapan Galih yang sedari tadi memperhatikan manisnya perlakuan Hania pada Arga.


"Iya sayang, ini Oom udah ambil makanannya", ucap Galih seraya menunjukkan isi piringnya pada gadis kecil itu.


"Tapi dari tadi Oom cuma ngeliatin Oom Arga, ngga makan", protes Tiara.


Mendengar namanya disebut, Arga menoleh ke arah Tiara dan Galih begitu juga Hania. Pria tampan itu menatap Galih yang sedang menatapnya.


"Tuh kan, Oom Galih malah liat-liatan sama Oom Arga", ucap Tiara lalu cekikikan seraya menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Kedua pria dewasa itu kontan membuang wajahnya ke arah yang berbeda. Hania hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Wanita lembut itu tidak ingin berkementar apapun. Pasalnya, dia tahu apa yang menyebabkan dua pria terdekatnya bersikap begitu.


Makan malam yang seret bagi Arga dan Galih. Duduk berhadapan dan saling melempar tatapan tak suka membuat mereka tidak bisa menikmati hidangan lezat yang tersaji di meja makan. Jika hanya berdua dengan Hania saja, mereka pasti makan dengan lahap.


Selama di rumah Hania, Arga seolah menunjukkan statusnya lebih istimewa dari Galih yang hanya seorang sahabat bagi Hania. Pria berkarisma itu merasa berada di atas awan ketika Hania tidak bisa menjawab secara gamblang ketika Galih menanyakan siapa Arga baginya. Dia tahu Hania memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja wanita cantik itu masih ragu dengan perasaannya. Biarlah. Nanti pria itu akan membantunya menyakinkan Hania tentang perasaannya.


"Siapa dia?", tanya Arga dan Galih bersamaan membuat Hania mendesah.


"Mas, Galih ini sahabatku, kami udah temenan sejak duduk dibangku s m a. Dia udah seperti saudaraku", terang Hania pada Arga gamblang.


Sementara itu, dia bingung akan menjawab apa atas pertanyaan Galih. Hania tidak memungkiri jika dirinya menyukai Arga tapi takut jika pria tampan itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, sikap yang ditunjukkan pria karismatik itu seperti menunjukkan pria itulah pemilik dirinya, membuatnya semakin pusing. Wanita bermata kelinci itu terdiam cukup lama membuat kedua pria bertubuh tegap itu mengernyitkan kening.


"Ya ampun Hania, kamu tinggal jawab aja lama bener mikirnya", protes Galih.


Pria gagah itu mulai merasa jika Hania memiliki perasaan lebih pada Arga. Terlihat sekali dari sikap bingungnya akan memperkenalkan Arga sebagai siapa.


"Hah? Ah iya. Mas Arga ini temen... ku", sahut Hania seraya melirik Arga, terlihat pria tampan itu membelalakkan matanya.


"Temen?", ulang Galih, Hania mengangguk.


"Kamu nganggep aku temen? Cuma temen?", Arga langsung memprotes Hania, pria tampan itu tidak terima dianggap teman oleh Hania.


Mendengar Arga protes semakin membuat Galih yakin ada hubungan istimewa diantara sahabatnya dengan pria yang baru dikenalnya tadi sore.


Diberondong pertanyaan yang menyudutkan dirinya dari dua orang pria membuat Hania semakin bingung dan panik.


"Iya, temen", sahut Hania


"Temen?", tanya Arga, Hania mengangguk.


"Hanya temen?", Arga menegaskan lagi seraya menatap Hania, pria itu tahu Hania tidak akan tega mengecewakannya.


"Iya, temen. Temen deket", Hania menambahkan kata dekat dibelakang kata teman, membuat Arga tersenyum segaris benang.


"Temen deket?", tanya Arga lagi.


"Iya, temen deket, deket banget", dipepet terus oleh pertanyaan yang diulang-ulang oleh Arga membuat Hania gelagapan dan akhirnya terlontar kalimat yang membuat Arga tersenyum senang.

__ADS_1


Pria berkarisma itu menoleh pada Galih yang sejak tadi memperhatikan drama entahlah dari kedua insan beda kelamin itu. Menatap sahabat Hania seolah berkata, see?


Hania yang merasa salah ucap hanya bisa mengurut pelipisnya. Dia kesal Arga menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang sehingga dirinya menjawab pertanyaan itu tanpa memikirkannya. Setengahnya keceplosan. Ungkapan perasaan alam bawah sadarnya.


Apalagi setelah itu, sikap Arga begitu posesif padanya. Pria bertubuh atletis itu terus menempel pada Hania seolah menunjukkan kedekatannya dengan wanita itu. Ada rasa tidak enak hati pada Galih. Wanita cantik itu tahu Galih pasti merasa cemburu karena pria gagah itu mencintainya. Dipameri adegan-adegan manis oleh Arga pasti membuat sahabatnya itu meringis menahan sesak. Tapi sekuatnya Hania berusaha bersikap biasa saja, Arga selalu berhasil menariknya dalam drama ciptaannya. Hah. Pria seksi itu membuat Hania tak berdaya 


Malam itu Galih mendadak jadi pendiam. Pria supel dan selalu tersenyum itu berubah datar. Ada rasa cemburu yang kental menelusup kedalam hatinya. Dia selalu berharap sahabat yang dicintainya menemukan seorang pria yang bisa membahagiakannya. Tapi hatinya berdenyut nyeri ketika melihat seorang pria dekat dengan sahabatnya itu dan membuatnya bahagia.


"Jadi beginikah rasanya patah hati?", batin Galih lalu mengalihkan tatapan matanya kesembarang arah, tidak ingin melihat pemandangan mesra didepannya.


Jam 10 malam. Arga enggan meninggalkan rumah Hania sebelum Galih meninggalkan tempat itu. Dirinya tidak akan membiarkan wanita lembut itu berdua-duaan dengan pria yang membuatnya insecure. Padahal tubuhnya lelah. Begitupun dengan Galih. Pria gagah itu masih ingin melepas rindu pada Hania setelah sekian lama tidak bertemu.


"Ini udah jam 10 lho, kalian ngga balik?", usir Hania halus.


Wanita cantik itu merasa kerepotan menciptakan suasana aman terkendali di rumahnya karena aura permusuhan mereka.


"Kamu ngusir aku, Han?", protes Arga.


Hon? Honey? Maksudnya sayang? Sedari tadi Galih juga memikirkan panggilan Arga untuk Hania. Hon? Seistimewa itu? Dirinya yang sudah bersahabat lama dengan wanita cantik itu saja tidak memiliki panggilan khusus. Ah. Sayang sekali.


"Bukan begitu Mas, tapi ini kan udah malam. Dilihat orang lain nanti bisa menimbulkan fitnah", keluh Hania.


"Ayo Galih, kamu juga pulang ya, aku ngga mau rumahku didatangin warga", pinta Hania.


"Mas? Sana!", Hania sebenarnya kesal karena kedua pria terdekatnya tidak bisa akur.


Wanita itu heran melihat tingkah Arga yang mendadak kekanak-kanakan. Selama ini, wanita cantik itu selalu disuguhi penampilan pria dewasa yang karismatik dan mandiri. Tapi malam ini, sepertinya predikat itu luntur.


Galih juga sebenarnya enggan meninggalkan Hania. Dirinya terlalu merindukan wanita itu. Tapi sepertinya sekarang dia tidak bisa sebebas dulu meluapkan perasaannya. Diantara dia dan Hania kini ada sosok Arga yang akan selalu menghalanginya dekat-dekat dengan sahabatnya.


Drama pulang dari rumah Hania masih berlanjut. Arga tetap kukuh dengan keputusannya. Dirinya akan pulang setelah Galih pulang.


"Ayo dong Mas, jangan seperti ini", rayu Hania.


"Tapi aku ngga mau kamu berdua-duaan sama dia", tegas Arga.


Galih memutar bola matanya mendengar Arga membicarakan dirinya. Pria itu ingin sekali menyahuti perkataan Arga. Apa maksudnya berdua-duaan? Dulu dia dan Hania sering menghabiskan waktu berdua saja, dan tidak terjadi apa-apa. Posesif!


"Ya ampun Mas, Galih itu sahabatku, ngga akan terjadi apa-apa!", Hania menekan kata-katanya, dia merasa gemas dengan tingkah Arga.


"Aku percaya sama kamu, Han. Tapi ngga dengan dia", lirik Arga pada Galih membuat Galih berdecih.


Galih hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tadi sore hingga sebelum dirinya bertemu Arga di rumah Hania, pria gagah itu masih mengagumi sosok Arga yang berwibawa. Tapi sikap pria itu saat bersama Hania, terbalik 180 derajat.


"Mas, selama ini juga dia yang selalu nemenin aku. Dan ngga terjadi apa-apa", tegas Hania.


"Oh, jadi kamu mau bilang kalau kamu sering berdua-duaan sama dia?", hati Arga sudah panas saja mengetahui Hania sering bersama Galih.


"Mas! ....", ucapan Hania menggantung.

__ADS_1


"Ck! Kalian ini kenapa sih? Udahlah, aku pulang duluan", potong Galih, lama-lama dia jengah juga mendengar keributan kecil tak berujung.


"Umm, Galih...", ucapan Hania terpotong lagi.


"Udah lah Han, biarin aja dia pulang duluan", potong Arga seraya memegang tangan Hania.


Hania hanya menatap Arga dengan tatapan kesal. Wanita cantik itu melepas pegangan tangan Arga. Bagaimana bisa pria karismatik nan tampan itu bersikap egois begitu? 


"It's okay, kita bisa ketemu besok lagi. Aku balik dulu", pamit Galih, pria manis itu memeluk Hania ketika wanita cantik itu mendekat.


Melihat Hania dipeluk Galih. Arga membelalakkan matanya. Hatinya terbakar cemburu. Panas sekali. Apalagi ketika Hania mengantar Galih ke mobilnya yang terparkir di luar halamannya dan melambaikan tangannya hingga mobil itu menghilang di sudut jalan. Sementara dirinya menunggu di teras.


Arga menatap lekat Hania yang berjalan ke arahnya. Pria tampan itu tidak menyangka Hania sedekat itu dengan Galih. Jelas membuatnya merasa memiliki saingan. Jiwa kompetitifnya mendadak muncul.


"Kamu dipeluk dia? Ada aku disini aja dia berani meluk-meluk kamu. Gimana kalau aku ngga ada?", rasa cemburu mendorongnya bersikap posesif.


"Pelukan itu ngga berarti apa-apa Mas. Semacam pelukan perpisahan", Hania menjawab sambil masuk ke dalam rumahnya, Arga mengekor.


"Tapi tetep aja itu pelukan, Han. Tubuhmu menempel ke tubuhnya dia", Arga masih tidak terima Hania dipeluk-peluk Galih.


"Terus?", Hania sudah gemas sekali, pria tampan didepannya ini, apa maunya sih?


"Jangan peluk-peluk dia lagi", pinta Arga tapi lebih terdengar seperti perintah.


Hania menghela napasnya dan menghembuskannya dengan kasar. Dalam hatinya ada rasa senang karena Arga menunjukkan ketidaksukaannya dengan kehadiran pria lain diantara mereka, menunjukkan rasa cemburunya secara terbuka dihadapannya, dan secara tidak langsung menunjukkan kepemilikan atas dirinya dihadapan Galih. Tapi pria yang membuat Arga bersikap berlebihan adalah Galih, sahabatnya sendiri. Pria manis itu tidak mungkin merebut Hania dari Arga.


"Kenapa? Galih kan sahabatku, ngga ada perasaan lebih meski kita pelukan", tanya Hania memancing Arga.


Hania ingin tahu alasan Arga bersikap posesif padanya, seraya menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah dan Arga ikut duduk disebelahnya.


"Tetap saja dia pria dan kamu wanita. Kamu bisa aja ngga ada perasaan apa-apa tapi gimana dia?", Arga terpancing.


"Memangnya ada yang begitu?", Hania ingin tahu sejauh mana perasaan Arga padanya.


"Jelas ada. Dan rata-rata begitu. Tidak ada namanya persahabatan antara pria dan wanita yang bener-bener murni", Arga belum menyadari bahwa Hania menelisik perasaannya.


"Berarti, Mas juga dong?", tanya Hania to the point.


"Aku...", Arga terdiam lalu mendesah dan menundukkan wajahnya, senyumnya tersungging disudut bibir seksinya, pria itu baru menyadari sesuatu.


"Gotha!", sorak Hania dalam hati.


Wanita cantik itu menaikkan sebelah alisnya sambil bersedekap menatap pria tampan itu. Sementara itu, Arga terkekeh baru menyadari dirinya terpancing pertanyaan Hania yang ternyata untuk menyudutkannya.


********


Thanks for reading!


Like setiap babnya ya... ❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2